Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
10Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
b050114

b050114

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 909 |Likes:
Published by Biodiversitas, etc
Antifungal activity of seed and fruit of Javanese cardamoms (Amomum cardamomum Willd.) for Botrytis cinerea Pers. from grape fruit (Vitis sp.)
Antifungal activity of seed and fruit of Javanese cardamoms (Amomum cardamomum Willd.) for Botrytis cinerea Pers. from grape fruit (Vitis sp.)

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: Biodiversitas, etc on Mar 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

BioSMART
ISSN: 1411-321X
Volume 5, Nomor 1
April 2003
Halaman: 61-64
\u00a9 2003 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
Aktivitas Anticendawan Biji dan Buah Kapulaga Lokal (Amomum cardamomum
Willd.) terhadap Botrytis cinerea Pers. asal Buah Anggur (Vitis sp.)
Antifungal activity of seed and fruit of Javanese cardamoms (Amomum cardamomum Willd.) for
Botrytis cinerea Pers. from grape fruit (Vitis sp.)
IKA PRASASTY, SURANTO, RATNA SETYANINGSIH
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126
Diterima: 13 Agustus 2002. Disetujui: 1 Januari 2003
ABSTRACT

The aims of this research were, firstly to examine and compare the antifungal capability from the essential oil and crude extract of seed and fruit Javanese cardamoms (Ammomum cardamomum Willd.) in preventing the growth of B. cinerea. which were isolated from grape fruits(V it is sp.), secondly to find the optimum concentration of the extracted Javanese cardamoms sample in preventing the growth of the above species of fungi. The design of this research was completely randomized design with 3 factors used namely, part of the plant (seed and fruit), extraction (essential oil and crude extract) and concentrations of essential oil and crude extract of A. cardamomum (0%; 1,5%; 3%; 4,5%; 6%). Besides, for examining the antifungal activities of essential oil and crude extract, the dilution method was used. Briefly, this could be explain as follow: 1 ml suspension of B. cinerea. was grown in potato dextrose broth. Essential oil and crude extract were added in concentration of 1,5%; 3%; 4,5%; 6% respectively and then incubated at 25oC for 2 days. The observation of total colony was counted using counter plate. The data were analyzed using varian analysis and for the comparison of whether there were any significant different among the antifungal testeds the DMRT 5% was employed. The results showed that essential oil and crude extract of seed and fruit A. cardamomum were capable to prevent the growth of B. cinerea. at concentration 1,5%. Essential oil of seed at concentration 4,5% and for essential oil of fruit at concentration 6% could stop the growth of B. cinerea. Crude extract of seed and fruit did not capable to stop the growth of B. cinerea. until concentration of 6% was reached. Essential oil of seed more effective to prevent the growth of B. cinerea. than the others (crude extract of seed, essential oil and crude extract of fruit).

Key words: A. cardamomum, essential oil , crude extract, B. cinerea.
PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara tropis yang banyak menghasilkan buah. Meskipun demikian, buah produksi Indonesia masih kalah bersaing dengan produksi luar negeri di dalam ekspor karena kualitasnya yang rendah. Kualitas buah yang rendah tersebut antara lain disebabkan perawatan tanaman yang kurang baik sehingga terserang hama atau penyakit. Menurut Martoredjo (1982), hama dan penyakit dapat menurunkan produksi tanaman.

Salah satu tanaman buah populer adalah anggur (Vitis sp). Buah anggur banyak dikenal dan digemari masyarakat karena rasanya yang manis, serta bentuk dan warnanya yang beragam, yaitu ungu, merah dan hijau. Meskipun demikian, belum banyak masyarakat yang dapat menikmati buah anggur segar karena harganya yang relatif mahal dibandingkan dengan buah lain di pasaran misalnya nanas, pepaya, mangga, dan pisang. Untuk memperoleh buah segar dengan rasa manis dan penampilan yang menarik perlu diperhatikan cara menanam, memelihara dan merawat tanaman anggur agar terhindar dari penyakit.

Salah satu penyakit yang menyerang tanaman anggur di seluruh dunia adalah penyakit busuk kelabu (gray rot). Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Botrytis cinerea

Pers. yang menyerang buah yang mulai masak. Buah yang diserang akan mengkerut, busuk dan gugur sebelum dipetik. Semua jenis anggur rentan terhadap penyakit ini. Kerusakan dapat terjadi dengan busuknya buah di lahan pertanian atau di gudang penyimpanan (Smith, 2000). Pengendalian penyakit busuk kelabu dapat dilakukan dengan mengurangi infeksi melalui penyemprotan fungisida (Semangun, 1994; Setiadi, 2000). Meskipun demikian, ternyata kebanyakan fungisida yang digunakan untuk mengendalikan penyakit ini belum dapat bekerja secara maksimal, sehingga masih banyak dijumpai buah anggur yang rusak (Smith, 2000).

Kerusakan karena penyakit busuk kelabu dapat menu- runkan produksi dan mutu buah, sehingga perlu diusahakan pengendaliannya. Salah satu alternatif yang sedang dikembangkan adalah penggunaan fungisida nabati, yakni fungisida dari bahan alami utamanya tanaman. Menurut Duryatmo (2000), fungisida nabati lebih ramah lingkungan dan dampak terhadap lingkungan hampir tidak ada karena dapat terurai. Tanaman yang diberi fungisida nabati bebas dari residu bahan-bahan berbahaya. Menurut Supriadi dkk. (1999) bahan alami tersebut antara lain ekstrak kasar dan minyak atsiri tanaman. Guenther (1987) menyatakan bahwa minyak atsiri berperan sebagai bakterisida dan fungisida.

BioSMART Vol. 5, No. 1, April 2003, hal. 60-63
62
Banyak jenis tanaman rempah yang mengandung
minyak atsiri, antara lain kapulaga lokal (Amomum
cardamomum Willd.) yang termasuk dalam famili

Zingiberaceae. Tanaman asli Indonesia ini belum banyak diusahakan masyarakat secara komersial. Bagian tanaman yang sering dimanfaatkan adalah bijinya. Menurut Tjitrosoepomo (1994) biji kapulaga lokal mengandung 3- 7% minyak atsiri. Bagian tanaman lain yang dapat dimanfaatkan menurut Heyne (1987) adalah buah yang mengandung 4-6% minyak atsiri. Buah akan lebih cepat diproses untuk menghasilkan minyak atsiri dibandingkan dengan biji karena tidak perlu membuang kulit buahnya. Nazaruddin (1993) mengungkapkan bahwa pengambilan minyak atsiri dari kapulaga kurang dikenal di Indonesia.

Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji kemampuan anticendawan minyak atsiri biji dan buah kapulaga lokal terhadap pertumbuhan cendawan B. cinerea yang diisolasi dari buah anggur, menguji kemampuan anticendawan ekstrak kasar biji dan buah kapulaga lokal terhadap pertumbuhan B. cinerea yang diisolasi dari buah anggur dan menemukan konsentrasi optimum minyak atsiri dan ekstrak kasar biji dan buah kapulaga lokal untuk menghambat dan atau menghentikan pertumbuhanB.

cinerea yang diisolasi dari buah anggur.
BAHAN DAN METODE
Bahan dan alat

Bahan yang digunakan adalah biji dan buah kapulaga lokal dari Kebun Koleksi PT Jamu Air Mancur di Karang- pandan, Karanganyar, isolat B. cinerea asal buah anggur yang sakit, medium potato dextrosa agar (PDA), kentang, sukrosa, agar, akuades, metanol, alkohol 70%, laktofenol, kloramfenikol, alumunium foil, kapas, dan kertas saring.

Alat yang digunakan adalah tabung reaksi, gelas beker, botol flakon, botol gelap, tabung efendorf, gelas ukur, cawan petri, pipet tetes, pipet ukur, labu didih, labu erlenmeyer, gelas benda, gelas penutup, jarum ose, jarum preparat, pinset, pisau, mikropipet, tip, mikroskop, blender elektrik, pemanas, bunsen, magnetic stirer, inkubator, autoklaf, vortex mixer, colony counter, oven, kamera foto, kamera mikrofotografi, seperangkat alat destilasi Stahl, seperangkat alat kromatografi gas (Hewlett Pacard 5890

Series II, USA), seperangkat alat GC-MS (Shimadzu QP-
5000, Jepang).
Cara kerja
Pembuatan serbuk buah kapulaga. Buah kapulaga

segar yang cukup umur dicuci bersih, dan dikeringkan di bawah sinar matahari tidak langsung dengan ditutup kain selama 3 hari. Buah diblender menjadi serbuk dan disim- pan dalam wadah tertutup untuk mengurangi penguapan minyak atsiri. Serbuk akan digunakan untuk distilasi minyak atsiri dan pembuatan ekstrak kasar (Setyawan, 1999; Supriadi dkk., 1999).

Pembuatan serbuk biji dan buah kapulaga.Buah

utuh dan buah yang telah dikeringkan dikupas kulitnya sehingga diperoleh biji diblender secara terpisah menjadi serbuk dan disimpan dalam wadah tertutup untuk

mengurangi penguapan minyak atsiri. Serbuk akan digunakan untuk distilasi minyak atsiri dan pembuatan ekstrak kasar (Setyawan, 1999; Supriadi dkk., 1999).

Distilasi minyak atsiri. Sebanyak 50 g serbuk ditam-

bah 100 ml pelarut metanol absolut dimasukkan dalam labu didih dan dipanaskan selama 6 jam pada suhu 80oC. Hasil distilasi ditampung dalam labu erlenmeyer. Minyak atsiri yang tertampung dipisahkan dari pelarut dengan cara dipanaskan pada suhu 80oC. Minyak atsiri yang diperoleh disimpan dalam botol gelap, ditutup rapat dengan

alumunium foil dan disimpan pada suhu 4oC.
Pembuatan ekstrak kasar. Serbuk dari biji dan buah

kapulaga masing-masing dilarutkan dalam metanol (50 g bahan/50 ml metanol), dikocok dan dibiarkan selama 24 jam. Ekstrak kasar kemudian disaring dan diambil filtratnya (Supriadi dkk., 1999).

Isolasi B. cinerea. Isolat B. cinerea diambil dari buah
anggur yang sakit. Isolasi dilakukan dengan teknikdi rect
plating (Malloch, 1997) dengan meletakkan buah anggur

pada medium PDA steril yang telah ditambah kloramfenikol dalam cawan petri steril, kemudian diinkubasi pada suhu 25oC selama 3 hari. Koloni-koloni yang tumbuh diidentifikasi untuk memper-oleh dan memastikan adanya B. cinerea.

Identifikasi B. cinerea. Identifikasi cendawan
dilakukan
secara
makroskopis
dan
mikroskopis.
Pengamatan makroskopis: permukaan koloni B. cinerea
berwarna putih dan berbulu kemudian menjadi kelabu
(Malloch, 1997). Pengamatan mikroskopis: koloniB.
cinerea memiliki hifa hialin bersepta hingga coklat.

Konidiofor panjang dan bercabang membentuk gelembung menghasilkan blastokonidia, spora berbentuk bulat bening hingga kelabu (Stamets dan Chilton, 1983; Malloch, 1997).

Pengujian anticendawan dengan Dilution Methods.

Sebanyak 1 ml suspensi cendawan ditumbuhkan dalam medium potato dextrosa cair yang telah ditambah minyak atsiri atau ekstrak kasar dengan konsentrasi 1,5%; 3%; 4,5% dan 6% untuk masing-masing perlakuan dan 0% sebagai kontrol. Semua perlakuan diinkubasi selama 5 hari pada suhu 25oC selanjutnya dilakukan pengenceran berseri sampai 10-5. Tiap pengenceran diambil 1 ml dan dimasukkan dalam cawan petri yang kemudian ditambahkan medium PSA. Semua perlakuan diinkubasi selama 2 hari pada suhu 25oC. Pengamatan jumlah cendawan dilakukan dengan metode hitungan cawan, yaitu dengan menghitung koloni cendawan pada tiap perlakuan. Ketentuan cawan yang dihitung adalah yang mengandung jumlah koloni antara 30-300. Jika jumlah koloni pada cawan petri kurang dari 30 koloni, hanya jumlah koloni pada pengenceran terendah yang dihitung (Fardiaz, 1989; Hadioetomo, 1994; Madigan et al., 2000).

Analisis minyak atsiri. Komponen minyak atsiri

dideteksi dengan menggunakan alat kromatografi gas cairan merek Hewlet Pacard 5890 Series II, USA. Kondisi operasi yang digunakan adalah: jenis detektor: FID (flame

ionization detector), suhu detektor: 270\u00baC, suhu injektor:

260\u00baC, jenis kolom: HPS non polar 30 meter, suhu awal kolom: 120\u00baC, kenaikan: 10\u00baC/menit, suhu akhir: 270\u00baC, gas pembawa: Helium, total flow: 10, split (Kpa): 60, kecepatan kertas: 1 cm/menit, dan jumlah injeksi: 1 \u00b5l

63
Identifikasi senyawa kimia penyusun minyak atsiri.

Identifikasi dilakukan menggunakan alat kromatografi GC- MS merek Shimadzu QP-5000, Jepang. Kondisi operasinya adalah: jenis pengion: EI (electron impack), jenis kolom: DBI panjang 30 m, suhu kolom: 45\u00baC-250\u00baC, kenaikan 10\u00baC/menit, gas pembawa : Helium, split (Kpa): 15, jumlah injeksi: 1,4 \u00b5l, suhu detektor: 270\u00baC, dan suhu injektor: 270\u00baC.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Isolat B. cinerea
Dari hasil pengamatan secara mikroskopis konidioforB.
cinerea tampak bening dengan panjang 60 \u00b5m dan lebar 15

\u00b5m. Pada bagian ujung konidiofor banyak tersebar konidia berbentuk bulat dan berwarna putih kecoklatan berukuran 10 \u00b5m. Konidia ini merupakan spora aseksual B. cinerea yang

termasuk
golongan
Fungi
Imperfecti
(Deuteromycetes) yang belum diketahui spora seksualnya.
Kenampakan minyak atsiri dan ekstrak kasar

Kenampakan minyak atsiri kapulaga lokal berupa cairan bening atau berwarna kuning dengan aroma dan rasa pedas yang tidak mudah hilang dan segar (Harris, 1993). Dalam penelitian ini untuk selanjutnya minyak atsiri hasil penyulingan disebut minyak atsiri, sedangkan minyak atsiri hasil ekstraksi disebut ekstrak kasar. Minyak atsiri dan ekstrak kasar biji kapulaga lokal berwarna kuning bening dan mempunyai aroma seperti minyak kayu putih. Minyak atsiri buah kapulaga lokal berwarna coklat bening dan ekstrak kasarnya berwarna kuning kecoklatan, keduanya mempunyai aroma tajam. Aroma yang dihasilkan dari minyak atsiri dan ekstrak kasar ini dimungkinkan berasal dari sineol (Tabel 2.). Menurut Soeseno (1999) sineol beraroma sedap, agak pedas, menghangatkan seperti minyak kayu putih

Uji anticendawan minyak atsiri dan ekstrak kasar

Minyak atsiri biji kapulaga lokal mampu menghambat pertumbuhan B. cinerea pada konsentrasi 1,5%. Penambahan minyak atsiri biji kapulaga lokal pada konsentrasi 4,5% dan 6% menyebabkan pertumbuhanB.

cinerea terhenti. Ekstrak kasar biji kapulaga lokal mampu

menghambat pertumbuhan B. cinerea pada 1,5% tetapi pada konsentrasi 6% belum mampu menghentikan pertumbuhan B. cinerea (Tabel 1.).

Tabel 1. Pertumbuhan B. cinerea dengan penambahan minyak
atsiri dan ekstrak kasar biji dan buah kapulaga lokal.
Jumlah cendawan (koloni per ml)
Perlakuan
0%
1,5%
3%
4,5%
6%
Minyak
atsiri biji
2,1x106 c 1,6x105 b
1,2x104 a
0a
0a
Ekstrak
kasar biji
2,2 x106 c 2,0x105 ab 1,4x104 a
3,0x102
(2,0x101 a)
<3,0x102
(1,0x101 a)
Minyak
atsiri buah
2,4x106 c 1,9x105 b
1,3x104 a
<3,0x102
(3,0x101 a)
0a
Ekstrak
kasar buah
2,3x106 c 2,3x105 b
1,7x104 a
<3,0x102
(6,0x101 a)
<3,0x102

(4,0x101 a)
Keterangan: Angka dalam satu baris yang diikuti huruf yang sama
menunjukkan tidak beda nyata pada DMRT taraf 5%

Pertumbuhan B. cinerea terhambat dengan penambahan minyak atsiri buah kapulaga lokal pada konsentrasi 1,5%. Pertumbuhan cendawan benar-benar terhenti pada konsentrasi 6% dengan tidak tumbuhnya cendawan pada konsentrasi ini. Ekstrak kasar buah kapulaga lokal mampu menghambat pada konsentrasi 1,5% tetapi pada konsentrasi 6% belum mampu menghentikan pertumbuhan B. cinerea Hasil uji DMRT 5% menunjukkan pengaruh nyata dari semua perlakuan terhadap kontrol.

Tingkat penghambatan minyak atsiri dan ekstrak kasar
biji dan buah kapulaga lokal terhadap pertumbuhanB.
cinerea yang cenderung rendah dalam penelitian ini, antara

lain disebabkan pemilihan metode ekstraksi dan distilasi minyak atsiri yang digunakan. Uji kromatografi gas (GC) dan kromatografi gas-spektrometer massa (GC-MS) terhadap ekstrak kasar biji dan buah kapulaga lokal menunjukkan kadar minyak atsiri dalam ekstrak kasar hanya 8,36% dan 5,89%, sedangkan pada minyak atsiri kadarnya 15,34% dan 12,51%, sisanya adalah pelarut metanol serta sejumlah kecil minyak atsiri lain yang kadarnya sangat kecil (Tabel 2.). Menurut Setyawan (2002, komunikasi pribadi) kadar minyak atsiri hasil distilasi dengan pelarut air (hidrodistilasi) dapat mencapai 100%, karena air tidak dapat larut dalam minyak atsiri yang dihasilkan, berbeda dengan metanol.

Tabel 2. Jenis dan kadar minyak atsiri biji dan buah kapulaga
lokal dari hasil distilasi metanol dan ekstraksi metanol.
Kadar (%)
Biji
Buah
Nilai
Rf
Nama
Distilasi Ekstraksi Distilasi Ekstraksi
3,53
Metanol
84,66
87, 49
91,64
94,11
4,99
Sineol
10,75
7, 73
5,72
3,75
6,92
Geraniol
1,23
0, 48
0,94
0,89
20,15 Mirsenol
1,62
0, 32
0,60
0,98
Senyawa lain
1,74
3,98
1,10
0,27
Kadar total
minyak atsiri
15.34
12,51
8,36
5,89
Keterangan: senyawa lain terdiri dari beberapa senyawa namun
kadar masing-masing sangat kecil (\u00b1 0,1%).

Data Tabel 2. juga menunjukkan bahwa baik dengan proses distilasi maupun ekstraksi, jenis senyawa aktif yang terisolasi relatif sama, yaitu sineol, geraniol dan mirsenol. Aktivitas anticendawan minyak atsiri hasil distilasi lebih besar dibandingkan dengan ekstrak kasar, karena pada proses distilasi dalam media metanol terjadi proses pemanasan dan pelarutan sehingga upaya isolasi minyak atsiri lebih efektif, sedangkan pada proses ekstraksi dengan pelarut metanol hanya terjadi proses pelarutan saja. Akibatnya senyawa aktif biji dan buah kapulaga lokal yang dihasilkan dari proses distilasi memiliki kadar lebih tinggi dari pada minyak atsiri yang diperoleh dari proses ekstraksi.

Senyawa utama yang diduga bersifat aktif sebagai anticendawan dalam minyak atsiri kapulaga lokal adalah sineol. Senyawa sineol yang merupakan senyawa utama minyak atsiri biji kapulaga lokal diduga bersifat anticendawan karena senyawa ini merupakan monoterpena. Menurut Davidson (1993), senyawa sineol yang merupakan

Activity (10)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Frederik Meris liked this
rinipuspita liked this
Rendita Yulfrian liked this
Ical Tampan liked this
rayiramanda liked this
dbleucool liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->