Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta 57126.
Tel. & Fax.: +62-271-663375.
e-mail: biology@mipa.uns.ac.id
Toksisitas Akut Limbah Cair Pabrik Batik CV. Giyant Santoso Surakarta dan
Efek Sublethalnya terhadap Struktur Mikroanatomi Branchia dan Hepar Ikan
Nila (Oreochromis niloticus T.).
This research aimed at understanding the quality of liquid industrial waste of CV. Giyant Santoso Banaran Surakarta batik industry according physical parameter (TSS, TDS) and chemical parameter (BOD, COD, Cr content, phenol content, oil and fat). This research also knew the acute toxicity level (LC50-96 hours) of liquid industrial waste of CV. Giyant Santoso Banaran Surakarta batik industry on nila fish (Oreochromis niloticus T.) and its sub lethal effect on microanatomy structure of gill (branchia) and liver (hepar). The development of batik industry could be resulting problems and disadvantages on environment. The contamination from batik industry comes from printing, peeling and washing process, in which the production\u2019s waste could contaminate water. Gill is one of respiratory organs which having direct contact with contaminant content, while liver, organ that neutralize toxin inside the body, when getting in touch with toxin contents in a certain amount of time will be having a transformation on its microanatomy structure. This research used Completely Randomized Design (CRD) with independent variable of toxin\u2019s concentration and dependent variable of mortality, DO, pH and temperature. Acquired data will be analyzed using ANOVA, continued with Duncan Multiple Randomized Test at the test level of 0.05 and correlation analysis. LC50-96 hours analyzed using probit analysis. Microanatomy structure of gill and liver was analyzed descriptively. The result indicated that the TSS, BOD, COD and phenol concentration of liquid industrial waste of CV. Giyant Santoso Banaran Surakarta has exceeded the maximum level permitted by the regulation on Kep-51/MENLH/10/1995, while TDS, Cr, pH, oil and fat concentration is still below the standard level. The acute toxicity LC50-96 hours of the liquid industrial waste of CV. Giyant Santoso Banaran Surakarta for nila fish was 6062.93 ppm. That liquid batik industrial waste has caused edema and hyperplasia on gill. It\u2019s also caused edema, sinusoid widely, fat degeneration, karyorhexis, karyolysis, and necrosis on the hepatocyte of liver. After 96 hours, gill and liver microanatomical of the nila fish would be damaged. The damage was triggered at the starting concentration level of 2500 ppm.
Semua industri pada hakekatnya menghasilkan limbah sebagai buangan dari hasil samping kegiatan produksi. CV. Giyant Santoso adalah salah satu pabrik batik tulis yang menghasilkan limbah. Limbah tersebut dapat menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan. Menurut Ashadi (1996) dalam Hudiyono dkk. (1999) limbah cair tekstil dimungkinkan juga mengandung logam berat dalam jumlah relatif kecil, serta zat aktif permukaan yang sukar diuraikan secara alami seperti fenol, formaldehid, dan klor benzol.
Perkembangan industri batik juga mendatangkan masalah dan kerugian pada lingkungan. Hal ini disebabkan selama pengelolaannya menghasilkan limbah cair dalam
jumlah cukup besar, yang pada akhirnya dibuang ke badan- badan perairan/ sungai terdekat. Secara umum limbah cair industri tekstil mempunyai karakteristik berwarna, pH tinggi, kadar BOD, COD, suhu, padatan terlarut dan tersuspensi tinggi (Hudiyono dkk., 1999).
Air dikategorikan sebagai air terpolusi atau tercemar jika konsentrasi oksigen terlarut menurun di bawah batas yang dibutuhkan untuk kehidupan organisme. Oksigen terlarut merupakan salah satu kebutuhan dasar untuk kebutuhan tanaman dan hewan di dalam air.. Ikan merupakan makhluk air yang memerlukan oksigen tertinggi, kemudian avertebrata dan yang terkecil kebutuhannya adalah bakteri (Fardiaz, 1992).
Branchia merupakan organ respirasi yang mengalami kontak dengan bahan pencemar terjadi pada saat ekspirasi sehingga air dan zat pencemar langsung bersentuhan dengan lamela, masuk dalam pembuluh darah dan selanjutnya dapat merusak jaringan tubuh lain yang dilalui (Gerking, 1969). Menurut Fitriyah (1998) hepar sebagai
organ yang berfungsi detoksifikasi, apabila bersentuhan dengan racun pada waktu tertentu akan mengalami perubahan struktur mikroanatomi.
Dengan adanya permasalahan tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas limbah cair pabrik batik CV. Giyant Santoso Banaran Surakarta ditinjau dari parameter fisik (TSS, TDS) dan parameter kimia (BOD, COD, kadar Cr, kadar fenol, minyak dan lemak), dan bertujuan untuk mengetahui nilai toksisitas akutnya (LC50- 96 jam) terhadap ikan nila (Oreochromis niloticus T.) dan efek sublethalnya terhadap struktur mikroanatomi branchia dan hepar.
Uji kualitas limbah cair batik dilaksanakan pada tanggal 27 Januari-17 Februari 2003 bertempat di Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Yogyakarta. Uji toksisitas dilaksanakan pada bulan Februari-Maret 2003, bertempat di Laboratorium Pusat Universitas Sebelas Maret Surakarta. Pembuatan preparat dilaksanakan pada bulan Maret 2003 di Balai Penyelidikan Penyakit Veteriner (BPPV), Wates. Pemotretan preparat dilaksanakan pada bulan April 2003 bertempat di Laboratorium Anatomi Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.
Bahan yang dibutuhkan meliputi: ikan nila (Oreochromis niloticus T.) diperoleh dari Balai Perbenihan dan Budidaya Ikan Janti Klaten sebanyak 300 ikan untuk uji pendahuluan dan 300 ikan untuk uji sesungguhnya; limbah cair pabrik batik CV. Giyant Santoso Banaran Surakarta; dan air. Bahan yang digunakan untuk mengukur tolok ukur kualitas air untuk mengukur BOD, COD, pH, DO, kadar fenol, Cr, minyak dan lemak, TSS dan TDS; Bahan-bahan yang digunakan untuk pembuatan preparat irisan branchia dan hepar dengan metode parafin; Formalin 4% untuk mengawetkan ikan; Pelet ikan merk Takari untuk pakan ikan; Film foto merk Kodak Gold dan Fujifilm ASA 200.
Bak uji; jerigen plastik; saringan ikan; neraca; gelas ukur 10 ml dan 100 ml; bekker glass 1L; thermometer; DOmeter elektrik; pHmeter elektrik; kertas label; alat tulis; penggaris; alat-alat yang digunakan untuk mengukur BOD, COD, pH, DO, kadar fenol, Cr, minyak dan lemak, TSS dan TDS; Alat-alat yang digunakan untuk pembuatan preparat irisan branchia dan hepar dengan metode parafin; mikroskop; alat fotomikrografi mikroskop.
Hewan uji yang akan digunakan ditimbang beratnya dan diukur panjangnya agar diperoleh berat dan panjang yang sama. Hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan dan masing-masing kelompok terdiri dari 10 ikan (hewan uji). Kemudian disiapkan limbah cair pabrik batik yang akan dipakai dengan variasi kadar 0 ppm
Tolok ukur yang diamati adalah jumlah ikan yang mati setiap 24 jam selama 96 jam untuk mengetahui LC50-96 jam dari uji pendahuluan yang akan digunakan sebagai acuan untuk variasi konsentrasi pada uji sesungguhnya.
Variasi konsentrasi limbah pada uji sesungguhnya berdasarkan pada kisaran yang lebih sempit dari hasil analisis probit LC50-96 jam uji pendahuluan sebesar 6416,98 ppm, dengan variasi kadar 0 ppm (kontrol) (konsentrasi 0%); 2500 ppm (0,0025%); 4500 ppm (0,0045%); 6500 ppm (0,0065%); dan 8500 ppm (0,0085%). Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali. Tolok ukur yang diamati adalah jumlah hewan uji yang mati setiap 24 jam hingga 96 jam. Selanjutnya untuk menentukan LC50-96 jam terhadap hewan uji ditentukan dengan analisis probit.
Pengamatan secara organoleptik kualitas air uji meliputi kekeruhan, warna dan bau. Pengukuran kualitas air uji meliputi DO, BOD, pH dan suhu. Pengukuran kualitas air uji dilakukan setiap 24 jam sekali.
Analisis data kualitatif (TSS, TDS, BOD, COD, pH, kadar Cr, kadar fenol, kadar minyak dan lemak); Dengan Analisis Variansi (Anava) metode CRD (Completely
dengan uji DMRT (Duncan Multi Test Range) taraf uji pada level 0,05 untuk mengetahui letak beda nyata dari hubungan antara: a). Kadar limbah cair batik dengan kematian ikan 96 jam, b). Kadar limbah cair batik dengan DO, pH dan suhu; Untuk melihat hubungan antara kadar limbah cair batik dengan parameter pengamatan yaitu kematian hewan uji, DO, pH dan suhu dilakukan analisis korelasi; Kerusakan mikroanatomi branchia dan hepar ikan nila dianalisis secara deskriptif; Data dari jumlah kematian ikan selama 96 jam dianalisis probit untuk mengetahui LC50-96 jam dengan selang kepercayaan 95%.
Hasil pemeriksaan kualitas limbah cair pabrik batik CV. Giyant Santoso Banaran Surakarta yang dilakukan oleh Balai Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) Yogyakarta pada tanggal 27 Januari 2003 disajikan pada Tabel 1. Berdasarkan data pada Tabel 1. dapat diketahui kadar BOD dan COD berada di atas baku mutu limbah cair industri tekstil menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup (Kep MENLH Nomor 51 tahun 1995). Dari hasil pengukuran, kadar BOD sebesar 869 mg/l dan kadar COD
sebesar 2200 mg/l. Tingginya kadar BOD disebabkan karena banyaknya bahan organik yang didegradasi oleh mikroorganisme (Wardhana, 1995). Kadar oksigen dalam air menjadi turun karena oksigen digunakan mikroor- ganisme untuk mengoksidasi bahan organik dalam limbah cair batik seperti sisa kanji, sisa malam, fenol, minyak dan lemak. Tingginya kadar COD disebabkan karena banyaknya bahan organik yang dioksidasi oleh oksidan. Jumlah COD yang lebih besar daripada jumlah BOD disebabkan karena sebagian besar bahan organik lebih mudah dioksidasi secara kimiawi daripada secara biologi.
Hasil
pemeriksaan
BTKL
Keterangan: *) Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor: Kep-51/MENLH/10/1995. **) Kadar Maksimum Limbah Cair bagi Kegiatan Industri Golongan I (Industri Ringan) Kep- 51/MENLH/10/1995.
Hasil pemeriksaan kandungan fenol limbah cair batik sebesar 1.0692 mg/l sudah melebihi kadar maksimum yang telah ditentukan. fenol yang terdapat dalam limbah cair batik berasal dari pelunturan lilin pewarnaan dan
dalam limbah cair batik tersebut sebesar 0,0458 mg/l berada di bawah baku mutu yang telah ditentukan. Kandungan Cr berasal dari zat warna yang digunakan pada proses pewarnaan. Sedangkan hasil pengukuran pH sebesar 6,9 menunjukkan pH limbah cair batik masih berada pada kisaran normal. Minyak dan lemak sebanyak 0,38 mg/l masih berada di bawah kadar maksimum yang telah ditentukan kep-51/MENLH/10/1995. Minyak dan lemak dihasilkan
Dalam air alam ditemui dua kelompok zat, yaitu zat padat tersuspensi dan koloidal seperti tanah liat, dan zat terlarut seperti garam dan molekul organis (Alaerts dan Santika, 1987). Hasil pemeriksaan TSS (Total Suspended
telah ditentukan dan TDS (Total Dissolved Solids) sebesar 1857 mg/l berada di bawah kadar maksimum limbah cair bagi kegiatan industri golongan I (industri ringan) berdasarkan kep-51/MENLH/10/1995. Adanya sisa malam dan zat-zat tambahan dari proses produksi batik yang masuk ke dalam air, ada yang dapat mengendap, terlarut dan tersuspensi. Diduga yang menyebabkan tingginya kandungan TSS karena sisa malam, sedangkan tingginya kandungan TDS limbah cair batik karena adanya penggunaan zat warna dan fenol.
Dari uji toksisitas limbah cair batik terhadap ikan nila diperoleh nilai LC 50-96 jam sebesar 6062,93 ppm atau pada konsentrasi limbah cair batik sebesar 0,006%. Hal ini menunjukkan bahwa limbah cair batik sebesar 6062,93 ppm dapat mengakibatkan kematian 50% ikan nila. Menurut Loomis (1978), jumlah zat kimia yang diekspresikan dengan LD 50 sebesar 5-15 g/kg termasuk kategori bahan pencemar yang praktis tidak toksik. Dengan demikian maka limbah cair pabrik batik CV. Giyant Santoso termasuk bahan pencemar yang tidak toksik. Pada Tabel 2. terlihat mulai kadar 4500 perlakuan limbah cair batik terjadi peningkatan jumlah kematian ikan yang sangat nyata. Dengan uji korelasi, hubungan kadar limbah cair batik dengan jumlah kematian menunjukkan korelasi positif sebesar 0,695 yang berarti terdapat hubungan yang kuat antara peningkatan kadar limbah cair batik dengan peningkatan jumlah kematian ikan Nila.
Keterangan: Angka yang diikuti huruf yang sama dalam satu kolom menunjukkan tidak berbeda nyata pada uji DMRT taraf 5%.
Dari Tabel 3. dapat diketahui kekeruhan semakin meningkat seiring dengan bertambahnya konsentrasi limbah yang diberikan. Kekeruhan disebabkan oleh adanya zat padat yang masuk kedalam air seperti malam dari sisa hasilpelo ro dan. Berdasarkan hasil pemeriksaan air uji kadar 0 ppm (kontrol) tidak berwarna atau jernih, sedangkan untuk masing-masing perlakuan air uji berwarna kecoklatan. Warna limbah cair batik berasal dari proses pencelupan warna pertama, penghilangan lilin sebagian untuk mendapatkan warna yang kedua dan seterusnya, dan