Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
10Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
b070204

b070204

Ratings: (0)|Views: 821 |Likes:
Published by Biodiversitas, etc

More info:

Published by: Biodiversitas, etc on Mar 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

BioSMART
ISSN: 1411-321X
Volume 7, Nomor 2
Oktober 2005
Halaman: 91-94
\ue000 2005 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
\u2665 Alamat korespondensi:

Candikuning, Baturiti, Tabanan, Bali 82191.
Tel. & Fax.: +62-368-21273.
e-mail: direkbg@singaraja.wasantara.net.id, igtirta59@yahoo.com

\u2665 Alamat korespondensi:

Jl. Ir. Sutami 36A, Surakarta 57126
Tel. & Fax.: +62-271-663375.
e-mail: biology@mipa.uns.ac.id

Perkecambahan dan Pertumbuhan Delima Putih (Punica granatum L.) dengan
Perlakuan Asam Indol Asetat dan Asam Giberelat
Germination and growth of pomegranate (Punica granatum L.) with the treatment of indol acetic
acid and gibberellic acid
DWI WULAN ANDJARIKMAWATI1, WIDYA MUDYANTINI\u2665, MARSUSI
Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta 57126
Diterima: 30 Maret 2005. Disetujui: 1 Juni 2005.
ABSTRACT
The aim of this research was to study the effects of indol acetic acid (IAA) and gibberellic acid (GA3) on the germination and growth of
Punica granatum L. Indol acetic acid and gibberellic acid have ability to induce the cell division, cell elongation and differentiation of

vascular tissue. This research used Completely Randomized Design with one factor was growth regulator substance, indol acetic acid and gibberellic acid, with four various of concentration of 0, 25, 50, and 100 ppm. Treatments to plants have been done in once a week for six weeks. This research is conducted to collect data of percent of germination, growth parameters are height plant, leaves number, leaves area, wet weight, dry weight, root and shoot ratio of dry weight, and root lenght. The result showed that indol acetic acid did not influence on germination and growth parameters and GA3 influenced on growth parameters, but did not influence the percentage on germination. GA3 50 ppm showed the optimally of the percentage of germination. The best substance to speed up stem height parameter was GA3 25 ppm. The concentration of IAA 25 ppm showed the optimally of the leaves numbers, leaves area, and dry weight. IAA 50 ppm treatment showed the maximum growth in root and shoot ratio of dry weight, wet weight, and root length.

Key words: indol acetic acid, gibberellic acid, Punica granatum L., germination, growth.
PENDAHULUAN

Delima putih (Punica granatum L.) secara taksonomi dimasukkan ke dalam suku Punicaceae. Suku Punicaceae hanya terdiri dari satu marga yaituPu n ic a (Steenis, 1992). Rumusan Obat-obat Nasional menyebutkan kurang lebih 23 negara menggunakan delima putih sebagai obat resmi (Dharma, 1989). Pemanfaatan tanaman sebagai obat sekarang ini sangat dibutuhkan. Pemanfaatan tanaman obat karena murah, mudah meraciknya, dan jarang menimbulkan efek samping. Delima putih memerlukan perawatan, penyiraman, dan pemupukan yang teratur agar tanaman ini dapat tumbuh dengan baik. Biji delima putih yang sulit dikecambahkan merupakan salah satu kendala yang menyebabkan delima putih sulit didapatkan di pasaran. Sebagai tanaman obat, delima putih dapat dimanfaatkan secara keseluruhan baik bunga, buah, kulit pohon, kulit akar, daun, dan batangnya. Populasi delima putih sangat sedikit di masyarakat. Menurut Heyne (1987) manfaatnya dalam bidang kesehatan antara lain sebagai obat mencret, cacingan, gusi yang sakit, keputihan, dan dapat digunakan sebagai tinta tulis yang indah.

Biji delima putih mempunyai masa dormansi yang
panjang. Himawan (2000) mengemukakan bahwa
penggunaan eksplan biji delima putih berkulit keras secara
in vitro yang ditanam pada medium MS dengan

penambahan auksin sintetis (2,4-D) membutuhkan waktu 4 minggu untuk keluarnya embrio somatik berbentuk globular. Penggunaan eksplan kotiledonnya membutuhkan waktu 5 minggu untuk keluarnya primordia akar yang berasal dari sel parenkim.

Perkecambahan adalah suatu kejadian yang dimulai dengan imbibisi dan diakhiri dengan memanjangnya radikula (Salisbury dan Ross, 1995). Harjadi (1993) menyatakan

bahwa
pada
perkecambahan

terjadi serangakaian proses penting yang terjadi sejak benih dorman sampai ke bibit yang sedang tumbuh tergantung viabilitas benih, kondisi lingkungan yang cocok, dan usaha pemecahan dormansi. Dormansi pada biji disebabkan oleh rendahnya giberelin endogen dalam biji (Wattimena, 1988). Danoesastro (1997) mengemukakan bahwa auksin dapat mendukung daya kecambah dan kecepatan perkecambahan. Giberelin akan berperan dalam fase berkecambah dan akhir fase dormansi melalui pembentukan enzim\u03b1-amilase pada lapisan aleuron (Hopkins, 1995). Giberelin dapat menghilangkan masa dormansi biji, sehingga biji akan lebih mudah untuk berkecambah (Gardner dkk., 1991).

Pertumbuhan adalah proses yang mengakibatkan tanaman mengalami perubahan ukuran yang semakin besar dan menentukan hasil tanaman (Sitompul dan Guritno, 1995). IAA mempengaruhi aktivitas kambium dalam

BioSMART Vol. 7, No. 2, Oktober 2005, hal. 91-94
92

pembelahan sel dan pembentukan jaringan (Davies, 1995). GA berpengaruh terhadap perpanjangan ruas tanaman dengan bertambahnya jumlah dan besar sel-sel pada ruas- ruas tersebut (Wattimena, 1988).

Pemberian zat pengatur tumbuh dapat memacu perkecambahan dan pertumbuhan selanjutnya. IAA dan GA3

berperan terhadap pengembangan dinding sel, pembesaran sel, pembelahan sel, sehingga perlu untuk diadakan penelitian tentang pengaruh IAA dan GA3 terhadap perkecambahan dan pertumbuhan tanaman delima putih.

BAHAN DAN METODE
Waktu dan tempat penelitian

Penelitian dilaksanakan selama lima bulan, November 2003 s.d. Maret 2004 di Rumah Kaca dan Sub Lab Biologi Laboratorium Pusat MIPA UNS Surakarta.

Bahan dan alat

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji delima putih (Punica granatum L.), IAA, GA3, etanol, pasir, media tanah untuk menanam, aquades, pupuk kompos. Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah bak untuk perkecambahan, polibag, gelas ukur, silet, timbangan analitik dan ayakan 2x2 mm2 untuk mengayak tanah, tudung plastik, gelas beker, pipet, hands sprayer, dan oven.

Rancangan penelitian

Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap dengan faktor tunggal yaitu zat pengatur tumbuh asam indol asetat dan asam giberelat dengan variasi konsentrasi 0, 25, 50, dan 100 ppm dengan 5 ulangan (Tabel 1.).

Tabel 1. Variasi perlakuan pemberian zat pengatur tumbuh IAA
dan GA3 terhadap perkecambahan dan pertumbuhan batang
delima putih (Punica granatum L.).
ZPT
Konsentrasi
(ppm)
IAA (I)
GA3 (G)
0 (D0)
ID0
GD0
25 (D1)
ID1
GD1
50 (D2)
ID2
GD2
100 (D3)
ID3
GD3
Cara kerja

Biji yang berkualitas baik direndam dalam larutan IAA dan GA3, selama 48 jam, kemudian disemai dalam bak perkecambahan. Tanaman yang telah berdaun ke-4 dipindahkan ke polibag. IAA dan GA3 diberikan satu minggu setelah penanaman. Penyemprotan zat pengatur tumbuh satu minggu sekali, selama lima kali penyemprotan. Parameter yang diamati sebagai berikut:

Persentase biji yang berkecambah. Penghitungan biji
yang berkecambah dilakukan setiap hari selama 35 hari.
Tinggi tanaman dan jumlah daun. Pengukuran dan
penghitungan dilakukan setiap satu minggu sekali selama
lima kali pengamatan.
Luas daun diukur dengan menggunakan metode
gravimetri (Sitompul dan Guritno, 1995) dengan
persamaan:
LD = Wr x LK
Wt
Berat basah tanaman. Tanaman ditimbang setelah
berumur 6 minggu setelah tanam.
Berat kering. Tanaman dioven pada suhu 60osamp ai
kering.
Rasio berat kering akar dan pucuk. Akar dan pucuk
dipisahkan, dioven sampai kering, kemudian ditimbang dan
dihitung rasio berat kering akar dan pucuk.
Panjang akar. Panjang akar utama diukur dari ujung
akar sampai pangkal akar pada batang akar, dilakukan saat
panen.
Analisis data

Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis varian (ANAVA) untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap parameter yang diukur, dilanjutkan dengan uji DMRT taraf 5% dan uji T taraf 5% untuk mengetahui beda nyata.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perkecambahan adalah proses pertumbuhan embrio yang melibatkan aktivitas morfologi, yang ditandai dengan pemunculan organ tanaman seperti akar, batang, daun, dan aktivitas kimiawi yang meliputi beberapa tahapan yaitu imbibisi, sekresi hormon dan enzim, hidrolisis cadangan makanan terutama karbohidrat dan protein dari bentuk kompleks menjadi bentuk sederhana, translokasi makanan terlarut dan hormon ke daerah titik tumbuh dan bagian lain srta fotosintesis (Ashari, 1995).

Tabel 2. Perbandingan jumlah biji yang berkecambah dan
persentase perkecambahan dari 20 biji Punica granatum L.
Perlakuan (ppm)
Jumlah biji
berkecambah
Persentase
perkecambahan (%)
0
16
80
IAA 25
17
85
IAA 50
13
65
IAA 100
15
75
GA325
16
80
GA3 50
18
90
GA31 00
16
80
Persentase perkecambahan tertinggi terdapat pada

perlakuan GA3 50 ppm dan terendah pada perlakuan IAA 50 ppm. Giberelin mendorong pembentukan\u03b1-amilase dan enzim-enzim hidrolitik lainnya. Adanya enzim-enzim hidrolitik yang masuk ke kotiledon atau endosperm, akan mengakibatkan terjadinya hidrolisis cadangan makanan yang menghasilkan energi, untuk aktifitas sel (Hopkins, 1995; Ashari, 1995).

Hardiyanto (1995) yang menggunakan benih markisa menunjukkan bahwa perendaman dengan GA3 50 ppm selama 48 jam akan meningkatkan persentase dan kecepatan perkecambahan. Hal ini didukung oleh hasil

ANDJARIKMAWATI dkk. \u2013 Pertumbuhan dan Pertumbuhan Punica granatum
93

penelitian Anwarudin dkk. (1996) yang menunjukkan bahwa GA3 50 ppm akan menghasilkan hasil tertinggi pada 2 bulan perkecambahan biji manggis.

Pertumbuhan adalah proses yang mengakibatkan tanaman mengalami perubahan ukuran yang semakin besar dan menentukan hasil tanaman. Pertumbuhan tanaman membutuhkan substrat bahan anorganik dan unsur seperti karbondioksida, unsur hara, air, dan radiasi sinar matahari yang diolah menjadi bahan organik dan diukur secara sederhana dengan pertambahan bobot keseluruhan tanaman yang dipanen dan parameter lain (Sitompul dan Guritno, 1995).

Tinggi tanaman. Perlakuan IAA dan GA3

menunjukkan tidak berpengaruh pada rata-rata tinggi tanaman Punica granatum L. GA3 25 ppm menunjukkan hasil lebih baik dibanding perlakuan lainnya. Giberelin eksogen yang diangkut ke apeks ditajuk akan memacu pembelahan di apeks tajuk, yang akan menyebabkan terjadinya pemanjangan batang dan perkembangan daun muda (Salisbury dan Ross,1995). Penelitian Widyastoety dan Subijanto (1992) menunjukkan bahwa IAA konsentrasi 50-100 ppm tidak berpengaruh nyata pada perangsangan pembelahan dan pemanjangan sel-sel batang pada tanaman Anggrek (Aranda christine no. 130).

Jumlah daun. Perlakuan GA3 berpengaruh dan

perlakuan IAA tidak berpengaruh terhadap jumlah daun. IAA 25 ppm menunjukkan hasil tertinggi dan hasil terendah pada perlakuan GA3 100 ppm. Peningkatan taraf konsentrasi IAA 25-100 ppm dan GA3 25-100 ppm menunjukkan penurunan jumlah daun. Rerata jumlah daun menunjukkan bahwa perlakuan IAA menghasilkan jumlah daun yang lebih besar dibanding dengan GA3. Hal ini menunjukkan bahwa perlakuan IAA lebih efektif daripada GA3. IAA yang berperan dalam pembelahan sel dan diikuti dengan pembesaran sel akan menghasilkan primordia daun

yang berkembang (Salisbury dan Ross, 1995;
Loveless, 1991).
Luas
daun.

Perlakuan IAA tidak berpengaruh dan perlakuan GA3berpengaruh terhadap luas daun. Perlakuan IAA 25 ppm menunjukkan hasil tertinggi dan terendah pada perlakuan GA3 100 ppm. Perlakuan IAA 25- 100 ppm dan GA3 25-100 ppm menunjukkan penurunan luas daun. Hasil rerata menunjukkan perlakuan IAA menghasilkan luas daun lebih besar dibanding dengan GA3, hal ini menunjukkan IAA lebih efektif daripada GA3. Luas

daun
dibentuk
oleh

pembagian karbohidrat ke bagian daun dan efisiensi pembentukan luas daun persatuan karbohidrat yang tersedia (Sitompul dan Guritno, 1995). Rangsangan hormonal yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan bagian vegetatif tanaman berasal dari ujung apikal dan daun-daun muda (Goldsworthy dan Fisher, 1992).

Berat
basah
dan
berat
kering.
Peningkatan konsentrasi IAA dan GA325-1 00
ppm menunjukkan penurunan berat basah yang

diikuti dengan berat kering tanaman. Berat segar tanaman dipengaruhi oleh kadar air dalam jaringan, pada siang hari berat basah dapat berkurang daripada pagi hari, karena laju transpirasi meningkat pada siang hari, sehingga kadar air menurun. Peningkatan berat kering terjadi sebagai akibat bertambahnya protoplasma. Pertambahan protoplasma berlangsung melalui perubahan air, CO2, dan garam-garam organik menjadi bahan hidup. Proses ini meliputi fotosintesis, absorbsi, dan metabolisme sehingga berat kering tanaman meningkat (Harjadi,1993; Lakitan, 1996).

Rasio berat kering akar dan pucuk. Perlakuan GA3 -

berpengaruh dan perlakuan IAA tidak berpengaruh terhadap rasio berat kering akar dan pucuk. IAA 50 ppm menunjukkan hasil tertinggi. Rasio berat kering akar dan pucuk menunjukkan bahwa tanaman membentuk akar lebih banyak, yang dapat meningkatkan serapan hara dan air, sehingga cukup untuk mendukung pertumbuhan.

Panjang akar. Hasil analisis sidik ragam, perlakuan

IAA dan GA3 berpengaruh terhadap panjang akar. IAA konsentrasi 50 ppm menghasilkan panjang akar tertinggi dan GA3 konsentrasi 100 ppm menghasilkan panjang akar terendah. Peningkatan taraf konsentrasi IAA 0-100 ppm menunjukkan adanya penurunan panjang akar pada taraf 25 ppm, kemudian mencapai optimal pada perlakuan IAA 50 ppm dan mengalami penurunan pada taraf IAA 100 ppm. Peningkatan taraf konsentrasi GA3

0-100 ppm menunjukkan adanya peningkatan panjang akar yang optimal pada taraf 25 ppm dan mengalami penurunan sampai taraf 100 ppm. Akar berperan dalam menyediakan unsur hara dan air yang diperlukan dalam metabolisme tanaman. Dwidjoseputro (1992) mengemukakan bahwa penggunaan IAA dengan konsentrasi lebih tinggi akan menghambat panjang akar. Wilkins (1989) menyatakan bahwa giberelin eksogen berpengaruh kecil pada pembentukan akar.

Tabel 3. Rata-rata parameter pertumbuhan Punica granatum L. dengan
perlakuan IAA dan GA3 pada umur 42 hari setelah tanam (cm).
Konsentrasi (ppm)
Parameter (rata-
rata)
ZPT
0
25
50
100
Rerata
Tinggi
IAA 26,880a 22,580b 22,140b 19,780c 22,845B
GA3
26,880c 46,920a 44,260ab 41,380b 39,860A
Jumlah daun
IAA 58,80a
72,00a
61,00a
56,80a
62,15A
GA3
58,80a
33,80b
31,20b
30,40b
38,55B
Luas daun
IAA 5,417a
5,893a
4,920a
3,928a
5,040A
GA3
5,417a
3,631b
2,824b
2,148b
3,505B
Berat basah
IAA 1,767a
1,945a
1,958a
1,300a
1,743A
GA3
1,767a
1,396b
1,113c
1,083c
1,376B
Berat kering
IAA 0,502a
0,545a
0,469a
0,380a
0,474A
GA3
0,502a
0,410a
0,264b
0,245b

0,366B
Rasio berat kering
akar dan pucuk

IAA 0,215a
0,199a
0,252a
0,232a
0,225A
GA3
0,215a
0,153b
0,158b
0,122b
0,162B
Panjang akar
IAA 20,440a 14,440b 23,300a 22,764a 20,235A
GA3 20,440ab 21,680a 16,280b 10,280c 17,170A

Keterangan: Angka-angka pada satu baris yang diikuti dengan huruf kecil yang sama menunjukkan tidak beda nyata pada taraf uji DMRT 5% dan angka- angka yang diikuti huruf besar yang sama menunjukkan tidak beda nyata pada taraf uji T 5%.

Activity (10)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads
Khahar liked this
Riyan Ciul liked this
schemzsusy liked this
schemzsusy liked this
rarakun liked this
issanto liked this
ahmad fauzy liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->