Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
14Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
b070206

b070206

Ratings: (0)|Views: 679 |Likes:
Published by Biodiversitas, etc

More info:

Published by: Biodiversitas, etc on Mar 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

BioSMART
ISSN: 1411-321X
Volume 7, Nomor 2
Oktober 2005
Halaman: 100-103
\ue000 2005 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
\u2665 Alamat korespondensi:

Candikuning, Baturiti, Tabanan, Bali 82191.
Tel. & Fax.: +62-368-21273.
e-mail: direkbg@singaraja.wasantara.net.id, igtirta59@yahoo.com

\u2665 Alamat korespondensi:

Jl. Ir. Sutami 36A, Surakarta 57126
Tel. & Fax.: +62-271-663375.
e-mail: biology@mipa.uns.ac.id

Struktur dan Komposisi Makrofauna Tanah Sebagai Bioindikator Kesehatan
Tanah pada Kasus Perubahan Sistem Penggunaan Lahan di HTI Sengon
Structure and composition of soil macrofauna as bioindicator of soil health on case of land use
change at albizia plantation
SUGIYARTO\u2665
Jurusan Biologi FMIPA, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta 57126
Diterima: 29 April 2005. Disetujui: 1 Agustus 2005.
ABSTRACT

Structure and composition of soil macrofauna are important component of soil sub-system correlated with soil function dynamics. So it is expected can be used as bioindicator of soil health. The objective of this research was to evaluate of using structure and composistion of soil macrofauna as bioindicator of soil health, espescially on land forest of albizia stand.The research conducted on Aprl to September 2003 at Jatirejo forest resort, District of Kediri, East Java. Soil macrofauna collected by hand sorting and pit-fall trap methods. Structure and composition of soil macrofauna expressed by the value of modified-Simpson diversity index. The results indicated: (1) diversities of soil macrofauna influenced by ages of albizia stand and undergrowth vegetation; (a) the highest diversity obtained on 7 years ages of stand, (b) papaya indicated a negative effect to diversities of soil macrofauna; (2) Diversity index of deep soil macrofauna was a bioindicator of C-organic and K-total content of soil.

Key words: soil macrofauna, soil health, bioindicator, albizia.
PENDAHULUAN

Agroforestri merupakan sistem dan teknologi pengelo- laan lahan hutan sebagai salah satu alternatif usaha pengen- dalian kegiatan perusakan sumberdaya hutan sekaligus meningkatkan penghasilan petani secara berkelanjutan, yaitu dengan menggabungkan sistem pengelolaan komodi- tas pertanian, peternakan dan atau perikanan dengan komoditas kehutanan/tanaman pepohonan (Hairiah et al., 2000; de Foresta et al., 2000). Sistem ini mengandung makna produktif sekaligus makna konservatif karena karakternya mendekati ekosistem hutan alami. Akan tetapi ketidak-sesuaian teknologi budidaya yang diterapkan justru cenderung mempercepat proses kerusakan lingkungan, termasuk penurunan keanekaragaman hayati.

Lahan hutan tanaman sengon (Paraserianthes
falcataria (L) Nielsen) berpotensi untuk dimanfaatkan
dalam
pengembangan
sistem agroforestri.

Mulai pertengahan tahun 2000 hampir seluruh lahan di bawah tegakan hutan tanaman sengon di kawasan BKPH Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur telah dimanfaatkan untuk budidaya berbagai jenis tanaman pangan. Akan tetapi teknologi budidaya pada sistem agroforestri berbasis sengon tersebut masih beragam dan kurang tepat. Hendri

(2001) melaporkan bahwa pengembangan sistem agroforestri berbasis sengon pada kawasan tersebut lebih menonjolkan pertimbangan sosial-ekonomi daripada pertimbangan ekologi. Teknologi budidaya semacam ini diduga akan mempercepat terjadinya degradasi lahan dan penurunan keanekaragaman hayati.

Makrofauna tanah merupakan bagian dari keaneka- ragaman hayati yang diduga mengalami penurunan yang tajam sebagai akibat pengembangan sistem agroforestri berbasis sengon. Oleh karena itu adanya alih fungsi lahan hutan tanaman sengon, dari sistem non agroforestri menjadi sistem agroforestri

akan
mempengaruhi

keadaan lingkungan pada umumnya dan keanekaragaman makrofauna tanah pada khususnya. Berbagai penelitian menunjukkan terjadinya penurunan keanekaragaman hayati karena adanya alih fungsi lahan hutan alami menjadi lahan pertanian, perkebunan maupun padang penggembalaan (Moore and Allen, 1999). Pada kasus pengembangan agroforestri berbasis sengon belum tersedia informasi mengenai seberapa besar penurunan keanekaragaman makrofauna tanah serta perubahan struktur dan fungsinya sebagai akibat adanya perubahan sistem penggunaan lahan.

Makrofauna tanah memiliki arti penting pada ekosistem terestrial. Pada ekosistem pertanian, makarofauna tanah berperan dalam pemeliharaan sifat fisika, kimia dan biologi tanah, terutama sebagai dekomposer dan \u2018soil engineer\u2019 sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman budidaya. Selain itu berbagai jenis makrofauna tanah juga berperan sebagai hama, sedangkan sebagian lainnya berperan sebagai predator sehingga erat kaitannya dengan

SUGIYARTO \u2013 Makrofauna sebagai bioindikator kesehatan tanah
101

sistem pengendalian hayati (Killham, 1994). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tanah-tanah terdegradasi pada umumnya menunjukkan penurunan keanekaragaman dan biomassa makrofauna tanah (Giller et al., 1997). Akibat lain penurunan keanekaragaman makrofauna tanah adalah terjadinya perubahan keseimbangan komunitas sehingga dapat menimbulkan dominansi spesies-spesies tertentu yang umumnya berpotensi sebagai hama tanaman (Fragoso et al., 1997; Baker, 1998). Oleh karena itu pe- nurunan keanekaragaman makrofauna tanah diduga dapat dijadikan bioindikator kesehatan tanah yang menggambar- kan daya dukung subsistem tanah dalam menunjang pertumbuhan tanaman atau fungsi produktif lainnya.

Tujuan penelitian ini adalah: (i) mendiskripsikan struktur dan komposisi makrofauna tanah pada berbagai sistem penggunaan lahan di bawah tegakan HTI sengon, (ii) mengidentifikasi faktor-faktor lingkungan fisika-kimia tanah yang terkait erat dengan struktur dan komposisi makrofauna tanah.

BAHAN DAN METODE
Waktu dan tempat penelitian

Penelitian ini dilakukan mulai April sampai dengan September 2003. Lokasi penelitian di kawasan hutan tanaman sengon di RPH Jatirejo, BKPH Pare, KPH Kediri, Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Identifikasi dan kuantifikasi spesimen makrofauna tanah serta analisis beberapa variabel faktor fisika-kimia lingkungan dilakukan di Laboratorium Pusat MIPA dan Laboratorium Tanah, Fakultas Pertanian UNS Surakarta.

Alat dan bahan

Peralatan yang digunakan pada penelitian ini antara lain: cangkul, bak penampung/ember plastik, alat perangkap Barber, pinset, botol koleksi, mikroskop, thermometer, pH-meter, timbangan analitis, timbangan portable, oven, apparatus analisis kandungan unsur C, N, P dan K tanah. Bahan-bahan yang diperlukan meliputi: alkohol 70%, formalin 4%, larutan sabun, label, minyak imersi, kemikalia untuk analisis unsur C, N, P dan K tanah.

Cara kerja

Pengamatan dilakukan pada 9 stasiun pengamatan, yaitu pada tegakan hutan tanaman sengon umur 3, 5 dan 7 tahun, masing-masing dengan vegetasi bawah berupa: semak belukar, papaya/nanas dan rumput gajah. Pada masing-masing stasiun pengamatan tersebut ditentukan 3 titik sampling secara acak dan dilakukan penangkapan makrofauna tanah dan pengukuran berbagai variabel faktor lingkungan (Cox, 1972).

Sampel makrofauna tanah diambil dengan dua metode, yaitu: metode pengambilan langsung dengan tangan (\u2018hand sorting\u2019) dengan volume tanah (30 x 30 x 30) cm3u ntuk makrofauna dalam tanah dan metode perangkap jebak (\u2018pit- fall trap\u2019) dengan lama penangkapan selama 24 jam untuk makrofauna permukaan tanah. Hasil koleksi makrofauna tanah diawetkan pada formalin 4% kemudian dipindahkan ke alkohol 70% untuk selanjutnya dilakukan identifikasi

dan kuantifikasi di laboratorium (Anderson and Ingram, 1993). Identifikasi dilakukan dengan mencocokkkan dengan specimen awetan serta kunci identifikasi dalam literatur (Chu, 1992; Borror et al., 1992; Dindal, 1990; Elzingga, 1978)

Sebagian faktor lingkungan diamati langsung di lapangan, yaitu: suhu tanah dan pH tanah, masing-masing pada kedalaman 0-10 cm. Faktor lingkungan lainnya, yaitu kandungan air, C-organik, N-total, P-total dan K-total tanah dianalisis di laboratorium dengan cara mengambil 200 gram komposit tanah galian (30 cm). Adapun metode analisis yang digunakan adalah sebagai berikut: gravimetri (kandungan air tanah), Walkey-Black (kandungan C- organik tanah), mikro-Kjedahl (N-total), ekstrak asam sulfat pekat (P-total dan K-total tanah) (Cox, 1972; Anderson and Ingram, 1993).

Analisis data

Struktur dan komposisi makrofauna tanah dinyatakan dengan nilai indeks diversitas Simpson yang dimodifikasi (Sugiyarto et al., 2003) dengan rumus sebagai berikut:

ID = (1 -\u2211pi2).(qi)
ID: indeks diversitas makrofauna tanah.
Pi : proporsi makrofauna tanah ke-i di dalam
komunitasnya.

qi : rasio jumlah spesies makrofauna tanah pada satu stasiun pengamatan ke-i dengan total spesies makrofauna tanah pada seluruh stasiun pengamatan.

Untuk membandingkan struktur dan komposisi komunitas makrofauna tanah pada berbagai umur dan jenis vegetasi bawahnya dihitung nilai indeks similaritas Jaccard dengan rumus sebagai berikut:

IS = j / (a + b)-J
IS : indeks similaritas/kesamaan Jaccard
J : jumlah spesies yang ditemukan pada stasiun
pengamatan a dan b.
a : jumlah spesies makrofauna tanah yang ditemukan
pada stasiun a.
b : jumlah spesies makrofauna tanah yang ditemukan
pada stasiun b.

Untuk mengetahui hubungan antara indeks diversitas makrofauna dalam tanah (IDT) dan permukaan tanah (IPT) dengan berbagai variabel faktor lingkungan dilakukan analisis korelasi sederhana.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Struktur dan komposisi makrofauna tanah

Hasil pengamatan dan penghitungan nilai indeks diversitas makrofauna tanah pada berbagai umur tegakan dan jenis vegetasi bawah pada lahan pertanaman sengon disajikan pada Tabel 1. Selain dipengaruhi oleh jenis vegetasi bawahnya, nampak bahwa diversitas makrofauna tanah dipengaruhi oleh umur tegakan sengonnnya. Untuk nilai rata-rata indeks diversitas makrofauna dalam tanah

BioSMART Vol. 7, No. 2, Oktober 2005, hal. 100-103
102

nilai tertinggi ditunjukkan pada umur tegakan 7 tahun (0,38), kemudian diikuti umur 3 tahun (0,21) dan 5 tahun (0,13). Untuk makrofauna permukaan tanah, nampak bahwa semakin bertambah umur tegakan sengon maka semakin tinggi nilai rata-rata indeks diversitasnya, yaitu: 0,21 (3 tahun), 0,27 (5 tahun) dan 0,39 (7 tahun). Berdasarkan jenis vegetasi bawahnya nampak bahwa untuk makrofauna dalam tanah, nilai rata-rata indeks diversitas tertinggi terjadi pada jenis rumput gajah (0,32), kemudian diikuti pepaya (0,25) dan semak belukar (0,16); sedangkan untuk makrofauna permukaan tanah, nilai rata-rata indeks diversitas tertinggi terjadi pada jenis semak belukar (0,33), kemudian diikuti rumput gajah (0,32) dan pepaya (0,24).

Tingginya diversitas makrofauna tanah pada umur tegakan sengon 7 tahun diduga disebabkan oleh semakin tingginya stabilitas kondisi ekosistem yang ada karena ditunjang oleh semakin besarnya tingkat naungan kanopi tegakan sengon. Sebaliknya, pada umur tegakan 5 tahun diversitas makrofauna tanah, terutama kelompok makrofauna dalam tanah, adalah rendah. Hal ini diduga terkait dengan ketersediaan bahan organik yang rendah serta gangguan pengelolaan tegakan, dimana pada umur tegakan 5 tahun terjadi proses penjarangan tegakan sengon. Keberadaan tanaman pepaya pada sistem agroforestri berbasis hutan tanaman sengon ternyata berpengaruh buruk terhadap diversitas makrofauna tanah. Sebaliknya, jenis tanaman rumput gajah memberikan pengaruh yang baik terhadap

diversitas
makrofauna
tanah,
terutama
makrofauna dalam tanah. Hal ini diduga terkait dengan

fungsi vegetasi bawah sebagai penutup tanah dan tempat perlindungan bagi biota tanah. Penanaman tanaman pepaya di bawah tegakan sengon menyebabkan tanah terbuka serta sedikit sumbangan bahan organik ke dalam tanah sehingga menyebabkan tekanan terhadap kehidupan di dalam tanah. Beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa kehidupan makrofauna tanah dipengaruhi oleh karakter vegetasi bawahnya (Maftu\u2019ah et al, 2002; Sugiyarto, 2002; Sugiyarto et al., 2003) dan diversitas tanaman penutup tanah (Sari et al., 2003; Mukti, 2003; Purwanti, 2003). Peningkatan intensitas pengolahan tanah juga berpengaruh buruk terhadap diversitas biota tanah (Makalew, 2001).

Dilihat dari jenis-jenis makrofauna tanah yang
dominan, nampak bahwa Reticulitermes sp. (rayap) dan
Phyllophaga sp. (lundi putih) merupakan makrofauna

dalam tanah yang paling dominan. Kedua jenis makrofauna tanah tersebut merupakan jenis-jenis serangga hama potensial. Dengan demikian pemanfaatan lahan di bawah tegakan HTI sengon rawan terhadap serangan hama. Seperti halnya dilaporkan oleh Sugiyarto (2002) dan Sugiyarto et al. (2003) bahwa perubahan hutan alami menjadi lahan hutan tanaman sengon sistem non- agroforestri maupun agroforestri cenderung meningkatkan dominasi jenis-jenis makrofauna tanah yang berpotensi sebagai hama tanaman.

Untuk kelompok makrofauna permukaan tanah, semut
Lopbopelta ocelliferadan Odontomachus sp.nampak
mendominasi. Kedua jenis serangga ini berpotensi sebagai

predator maupun dekomposer bahan organik sehingga bermanfaat dalam pengendalian hayati hama dan penyakit serta meningkatkan kesuburan tanah melalui sumbangan nutrien

sebagai
hasil
proses
dekomposisi.
Analisis perbandingan komunitas
makrofauna tanah

Hasil perhitungan nilai indeks similaritas Jaccard disajikan pada Tabel 2. Secara umum dapat dilihat bahwa nilai rata-rata indeks similaritas untuk kelompok

makrofauna

permukaan tanah (0,413) lebih tinggi dibanding makrofauna dalam tanah (0,283). Hal ini menunjukkan bahwa pada lahan hutan tanaman sengon jika dibanding dengan

kelompok
makrofauna
permukaan
tanah,
kelompok
makrofauna
dalam
tanah

lebih terpengaruh oleh perbedaan umur tegakan dan jenis vegetasi bawah. Dengan demikian jika dibandingkan dengan

kelompok

makrofauna permukaan tanah, maka komunitas makrofauna dalam tanah lebih cocok untuk digunakan sebagai bioindikator perubahan

lingkungan.

Sugiyarto (2002) dan Sugiyarto et al. (2003) mengemukakan hasil yang sama dan menjelaskan bahwa rendahnya indeks

Tabel 1. Indeks diversitas makrofauna dalam tanah (IDT) dan permukaan tanah (IPT)
serta spesies dominan pada berbagai umur tegakan dan jenis vegetasi bawah pada lahan
pertanaman sengon.
Stasiun pengamatan
IDT Spesies dominan IPT Spesies dominan

1. 3 tahun, semak belukar
3 tahun, papaya + nanas
3 tahun, rumput gajah

0,11 0,18 0,35

Reticulitermes sp.
Phyllophaga sp.
Phyllophaga sp.

0,28 0,18 0,26

Lobopelta ocellifera
Odontomachus sp.
Odontomachus sp.

Rata-rata
0,21
0,24

2. 5 tahun, semak belukar
5 tahun, papaya
5 tahun, rumput gajah

0,11 0,11 0,18

Phyllophaga sp.
Reticulitermes sp.
Phyllophaga sp.

0,30 0,16 0,34

Odontomachus sp. Odontomachus sp. Odontomachus sp.

Rata-rata
0,13
0,27

3. 7 tahun, semak belukar
7 tahun, papaya
7 tahun, rumput gajah

0,26 0,45 0,44

Reticulitermes sp.
Blatta orientialis
Reticulitermes sp.

0,41 0,38 0,37

Lobopelta ocellifera Lobopelta ocellifera Lobopelta ocellifera

Rata-rata
0,38
0,39
Tabel 2. Indeks similaritas Jaccard komunitas makrofauna tanah pada berbagai umur
dan jenis vegetasi bawah pada lahan hutan tanaman industri sengon.
Rata-rata indeks similaritas makrofauna permukaan tanah: 0,413
3 sb
3 ppn
3 rg
5 sb
5 pp
5 rg
7 sb
7 pp
7 rg
3 sb
0,28
0,43
0,45
0,25
0,35
0,56
0,42
0,48
3 ppn 0,23
0,33
0,32
0,60
0,54
0,23
0,38
0,46
3 rg
0,25
0,30
0,42
0,43
0,26
0,36
0,38
0,35
5 sb
0,30
0,24
0,34
0,53
0,65
0,33
0,30
0,33
5 pp
0,22
0,38
0,26
0,23
0,54
0,24
0,38
0,58
5 rg
0,25
0,27
0,25
0,35
0,42
0,34
0,38
0,44
7 sb
0,38
0,22
0,30
0,38
0,24
0,33
0,44
0,64
7 pp
0,21
0,29
0,42
0,20
0,21
0,25
0,25
0,47
7 rg
0,23
0,25
0,33
0,26
0,22
0,26
0,40
0,28
Rata-rata indeks similaritas makrofauna dalam tanah: 0,283

Keterangan: Sb: vegetasi bawah semak belukar (sistem non-agroforestri). Pp: vegetasi bawah pepaya (sistem agroforestri). Ppn: vegetasi bawah papaya dan nanas (sistem agroforestri). Rg: vegetasi bawah rumput gajah (sistem agroforestri).

Activity (14)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Afri Yani liked this
Lis Maini liked this
Dewi Mifta liked this
Agustin Fatimah liked this
litlle_princess liked this
Mas Adil liked this
Nardi Susi Yanto liked this
litlle_princess liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->