Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
0Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
f030202

f030202

Ratings: (0)|Views: 1,075|Likes:
Published by Biodiversitas, etc

More info:

Published by: Biodiversitas, etc on Mar 09, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2013

pdf

text

original

 
Biofarmasi 
3 (2): 43-46, Agustus 2005, ISSN: 1693-2242
2005 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta
Isolasi Komponen Aktif Antibakteri Ekstrak Kloroform Daun Mimba(
 Azadirachta indica
A. Juss.) dengan Bioautografi
 Isolation of antibacterial compounds from chloroform extract of neem
Azadirachta indica
A. Juss.) leaves guided by bioautography 
DWI APRISTIANI, PUJI ASTUTI
 
Bagian Biologi Farmasi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta 55281
 
Korespondensi
: Jl. Sekip Utara Yogyakarta 55281. Tel. +62-274-902568. Fax.: +62-274-543120. email: p.astuti@gmail.com
Diterima: 22 Maret 2005. Disetujui: 15 Juni 2005.
 Abstract 
.
Neem leaves (
 Azadirachta indica
A. Juss.) have been traditionally used as antibacterial agent for a long time.Former research mentioned that neem leaves were proven to have antibacterial activity. This study was aimed to isolateantibacterial components in the chloroform extract of neem leaves guided by bioautography. Neem leaves were extractedby maceration technique. Antibacterial testing of chloroform extract was conducted by agar dilution method. Chloroformextract at the concentration of 1000 µg/mL inhibited the growth of 
Staphylococcus aureus
but not
Escherichia coli 
. Theextract was then fractionated by Vacuum Liquid Chromatography (VLC) method, and the fractions obtained were testedfor antibacterial activity. The mixture of 2 and 3 fractions which was eluted with n-hexane: ethyl acetate = 9:1 (v/v) andn-hexane: ethyl acetate = 5:1 (v/v) inhibited the growth of 
S. aureus
at the concentration of 1000 µg/mL. TLC-bioautography of the fraction showed two inhibition zone with hRf values of 43.75 and 18.75. Isolate with hRf of 18.75has Minimum Inhibitory Concentration (MIC) value of 500 µg/mL and still contained many components such as terpenoid.
Key words
: neem,
 Azadirachta indica
A. Juss., antibacterial agent,
Staphylococcus aureus
.
PENDAHULUAN
Masyarakat Indonesia saat ini telah banyakmemanfaatkan tanaman obat tradisional untukmenanggulangi berbagai macam penyakit.Penelitian mengenai obat tradisional dibutuhkanuntuk memberikan bukti ilmiah mengenai khasiatsuatu tanaman obat selain juga dapat digunakansebagai sumber senyawa penuntun untuk sintesissenyawa obat baru. Salah satu tanaman yang telahlama digunakan sebagai obat tradisional tersebutadalah mimba (
 Azadirachta indica
A. Juss.), yangnama lainnya adalah
 Antelaea azadirachta
(L.)Adelb (Backer and van den Brink, 1965). Di Jawatumbuhan ini dikenal dengan nama Mimba (Heyne,1987). Neem, Nim, Margosa, Indian Lilac, BeadTree, Pride of China, Holy Tree, Persian Lilac adalahsebutan untuk tumbuhan ini dalam bahasa Inggris(Gruenwald
et al 
., 1998).Daun mimba tersusun spiralis, mengumpul diujung ranting, merupakan daun majemuk menyiripgenap. Tepi anak daun bergerigi, bergigi, beringgit,helaian tipis seperti kulit, bangun memanjangsampai tengah lanset, pangkal runcing, ujungruncing atau setengah meruncing, gundul atausedikit berbulu, panjang 3-10,5 cm dan lebarnya0,5-3,5 cm (Backer and van den Brink, 1965).Tumbuhan mimba banyak digunakan masyarakatsebagai obat, antara lain daunnya untukpembangkit selera makan, obat disentri, borok,malaria, minyaknya untuk eksema, kepala kotor,kudis, dan kulitnya untuk mengatasi gangguanlambung (Mardisiswojo
et al 
., 1985). Sudarsono
et al 
. (2002) juga mengatakan bahwa daun mimbadigunakan untuk penambah nafsu makan, untukmenanggulangi disentri, borok, malaria, danantibakteri. Mimba mengandung senyawa triterpendan tetraterpen (limonoid, protolimonoid dankelompok gedunin). Dalam minyak biji terdapatnimbolin A dan B, nimbin, dan gedunin. Tanin danminyak atsiri terdapat pada kulit kayu dan daun(Gruenwald
et al 
., 1998). Metabolit yang ditemukandari
 A. indica
antara lain disetil vilasinin,nimbandiol, 3-desasetil salanin, salanol, danazadirachtin (Sudarsono
et al 
., 2002).Sebuah penelitian menyebutkan bahwa ekstrakkulit batang dan daun mimba telah teruji dapatmelawan 105 galur bakteri dari 7 genus, yaitu
Staphylococcus, Enterococcus, Pseudomonas,Escherichia, Klebsiella, Salmonella,
dan
 Mycobacterium
(Fabry
et al.,
1998). Fraksikloroform daun mimba, dengan menggunakanmetode difusi padat, diketahui mempunyai aktivitasantibakteri terhadap bakteri
Staphylococcus aureus
dan
Salmonella typhi 
(Pramularsih, 2001).Penelitian ini dilakukan untuk mengisolasikomponen aktif antibakteri yang terdapat dalamekstrak kloroform daun mimba dengan metodebioautografi.
 
Biofarmasi 
3 (2): 43-46, Agustus 2005
44
BAHAN DAN METODE
 Alat dan Bahan
Alat timbang, alat untuk penyarian: bejanatertutup, corong Buchner, dan cawan porselin, alatkromatografi lapis tipis: pipa kapiler, bejanakromatografi, lampu UV, lempeng kaca, kipas angin,dan oven. Seperangkat alat
Vacuum Liquid Chromatography 
(VLC): kolom kromatografi,vakum, cawan porselin, Erlenmeyer, dan gelas ukur.Seperangkat alat untuk uji antibakteri:
 
cawan petri,
 LAF hood 
, pipet mikro, ose,
spreader 
 
glass
,Erlenmeyer, autoklaf, inkubator.Bahan utama daun mimba (
 A. indica
) diambildari Pronosutan, Kembang, Nanggulan, Kulonprogo,Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan Agustus2003. Pelarut organik: kloroform, metanol, n-hek-sana, etil asetat. DMSO, aquades, silika gel F 254,Pereaksi semprot: serium (IV) sulfat, anisaldehida-asam sulfat, Dragendorff, FeCl
3
, uap amonia, sitro-borat.Bahan uji antibakteri: mikroba (
Staphylo-coccus aureus
dan
Escherichia coli 
), media
nutrient agar 
(NA),
nutrient broth
(NB), salin (larutan NaCl0,9%), dan kloramfenikol sebagai kontrol.
Cara kerja
Penyarian serbuk daun mimba
Penyarian serbuk daun mimba dilakukan denganmetode maserasi. Serbuk kering daun mimbadirendam dalam bejana tertutup dengan pelarutkloroform selama 24 jam, sambil digojog di atasshaker, kemudian disaring dengan corong Buchner.Prosedur ini diulang tiga kali untuk mendapatkanekstrak kloroform.
Fraksinasi ekstrak daun mimba denganmetode
Vacuum Liquid Chromatography 
(VLC)
Fraksinasi dilakukan menurut Coll dan Bowden(1986) yang dimodifikasi dengan fase diam silica gelPF254 dan fase gerak bervariasi (n-heksana100%;n-heksana: etil asetat = 15:1, 9:1, 5:1, 1:1, 1:5(v/v); etil asetat 100%; metanol: kloroform = 1:1(v/v)). Fraksi-fraksi ditampung dalam cawanporselin dan diuapkan pelarutnya hingga kering.Fraksi dengan profil KLT yang mirip digabungmenjadi satu untuk diuji antibakteri.
 Uji aktivitas antibakteri (Mitscher
et al 
., 1972)
Uji antibakteri dilakukan dengan metode dilusipadat pada konsentrasi 1000
µ
g/mL media.Kloramfenikol digunakan sebagai kontrol positif (+),sedangkan untuk kontrol negatif (-) digunakanDMSO. Ada tidaknya aktivitas penghambatanpertumbuhan bakteri pada media yang mengandungekstrak kloroform/fraksi dibandingkan dengankontrol positif dan negatifnya. Penentuan hargaKHM dilakukan dengan metode dilusi cair.Bioautografi dilakukan dengan meletakkan platKLT sampel yang telah dikeringkan di atas mediayang telah diberi suspensi bakteri selama 20 menit.Media pertumbuhan bakteri tersebut diinkubasipada suhu 37
o
C selama 18-24 jam. Diamati zonehambatan yang terbentuk.
Isolasi komponen aktif dengan metode KLTpreparatif 
Isolasi dilakukan terhadap komponen aktif dalamfraksi yang menunjukkan zona hambatan padasistem bioautografi dan dianalisis komponen yangterkandung di dalamnya dengan deteksi sinar UV254 nm dan 365 nm, pereaksi Dragendorff, serium(IV) sulfat, anisaldehida-asam sulfat, sitroborat,FeCl
3
, dan uap amonia.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Uji pendahuluan terhadap ekstrak kloroformdengan konsentrasi 1000
µ
g/mL menunjukkanadanya penghambatan pertumbuhan bakteri
S.aureus
tetapi tidak terhadap
E. coli 
. Kontrol positif dengan larutan obat kloramfenikol 1000
µ
g/mLmenghambat pertumbuhan bakteri
S. aureus
dan
E.coli 
. Kontrol negatif dengan larutan DMSO 100
µ
lmemperlihatkan pertumbuhan yang normal daribakteri uji (Tabel 1).Pada uji ini konsentrasi dipilih 1000
µ
g/mL sebab jika ekstrak aktif pada konsentrasi > 1000
µ
g/mLekstrak tersebut dianggap tidak efektif dikembangkan sebagai antimikroba baru dibandingobat-obat antibiotik yang sudah ada sekarang.Ekstrak dikatakan berpotensi jika pada kadarpemberian
1000
µ
g/mL mampu menghambatpertumbuhan bakteri (Mitscher
et al 
., 1972)
Tabel 1.
Hasil uji pendahuluan aktivitas antibakteriekstrak kloroform.
Bakteri ujiSampelSA EC
Ekstrak kloroform 1000
µ
g/mLK +K -++++----++--Keterangan: SA:
S. aureus,
EC:
E. coli,
K +: Kontrol positif antibakteri (kloramfenikol 1000
µ
g/mL), K -: Kontrolnegatif antibakteri (DMSO 100
µ
l), ++: aktif (tidak adapertumbuhan), +: aktif (sedikit pertumbuhan), --: tidakaktif.
Salah satu kemungkinan penyebab perbedaanaktivitas antibakteri ekstrak kloroform terhadap
S.aureus
dan
E. coli 
adalah perbedaan komponenpenyusun dinding sel bakteri tersebut.
S. aureus
 merupakan bakteri gram positif dengan dinding selyang relatif sederhana, hanya terdiri dari tigalapisan, yaitu selaput sitoplasmik, lapisanpeptidoglikan yang tebal, dan lapisan luar yangdinamakan simpai. Sedangkan dinding sel
E. coli 
 mempunyai struktur yang berlapis-lapis dan sangatkompleks (Jawetz
et al 
., 1986). Kekompleksanstruktur dinding sel bakteri gram negatif ini menjadirintangan yang besar bagi agen antimikroba untukmenembusnya.Dari hasil fraksinasi ekstrak kloroform diperolehtiga belas fraksi (Gambar 1.) dan fraksi-fraksidengan profil KLT yang hampir sama dijadikan satusehingga diperoleh tujuh fraksi yang siap diujiantibaketri. Uji aktivitas fraksi menunjukkanbeberapa fraksi aktif (Tabel 2).
 
APRISTIANI dan ASTUTI –
Komponen antibakteri daun
 
Azadirachta indica
 
45 
Gambar 1.
Hasil KLT fraksinasi ekstrak kloroform.Keterangan: Fase diam = silika gel GF 254. Fase gerak =n-heksana: etil asetat = 2:1 (v/v). Deteksi pereaksisemprot serium(IV) sulfat.
Tabel 2.
Hasil uji aktivitas antibakteri beberapa fraksi dariekstrak kloroform pada konsentrasi 1000
µ
g/mL.
Sampel uji SA
Fraksi 1Fraksi 2+3Fraksi 4+5Fraksi 6Fraksi 7+8+9Fraksi 10+11+12Fraksi 13K +K ---+++++++++++++--Keterangan: SA:
S. aureus,
K +: Kontrol positif antibakteri(kloramfenikol 1000
µ
g/mL), K -: Kontrol negatif antibakteri (DMSO 100
µ
l), ++: aktif (tidak ada pertum-buhan), +: aktif (sedikit pertumbuhan), --: tidak aktif.
Tabel 3.
Hasil uji penentuan KHM.
Kadar isolat (µg/mL) SA
50025012562,531,25K + (25)K+ (12,5)KPKM+-------+++----Keterangan: SA:
S. aureus,
K + (25): Kontrol positif (kloramfenikol 25
µ
g/mL), K + (12,5): Kontrol positif (kloramfenikol 12,5
µ
g/mL), KP: Kontrol pelarut (DMSO 20
µ
l), KM: Kontrol media (media + bakteri), ++: aktif (tidakada pertumbuhan), +: aktif (sedikit pertumbuhan), --:tidak aktif.
Salah satu fraksi aktif diisolasi komponenaktifnya dengan metode bioautografi. Kontrolnegatif digunakan untuk memastikan bahwa zona jernih yang terjadi disebabkan oleh senyawa yangterdapat dalam kromatogram sampel. Hasil ujimenunjukkan adanya dua zona jernih dengan hRf 43,75 dan 18,75 pada sistem KLT dengan fase diamsilica gel F254 dan fase gerak n-heksana-etil asetat3:1 (v/v) (Gambar 2). Isolasi dilakukan terhadapsenyawa dengan hRf tersebut dan diketahui isolatdengan hRf 18,75 mampu menghambatpertumbuhan bakteri dengan KHM 500
µ
g/mL(Tabel 3).Deteksi kromatogram isolat dengan sinar UV 254memperlihatkan beberapa pemadaman yangmenunjukkan adanya senyawa-senyawa yangmengandung minimal 2 ikatan rangkapterkonjugasi. Sedangkan pada sinar UV 365 tidakterjadi pemendaran yang menunjukkan tidakadanya senyawa dengan ikatan rangkapterkonjugasi yang lebih panjang (inti aromatis ataugugus kromofor dan auksokrom). Kromatogramisolat menunjukkan hasil negatif terhadap pereaksiuap amonia, sitroborat, Dragendorff, dan FeCl
3
yangmenunjukkan tidak adanya kandungan flavonoid,fenol, dan alkaloid dalam isolat. Deteksi denganserium (IV) sulfat dan anisaldehida-asam sulfatmemunculkan banyak bercak pada kromatogram.Anisaldehida-asam sulfat digunakan salah satunyauntuk deteksi senyawa terpenoid (Tabel 4, Gambar3).
Gambar 2.
Bioautografi gabungan fraksi 2 dan 3. Fase diamsilica gel F254; fase gerak n-heksana-etil asetat 3:1 (v/v).1 2 3 4 5 6 7 8
Gambar 3.
Profil KLT isolat dengan hRf 18,75.Keterangan: Fase diam: silika gel F 254. Fase gerak n-heksana: etil asetat = 1:1 (v/v) + 3 tetes asam asetatglasial: 1. UV 254, 2. UV 365, 3. uap amonia, 4.Dragendorff, 5. FeCl
3
, 6. sitroborat, 7. serium (IV) sulfat,8. anisaldehida-asam sulfat.1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Activity (0)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Mei Yi Loh liked this
Iin DjanggoLa liked this
Suuci Etiikaa liked this
Lingga Kamadatu added this note
hi, boleh nanya... gmn cr download skripsi ini yach???? makasih sebelumnya. GB :)
Lingga Kamadatu liked this
Den Iwan liked this
Puu Rahmawati liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->