Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Buletin Sasaraina Eds. Januari 2013

Buletin Sasaraina Eds. Januari 2013

Ratings: (0)|Views: 464|Likes:
Published by Rahadio Dio
Buletin Pemkab.Mentawai
Buletin Pemkab.Mentawai

More info:

Published by: Rahadio Dio on Mar 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

03/18/2013

pdf

text

original

 
 YANG TERTUNDA
SEJAK
lengsernya orde baru, dinamika perssemakin mewarnai dalam menciptakan men-dukung kebijakan pemerintah. Pers merupakansalah satu bagian penting untuk mewujudkan ma-syarakat yang cerdas. Sesuai dengan fungsinya,bahwa pers wajib memberikan informasi berita,hiburan, pendidikan, serta kontrol sosial (UU No40 1999). Atas dasar itu, Mentawai tahun 2013 akanlebih baik dengan menjalin kerja sama denganberbagai media, baik elektronik maupun cetak.Kedua media ini dipandang penting bagi kehi-dupan warga Mentawai, khususnya untuk meng-dongkrak kemajuan pemerintah Kabupaten Ke-pulauan Mentawai. Secara umum, tentunya ma-syarakat Mentawai tidak mengetahui apa yangsudah, sedang, dan akan terjadi di Bumi Sikerei.Harus kita sadari, kondisi Mentawai masih adabeberapa kecematan yang belum terhubungkomunikasi, maka sudah pasti PemerintahKabupaten Kepulauan Mentawai sendiri lemahdalam melakukan pengawasan. Contoh saja,dengan adanya ekspos media massa saat terjaditsunami di Mentawai, maka pemerintah pusatbahkan luar negeri langsung merespons,khususnya dalam memberikan bantuankemanusiaan.Kondisi terdampak gempa dan tsunami 2010itu kita pahami belum terhubung dengan ko-munikasi, sehingga informasi pun sedikit ter-lambat. Namun apa jadinya jika media massatidak mengekspos bencana ini, tentunya prosespenanggulangan bencana pun tidak akanberjalan secara maksimal.Selain itu, media yang bergerak melakukankontrol sosial sangat membantu bagi PemerintahKabupaten Kepulauan Mentawai. Sebabpemerintah sendiri terkadang belum men-dapatkan informasi terkini masyarakat masyaraktyang tinggal di pedesaan. Jika ada wargaMentawai di pelosok desan yang sakit muntaber,demam berdarah, keracunan, bisa jadi mediayang lebih mendengar masalah ini. Denganeksposnya itu, maka pemerintah pun dengancepat meresponsnya. Masih ada contoh lain lagi,yang semua itu dengan adanya partisipasi kinerjapers (wartawan).Namun di era kebebasan pers saat ini, tidaksedikit dari pejabat atau orang-orang yangbekerja sebagai PNS merasa terusik ataukhawatir bertemu dengan wartawan. Akibatnya,di antara mereka yang terusik tersebut punenggan menerima kedatangan wartawan.Pandangan ini tentu harus kita robah, khu-susnya di Bumi Sikerei. Wartawan hanya seoranginsan yang mencari informasi dan tidak pernahmemaksa untuk mendapatkan informasi darinarasumbernya. Dalam hal ini perlu adanyapelayanan khusus terhadap wartawan yang akanmenjalankan tugasnya sebagai seorang jurnalis.Untuk itu, dari tulisan singkat ini, saya meng-himbau kepada semua insan pers yang bertugasdi Bumi Sikerei, agar tetap melakukan tugasnyasebagaimana mestinya. Tantunya, saat iniMentawai sangat membutuhkan ekspos yangdapat mengundang investor untuk mengelolapotensi Kabupaten Kepulauan Mentawai yangbelum tergarap secara maksimal. Pariwisata,merupakan salah satu langkah penting untukmerobah Mentawai lebih maju dan disegani olehdaerah lain, jika media terus menggalinya.Kerjasama yang baik dengan media, meru-
 
e d i t o r i a lTPI TuapeijatDiincar Investor Puskesmas MinimDokter Umum
KEPALA BKD MARTINUS. DKEPALA DKP EDI SUKARNIKEPALA DINKES WARTA SIRITOITET
Kapal BBMDihadang Warga Tuapeijat
Mentawai, Sasaraina—Pascatsunami 25Oktober 2010 di Kabupaten KepulauanMentawai, harga BBM terus naik tanpaterkendali, sementara semua pihak salingmenuding adanya biangkerok.
Harga Bensin TembusRp20 Ribu Perliter
 
Baca
Selengkapnya...
Hal 7
 April, Festival SurfingTingkat Asia Digelar
Pengawasan PatroliLaut Lemah
 
cari badai oleh paklek 
edisi : 01/tahun IV/januari-2013
2
 
Konsep Pendidikan Karakter
 
SISTEM
pendidikan di Indonesiasecara umum masih dititikberatkanpada kecerdasan kognitif. Hal ini dapatdilihat dari orientasi sekolah sekolahyang ada masih disibukkan denganujian, mulai dari ujian mid, ujian akhirhingga ujian nasional. Ditambahlatihan-latihan soal harian dan pekerjaanrumah untuk memecahkan pertanyaandi buku pelajaran yang biasanya tak relevan dengan kehidupan sehari haripara siswa.Saatnya para pengambil kebijakan,para pendidik, orang tua dan masya-rakat senantiasa memperkaya persepsibahwa ukuran keberhasilan tak meluludilihat dari prestasi angka angka.Hendaknya institusi sekolah menjaditempat yang senantiasa menciptakanpengalaman pengalaman bagi siswauntuk membangun dan membentuk karakter unggul.
Pengertian PendidikanKarakter
Pengertian karakter menurut PusatBahasa Depdiknas adalah “bawaan,hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti,perilaku, personalitas, sifat, tabiat,temperamen, watak”. Adapun ber-karakter adalah berkepribadian, ber-perilaku, bersifat, bertabiat, dan ber- watak”. Menurut Tadkiroatun Musfiroh(UNY, 2008), karakter mengacu kepadaserangkaian sikap ( 
attitudes 
 ), perilaku
behaviors 
 ), motivasi (motivations), danketerampilan
skills 
 ). Karakter berasaldari bahasa Yunani yang berarti “
tomark
” atau menandai danmemfokuskan bagaimanamengaplikasikan nilai kebaikan dalambentuk tindakan atau tingkah laku,sehingga orang yang tidak jujur, kejam,rakus dan perilaku jelek lainnyadikatakan orang berkarakter jelek. Se-baliknya, orang yang perilakunya sesuaidengan kaidah moral disebut denganberkarakter mulia.
Konsep Pendidikan Karakter
Karakter mulia berarti individumemiliki pengetahuan tentang potensidirinya, yang ditandai dengan nilai-nilaiseperti reflektif, percaya diri, rasional,logis, kritis, analitis, kreatif dan inovatif,mandiri, hidup sehat, bertanggung jawab, cinta ilmu, sabar, berhati-hati,rela berkorban, pemberani, dapatdipercaya, jujur, menepati janji, adil,rendah hati, malu berbuat salah,pemaaf, berhati lembut, setia, bekerjakeras, tekun, ulet/gigih, teliti,berinisiatif, berpikir positif, disiplin,antisipatif, inisiatif, visioner, bersahaja,bersemangat, dinamis, hemat/efisien,menghargai waktu, pengabdian/dedikatif, pengendalian diri, produktif,ramah, cinta keindahan ( 
estetis 
 ), sportif,tabah, terbuka, tertib. Individu jugamemiliki kesadaran untuk berbuat yang terbaik atau unggul, dan individu jugamampu bertindak sesuai potensi dankesadarannya tersebut. Karakteristik adalah realisasi perkembangan positif sebagai individu (intelektual, emosional,sosial, etika, dan perilaku).Individu yang berkarakter baik atauunggul adalah seseorang yang berusahamelakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan YME, dirinya, sesama,lingkungan, bangsa dan negara sertadunia internasional pada umumnyadengan mengoptimalkan potensi(pengetahuan) dirinya dan disertaidengan kesadaran, emosi danmotivasinya (perasaannya).Pendidikan karakter adalah suatu sis-tem penanaman nilai-nilai karakterkepada warga sekolah yang meliputikomponen pengetahuan, kesadaranatau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.Pendidikan karakter dapat dimaknaisebagai “
the deliberate use of all dimensions of school life to foster optimal character devel- opment 
”.Dalam pendidikan karakter di se-kolah, semua komponen (pemangkupendidikan) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itusendiri, yaitu isi kurikulum, prosespembelajaran dan penilaian, pe-nanganan atau pengelolaan mata pela-jaran, pengelolaan sekolah, pelaksanaanaktivitas atau kegiatan ko-kurikuler,pemberdayaan sarana prasarana,pembiayaan, dan ethos kerja seluruh warga sekolah/lingkungan. Di samping itu, pendidikan karakter dimaknaisebagai suatu perilaku warga sekolahyang dalam menyelenggarakanpendidikan harus berkarakter.Menurut David Elkind & Freddy Sweet Ph.D. (2004), pendidikan karak-ter dimaknai sebagai berikut: “
character education is the deliberate effort to help people understand, care about, and act upon core ethi- cal values. When we think about the kind of character we want for our children, it is clear that we want them to be able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right, even in the  face of pressure from without and temptation  from within 
”.Lebih lanjut dijelaskan bahwa pen-didikan karakter adalah segala sesuatuyang dilakukan guru, yang mampumempengaruhi karakter peserta didik.Guru membantu membentuk watak peserta didik. Hal ini mencakupketeladanan bagaimana perilaku guru,cara guru berbicara atau menyampai-kan materi, bagaimana guru bertole-ransi, dan berbagai hal terkait lainnya.Menurut T. Ramli (2003), pendi-dikan karakter memiliki esensi dan mak-na yang sama dengan pendidikan mo-ral dan pendidikan akhlak. Tujuannyaadalah membentuk pribadi anak, supayamenjadi manusia yang baik, wargamasyarakat, dan warga negara yang baik. Adapun kriteria manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik bagi suatumasyarakat atau bangsa, secara umumadalah nilai-nilai sosial tertentu, yang banyak dipengaruhi oleh budaya masya-rakat dan bangsanya. Oleh karena itu,hakikat dari pendidikan karakter dalamkonteks pendidikan di Indonesia adalahpendidikan nilai, yakni pendidikan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budayabangsa Indonesia sendiri, dalam rangkamembina kepribadian generasi muda.Pendidikan karakter berpijak darikarakter dasar manusia, yang bersum-ber dari nilai moral universal (bersifatabsolut) yang bersumber dari agamayang juga disebut sebagai
the golden rule 
.Pendidikan karakter dapat memilikitujuan yang pasti, apabila berpijak darinilai-nilai karakter dasar tersebut.Menurut para ahli psikolog, beberapanilai karakter dasar tersebut adalah: cintakepada Allah dan ciptaann-Nya (alamdengan isinya), tanggung jawab, jujur,hormat dan santun, kasih sayang, peduli,dan kerjasama, percaya diri, kreatif, kerjakeras, dan pantang menyerah, keadilandan kepemimpinan; baik dan rendahhati, toleransi, cinta damai, dan cintapersatuan. Pendapat lain mengatakanbahwa karakter dasar manusia terdiridari: dapat dipercaya, rasa hormat danperhatian, peduli, jujur, tanggung jawab;kewarganegaraan, ketulusan, berani,tekun, disiplin, visioner, adil, dan pu-nya integritas. Penyelenggaraan pen-didikan karakter di sekolah harus ber-pijak kepada nilai-nilai karakter dasar,yang selanjutnya dikembangkan menjadinilai-nilai yang lebih banyak atau lebihtinggi (yang bersifat tidak absolut ataubersifat relatif) sesuai dengan kebutu-han, kondisi, dan lingkungan sekolah itusendiri.Dewasa ini banyak pihak menuntutpeningkatan intensitas dan kualitas pel-aksanaan pendidikan karakter pada lem-baga pendidikan formal. Tuntutan ter-sebut didasarkan pada fenomena sosialyang berkembang, yakni meningkatnyakenakalan remaja dalam masyarakat,seperti perkelahian massal dan berbagaikasus dekadensi moral lainnya. Bahkandi kota-kota besar tertentu, gejalatersebut telah sampai pada taraf yang sangat meresahkan. Oleh karena itu, lem-baga pendidikan formal sebagai wadahresmi pembinaan generasi muda diharap-kan dapat meningkatkan peranannyadalam pembentukan kepribadian pesertadidik melalui peningkatan intensitas dankualitas pendidikan karakter.Para pakar pendidikan pada umum-nya sependapat tentang pentingnyaupaya peningkatan pendidikan karakterpada jalur pendidikan formal. Namundemikian, ada perbedaan-perbedaanpendapat di antara mereka tentang pen-dekatan dan modus pendidikannya.Berhubungan dengan pendekatan, se-bagian pakar menyarankan penggunaanpendekatan-pendekatan pendidikanmoral yang dikembangkan di negara-negara barat, seperti: pendekatan per-kembangan moral kognitif, pendekatananalisis nilai, dan pendekatan klarifikasinilai. Sebagian yang lain menyarankanpenggunaan pendekatan tradisional,yakni melalui penanaman nilai-nilai so-sial tertentu dalam diri peserta didik.Berdasarkan
 grand design 
yang di-kembangkan Kemendiknas (2010), se-cara psikologis dan sosial kultural pem-bentukan karakter dalam diri individumerupakan fungsi dari seluruh potensiindividu manusia (kognitif, afektif,konatif, dan psikomotorik) dalamkonteks interaksi sosial kultural (dalamkeluarga, sekolah, dan masyarakat) danberlangsung sepanjang hayat. Konfigu-rasi karakter dalam konteks totalitasproses psikologis dan sosial-kulturaltersebut dapat dikelompokkan dalam:Olah Hati ( 
Spiritual and emotional devel- opment 
 ), Olah Pikir ( 
intellectual develop- ment 
 ), Olah Raga dan Kinestetik ( 
Physi- cal and kinestetic development 
 ), dan OlahRasa dan Karsa ( 
 Affective and Creativity development 
 ) yang secara diagramatik dapat digambarkan sebagai berikut.
Kofigurasi Karakter
Para pakar telah mengemukakanberbagai teori tentang pendidikanmoral. Menurut Hersh, et. al. (1980),di antara berbagai teori yang berkem-bang, ada enam teori yang banyak di-gunakan; yaitu: pendekatan pengemba-ngan rasional, pendekatan pertim-bangan, pendekatan klarifikasi nilai,pendekatan pengembangan moral kog-nitif, dan pendekatan perilaku sosial.Berbeda dengan klasifikasi tersebut,Elias (1989) mengklasifikasikan ber-bagai teori yang berkembang menjaditiga, yakni: pendekatan kognitif, pen-dekatan afektif, dan pendekatanperilaku. Klasifikasi didasarkan pada ti-ga unsur moralitas, yang biasa menjaditumpuan kajian psikologi, yakni:perilaku, kognisi, dan afeksi.Berdasarkan pembahasan di atasdapat ditegaskan bahwa pendidikan ka-rakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secarasistematis untuk membantu pesertadidik memahami nilai-nilai perilakumanusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, se-sama manusia, lingkungan, dan kebang-saan yang terwujud dalam pikiran, sikap,perasaan, perkataan, dan perbuatanberdasarkan norma-norma agama,hukum, tata krama, budaya, dan adatistiadat.
(berbagai sumber) 
edisi : 01/tahun IV/januari-2013
3

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->