Seminar Nasional tentang Keberlanjutan Partisipasi Masyarakat dalam PembangunanSub Tema : Praktek dan Pengalaman Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan : kasus-kasus
123
Nasional, UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, dan UU 26/2007 tentang PenataanRuang.Salah satu tujuan sistem perencanaan pembangunan nasional, seperti disebutkan dalamUU 25/2004 (Pasal 2 (4)d), adalah mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Dalam UU ini juga ditekankan mengenai perlunya musyawarah perencanaan pembangunan(Musrenbang) mulai dari tingkat desa hingga nasional pada semua tingkatan rencana,mulai dari rencana jangka panjang hingga jangka tahunan. Sementara dalam UU32/2004 yang merupakan pengganti UU 22/1999, pentingnya partisipasi (danpemberdayaan) masyarakat ditekankan antara lain pada Pasal 199 (6), Pasal 200 (2),Pasal 209, dan Pasal 215. Demikian pula dengan UU 26/2007 yang menggantikanundang-undang sebelumnya, UU 24/1992, pentingnya partisipasi masyarakat terlihatantara lain pada Pasal 48 dan Pasal 55. Bahkan Bab VIII secara khusus mengaturmengenai hak, kewajiban dan peran masyarakat, dengan Pasal 65 memberikanpenekanan pada partisipasi.Asal mula dirasakan perlunya partisipasi masyarakat sebenarnya berawal dariterpinggirkannya peran masyarakat dalam pengambilan keputusan oleh para elitpenguasa, padahal keputusan-keputusan itu menyangkut kesejahteraan masyarakat luas.Arnstein (1969) misalnya, sekitar 40 tahun yang lalu mengkritisi bahwa partisipasimasyarakat di Amerika Serikat pada masa itu lebih bersifat ritual kosong belaka.Mayoritas masyarakat tidak mendapatkan kekuasaan (
power
) yang cukup, baik di ranahpolitik maupun mekanisme sosial ekonomi yang ada, untuk dapat berperan dalammenentukan dan merubah nasib mereka sendiri ke arah yang lebih baik. Maka pelibatanaktif masyarakat luas dalam pembangunan hakikatnya merupakan suatu langkah yangberpihak kepada mayoritas penduduk yang kurang beruntung (
worse off
), melaluiredistribusi kekuasaan dalam pengambilan keputusan-keputusan yang menyangkutkepentingan mereka sendiri. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa partisipasimasyarakat merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan (
sustainabledevelopment
) karena menunjang tercapainya keadilan di dalam generasi(
intragenerational equity
)
2
.Arnstein mengidentifikasi adanya delapan tingkat anak tangga partisipasi yang terbagidalam tiga kategori, mulai dari kategori non-partisipasi,
tokenism
(penghargaan), hinggakekuasaan masyarakat (
citizen power
). Gambar 1 memperlihatkan hal ini. Pada tingkatpartisipasi yang tertinggi, maka masyarakat tidak hanya menjadi partner bagi parapemegang kekuasaan (
power holders
), tapi masyarakat benar-benar mengontrol dalamarti mampu menjamin bahwa aspirasi mereka tidak hanya tertulis dalam kebijakan, tapi juga terlaksanakan dengan baik. Inilah yang diistilahkan dengan kontrol masyarakat(
citizen control
), ketika masyarakat mendapatkan kekuasaan manajerial penuh (
fullmanagerial power
). Level ini berada dua tingkat di atas
partnership
(Arnstein 1969),meskipun keduanya sudah termasuk dalam kategori kekuasaan masyarakat.
Leave a Comment