• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Seminar Nasional tentang Keberlanjutan Partisipasi Masyarakat dalam PembangunanSub Tema : Praktek dan Pengalaman Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan : kasus-kasus
122
MENUMBUHKAN KEMAMPUAN EVALUASI DARI MASYARAKAT:PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PERENCANAAN TATA RUANGKECAMATAN KEMBANG TANJONG, KABUPATEN PIDIE, NANGGROEACEH DARUSSALAM
Agung SUGIRI
1
 Staf Pengajar Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik UniversitasDiponegoro, Semarang; email:
agung_sugiri@yahoo.com.auAbstrakKeterlibatan aktif masyarakat dalam pembangunan semakin dirasakan penting akhir-akhir ini, tidak terkecuali dalam proses perencanaan tata ruang di Indonesia. Hal ini telahdiperkuat melalui beberapa undang-undang, termasuk UU 26/2007 tentang PenataanRuang. Tulisan ini mengetengahkan pengalaman dari proses penyusunan Rencana DetailTata Ruang (RDTR) Kecamatan Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie, Provinsi NanggroeAceh Darussalam, tahun 2007. Pendekatan partisipatif RDTR Kecamatan KembangTanjong berusaha menumbuhkan kemampuan masyarakat untuk mengevaluasi rencanatata ruang berdasarkan hasil-hasil pembangunan yang mereka rasakan, sesuatu yangmungkin belum banyak dilakukan di Indonesia sebelumnya. Melalui serangkaianpengamatan lapangan bersama dan FGD (
Focus Group Discussion
), masyarakatdikenalkan kepada metoda sederhana seperti
forcefield approach
. Langkah awalnyaadalah menyerap aspirasi masyarakat mengenai visi atau keadaan yang mereka cita-citakan untuk 5 tahun ke depan. Masyarakat kemudian difasilitasi untuk dapatmenjabarkan dan menilai secara kuantitatif keadaan tersebut melalui serangkaianindikator, yang tentunya disederhanakan sesuai dengan kemampuan mereka. Dengandemikian, masyarakat dapat menilai keadaan sekarang yang mereka rasakan, dan dapatpula merumuskan visi ke depan yang realistis. Selanjutnya, masyarakat juga diajakuntuk menyadari bahwa untuk dapat terwujudnya visi tersebut diperlukan serangkaiantujuan (misi), dan bahwa saat ini telah ada kekuatan pendukung dan kekuatanpenghambat bagi tercapainya tujuan-tujuan tersebut. Maka selanjutnya, masyarakatdapat diajak untuk menyusun strategi-strategi yang dapat menghilangkan ataumeminimalkan kekuatan penghambat dan memaksimalkan kekuatan pendukung. Dariserangkaian strategi inilah, implikasi kebijakan pembangunannya akan terlihat jelas.Masyarakat akhirnya akan menyadari pula bahwa kebijakan-kebijakan tata ruang berikutindikasi program-program pembangunannya yang merupakan hasil dari RDTR ini,meskipun merupakan bagian sangat penting, tapi bukan segala-galanya, dalampembangunan di kecamatan mereka. Kemampuan masyarakat untuk melakukan evaluasikeadaan pada tahun-tahun mendatang pun akan tumbuh, karena mereka mampumelakukan penilaian terhadap indikator-indikator keadaan tersebut. Maka, kiranya hal iniakan membantu dalam keberlanjutan proses partisipatif dalam perencanaan,pelaksanaan dan evaluasi pembangunan di Kecamatan Kembang Tanjong di tahun-tahunmendatang.Kata kunci (Keywords): partisipasi masyarakat, perencanaan tata ruang, evaluasipembangunan
Pendahuluan
Peranserta masyarakat dalam pembangunan, termasuk pada tahap perencanaannya,merupakan hal yang sangat penting meskipun baru diterapkan sejak beberapa dekadeterakhir ini saja di Indonesia, terutama selama satu dekade era reformasi ini. Kiranya halini sejalan dengan pesatnya perkembangan demokratisasi yang meliputi semua aspeksejak 1998, tidak saja pada kehidupan politik tapi juga sosial ekonomi. Beberapaundang-undang telah pula diterbitkan untuk memfasilitasi pelaksanaannya, dan yangterbaru di antaranya adalah UU 25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
 
Seminar Nasional tentang Keberlanjutan Partisipasi Masyarakat dalam PembangunanSub Tema : Praktek dan Pengalaman Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan : kasus-kasus
123
Nasional, UU 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, dan UU 26/2007 tentang PenataanRuang.Salah satu tujuan sistem perencanaan pembangunan nasional, seperti disebutkan dalamUU 25/2004 (Pasal 2 (4)d), adalah mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Dalam UU ini juga ditekankan mengenai perlunya musyawarah perencanaan pembangunan(Musrenbang) mulai dari tingkat desa hingga nasional pada semua tingkatan rencana,mulai dari rencana jangka panjang hingga jangka tahunan. Sementara dalam UU32/2004 yang merupakan pengganti UU 22/1999, pentingnya partisipasi (danpemberdayaan) masyarakat ditekankan antara lain pada Pasal 199 (6), Pasal 200 (2),Pasal 209, dan Pasal 215. Demikian pula dengan UU 26/2007 yang menggantikanundang-undang sebelumnya, UU 24/1992, pentingnya partisipasi masyarakat terlihatantara lain pada Pasal 48 dan Pasal 55. Bahkan Bab VIII secara khusus mengaturmengenai hak, kewajiban dan peran masyarakat, dengan Pasal 65 memberikanpenekanan pada partisipasi.Asal mula dirasakan perlunya partisipasi masyarakat sebenarnya berawal dariterpinggirkannya peran masyarakat dalam pengambilan keputusan oleh para elitpenguasa, padahal keputusan-keputusan itu menyangkut kesejahteraan masyarakat luas.Arnstein (1969) misalnya, sekitar 40 tahun yang lalu mengkritisi bahwa partisipasimasyarakat di Amerika Serikat pada masa itu lebih bersifat ritual kosong belaka.Mayoritas masyarakat tidak mendapatkan kekuasaan (
power
) yang cukup, baik di ranahpolitik maupun mekanisme sosial ekonomi yang ada, untuk dapat berperan dalammenentukan dan merubah nasib mereka sendiri ke arah yang lebih baik. Maka pelibatanaktif masyarakat luas dalam pembangunan hakikatnya merupakan suatu langkah yangberpihak kepada mayoritas penduduk yang kurang beruntung (
worse off 
), melaluiredistribusi kekuasaan dalam pengambilan keputusan-keputusan yang menyangkutkepentingan mereka sendiri. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa partisipasimasyarakat merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan (
sustainabledevelopment
) karena menunjang tercapainya keadilan di dalam generasi(
intragenerational equity
)
2
.Arnstein mengidentifikasi adanya delapan tingkat anak tangga partisipasi yang terbagidalam tiga kategori, mulai dari kategori non-partisipasi,
tokenism
(penghargaan), hinggakekuasaan masyarakat (
citizen power
). Gambar 1 memperlihatkan hal ini. Pada tingkatpartisipasi yang tertinggi, maka masyarakat tidak hanya menjadi partner bagi parapemegang kekuasaan (
power holders
), tapi masyarakat benar-benar mengontrol dalamarti mampu menjamin bahwa aspirasi mereka tidak hanya tertulis dalam kebijakan, tapi juga terlaksanakan dengan baik. Inilah yang diistilahkan dengan kontrol masyarakat(
citizen control
), ketika masyarakat mendapatkan kekuasaan manajerial penuh (
fullmanagerial power
). Level ini berada dua tingkat di atas
partnership
(Arnstein 1969),meskipun keduanya sudah termasuk dalam kategori kekuasaan masyarakat.
 
Seminar Nasional tentang Keberlanjutan Partisipasi Masyarakat dalam PembangunanSub Tema : Praktek dan Pengalaman Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan : kasus-kasus
124Keterangan Gambar:Anak tangga1.
 
Manipulation
: Manipulasi2.
 
Therapy
: Terapi3.
 
Informing
: Pemberitahuan4.
 
Consultation
: Konsultasi5.
 
Placation
: Penempatan6.
 
Partnership
: Kemitraan7.
 
Delegated Power
: KekuasaanTerdelegasi8.
 
Citizen Control
: KontrolMasyarakatKategori
 
Nonparticipation
: Non-partisipasi;pada kategori ini boleh dikatakantidak ada partisipasi masyarakat
 
Tokenism
: Penghargaan;masyarakat cukup dihargai melaluipemberian informasi, diajakkonsultasi, dan ditempatkanwakilnya dalam lembaga-lembagapengambil keputusan
 
Citizen Power
: KekuasaanMasyarakat; masyarakatmendapatkan kekuasaanmanajerial, mulai dari kemitraanhingga kekuasaan penuh
Gambar 1Delapan Tingkatan dalam Anak Tangga Partisipasi (
Arnstein 1969: 217)Praktek partisipasi masyarakat dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan diIndonesia secara umum, kiranya belum sampai pada anak tangga tertinggi itu. Meskipunupaya-upaya serius telah dan sedang dilakukan baik oleh pemerintah dari semuatingkatan, organisasi-organisasi non-pemerintah, maupun masyarakat itu sendiri,kebanyakan perencanaan pembangunan umumnya, dan tata ruang khususnya, agaknyamasih berada di sekitar anak tangga pertengahan dan belum masuk kategori kekuasaanmasyarakat. Beberapa perencanaan yang menyangkut masyarakat terbatas sepertiperencanaan pemukiman kembali bagi penduduk yang terkena bencana, atauperencanaan desa (
village planning
), mungkin sudah ada yang mencapai tingkatkemitraan atau bahkan kontrol masyarakat
3
. Namun untuk perencanaan yangmenyangkut wilayah yang cukup luas dan berpenduduk besar seperti kecamatan,kabupaten/kota dan provinsi, dapat dipastikan bahwa masyarakat belum mencapaitingkat partisipasi yang mendapatkan kekuasaan manajerial penuh.Keadaan di Indonesia ini, jika menggunakan ukuran relatif, sebenarnya tidak terlaluburuk mengingat di Amerika Serikat saja, sebuah negara yang telah ratusan tahunmenerapkan demokrasi secara politik, partisipasi masyarakat dalam pembangunannyabaru dimulai tahun 1949 dan baru meningkat pesat pada era 1970-an (Roberts 2004).Dengan kecenderungan (
trend
) kesadaran yang meningkat dari semua pelakupembangunan akan pentingnya partisipasi masyarakat, dan kemauan yang sungguh-sungguh untuk melaksanakannya, Indonesia mungkin termasuk beruntung. Makakeberlanjutan
trend
ini menjadi penting, tidak saja untuk memperbaiki tingkat partisipasi
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...