/  6
 
Ndaru Rigen
Oleh: Joko PrasetyoMatahari belum nongol sepenuhnya. Hanya semburat merahnya saja tercipratmemenuhi ufuk timur. Mengusir sinar rembulan dan bintang-bintangnya. Sedikit-sedikit lekuk Merapi dan Merbabu di timur mulai jelas tergambar. Menyusul SiKembar Sumbing-Sindoro yang masih teronggok di belahan selatan. Kabut tipismasih menyelimuti kaki Sindoro itu. Paduan suara binatang malam mulai lirih, berganti sahutan kokok ayam jantan dan satu-satu burung-burung pagi mulai berkicau.Terdengar derap lari-lari kecil di sebuah pematang sawah penuh tanamantembakau yang sudah kira-kira setinggi leher orang berdiri. Menembus kabut.Sesekali terengah-engah. Tapi, lintingan tembakau plus klembak-menyan masihterapit erat di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Kadang dihisap. Tersembul asapmengangkasa dengan bau yang sangat khas. Kelihatannya orang itu sangat ceria.Seperti ada satu berita entah apa hendak ia kabarkan pada tiap orang yang ia jumpai. Namun, rasanya belum seorang pun terbangun dari dengkur malamnya.Dingin masih menusuk tulang-sumsum mereka. Memang, keadaan di dusunParangnerasi, di kaki gunung Sindoro itu sangat dingin, apalagi saat musim kemarauJuni sampai Agustus. Tapi, kata masyarakat sana, semakin dingin semakin bagus hasil panen tembakau nantinya.Belum seorang pun dijumpainya. Ia terus berlari menuju perkampunganParangnerasi yang tingal beberapa langkah lagi. Tiba-tiba: “Kang, Kang Pardi! Maukemana? Sebentar. Dengar! Ada kabar hebat.” Tidak disahut. “Kang!...Kaa…ng!”Yang dipanggil seperti terpaksa menoleh. Tapi tetap meneruskan perjalanannya. “Kang, ada kabar hebat…” sambil terengah. Pardi hanya menguap.Masih ngantuk sambil tetap mengudungkan sarung sampai kepala, menahan dingin.“Kang, dengar dulu, to!” Agak jengkel.
 
”He, esuk umun-umun, njanur gunung sekali. Biasanya kan kamu masihmendengkur. Ngorok. E......ini kok sudah lari-lari. Ngos-ngosan. Ngganggu orang.”akhirnya Pardi menyahut.“Begini, tadi malam aku tidak tidur di rumah. Tapi di sawah. Nunggutembakau. Tapi tidak bisa tidur………”“O..alah…Nur…Nur, dasar Nur Kuncung. Mau-maunya tidur di sawah.Banyak nyamuk. Dingin. Pasti kamu disuruh Man Thole, to? Kamu itu dibodohi, tahutidak?” Pardi memotong. Jadi tidak tertarik dengan si Nur. Meneruskan perjalanan.“Tapi ini lain. benar, Kang. Sumpah. Aku lihat dengan mata kepala sendiri.”Berjalan mengikuti Pardi. “Seberkas cahaya api. Dari langit. Terus turun ke sawahku.Dan sawahku jadi terang benderang. Cahaya itu semakin dekat. Bentuknya miriprigen. Lalu jatuh di tengah sawah. Dan tenggelam di antara pohon-ophon tembakau. ”“Apa?Pardi berhenti. Terkejut. “Kalau kamu tidak mengada-ada, itunamanya ndaru rigen. Wah………mbakomu akan terjual mahal. Ayo, kita lihat, Nur!Dimana jatuhnya ndaru rigen itu?” Pardi tiba-tiba berbalik arah dan berlari menujusawah Nur Kuncung. Nur bengong tapi langsung mengikuti Pardi.“Jam berapa kira-kira ndaru itu muncul, Nur?”“Wah, jam berapa, ya. Kira-kira jam dua malam, lah!”“Jadi benar kata Man Thole itu. Tapi kenapa aku dulu tidak pernah mengalamindaru rigen. He, Nur, berapa malam kamu tidur di sawah?”“Ini sudah
 selapan
hari.”“Pantas. Aku tahun kemarin baru seminggu sudah bosan, Nur. Tidak tahan.Selapan hari itu sama dengan lima minggu, ya? Hebat kamu, Nur.”“Jadi Kang Pardi dulu termakan omongan Kang Man juga, to?”Tiba-tiba Nur berhenti. “Sebentar, Kang! Sebaiknya Kang Pardi ke rumahKang Man dulu. Kasih kabar. Dan saya pulang. Kasih tahu istri saya, lha wong belumsempat pulang tadi.”“Baiklah kalau begitu. Nanti kita ketemu di sawah.” Keduanya berpisah.
 
Tiba di depan rumah. Nur Kuncung mengetuk pintu. Istrinya yang setiamembukakan pintu. Tidak seperti biasanya yang sesampainya di rumah langsungmeneguk kopi buatan Jariyah, istrinya, lantas ngeloyok tidur. Kali ini Nur benar- benar mengagetkan istrinya. Tanpa diminta, panjang lebar ia ceritakan semua yangdilihatnya semalam.“Sampeyan ini mbok ya eling, to, Pakne. Ingat! Kalau memang tembakau kitadirawat yang benar, nantinya juga akan terjual mahal. Bukannya karena ndaru rigenitu. Lha wong omongan si Man Thole saja dipercaya. Semua orang juga tahu kalaudukun sinting itu mulutnya tidak bisa dipegang. Tukang kecis, bohong. Hanya orang-orang Parangnerasi yang goblog saja yang masih manut omongan dukun gila si penipu ulung. Sudahlah, Pakne, sampeyan tidah usah macem-macem. Kita serahkansaja pada Yang Di Atas, Gusti Allah. Asal kita mau berusaha.”“Tapi, Mabokne. Aku benar-benar melihat ndaru itu.”“Alaah, itu tahayul!”“Wis, lah! Kamu seringnya begitu. Semua didebat. Mentang-mentang dulu pernah nyantri. Pokoknya mbokne harus siap-siap selamatan sesuai petunjuk KangMan nanti. Aku pergi dulu ke sawah.” Nur Kuncung terus ngacir pergi, lupa minumkopi yang baru saja dibuatkan istrinya.“Pakne.........Pakne........!”Di sawah sudah ada Pardi dan Man Thole. Bergegas Nur mendekati mereka.Matahari mulai bersinar menghangatkan tubuh-tubuh mereka yang kedinginan.Bertiga menuju tempat tanaman tembakau yang kejatuhan ndaru atas petunjuk Nur.Basah dan sedikit lengket sarung dan baju mereka bergesekan dengan daun tembakauyang masih basah embun.“Di sini, Kang! Jatuhnya sinar itu tepat di sini.” Jelas Nur Kuncung.“Hemm..” Man Thole mengangguk-angguk seperti orang yang sok tahu. Lalumelihat-lihat sekeliling tanaman tembakau, memegangi beberapa lontar dauntembakau sambil mengamat-amatinya.

Share & Embed

More from this user

Add a Comment

Characters: ...