”He, esuk umun-umun, njanur gunung sekali. Biasanya kan kamu masihmendengkur. Ngorok. E......ini kok sudah lari-lari. Ngos-ngosan. Ngganggu orang.”akhirnya Pardi menyahut.“Begini, tadi malam aku tidak tidur di rumah. Tapi di sawah. Nunggutembakau. Tapi tidak bisa tidur………”“O..alah…Nur…Nur, dasar Nur Kuncung. Mau-maunya tidur di sawah.Banyak nyamuk. Dingin. Pasti kamu disuruh Man Thole, to? Kamu itu dibodohi, tahutidak?” Pardi memotong. Jadi tidak tertarik dengan si Nur. Meneruskan perjalanan.“Tapi ini lain. benar, Kang. Sumpah. Aku lihat dengan mata kepala sendiri.”Berjalan mengikuti Pardi. “Seberkas cahaya api. Dari langit. Terus turun ke sawahku.Dan sawahku jadi terang benderang. Cahaya itu semakin dekat. Bentuknya miriprigen. Lalu jatuh di tengah sawah. Dan tenggelam di antara pohon-ophon tembakau. ”“Apa?” Pardi berhenti. Terkejut. “Kalau kamu tidak mengada-ada, itunamanya ndaru rigen. Wah………mbakomu akan terjual mahal. Ayo, kita lihat, Nur!Dimana jatuhnya ndaru rigen itu?” Pardi tiba-tiba berbalik arah dan berlari menujusawah Nur Kuncung. Nur bengong tapi langsung mengikuti Pardi.“Jam berapa kira-kira ndaru itu muncul, Nur?”“Wah, jam berapa, ya. Kira-kira jam dua malam, lah!”“Jadi benar kata Man Thole itu. Tapi kenapa aku dulu tidak pernah mengalamindaru rigen. He, Nur, berapa malam kamu tidur di sawah?”“Ini sudah
selapan
hari.”“Pantas. Aku tahun kemarin baru seminggu sudah bosan, Nur. Tidak tahan.Selapan hari itu sama dengan lima minggu, ya? Hebat kamu, Nur.”“Jadi Kang Pardi dulu termakan omongan Kang Man juga, to?”Tiba-tiba Nur berhenti. “Sebentar, Kang! Sebaiknya Kang Pardi ke rumahKang Man dulu. Kasih kabar. Dan saya pulang. Kasih tahu istri saya, lha wong belumsempat pulang tadi.”“Baiklah kalau begitu. Nanti kita ketemu di sawah.” Keduanya berpisah.
Add a Comment