Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
0Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Dr. Andi Adri Arief : Pola Kemitraan Dan Jaringan Sosial Pembudidaya Rumput Laut

Dr. Andi Adri Arief : Pola Kemitraan Dan Jaringan Sosial Pembudidaya Rumput Laut

Ratings:

4.67

(1)
|Views: 1,546|Likes:
Published by andiadri

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: andiadri on Mar 10, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/17/2013

pdf

text

original

 
KEMITRAAN USAHA DAN JARINGAN SOSIAL PEMBUDIDAYARUMPUT LAUT DI KABUPATEN TAKALAR(Studi Kasus Desa Punaga, Kecamatan Mangarabombang)
 PARTNERSHIP AND SOCIAL NET SEA WEED CULTIVATOR IN TAKALAR REGENCY 
(
Case Study on Punaga Village, Mangarabombang Sub district 
)
Oleh : Harnita Agusanty 
1 )
 Andi Adri Arief 
 
ABSTRACK 
This research to know characteristic and partnership pattern on sea weeds cultivatosociety, relevance patterns production system partnership and marketing to social net constructionand implication to sea weeds cultivator’s household welfare. The data was collected throughinterview, quisionere and direct obeservation. The data was analysed by using qualitative andquantitative. The result of this research partnership that did by sea weed cultivator consisting of three patterns which is; pattern traditional partnership, market and government. Patron-clientsocial net is still institution in society so punggawa's position so sentral well of dimensioningeconomic and also social. Implication to welfare hasn’t on level that significant yet causecultivator position effect in partnership don't in
bargaining position
one that one par bases itsrole.
 Keywords : Partnership, Social net and cultivato
.
PENDAHULUAN
Masyarakat pesisir sebagai suatu komunitas memiliki karakteristik ”survival of the fittest” yang sangat lekat atau menjadi ciri dalam kehidupannya. Salah satu bentuk strategi sosial (adaptasi) yang senantiasa dilakukan dalam menghadapi lingkungan pekerjaan serta kondisi-kondisi dari berbagai keterbatasan yang dialami adalah melalui pertukaran sosial atau jaringan sosial. Konteks jaringan sosial (social net) untuk jaringan produksi dan pemasaran yang terbentuk, ternyata seringkali kepadanya hanyaditempatkan atau diposisikan sebagai objek eksploitatif oleh para pemilik modal. Hargaikan maupun komoditas budidaya, sebagai sumber pendapatan mereka, tetap”dikendalikan” oleh para pemilik modal atau para pedagang/tengkulak, sehinggadistribusi pendapatan menjadi sangat tidak merata (Bailey, 1982; Mubyarto dan Dove,1985). Iskandar dan Matsuda (1989) menyebutkan pula bahwa dalam hubungan produksi(relation of production) yang terjadi antara nelayan dengan tengkulak telah menyebabkanmargin yang jatuh ke tangan nelayan dan pembudidaya ikan hanya sekitar 5 hingga 10
1
 
Contact Person : Harnita Agusanty, S.Pi, M.Si.Staf Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Takalar , Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP)
2
 
Contact Person : Dr. Andi Adri Arief, S.Pi, M.Si.Dosen Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan, Jurusan Perikanan, Fakultas Ilmu Kelautan danPerikanan, Universitas Hasanuddin. Jl. Perintis Kemerdekaan Km 10 Tamalanrea, Makassar 90245. E-mail : adri_arief@yahoo.com
1
 
 persen saja, selebihnya jatuh ke tangan mereka (para tengkulak tingkat desa, pedagangtingkat lokal, pedagang tingkat regional dan sebagainya)Dalam konteks sekarang, seiring dengan upaya pemberdayaan masyarakat,strategi yang banyak dikembangkan baik dari pemerintah, maupun swasta dalammengatasi situasi tersebut adalah melalui konsep kemitraan. Jika dikontekskan konsepkemitraan dengan usaha perikanan yang digeluti oleh masyarakat pesisir di SulawesiSelatan, maka salah satu potensi komoditas perikanan adalah budidaya rumput laut.Komoditas ini (rumput laut ;
 sea weed 
) telah dijadikan sebagai komoditas unggulandalam revitalisasi dibidang perikanan yang memiliki nilai tambah (
added value
) tinggi.Pola kemitraan usaha melalui jaringan produksi dan pemasaran pada kondisi ideal akanmembuka akses mereka (orang miskin) terhadap teknologi, pasar, pengetahuan, modal,manajemen, serta pergaulan bisnis yang akan berdampak pada peningkatan aksebilitasdan kesejahteraannya secara menyeluruhPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik usaha dan pola kemitraan pada masyarakat pembudidaya rumput laut, keterkaitan pola kemitraan sistem produksidan pemasaran terhadap konstruksi jaringan sosial serta implikasi terhadap kesejahteraanrumahtangga pembudidaya rumput laut.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2007 - Juni 2008, di Desa PunagaKecamatan Mangarabombang Kabupaten Takalar. Keseluruhan tahapan penelitan, mulai persiapan, pengumpulan data maupun pengolahan data dilakukan dengan prinsip pendekatan kualitatif dan kuantitatif (Creswell, 1994). Teknik pengumpulan data adalahobservasi, wawancara dan studi literatur. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data sekunder diperoleh melalui studi pustaka. Data primer dikumpulkan melalui wawancara mendalam (indept interview) dan kuisioner. Populasiadalah seluruh pembudidaya di Desa Punaga sebayak 409 orang pembudidaya, sampel(30%) sebanyak 123 orang pembudidaya.Wawancara mendalam dilakukan terhadap beberapa orang tertentu (key informan)yang dilakukan secara purposif, yaitu dipilih orang-orang yang dianggap mengetahui permasalahan yang diteliti. Mereka itu adalah
 ponggawa, pa’palele,
tokoh masyarakat,
 sawi
. Selain dengan cara purposive pemilihan informan juga dilakukan dengan cara
 snowball 
, yaitu melalui informasi dari informan yang sudah diwawancari sebelumnya(Milles, 1992).
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.Karakteristik Usaha dan Pola kemitraan Masyarakat Pembudidaya RumputLaut
1.Lingkungan Sosiokultur Masyarakat
Struktur sosial di Desa Punaga teridentifikasi sedikitnya dua pola hubungansosial yang ada, yakni; struktur masyarakat komunal dan struktur berdasarkan ikatan pekerjaan. Struktur masyarakat komunal menggambarkan pola hubungan sosial berdasarkan ikatan ketetanggaan, kekerabatan, dan kepercayaan/ keagamaan yangtercirikan dalam pola hubungan berdasarkan sistem kekerabatan bersama dengan prosesi- prosesi khasnya, seperti upacara kematian (
angaji punna banni
) dan tradisi Maulid yangdikenal dengan nama
Maudu Lompoa
(Maulid Besar) yang tergambarkan dalam sistem2
 
agama dan kepercayaan masyarakat. Sementara untuk struktur berdasarkan ikatan pekerjaan mempolakan hubungan sosial yang menyangkut dengan mata pencahariansebagai aktivitas ekonomi masyarakat. Konteks tersebut dikenal dengan pola hubungan punggawa-sawi, dimana punggawa sebagai pemilik alat produksi dan sawi sebagai tenaga pekerja.
2.Karakterisik Pola Kemitraan Usaha
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa sedikitnya tiga bentuk pola kemitraanusaha budidaya rumput laut di Desa Punaga sebagai karakteristik kerjasama usaha(kemitraan) dalam ruang sosial masyarakat, meskipun dalam operasionalitasnya nampak saling tumpang tindih dan bervariasi, sehingga dari bentuk yang satu dengan yanglainnya tidak dapat secara tegas dipisahkan dari pengaruh bentuk lainnya. Ketigakarakteristik ketiga pola kemitraan usaha budidaya rumput laut di Desa Punaga adalah :a.Pola Kemitraan Tradisional. Kerjasama usaha yang terjadi pada masyarakat pembudidaya rumput laut mengikuti pola hubungan patron – client b.Pola Kemitraan Pemerintah. pola kemitraan yang dilakukan oleh pemerintah,sedikit-banyaknya juga telah megintroduksi ciri dari model atau pola kemitraaninti plasma. Dalam hal ini (UPT BBAP Takalar sebagai unit kasus) telahmenempatkan diri dalam posisi sebagai perusahaan plasma, dengan melakukan pembuatan demplot sebagai budidaya percontohan yang sekaligus berfungsisebagai “kebun bibit” bagi masyarakat, disamping bimbingan/pelayanan teknisdan permodalan kepada pembudidaya rumput laut.c.Pola Kemitraan Pasar. Konsep yang serupa atau hampir serupa dengan polakemitraan dagang umum dimana dicirikan sebagai pola hubungan kemitraanantara usaha kecil dengan usaha menengah atau besar, yang didalamnya usahamenengah atau usaha besar memasarkan hasil produksi usaha kecil atau usahakecil memasok kebutuhan yang diperlukan oleh usaha menengah atau usaha besar.3

Activity (0)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Sajriawati Basri liked this
Mahdian Arta liked this
Fatimah Samsi liked this
Fatimah Samsi liked this
Eka Fitriyanto liked this
Dewi Ayu liked this

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->