SBY: Jadikan Pengembangan
Ekonomi Syariah Agenda Nasional
EKONOMI SYARI AH - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, disaksikan Gubernur Bank Indonesia Burhanudin Abddullah dan
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo, memasukkan kartu ATM sebagai pertanda dibukanya Festival Ekonomi Syariah, di
Jakarta Convention Center, Rabu (16/ 1). (Suara Karya/ Muhammad Reza)
Kamis, 17 Januari 2008
JAKARTA (Suara Karya): Dalam upaya lebih mempercepat berjalan dan berkembangnya
sistem ekonomi syariah di Tanah Air, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)
menyatakan akan meminta Menteri Hukum dan HAM, Menteri Agama, Menteri Keuangan
serta pihak-pihak terkait untuk menjadikan pengembangan ekonomi syariah sebagai salah
satu agenda nasional.
Berbicara dalam acara pembukaan Festival Ekonomi Syariah 2008, di Jakarta,
kemarin, Presiden meminta pengelola ekonomi syariah nasional dapat menjadikan
perbankan syariah sebagai platform pusat ekonomi syariah di Asia, bahkan di dunia.
Menurut SBY, upaya mengembangkan perbankan syariah ke depannya perlu menjadi
salah satu perhatian agenda kerja nasional pemerintah. Terkait itu, dia meminta
pengelola perbankan syariah nasional agar dapat menjadi pemain domestik, tetapi
memiliki kualitas layanan dan kinerja bertaraf internasional.
Presiden menyebutkan, dalam kurun waktu 7 tahun tercatat total aset perbankan
syariah telah meningkat sebesar 15 kali lipat atau setara dengan pertumbuhan 61,2
persen (year on year) dari Rp 71,9 triliun di tahun 2000 menjadi Rp 33 triliun pada
akhir 2007.
Sementara itu, tingkat kredit bermasalah (non performing financing/NPF) hanya
sekitar 6 persen, pembiayaan kredit perbankan syariah (financing to deposite/FDR)
mencapai Rp 24,6 triliun, serta dana masyarakat yang berhasil dihimpun (DPK)
sekitar Rp 23,31 triliun.
Menurut Presiden, terwujudnya Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia akan
membuka peluang lebih luas untuk memanfaatkan sumber-sumber pembiayaan dari
pasar keuangan internasional demi mendukung program pembangunan nasional
untuk kesejahteraan rakyat secara optimal.
Untuk itu, lanjut Presiden, perbankan syariah nasional harus selalu mengacu kepada
rencana-rencana strategis pemerintah, seperti arsitektur perbankan Indonesia (API),
arsitektur sistem keuangan Indonesia (ASKI), serta rencana pembangunan jangka
menengah nasional dan jangka panjang nasional.
RUU Perbankan
Presiden menambahkan, proses penyelesaian pembahasan RUU Perbankan Syariah
dan RUU Sertifikat Berharga Syariah Nasional diharapkan dapat segera diselesaikan.
"Pemerintah dan DPR sungguh ingin menyelesaikan dua UU ini tepat pada waktunya
karena dapat memperkokoh industri keuangan syariah, serta menjadi insentif bagi
para investor," katanya.
Sementara Gubernur Bank Indonesia (BI) Burhanuddin Abdullah menjelaskan,
adanya strategi perluasan layanan yang ekspansif dan penyaluran pendanaan bagi
sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sangat berpengaruh terhadap
peningkatan perbankan syariah dari tahun ke tahun.
Tercatat pembiayaan perbankan syariah kepada sektor UMKM hingga November
2007 mencapai Rp 19 triliun atau dua kali lebih besar daripada pembiayaan non-
UMKM yang sebesar Rp 7,9 triliun. "Pertumbuhan yang cukup signifikan ini
menyebabkan FDR perbankan syariah telah mencapai 100 persen, melebihi loan to
deposite ratio (LDR) yang saat ini hanya sekitar 70 persen," ujarnya.
Leave a Comment