Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
49Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
ushul fiqh bagian 08 - ijmak qiyas - agustianto

ushul fiqh bagian 08 - ijmak qiyas - agustianto

Ratings:

4.0

(1)
|Views: 13,462|Likes:
Published by Edy Ramdan

More info:

Published by: Edy Ramdan on Mar 11, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/03/2013

pdf

text

original

 
 agustianto.niriah.com
BAB 10METODE DAN PENGGALIAN HUKUM ISLAMIJMA’ DAN QIYAS A. Pengertian Ijma’
Secara etimologi
 
ada dua pengertian
ijma’
, yaitu:a.
 
ijma’
berarti kesepakatan/
consensus
(Q.S. Yusuf : 12)
ﺐﺠﻟا
 
 ﺔﺑﺎﻴﻏ
 
ﻲﻓ
 
ﻩﻮﻠﻌﺠﻳ
 
لأ
 
اﻮﻌﻤﺟأ
 
 ﻪﺑ
 
اﻮﺒهذ
 
ﺎﻤﻠﻓ
 Artinya:Maka tatkala mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dasar sumur b.
 
ketetapan untuk melaksanakan sesuatu (Q.S.Yunus :71)
ﻢآءﺎآﺮﺷ
 
و
 
ﻢﻜﻣﺮﻣأ
 
اﻮﻌﻤﺟﺄﻓ
:Pengertian
Ijma’
secara terminologi adalah Kesepakatan semua
mujtahid
dari ummatMuhammad Pada suatu masa setelah wafatnya Rasulullah terhadap suatu hukum
syara’
.Muhammad Abu Zahroh menambahkan di akhir definisi itu kata “yang bersifat amaliyah”.
ﻲﻋﺮﺷ
 
ﻢﻜﺣ
 
ﻰﻠﻋ
 
ﻢﻌﻠﺻ
 
ﷲا
 
لﻮﺳر
 
ةﺎﻓو
 
ﺪﻌﺑ
 
رﻮﺼﻌﻟا
 
ﻦﻣ
 
ﺮﺼﻋ
 
ﻲﻓ
 
ﻦﻴﻤﻠﺴﻤﻟا
 
ﻦﻣ
 
ﻦﻳﺪﻬﺘﺠﻤﻟا
 
ﻊﻴﻤﺟ
 
قﺎﻔﺗا
 
B. Rukun Ijma’a. Rukun Ijma’ (Disepakati Ulama)
Semua rukun/syarat ini disepakati Ulama:
1)
 
Yang terlibat dlm pembahasan hukumnya, semua
mujtahid
, Jika ada yang tidak setuju,maka hasilnya bukan
ijma’
2)
 
Semua Mujtahid hidup di masa tersebut dari seluruh dunia3)
 
Kesepakatan itu terwujud setelah masing-masing Mengemukakan pendapatnya4)
 
Hukum yang disepakati adalah hukum
syara
yang tidak ada hukumnya dalam Al-Quran5)
 
Sandaran hukum ijma’ tersebut adalah Al-Quran dan atau hadits Rasulullah6)
 
Yang melakukan
ijma’
adalah orang yang memenuhi syarat
1
 
 agustianto.niriah.com
7)
 
Kesepakataan itu muncul dari para
mujtahid
yang adil (berpendirian kuat terhadapagamanya)8)
 
Para mujtahid adalah mereka yang berusaha menghindarkan Diri dari ucapandannperbuatan yang bid’ah
b. Rukun/Syarat Ijma’ yang (diperselisishkan)
1)
 
Para Mujtahid itu adalah para sahabat2)
 
Para Mujtahid kerabat Rasulullah3)
 
Mujtahid itu adalah ulama Madinah4)
 
Hukum yang disepakati itu tidak ada yang membantahnya Sampai wafatnya seluruh5)
 
mujtahid yang menyepakatinya6)
 
Tidak terdapat hukum ijma’ sebelumnya tentang masalah yang sama
C. Tingkatan Ijma’
1)
 
Sharih (jelas)Sharih ialah jika semua ulama secara jelas mengemukakan pendapatnya.
Ijma’ Sharih,
 kesepakatn para
mujtahid,
baik melalui pendapat maupun perbuatan terhadap suatumasalah hukum yang dikemukaan dalam sidang ijma’ setelah masing-masing
mujtahid
 mengemukakan pendapatnya terhadap masalah yang dibahas.
Ijma’
ini bisa dijadikan
hujjah
dan statusnya bersifat
qath’iy
(pasti)2)
 
Sukuti (Diam)Sukuti ialah Sebagian Ulama diam Atas Pendapat
Mujtahid
lain. Pendapat sebagian
mujtahid
pada satu masa tentang hukum suatu masalah dan tersebar luas, sedangkansebagian mujtahid lainnya diam saja setelah meneliti pendapatPendapat Ulama tentang Ijma’ sukuti:1)
 
Malikiyah, Syafi’iyah dan Abu Bakar Al-BaqillaniBerpendapat bahwa
ijma’ sukuti
bukanlah ijma’ dan tidak dapat dijadikan
hujjah
.2)
 
Mayoritas ulama Hanafiyah dan Imam AhmadBerpendapat bahwa
ijma’ sukuti
bisa dijadikan
hujjah
yang
qath’iy
.3)
 
Al-Juba’iy (dari Muktazilah)Berpendapat bahwa
ijma’ sukuti
bisa dikatakan
ijma’
apabila
mujtahid
yangmenyepakati hukum tersebut telah habis (meninggal semua), karena bila
mujtahid
 (yang diam) dalam persoalan itu masih hidup, mungkin saja sebelum mereka wafat,ada yang membantah hukum tersebut
2
 
 agustianto.niriah.com
4)
 
Al-Amidi, Ibnu Hajib, Al-KarkhiBerpendapat bahwa
ijma’ sukuti
tidak bisa dikatakan
ijma’
, tetapi dapat dikatakan
hujjah
yang statusnya
zhanniy
.
Gambar 10.1 pendapat UlamaTentang Ijma’ SukutiD. Kehujjahan Ijma’a.
 
Jumhur Ulama Ushul Fiqh
Jumhur Ulama
Ushul Fiqh
berpendapat “apabila rukun
ijma’ t
elah terpenuhi, maka
ijma’
 tersebut menjadi hujjah yang
qath’iy
, wajib diamalkan dan tidak boleh mengingkarinya, bahkanorang yang mengingkarinya diangap kafir. Masalah hukum yang telah disepakati dengan
ijma’
,tidak boleh lagi menjadi pembahasan ulama generasi berikutnya, dan karena itu pendapat yangberbeda dengan
ijma’
tersebut tidak bisa membatalkan
ijma’
yang teah terjadi. Alasanketidakbolehan tersebut, dikarenakan hukum yang telah ditetapkan secara ijma’ bersifat
qath’iy
dan menempati urutan ketiga setelah Al-Quran,
 
Tetapi, Ibrahim Ibnu Siyar Al-Nazzam (tokoh Muktazilah), Khawarij dan Syi’ahberpendapat, “
Ijma
’ tidak bisa dijadikan hujjah. Menurut mereka
Ijma
’ seperti yang digambarkan
Jumhur 
tidak mungkin terjadi, karena sulit mempertemukan seluruh ulama yang tersebar diberbagai belahan dunia. Selain itu masing-masing daerah mempunyai struktur sosial dan budayayang berbeda.
b.
 
Syi’ah
Menurut Syi’ah,
ijma’
tidak bisa dijadikan sebagai
hujjah
, karena pembuat hukum adalahImam yang mereka anggap
ma’shum`(
terhindar dari dosa)
c.
 
Ulama Khawarij
3

Activity (49)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Bachtiar Arifin liked this
Heriesta Arbesta liked this
Tya_Aryk_8122 liked this
Ming Kudun liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->