agustianto.niriah.com
7)
Kesepakataan itu muncul dari para
mujtahid
yang adil (berpendirian kuat terhadapagamanya)8)
Para mujtahid adalah mereka yang berusaha menghindarkan Diri dari ucapandannperbuatan yang bid’ah
b. Rukun/Syarat Ijma’ yang (diperselisishkan)
1)
Para Mujtahid itu adalah para sahabat2)
Para Mujtahid kerabat Rasulullah3)
Mujtahid itu adalah ulama Madinah4)
Hukum yang disepakati itu tidak ada yang membantahnya Sampai wafatnya seluruh5)
mujtahid yang menyepakatinya6)
Tidak terdapat hukum ijma’ sebelumnya tentang masalah yang sama
C. Tingkatan Ijma’
1)
Sharih (jelas)Sharih ialah jika semua ulama secara jelas mengemukakan pendapatnya.
Ijma’ Sharih,
kesepakatn para
mujtahid,
baik melalui pendapat maupun perbuatan terhadap suatumasalah hukum yang dikemukaan dalam sidang ijma’ setelah masing-masing
mujtahid
mengemukakan pendapatnya terhadap masalah yang dibahas.
Ijma’
ini bisa dijadikan
hujjah
dan statusnya bersifat
qath’iy
(pasti)2)
Sukuti (Diam)Sukuti ialah Sebagian Ulama diam Atas Pendapat
Mujtahid
lain. Pendapat sebagian
mujtahid
pada satu masa tentang hukum suatu masalah dan tersebar luas, sedangkansebagian mujtahid lainnya diam saja setelah meneliti pendapatPendapat Ulama tentang Ijma’ sukuti:1)
Malikiyah, Syafi’iyah dan Abu Bakar Al-BaqillaniBerpendapat bahwa
ijma’ sukuti
bukanlah ijma’ dan tidak dapat dijadikan
hujjah
.2)
Mayoritas ulama Hanafiyah dan Imam AhmadBerpendapat bahwa
ijma’ sukuti
bisa dijadikan
hujjah
yang
qath’iy
.3)
Al-Juba’iy (dari Muktazilah)Berpendapat bahwa
ijma’ sukuti
bisa dikatakan
ijma’
apabila
mujtahid
yangmenyepakati hukum tersebut telah habis (meninggal semua), karena bila
mujtahid
(yang diam) dalam persoalan itu masih hidup, mungkin saja sebelum mereka wafat,ada yang membantah hukum tersebut
2
Leave a Comment
sippp
okay.............