• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
Download
 
MAFIA BERKELEY DANPEMBUNUHAN MASSALDI INDONESIA
RampartsDavid RansomKAU KOALISI ANTI UTANG2006
 
MAFIA BERKELEYDAN PEMBUNUHAN MASSALDI INDONESIAPenulis:
 David Ransom
Penerbit:
 Koalisi Anti Utang (KAU)
Desain dan Tata Letak:
 Irvan Alif 
Peringatan!
 Dokumen ini bebas diperbanyak oleh siapapun sepanjang tidak untuk kepentingan komersial.
Koalisi Anti Utang (KAU)
 Jl. Tegal Parang Utara 14, Mampang - Jakarta Selatan 12790 Indonesia Telp. +62(21) 79193363/65/68, Faks.7941673, Email : info@kau.or.id
 
Pengantar Penerbit ;Persekongkolan Jahat dibalik Utang Luar Negeri
Transaksi utang luar negeri tidak bisa dipandang sebagai transaksi utang piutang biasa. Hal inidibuktikan oleh kehadiran utang luar negeri yang telah berlangsung sejak awal kemerdekaan,kemudian berlanjut pada masa pemerintahan Soeharto dan masih berlangsung pemerintahansaat ini.Kemerdekaan Indonesia mendapat pengakuan dalam Konferensi Meja Bundar (KMB), setelah pemerintah Indonesia mau menanggung beban utang luar negeri yang dibuat oleh HindiaBelanda. Praktis sejak tahun 1950, pemerintah Indonesia serta merta memiliki utang yangterdiri dari utang luar negeri warisan Hindia Belanda senilai US$ 4 miliar dan utang luar negeri baru Rp. 3,8 miliar.Ketika pemerintahan Soekarno melakukan pembuatan utang luar negeri baru maka pemerintah tidak bisa menghindar dari tekanan pihak pemberi utang.
TabelPembuatan Utang Luar NegeriTahunJumlah
1950Rp. 3,8 milia1951Rp. 4,5 milia1952Rp. 5,3 milia1953Rp. 5,2 milia1954Rp. 5,2 milia1955Rp. 5,0 milia1956Rp. 2,9 milia
Sumber:
 Higgins, 1957 
Dalam periode 1950-1956 pembuatan utang selalu diikuti dengan adanya intervensi dari pemberi utang (asing). Peristiwa pertama intervensi asing dalam pemberian utang ini terjadi pada tahun 1950, ketika pemerintah AS bersedia memberikan pinjaman sebesar US$100 juta.Melalui pemberian utang tersebut, pemerintah Amerika Serikat (AS) menekan Indonesiauntuk mengakui keberadaan pemerintahan Bao Dai di Vietnam. Karena tuntutan tersebut tidak segera dipenuhi, pemberian pinjaman itu akhirnya tertunda pencairannya (Weinstein, 1976:210).Peristiwa kedua terjadi pada 1952. Setelah menyatakan komitmennya untuk memberikan pinjaman, pemerintah AS kemudian mengajukan tuntutan kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengembargo pengiriman bahan-bahan mentah strategis ke China.Sebagai negara produsen karet dan anggota PBB, secara tidak langsung tuntutan tersebut‘terpaksa’ dipenuhi Indonesia.Peristiwa yang paling dramatis terjadi pada 1964. Menyusul keterlibatan Inggris dalamkonfrontasi dengan Malaysia, pemerintah Indonesia segera menyikapi hal itu denganmenasionalisasikan perusahaan Inggris. Ini adalah nasionalisasi kedua yang dilakukanIndonesia setelah nasionalisasi perusahaan Belanda pada 1956.i
of 00

Commenting has been disabled.