Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
2Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
coklat

coklat

Ratings: (0)|Views: 489|Likes:
Published by meghamirrah

More info:

Published by: meghamirrah on Mar 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/10/2013

pdf

text

original

 
Mahasiswa Fakultas Farmasi Universitas Jember ( berisi pengalaman,artikel,dan informasi informasi)Selasa, 15 Januari 2013
“EKSTRAKSI KOMPONEN BIOAKTIF DARI LIMBAH KULIT BUAH KAKAO DAN PENGARUHNYA TERHADAPAKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIMIKROBA ”
RESUME JURNAL
“EKSTRAKSI KOMPONEN BIOAKTIF DARI LIMBAH KULIT BUAH KAKAO DAN PENGARUHNYA TERHADAPAKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIMIKROBA ”
 Sartini , M. Natsir Djide, Gemini AlamFakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, MakassarOleh:NAMA : YENI NUR CAHYANINIM : 112210101033FAKULTAS FARMASIUNIVERSITAS JEMBER2011
 
 RESUME JURNALJudul : EKSTRAKSI KOMPONEN BIOAKTIF DARI LIMBAH KULIT BUAH KAKAO DAN PENGARUHNYATERHADAP AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN ANTIMIKROBAPenulis : SARTINI , M. NATSIR DJIDE, GEMINI ALAMBeberapa tanaman pangan diketahui kaya akan senyawa-senyawa bioaktif, terutama polifenol, yangmempunyai khasiat sebagai antioksidan dan antimikroba. Senyawa-senyawa antioksidan alami sangatdibutuhkan untuk mencegah penyakit-penyakit degeneratif seperti penyakit jantung koroner, kanker,dan beberapa penyakit yang lainnya. Senyawa-senyawa antimikroba demikian ada akibat makinbanyaknya mikroba patogen yang telah resisten dengan antibiotika yang ada. Tanaman kakao(Theobroma cacao L.) merupaka salah satu tanaman di Indonesia yang berpotensi sebagai antioksidandan antimikroba alami. Biji kakao kaya akan komponen-komponen senyawa fenolik, antara lain : katekin,epikatekin , proantosianidin, asam fenolat, tannin dan flavonoid lainnya. Biji kakao mempunyai potensisebagai bahan antioksidan alami, antara lain: mempunyai kemampuan untuk memodulasi systemimmun, efek kemopreventif untuk pencegahan penyakit jantung koroner dan kanker (Othman et al,2007; Weisburger, 2001; Keen, 2005), selain itu polifenol kakao bersifat antimikroba terhadap beberapabakteri patogen dan bakteri kariogenik ( Osawa et al, 2000; Bouchers, 2002; Lamuela-Raventos, 2005).Kakao juga mempunyai kapasitas antioksidan lebih tinggi dibanding teh dan anggur merah (Lee et al,2003) Disamping menghasilkan biji, dalam proses penanganannya juga menghasilkan produk ikutan(limbah) berupa kulit buah kakao sebesar kurang lebih 73,77% dari berat buah secara keseluruhan.Adanya komponen-komponen polifenol dalam biji kakao, tidak menutup kemungkinan juga terdapatdalam kulit buah kakao dengan khasiat yang sama. Menurut Figuera et al (1993), kulit buah kakaomengandung campuran flavonoid atau tannin terkondensasi atau terpolimerisasi, seperti antosianidin,katekin, leukoantosianidin yang kadang-kadang terikat dengan glukosa. Tannin yang terikat dengan gulaumumnya mudah larut dalam pelarut hidroalkohol, sedangkan tannin terkondensasi atau tannin lebihmudah terekstraksi dengan pelarut aseton 70 % (anonim, 2007). Permasalahannya adalah bagaimanakondisi ekstraksi yang paling optimal untuk mengekstraksi komponen antioksidan dan antibakteri darilimbah kulit buah kakao ? Untuk itu dalam penelitian ini dilakukan ekstraksi menggunakan 2 macamkulit buah kakao (segar dan kering ) dan 2 macam pelarut (etanol 70 % dan campuran aseton
 –
air (7:3).Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH dan uji antibakteri dilakukan dengan metodedifusi agar.Kulit buah kakao jenis lindak (Forastero) asal kabupaten Soppeng, 2,2-diphenyl-2-picrylhydrazyl / DPPH(Sigma), , aseton (teknis), etanol (teknis), etanol absolute (e-Merck), aquadest, Nutrien agar , MullerHilton Agar, paper disc (Oxoid), Dimetil sulfoksida (e-Merck), mikroba uji Staphylococcus aureus,
 
Streptococcus mutan, Escherichia coli, Salmonella thyposa (koleksi laboratorium Mikrobiologi FarmasiUNHAS).Pada penelitian ini, metode kerja yang digunakan ada 4, yang pertama adalah pengolahan sampel. Buahkakao yang diambil yang sudah masak, ditandai dengan mulai menguningnya buah pada saat dipetik.Sebelum dilakukan pengolahan, buah yang sudah dipetik dibiarkan dahulu selama kurang lebih 5 hariuntuk memudahkan lepasnya biji dari kulit buahnya. Sebagian kulit buah kakao dalam bentuk segarditumbuk kasar menggunakan lumpang batu. Sebagian dikeringkan di bawah sinar matahari dansetelah kering ditumbuk kasar.Selanjutnya metode kedua yaitu Ekstraksi Kulit buah Kakao secara maserasi. Masing-masingsampel kulit buah kakao 1 kg diremaserasi sebanyak 3 kali menggunakan Aseton : air (7:3) dan etanol70 % dengan perbandingan sampel- pelarut (1 : 2) untuk sampel basah, dan (1 : 3) untuk sampelkering. Setelah ekstraksi kulit buah kakao secara meresai selesai, dilanjutkan tahap yang ketiga yaitu ujiaktivitas antioksidan. Uji aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DDPH seperti yang dilakukanoleh Othman et al., (2007) yang dimodifikasi, yaitu dibuat larutan uji dengan konsentrasi5 mg/ml; 1,25mg/l; 0,5 mg/l; 0,1 mg/l; dan 0,01 mg/l dalam etanol absolut. Sebanyak 100 l larutan uji ditambahkan1,0ml larutan DPPH 0,4 mM dan etanol hingga 5ml. Campuran selanjutnya divortex dan dibiarkanselama 30 menit . Larutan ini selanjutnya diukur absorbansinya pada panjang gelombang 517 nm.Dilakukan juga pengukuran absorbansi blanko. Hasil penetapan antioksidan dibandingkan denganvitamin C. Besarnya daya antioksidan dihitung dengan umus :% penghambatan = (Absorbance blanko
 –
Absorbance sampel) x 100 %Absorbance blankoIC50 dihitung dengan dengan memplot grafik aktivitas scavenging dengan konsentrasi ekstrak, yangdidefinisikan sebagai total antioksidan yang dibutuhkan untuk menurunkan konsentrasi DPPH sampai 50%.Tahap yang terakhir yaitu uji aktivitas Antibakteri. Uji aktivitas antibakteri dilakukan denganmetode difusi agar , seperti yang dilakukan oleh Nostro et al (2000) yang dimodifikasi, yaitu : Masing-masing ekstrak yang diperoleh sebanyak 2 g dilarutkan dalam dimetilsulfooksida (DMSO) hingga 10 ml.Dari larutan stok dibuat pengenceran bertingkat dengan konsentrasi 20% ,10%, 5%, 2,5%, 1,25%.Masing-masing larutan uji dipipet 5 l diteteskan ke paper disc, kemudian diletakkan di atas mediaMuller Hilton Agar yang telah mengandung mikroba uji 0,1 ml transmitan 25 % atau setara dengan 108koloni/ml. Setelah itu diinkubasi selama 24 jam suhu 37OC.Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit buah kakao segar dan kulit buah kakaoyang telah dikeringkan, dengan asumsi proses pengeringan dapat mengubah komposisi polifenolnyasehingga diharapkan dapat mempengaruhi aktivitas antimikroba dan antioksidannya. Cairanpengekstraksi yang digunakan yaitu etanol 70% yang diasumsikan dapat mengekstraksi senyawa-senyawa flavonoid atau tannin yang teikat sebagai glikosida.. Sedangkan pelarut aseton-air (7:3) sangatbaik untuk mengekstraksi tannin terkondensasi(anonim, 2007).

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->