Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pendekatan Antropologi Dalam Kajian Islam

Pendekatan Antropologi Dalam Kajian Islam

Ratings: (0)|Views: 182|Likes:
free aulu
free aulu

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Masagus Made Agung Al-Palimbani on Mar 24, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/18/2013

pdf

text

original

 
PENDEKATAN ANTROPOLOGI DALAM KAJIAN ISLAM
 Jamhari Ma'ruf Fenomena agama adalah fenomena universal manusia. Selama ini belum ada laporanpenelitian dan kajian yang menyatakan bahwa ada sebuah masyarakat yang tidakmempunyai konsep tentang agama. Walaupun peristiwa perubahan sosial telah mengubahorientasi dan makna agama, hal itu tidak berhasil meniadakan eksistensi agama dalammasyarakat. Sehingga kajian tentang agama selalu akan terus berkembang dan menjadikajian yang penting. Karena sifat universalitas agama dalam masyarakat, maka kajiantentang masyarakat tidak akan lengkap tanpa melihat agama sebagai salah satu faktornya.Seringkali kajian tentang politik, ekonomi dan perubahan sosial dalam suatu masyarakatmelupakan keberadaan agama sebagai salah satu faktor determinan. Tidak mengherankan jika hasil kajiannya tidak dapat menggambarkan realitas sosial yang lebih lengkap.
 
Pernyataan bahwa agama adalah suatu fenomena abadi di dalam di sisi lain jugamemberikan gambaran bahwa keberadaan agama tidak lepas dari pengaruh realitas disekelilingnya. Seringkali praktik-praktik keagamaan pada suatu masyarakat dikembangkandari doktrin ajaran agama dan kemudian disesuaikan dengan lingkungan budaya.Pertemuan antara doktrin agama dan realitas budaya terlihat sangat jelas dalam praktikritual agama. Dalam Islam, misalnya saja perayaan Idul Fitri di Indonesia yang dirayakandengan tradisi sungkeman-bersilaturahmi kepada yang lebih tua-adalah sebuah bukti dariketerpautan antara nilai agama dan kebudayaan. Pertautan antara agama dan realitasbudaya dimungkinkan terjadi karena agama tidak berada dalam realitas yang vakum-selaluoriginal. Mengingkari keterpautan agama dengan realitas budaya berarti mengingkarirealitas agama sendiri yang selalu berhubungan dengan manusia, yang pasti dilingkari olehbudayanya.
 
Kenyataan yang demikian itu juga memberikan arti bahwa perkembangan agama dalamsebuah masyarakat-baik dalam wacana dan praktis sosialnya-menunjukkan adanya unsurkonstruksi manusia. Walaupun tentu pernyataan ini tidak berarti bahwa agama semata-mata ciptaan manusia, melainkan hubungan yang tidak bisa dielakkan antara konstruksiTuhan-seperti yang tercermin dalam kitab-kitab suci-dan konstruksi manusia-terjemahandan interpretasi dari nilai-nilai suci agama yang direpresentasikan pada praktek ritualkeagamaan. Pada saat manusia melakukan interpretasi terhadap ajaran agama, makamereka dipengaruhi oleh lingkungan budaya-primordial-yang telah melekat di dalamdirinya. Hal ini dapat menjelaskan kenapa interpretasi terhadap ajaran agama berbeda darisatu masyarakat ke masyarakat lainnya. Kajian komparatif Islam di Indonesia dan Marokoyang dilakukan oleh Clifford Geertz misalnya membuktikan adanya pengaruh budaya dalammemahami Islam. Di Indonesia Islam menjelma menjadi suatu agama yang sinkretik,sementara di Maroko Islam mempunyai sifat yang agresif dan penuh gairah. Perbedaanmanifestasi agama itu menunjukkan betapa realitas agama sangat dipengaruhi olehlingkungan budaya.
 
Perdebatan dan perselisihan dalam masyarakat Islam sesungguhnya adalah perbedaandalam masalah interpretasi, dan merupakan gambaran dari pencarian bentuk pengamalanagama yang sesuai dengan kontek budaya dan sosial. Misalnya dalam menilai persoalan-persoalan tentang hubungan politik dan agama yang dikaitkan dengan persoalan kekuasaandan suksesi kepemimpinan, adalah persoalan keseharian manusia-dalam hal ini masalahinterpretasi agama dan penggunaan simbol-simbol agama untuk kepentingan kehidupanmanusia. Tentu saja peran dan makna agama akan beragam sesuai dengan keragamanmasalah sosialnya.
 
 
Antropologi, sebagai sebuah ilmu yang mempelajari manusia, menjadi sangat penting untukmemahami agama. Antropologi mempelajari tentang manusia dan segala perilaku merekauntuk dapat memahami perbedaan kebudayaan manusia. Dibekali dengan pendekatan yangholistik dan komitmen antropology akan pemahaman tentang manusia, maka sesungguhnyaantropologi merupakan ilmu yang penting untuk mempelajari agama dan interaksi sosialnyadengan berbagai budaya. Nurcholish Madjid mengungkapkan bahwa pendekatanantropologis sangat penting untuk memahami agama Islam, karena konsep manusiasebagai 'khalifah' (wakil Tuhan) di bumi, misalnya, merupakan simbol akan pentingnyaposisi manusia dalam Islam.
 
Posisi penting manusia dalam Islam juga mengindikasikan bahwa sesungguhnya persoalanutama dalam memahami agama Islam adalah bagaimana memahami manusia. Persoalan-persoalan yang dialami manusia adalah sesungguhnya persoalan agama yang sebenarnya.Pergumulan dalam kehidupan kemanusiaan pada dasarnya adalah pergumulankeagamaannya. Para antropolog menjelaskan keberadaan agama dalam kehidupan manusiadengan membedakan apa yang mereka sebut sebagai 'common sense' dan 'religious ataumystical event.' Dalam satu sisi common sense mencerminkan kegiatan sehari-hari yangbiasa diselesaikan dengan pertimbangan rasional ataupun dengan bantuan teknologi,sementera itu religious sense adalah kegiatan atau kejadian yang terjadi di luar jangkauankemampuan nalar maupun teknologi.
 
Penjelasan lain misalnya yang diungkapkan oleh Emile Durkheim tentang fungsi agamasebagai penguat solidaritas sosial, atau Sigmund Freud yang mengungkap posisi pentingagama dalam penyeimbang gejala kejiwaan manusia, sesungguhnya mencerminkan betapaagama begitu penting bagi eksistensi manusia. Walaupun harus disadari pula bahwa usaha-usaha manusia untuk menafikan agama juga sering muncul dan juga menjadi fenomenaglobal masyarakat. Dua sisi kajian ini-usaha untuk memahami agama dan menegasieksistensi agama-sesungguhnya menggambarkan betapa kajian tentang agama adalahsebagai persoalan universal manusia.
 
Dengan demikian memahami Islam yang telah berproses dalam sejarah dan budaya tidakakan lengkap tanpa memahami manusia. Karena realitas keagamaan sesungguhnya adalahrealitas kemanusiaan yang mengejawantah dalam dunia nyata. Terlebih dari itu, maknahakiki dari keberagamaan adalah terletak pada interpretasi dan pengamalan agama. Olehkarena itu, antropologi sangat diperlukan untuk memahami Islam, sebagai alat untukmemahami realitas kemanusiaan dan memahami Islam yang telah dipraktikkan-Islam thatis practised-yang menjadi gambaran sesungguhnya dari keberagamaan manusia.
 
Di Indonesia usaha para antropolog untuk memahami hubungan agama dan sosial telahbanyak dilakukan. Barangkali karya Clifford Geertz The Religion of Java yang ditulis padaawal 1960an menjadi karya yang populer sekaligus penting bagi diskusi tentang agama diIndonesia khususnya di Jawa. Pandangan Geertz yang mengungkapkan tentang adanyatrikotomi-abangan, santri dan priyayi-di dalam masyarakat Jawa, ternyata telahmempengaruhi banyak orang dalam melakukan analisis baik tentang hubungan antaraagama dan budaya, ataupun hubungan antara agama dan politik. Dalam diskursus interaksiantara agama-khususnya Islam-dan budaya di Jawa, pandangan Geertz telah mengilhamibanyak orang untuk melihat lebih mendalam tentang interrelasi antara keduanya.Keterpengaruhan itu bisa dilihat dari beberapa pandangan yang mencoba menerapkankerangka berfikir Geertz ataupun mereka yang ingin melakukan kritik terhadap wacanaGeertz.
 
 
Pandangan trikotomi Geertz tentang pengelompokan masyarakat Jawa berdasar religio-kulturalnya berpengaruh terhadap cara pandang para ahli dalam melihat hubungan agamadan politik. Penjelasan Geertz tentang adanya pengelompokkan masyarakat Jawa ke dalamkelompok sosial politik didasarkan pada orientasi ideologi keagamaan. Walaupun Geertzmengkelompokkan masyarakat Jawa ke dalam tiga kelompok, ketika dihadapkan padarealitas politik, yang jelas-jelas menunjukkan oposisinya adalah kelompok abangan dansantri. Pernyataan Geertz bahwa abangan adalah kelompok masyarakat yang berbasispertanian dan santri yang berbasis pada perdagangan dan priyayi yang dominan di dalambirokrasi, ternyata mempunyai afiliasi politik yang berbeda. Kaum abangan lebih dekatdengan partai politik dengan isu-isu kerakyatan, priyayi dengan partai nasionalis, dan kaumsantri memilih partai-partai yang memberikan perhatian besar terhadap masalahkeagamaan.
 
Teori politik aliran ini, menurut Bahtiar Effendy memberikan arti penting terhadap wacanatentang hubungan antara agama-khususnya Islam-dan negara. Teori politik aliran dapatdigunakan untuk memberikan penjelasan yang baik mengenai salah satu dasar (basis)pengelompokkan religio-sosial di Indonesia. Pengelompokkan sosial tersebut mempengaruhipola interaksi politik yang lebih luas di Indonesia.
 
Karya Geertz ini disebut untuk sekedar memberikan ilustrasi bahwa kajian antropologi diIndonesia telah berhasil membentuk wacana tersendiri tentang hubungan agama danmasyarakat secara luas. Antropologi yang melihat langsung secara detil hubungan antaraagama dan masarakat dalam tataran grassroot memberikan informasi yang sebenarnyayang terjadi dalam masyarakat. Melihat agama di masyarakat, bagi antropologi adalahmelihat bagaimana agama dipraktikkan, diinterpretasi, dan diyakini oleh penganutnya. Jadipembahasan tentang bagaimana hubungan agama dan budaya sangat penting untukmelihat agama yang dipraktikkan.
 
Kepentingan untuk melihat agama dalam masyarakat juga sangat penting jika dikaitkandengan wacana posmodernisme yang berkembang belakangan ini. Walaupun para ilmuwansosial masih mendebatkan apakah yang disebut sebagai posmodernis adalah "fenomena"atau sebuah kerangka "desconstruction theory", mereka bersepakat tentang bangkitnya-dalam arti diakuinya kembali local knowledge sebagai sebuah kebenaran-budaya lokaldalam percaturan dunia global. Bagi ahli politik, misalnya apa yang disinyalir oleh Fukuyamadengan klaimnya The End of History and the Last Man, globalisasi berarti adalahditerimanya sistem demokrasi liberal sebagai satu sistem yang laik dipakai. Bagi ahliekonomi, wujudnya sistem moneter ala Keynesian telah membuktikan bahwa duniaperekonomian menganut satu sistem. Penggunaan alat telekomonukasi dan komputerdengan internetnya dapat juga membuktikan bahwa globalisasi telah mencapai pada satukesepakatan bersama. Namun bagi ilmu sosial, utamanya mereka yang terlibat langsungdengan urusan budaya seperti antropologi, globalisasi mengimplikasikan makna yang lain.Terbukanya komunikasi dan ruang bagi dialog antarbudaya memungkinkan masing-masingbudaya untuk mengungkapkan atau memberikan alternatif terhadap kebenaran. Ungkapanterkenal James Clifford tentang runtuhnya "mercu suar" untuk mengklaim suatu kenyataandengan ukuran rasionalitas Barat, menunjukkan bangkitnya "pengetahuan lokal" di eraposmodernisme. Artinya pertanyaan apakah globalisasi nanti akan juga menyatukan budayadunia atau akan munculnya kembali budaya-budaya lokal dalam pertarungan dunia,menjadi sangat penting.
 
Bassam Tibbi mengungkapkan bahwa globalisasi memungkin manusia untuk melakukandialog antarkebudayaan yang ada di dunia. Ia mengakui bahwa fenomena demokrasi adalahfenomena universal yang mau tidak mau mempengaruhi masyarakat lain yang tidak

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->