Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
25Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
desa

desa

Ratings:

4.5

(2)
|Views: 1,066 |Likes:
Published by Blackbird
Tinjauan program-program umum untuk desa
Tinjauan program-program umum untuk desa

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Blackbird on Mar 17, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/19/2013

text

1
Page 1
MENDISKUSIKAN MASA DEPAN DESA:
Catatan Refleksi Program-Program untuk Perdesaan
Eka Chandra
Disampaikan pada Diskusi tentang
\u2018Relasi Desa dan Negara serta Peran dan Posisi Strategis Desa\u2019
Diselenggarakan oleh:
PERGERAKAN & PERKUMPULAN INISIATIF
16 April 2007
I. Pendahuluan

Tulisan ini disiapkan untuk dijadikan bahan diskusi peserta seminar yang akan meninjau tata pemerintahan desa. Seminar tersebut membahas tema-tema di bidang politik, yaitu mengenai pembentukan kelompok-kelompok politik, penentuan peran birokrasi dan partai politik di desa, pemberian kewenangan yang luas kepada pemerintah desa, serta penambahan sumberdaya keuangan bagi pengelolaan pemerintahan desa. Tema-tema itu akan dikaitkan dengan rencana pengaturan desa melalui RUU pemerintahan desa, yang kabarnya akan selesai tahun 2007.

Berbeda dengan tema-tema di atas, saya diminta menyampaikan tema tentang \u2018gerakan kapitalisme dan neoliberalisme\u2019 terhadap desa serta \u2018nilai-nilai kolektivisme\u2019 di perdesaan. Keduanya menarik dibicarakan, tetapi pengertiannya sangat luas dan jika tidak berhasil membatasinya kemungkinan akan membicarakan hal-hal yang sifatnya masih kabur . Dengan begitu dari pada membahasnya, saya menawarkan tema lain, yaitu mengenaiprogram-program untuk desa beserta implikasinya.Program yang saya maksud di sini adalah kegiatan-kegiatan yang sengaja ditujukan untuk desa, dalam bentuk perundang-undangan, peraturan, tindakan, dan berbagai metode sosial lainnya dalam rangka membuka, menumbuhkan, atau membatasi ruang gerak penduduknya. Tema ini sengaja saya tawarkan untuk mengingatkan kita bahwa perdesaan telah sering dan berulang-ulang bersentuhan dengan kerja-kerja orang di luar desa dalam kurun waktu yang panjang.

Pembahasan difokuskan kepada empat jenis program. Pertama adalah program modernisasi
dan birokratisasi pemerintahan desa. Kedua, program peningkatan hasil produksi melalui
Black.bird/17032009
2
Page 2

penggalian dan pemanfaatan secara luas sumberdaya-sumberdaya alam, penerapan teknologi baru, dan sarana perdagangan. Ketiga, program-program etik, yaitu upaya-upaya pegurangan beban dan tekanan ekonomi bagi penduduk desa. Keempat, program-program rintisan demokratisasi, pemberian jaminan kebebasan memilih, dan perluasan akses terhadap sumber- sumber penghidupan. Membicarakan keempat jenis program ini tentu saja memerlukan pembahasan yang panjang dan luas. Tanpa bermaksud mempersempit ruang lingkup pembahasannya, tulisan ini hanya akan membahas ciri-ciri utamanya dan mengambil beberapa kasus yang tersedia sebagai ilustrasi.

Tesis utama saya adalah bahwa desa dan penduduk desa terus menerus dibentuk, didefinisikan, diukur, diperebutkan, dihadirkan dalam cara yang beragam, dikendalikan dan diatur dalam rangka menjalankan program-program politik dan ekonomi yang khusus. Program seperti itu melibatkan berbagai aktor dan kewenangan, yang memiliki tujuan-tujuan pasti, tapi bisa berubah, dan hasilnya relatif tidak bisa diperkirakan. Bersamaan dengan proses pembentukannya, desa dan penduduk desa dipantau perubahannya; seperti perubahan tataguna lahan dan pencemaran dari sisi ilmu lingkungan, pergeseran gaya hidup dari sisi sosiologi dan antropologi, pergeseran mata pencaharian dari sisi ilmu ekonomi, dll. Desa dan penduduk desa terus menerus diukur; jumlah populasinya, pendidikan, gizi, kesehatan, dan tentunya pendapatan, daya beli, bahkan ada yang mengukur \u2018nilai tukar petani\u2019, dll. Dengan memahami bahwa desa berada pada posisi \u2018objek\u2019 dan sekaligus \u2018subjek\u2019 dari program-program politik dan ekonomi, tinjauan terhadap RUU diharapkan menemukan konteks tujuan yang lebih relevan. Saat ini, setiap program yang ditujukan untuk daerah pedesaan akan berurusan denganpenghidupan seluruh atau sebagaian dari 116 juta penduduk yang tercatat sebagai warga dari 62.806 wilayah administrasi desa, dan penghidupan seluruh atau sebagian dari k.l 90 juta penduduk yang tinggal di perkotaan.

Sedemikan banyaknya jumlah orang yang akan terkena dampak program, maka isu yang saya tawarkan dibahas kemudian adalah apa saja yang perlu dipertanyakan berkaitan dengan keberadaan desa sekarang. Apa alternatifprogram yang dibutuhkan dan mungkin dilakukan untuk desa di masa yang akan datang? Apa peran yang tepat dan dapat diambil oleh negara, organisasi kemasyarakatan, dan perusahaan swasta ? Jawaban atas tiga pertanyaan itulah yang menurut saya penting dihadapkan dengan rencana undang-undang pemerintahan desa. Itulah inti dari tulisan ini.

II. Modernisasi dan Birokratisasi Pemerintahan Desa

Aspek pertama yang menunjukan bahwa desa telah berhubungan berulang-ulang dengan kerja orang dari luar desa adalah program modernisasi dan birokratisasi pemerintahan desa. Program penataan pemerintahan desa telah dimulai sejak pertengahan abad 18. Proyek yang pertama dilakukan oleh pemerintahan Belanda dalam rangka mengintegrasikan sistem pemerintahan desa asli dengan sistem pemerintahan kolonial yang dibangun Belanda saat itu.

Black.bird/17032009
3
Page 3

Proyek mengintegrasikan sistem pemerintahan asli ke dalam suatu pemerintahan modern terus berlanjut sampai tahun 1965. Ciri utama proyek-proyek semacam ini adalah dimasukkannya aturan-aturan pemerintahan desa ke dalam peraturan yang lebih tinggi, bahkan pada era paska kemerdekaan, dimasukkan ke dalam konstitusi negara modern (dilaporkan bahwa ini pun dilakukan secara hati-hati, terutama berkenaan dengan sistem-sistem pemerintahan asli yang telah ada baik sebelum kemerdekaan atau pun jauh sebelum masa kolonial). Setelah tahun 1965, upaya mengatur desa melalui peraturan yang lebih tinggi terus berlanjut. Tetapi ada satu hal yang berbeda dari sebelumnya, yaitu munculnya pertimbangan-pertimbangan praktis yang mengabaikan sistem-sistem pemerintahan asli, sekaligus memasukan pemerintahan desa ke dalam birokrasi pemerintahan negara.

Sejak akhir abad 19, konseptualisasi dan pendefinisian desa-desa di Indonesia terus dilakukan, baik secara hati-hati maupun pragmatis. Pembentukan desa dalam konteks pengaturan pertama kali dilakukan oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1854 melaluiRegenings

Reglements(RR) pasal 71 dan melalui Indische Staatregening(IS) tahun 1925. Kemudian

diperbaharui melaluiInlandsche Gementee Ordonantie (IGO) pada tahun 1906, lalu diatur menurut kondisi tertentu melaluiInlandsche Gementee Ordonantie Buitengewester (IGOB) pada tahun 1938, dilanjutkan oleh penerbitanDesa Ordonantie (DO) yang tidak sempat diimplementasikan pada tahun 1941,Osamu Serei (OS) pada masa kolonial Jepang di tahun 1944. Di jaman kemerdekaan, desa dan pemerintahannya kembali dibentuk dan diatur melalui UU no.19 / 1965 yang kemudian dihapuskan karena tidak sesuai dengan UUD 1945. Bentuk pengaturan yang dipandang membawa implikasi besar terhadap kehidupan orang desa dilakukan melalui UU No.5 1979 pada masa Orde Baru. Jangka waktu pemberlakukan, intensitas, dan ruang lingkup pengaturannya masih terasa hingga saat ini meski telah diralat melalui UU no 21/1999 tentang pemerintahan daerah dan perbaikannya melalui UU no 32/2004. Apa yang ingin saya kemukakan adalah bahwa desa telah dibentuk, diidentifikasi, didefinisikan, dan ditata hampir sepanjang 150 tahun terakhir menurut asumsi dan tujuan-tujuan penguasa politik di berbagai tingkatan.

Pendefinisian desa berada diantara pengakuan terhadap sistem asli dan pembentukan desa baru. Sebagaimana yang banyak ditampilkan dalam tulisan-tulisan yang membahas sejarah pembentukan konstitusi Indonesia modern, pandangan terhadap desa beragam, dan bahkan pandangan mengenai keberagaman pun seolah-olah menjadi bagian dari proses negoasiasi proyek-proyek pembentukan desa. Perundang-undangan dan peraturan tentang desa yang terbit sejak tahun 1854 sampai dengan UU No6/1965 dipandang sebagai proyek-proyek politik yang mengakui tata pemerintahan \u2018asli\u2019 di desa dan mengakui otonominya dalam memelihara, mengembangkan, dan menerapkan aturan-aturan setempat. Pengakuan terhadap tata pemerintahan \u2018asli\u2019 bergeser sejak diberlakukannya UU no5/1979. Undang-undang ini berupaya merajut desa dalam satu kesatuan hukum. Pada awalnya upaya unifikasi hukum ini dihadapkan pada fakta-fakta sosiologis dan antropologis mengenai masyarakat desa, terutama mengenai definisi satuan sosial, cakupan dan batas-batas teritorialnya. Hal itu terjadi terutama di wilayah- wilayah di luar Jawa dan Madura. Kepentingan praktis dan administratif pembangunanlah yang

Activity (25)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
ceilldance liked this
Ahmad Brake liked this
Martinho Araujo liked this
Shoe Djie liked this
Mh Nurul Huda liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->