Menguak Tabir Peristiwa 1 Oktober 1965 – Mencari Keadilan
Angela Rookmaker) oleh penerbit Manus Amici--Het Wereldvenster pada tahun1988-1989.Pada hari ultah ke-70 dan peluncuran buku yang berlangsung di rumahnya sendiriitu, di antara para seniman, aktivis dan tamu-tamu asing yang hadir tampak SitorSitumorang, Goenawan Mohamad, Rendra, Princen dan Mochtar Pabottinggi.Pada kesempatan itu Pram menjelaskan, bahwa catatan dan surat-surat yangterhimpun dalam buku itu, ditulis terburu-buru tanpa diperiksa kembali. Kecualibeberapa bagian. Semua ditulis setelah 1973, tahun penulis mendapat izin menulis.Dan dia berterimakasih yang tak berhingga kepada semua dan tiap orang. Merekayang karena solidaritas internasional dan manusiawinya memungkinkan adanyakelonggaran penulis dalam pembuangan sejak Juli 1973, khususnya AmnestiInternasional, Komite Indonesia, Prof. Dr WF Wertheim dan Carmel Boediardjo.Dalam Catatan atas Catatan, Pram menandaskan, bahwa penerbitan buku itu,«didasarkan pada pertimbangan : apa dan bagaimana pun pengalaman indrawi danbatin seorang pribadi, apalagi dituliskan, ia jadi bagian dari pengalaman suatubangsa dan umat manusia pada umumnya.»Sebagaimana lazimnya, tulis saya ketika itu, kaum intelegensia dan pers Indonesiatelah membuta-tuli atas adanya penerbitan sebuah dokumen sosial sekaliguspembuktian dari korban kezaliman banditkrasi Orde Baru tersebut. Kecuali segelintirsaja, di antaranya catatan ringkas di Kompas, artikel di Forum Keadilan danIndependen mewawancarai Pramoedya. Sebaliknya, pers luarnegeri, terutamaAsiaweek dan Far Eastern Economic Revieuw menyiarkan komentar cukup panjang.Pramoedya dengan tegas menyatakan, bahwa maksud penerbitan buku «NyanyiSunyi Seorang Bisu» itu antara lain adalah agar «jangan sampai ada korupsisejarah».Tetapi arogansi kekuasaan yang memang korup, sekali lagi telah memperlihatkanwatak kezaliman sekaligus ketakutan akan kebenaran dan keadilan denganmelakukan larangan atas buku tersebut. Sesungguhnyalah, karena arogansi yangteriring ketakutan sendiri itulah penguasa Orde Baru membuang sebanyak 10.000tapol ke dalam kamp konsentrasi Pulau Buru. Termasuk di antaranya kaum, jurnalis,seniman, penyair dan sastrawan.Dari kalangan sastrawan dan penyair, selain Pramoedya Ananta Toer, juga HRBandaharo, Boejoeng Saleh, Rivai Apin, S. Anantaguna, Samanjaya (Oei Haidjoen),Nusananta, Setiawan Hs, Amarzan Ismail Hamid, Sutikno Ws, JT Rahma, BennyTjhung, James Kaihatu.Dari kalangan wartawan, antara lain : M Naibaho, Hasjim Rahman, Tom Anwar,Habib Azhari, Sumartono Mertoloyo, Samodra, Hariyudi, Kadi.Dari kalangan seni film dan seni drama : Basuki Effendy, Bachtiar Siagian. Darikalangan ludruk dan ketoprak : Shamsuddin, Buwang, Dasul, Badawi.Dari kalangan seni rupa : Permadi Lyosta, Gultom, Sumardjo.
553
Commenting has been disabled.