Jakarta, Kompas - Muhammadiyah dituntut merumuskan kembali posisi teologi tentangIslam dan kemodernan mengingat tantangan zaman yang kian jauh berbeda dan semakinkompleks. Ke depan, persyarikatan Muhammadiyah tidak perlu gamang menghadapitawaran teologis yang bermunculan, baik dari spektrum kanan maupun kiri.Hal ini disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin diJakarta, Rabu (30/3). Kepada Din ditanyakan tentang perkembangan wacana keislaman diMuhammadiyah menjelang muktamar Muhammadiyah.Menurut Din, karena tidak kunjung memunculkan tawaran teologis baru sesuai dengan perkembangan, maka tidak sedikit anak muda Muhammadiyah yang memilih keluar. Trentersebut melanda generasi muda persyarikatan di semua tingkatan secara umum. "Iniditandai dengan banyaknya pentolan mudanya yang lari ke spektrum kanan denganmendirikan lembaga atau organisasi yang beberapa di antaranya diberi predikat gariskeras. Bagi mereka, Muhammadiyah dianggap kurang keras atau lembek secara teologis,"ujarnya.Di samping itu, menurut Din, tidak sedikit anak muda Muhammadiyah yang lari kespektrum kiri atau liberal seperti masuk Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah atauaktif di Jaringan Islam Liberal. "Langkah demikian, idealnya dipahami sebagaimunculnya ketidakpuasan terhadap Muhammadiyah, atau bisa juga karenaketidakpahaman dengan teologi yang diusung Muhammadiyah," ujarnya.Menurut Din, ekspresi ketidakpuasan sebenarnya bagus-bagus saja. Kondisi ini justrumembuktikan adanya dinamisasi di Muhammadiyah. Sayangnya, persyarikatan ini tidak menyiapkan lahan untuk tumbuhnya perkembangan pemikiran anak muda. Itu sebabnya,agenda penting ke depan bagi Muhammadiyah adalah memperjelas bagaimana teologiMuhammadiyah agar tidak mengalami pembekuan. (mam)Miskin atau kemiskinan dipahami sebagai ketiadaan harta atau ketidakberdayaan yangmembuat seorang tak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya. Dalam bahasa Arab, katamiskin berakar dari kata sakana, yaskun, sukun, yang secara harfiah berarti diam, tak bergerak. Jadi, miskin menunjuk pada kondisi diam, tanpa aktivisme dan dinamismedalam hidup.Kemiskinan dalam semua bentuknya harus dicegah. Dalam Islam, kemiskinan dipandangsebagai dharar, yaitu sesuatu yang membahayakan. Setiap yang membahayakan tentuharus dicegah dan dihilangkan sesuai kaidah fikih, al-dharar yuzalu. Karena itu, bagikaum Muslim, menghilangkan kemiskinan adalah wajib kifayah hukumnya.Untuk mencegah dan mengatasi problem kemiskinan, kaum Muslim perlumemperhatikan paling tidak tiga hal ini. Pertama, memahami dengan benar sikap dan pandangan Alquran tentang kemiskinan itu sendiri. Dalam Alquran, Allah justru memberi pujian pada kehidupan yang berkecukupan. Pujian itu, misalnya, diberikan dalam konteks pemberian aneka macam kenikmatan kepada Nabi Muhammad SAW.''Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang miskin (berkekurangan), lalu Diamemberikanmu kecukupan.'' (QS Dhuha [93]: 8). Kedua, melepaskan diri dari teologi jabariyah yang fatalistik. Sebagian kaum Muslim masih ada yang berpandangan miskinadalah takdir dalam arti nasib yang tidak dapat diubah. Sebagian yang lain berpandangan
Leave a Comment