Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
0Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Akuntabilitas anggaran

Akuntabilitas anggaran

Ratings: (0)|Views: 1 |Likes:
Published by Diiah Tiiass

More info:

Published by: Diiah Tiiass on Apr 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2013

pdf

text

original

 
AKUNTABILITAS ANGGARAN
“Anggaran yang akuntabel” sudah menjadi jargon yang terus dibicarakan oleh banyak kalangan. Jangankanmedia massa dan elit, istilah ini bahkan sudah mulai digunakan oleh komunitas terpinggirkan. Umumnyadalam bentuk kritik atas praktek penganggaran baik APBN maupun APBD. Persoalan akuntabilitas bukanlagi wacana, tapi anggaran tidak akuntabel mulai disadari bahkan oleh kelompok masyarakat sebagai salahsatu problem mendasar di ranah pengambilan keputusan publik kita. Tidak hanya di kalangan non-pemerintah, aparatus birokrasi dan lembaga-lembaga politik juga kerap menggunakan istilah ini sebagaibagian dari prinsip penyelenggaraan pemerintahan dan kekuasaan politik.Sayangnya, meskipun telah sering digunakan sebagai salah satu istilah baku di dalam konteks kenegaraandi Indonesia, prakteknya masih jauh panggang dari api. Proses penganggaran masih sangat jauh ataspenampakan substansial dari istilah akuntabilitas. Dari tahapan perencanaan hingga implementasi, kataakuntabilitas lebih mendeskripsikan kegagahan birokrasi dengan angka-angka teknokratis dibandingkanaroma perubahan untuk mencapai tujuan anggaran dan pemerintahan itu sendiri. Rumusan programanggaran yang jauh dari kebutuhan, tingginya tingkat pemborosan anggaran serta maraknya korupsianggaran adalah fakta-fakta yang menunjukan akuntabilitas anggaran negara kita rendah.
Akuntabilitas
Apa sebenarnya makna substansial dari akuntabilitas? Pertanyaan ini sebenarnya sulit dijawab denganterminologi sederhana. Definisi akuntabilitas dapat berada pada rentang yang luas di antara berbagaiekstrem pandangan. Dari tradisional ke modern, konservatif ke liberal, atau bahkan kapitalis ke sosialis.Terma ini sungguh bergantung pada kondisi sosio-historik dimana digunakan (Haque:1994). Tapi definisi inikemudian menjadi seragam mengikuti arus besar demokrasi liberal, baik dilihat dari sisi ide, prinsipmaupun institusi yang diperlukan di dalam membangun akuntabilitas publik. Terma yang diadopsi darirezim demokrasi liberal ini, meskipun banyak kekurangannya disebabkan oleh sentralisasi dan kerumitanbirokrasi, kepemimpinan politik yang tidak layak bahkan ketertutupan di dalam kebijakan publik, tetap sajaterma yang diambil dari definisi demokrasi liberal tetap penting. Setidaknya dapat digunakan untukmengukur dan memastikan akuntabilitas pemerintahan dalam bentuk pemberian pelayanan, menentukantingkat kebutuhan publik, mendorong representasi politik, mendorong kebebasan individu, dan keadilanumum.Di Indonesia, sebagai negara berkembang, terma akuntabilitas mulai diperkenalkan oleh agen-agenkeuangan global, terutama Bank Dunia. Dengan pendekatan neoliberal, terma akuntabilitas masukbersama terma lain seperti transparansi, partisipasi, penegakan hukum dan lain sebagainya. Pendekatanbaru ini kemudian merubah norma, tujuan, struktur, aturan dan paradigma pelayanan publik. Usuran-ukuran baku terkait akuntabilitas publik pun ditawarkan, seperti; efisiensi, pengaruh (
outcome
), kompetisi,nilai ekonomi (
value for money 
), aturan-aturan pendorong (
catalytic role
), otonomi, kemitraan danpelayanan berbasis konsumen.Dalam kacamata neoliberal, dikenal standar-standar yang dipercaya dapat mendorong adanya kemajuan.Neoliberal mengklaim bahwa pendekatan ini telah mendorong terciptanya kemajuan dalam kehidupansosial-ekonomi, perbaikan sistem hukum dan politik, pengurangan kemiskinan, pertumbuhan kesempatankerja serta memelihara nilai-nilai baru di masyarakat seperti; persamaan, keadilan, representasi, integritas,
 fairness
, kewargaan dan kesejahteraan.Akuntabilitas seharusnya dapat tercermin dari dua aspek besar yaitu proses dan hasil. Jika perumusananggaran masih oligharkis dan monopolistik, maka prosesnya dapat dipandang tidak akuntabel. Jika tidakada dampak terukur dari implementasi anggaran sesuai dengan dokumen perencanaan dan sasarannyapada rakyat miskin, maka dari sisi hasil atau produk kebijakan, dapat dikatakan tidak akuntabel.
 
 Luasnya ruang interpretasi atas makna substansial dari kata akuntabilitas, menimbulkan konsekuensi padatingginya harapan publik atas anggaran yang akuntabel. Jika dirumuskan secara sederhana, anggaran yangberakuntabilitas adalah anggaran yang direncanakan sesuai dengan kebutuhan. Di sisi proses,pencapaiannya dilakukan dengan pelibatan seluas-luasnya dari elemen pemangku kepentingan terutamakelompok sasaran, yaitu masyarakat. Anggaran akuntabel dirumuskan dengan pertimbangan indikator-indikator kinerja. Harus efektif, efisien dan tidak memunculkan ruang-ruang korupsi.Dari sisi hasil, anggaran akuntabel harus diimplementasikan dengan cara-cara yang transparan dankompetitif. Jauh dari praktek menguntungkan kelompok bisnis kroni atau kepentingan politik tertentu.Dapat dipertanggungjawabkan dengan sistem administrasi keuangan negara yang berlaku. Serta yangterpenting adalah dapat mencapai pencapaian atas anggaran, yaitu perbaikan fasilitas publik, menurunkanangka kemiskinan, meningkatkan perekonomian serta perbaikan kualitas pelayanan publik.
Akuntabilitas Anggaran
Proses anggaran publik dapat dilihat dari proses-proses yang terjadi di birokrasi dan lembaga politiktermasuk representasi warga. Bagaimana mengatakan sebuah alur anggaran akuntabel sama saja denganmemotret bagaimana mekanisme teknokratis di birokrasi dapat dilakukan sesuai dengan standar alokasidan akuntansi yang berlaku di satu sisi. Sementara di sisi yang lain, proses teknis dan teknokratis dapatdijamin tetap berdiri di atas semua kepentingan politik, aspirasi publik serta mampudipertanggungjawabkan baik secara administratif maupun secara ekonomi dan politik. Dengan demikiananggaran akan dapat dengan mudah diklaim telah dilakukan melalui mekanisme perencanaan yangpartisipatif, akomodatif, adil dan representatif secara politik. Akan tetapi dengan tetap memperhatikanterpenuhinya aspek-aspek administrasi keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai denganstandar akuntansi keuangan negara dan mendukung pertanggungjawaban aspek-aspek kinerja anggaranpublik.
Akuntabilitas Administratif Anggaran
Sejauh ini akuntabilitas dari sistem administrasi keuangan ditopang oleh eksistensi lembaga pengawasankeuangan yang bersifat internal (Bawasda, Inspektorat, BPKP) dan pengawasan eksternal (BPK). Skemapengawasan ini dapat dilihat sebagai berikut:
EKONOMIINPUT PROSESEFISIENSIOUTPUT OUTCOMEEFEKTIVITAS
 
 Sejauh ini institusi yang diserahi tanggungjawab atas pemeriksaan keuangan negara dinilai belumberfungsi maksimal. Instansi pengawasan internal masih bersifat tertutup terkait hasil pemeriksaannya.Beberapa kasus pemeriksaan keuangan bahkan menunjukan bahwa pengawas internal tidak berfungsiuntuk penguatan akuntabilitas internal instansi akan tetapi lebih sebagai alat justifikasi bagi praktek-praktek distorsif termasuk korupsi di internal instansi. Di beberapa daerah, persoalan indikasipenyalahgunaan wewenang dan dugaan kerugian negara yang ditemukan oleh instansi pengawaseksternal sering berbeda dengan temuan instansi pengawas internal. Hal ini dipandang fenomena yanganeh karena masing-masing institusi ini menggunakan standar akuntansi keuangan negara yang sama.Seperti halnya instansi pengawas internal, persoalan juga dirasakan terkait kinerja dan eksistensi hasilpemeriksaan keuangan BPK sebagai pemeriksa keuangan secara eksternal. Sejauh ini, hasil-hasilpemeriksaan BPK belum dapat secara maksimal ditindaklanjuti oleh DPRD di tingkat daerah dan DPR ditingkat pusat. Kelemahan dalam mendorong hasil pemeriksaan BPK ini kemudian melemahkan fungsipengawasan parlemen atas akuntabilitas administrasi keuangan.
Akuntabilitas Politik Anggaran
Selama ini, proses politik anggaran di Indonesia tidak pernah dianggap penting. Lembaga politik maupunbirokrasi umumnya menerima proses perencanaan anggaran yang sudah mengadopsi sistem perencanaanpembangunan bertingkat (Musrenbang). Sayangnya proses ini belum dapat dikatakan telah mewakiliaspirasi politik warga. Dari berbagai riset disebutkan bahwa Musrenbang tidak lagi efektif untuk dijadikansebagai sarana penyerapan aspirasi masyarakat. Karena proses Musrenbang ini sering tidak membuahkanhasil yang dapat menjawab kebutuhan dan usulan masyarakat langsung di tingkat desa, komunitas, sektoratau kawasan. Ini karena proses Musrenbang sebenarnya bukan sebuah representasi kepentingan berbasiswarga akan tetapi hanya alat justifikasi proses penganggaran untuk dapat disebut telah dilakukan secaraaspiratif dan partisipastif. Proses Musrenbang sendiri tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari prosesteknokrasi anggaran yang dilakukan oleh birokrasi.Hilangnya usulan masyarakat dari proses Musrenbang disebabkan oleh beberapa faktor. Diantaranyaadalah faktor alokasi dan distribusi anggaran yang terbatas untuk memenuhi semua tuntutan warga.Karena terlihat besar dan tidak realistis, maka pihak Panitia Anggaran Eksekutif cenderung menggunakan
PRESIDENWAPRESB P K PEMERINTAH
PROPINSIKAB/KOTA
BawasdaKAB/KOTAUnsurPelaksanaUnsurPelaksanaBAWASDAPROPMENTERI/Pimp. LPNDESELON IUnsurPelaksanaITJEN / UnitWas LPND
MENEG PANDEP/LPND
B P K P
MENDAGRI
GUBERNUR APBDAPBN
MPR DPR/DPD
KAP
NEGARA
BUMN/DDireksiBUPATI /WALIKOTA
Feed back Feed back Feed back 
 
PRESIDENWAPRESB P K PEMERINTAH
PROPINSIKAB/KOTA
BawasdaKAB/KOTAUnsurPelaksanaUnsurPelaksanaBAWASDAPROPMENTERI/Pimp. LPNDESELON IUnsurPelaksanaITJEN / UnitWas LPND
MENEG PANDEP/LPND
B P K P
MENDAGRI
GUBERNUR APBDAPBN
MPR DPR/DPD
KAP
NEGARA
BUMN/DDireksiBUPATI /WALIKOTA
Feed back Feed back Feed back 
:: Sistem Pengawasan Keuangan Negara

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->