merasa sebagai pecinta alam.Dan organisasi pencinta alam pun merambah MAHESA sejak awal berdirinya. Dimulaidari puncak Gunung Bawakaraeng (2.830 Mdpl) pada tanggal 20 Mei 2007(Disepakatisebagai hari jadi MAHESA), oleh 9 orang pendiri Mahasiswa Ekonomi Program RegulerSore UNHAS (Bintang Hidayat, Hastomo, Fajrul Iman Ibrahim, Apriansyah, AhmadNasarudin, Asriadi, Muh.Hisyam, Suhardiman Sultan, dan Armawan Abdullah) yangdisetujui oleh M.Arfan yang pada waktu itu menjabat sebagai Ketua BEM FakultasEkonomi Reguler Sore UNHAS(yang di kemudian hari karena bersimpatik ikut bergabungdengan MAHESA dalam Angkatan I), kemudian disusul dengan deklarasi yang diadakandi Puncak Gunung Bulusaraung (1.200 mdpl) pada tanggal 09 September 2007. Dalamperjalanan kali ini ikut serta Arnan Maulana, Seorang Simpatisan (yang kemudianditetapkan sebagai Simpatisan Pendiri). Pada periode pertama Bintang Hidayatditetapkan sebagai ketua umum MAHESA.MAPALA, Konsekuensi yang harus dihadapi dari sebuah konsistensiApa yang diharapkan dengan mengikuti sebuah organisasi bernama MAPALA? Banyakmemandang sebelah mata pada organisasi ini dan terkadang mengatakan bahwakegiatannya hanya bersifat hura-hura yang menghabiskan uang. Suara itu semakinsanter terdengar bila ada pemberitaan mengenai kecelakaan yang dialami olehanggota Mapala pada waktu melakukan kegiatan di alam.Dalam sebuah diskusi (mengutip dalam artikel Kompas, Minggu 29 Maret 1992)kegiatan Mapala dapat dikategorikan sebagai olahraga yang masuk ke dalam kalibersport beresiko tinggi. Kegiatannya meliputi mendatangi puncak gunung tinggi, turunke lubang gua di dalam bumi, hanyut berperahu di kederasan jeram sungai deras,keluar masuk daerah pedalaman yang paling dalam dan lainnya. umumnya kegiatanMapala berkisar di alam terbuka dan menyangkut lingkungan hidup. Jenis aktifitasmeliputi pendakian gunung (mountaineering), pemanjatan (climbing), penelusuran gua(caving), pengarungan arus liar(rafting), penghijauan dan lain sebagainya.Tak ayal lagi bahwa kegiatan ini beresiko tinggi dan setiap anggotanya harusmemahami konsekuensi resiko yang dihadapi dengan bergabung dengan organisasi ini.Resiko yang paling berat adalah cacat fisik permanen dan bahkan kematian. Untukbisa mempersiapkan diri menghadapi resiko yang tinggi ini, dibutuhkan kesiapanmental, fisik dan skill yang memadai. Berbagai macam latihan dan pengalaman terjunlangsung ke alam dapat meminimalisir resiko yang akan dihadapi. Tapi, diluar semuaitu masih ada yang lebih berwenang untuk menentukan hidup dan mati seseorang.MAPALA, Pencinta alam atau Petualang ?Dua nama, pencinta alam dan petualang seolah-olah merupakan satu kesatuan utuhyang tidak bisa di pisahkan antara keduanya. Namun kalau dilihat secara etimologikata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia akan nampak kelihatan bahwa keduanya tidakada hubungan satu sama lainnya. Dalam KBBI, pecinta (alam) ialah orang yang sangatsuka akan (alam), sedangkan petualang ialah orang yang suka mencari pengalamanyang sulit-sulit, berbahaya, mengandung resiko tinggi dsb. Dengan demikian, secaraetimologi jelas disiratkan dimana keduanya memiliki arah dan tujuan yang berbeda,meskipun ruang gerak aktivitas yang dipergunakan keduanya sama, alam. Dilainpihak, perbedaan itu tidak sebatas lingkup “istilah” saja, tetapi juga langkahyang dijalankan. Seorang pencinta alam lebih populer dengan gerakanenviromentalisme-nya, sementara itu, petualang lebih aktivitasnya lebih lekatdengan aktivitas-aktivitas Adventure-nya seperti pendakian gunung, pemanjatantebing, pengarungan sungai dan masih banyak lagi kegiatan yang menjadikan alamsebagai medianya.Kini yang sering ditanyakan ketika kerusakan alam di negeri ini semakin parah