Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
52Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Bahasa dan Kesantunan: Analisis Teks pada Surat Keluhan

Bahasa dan Kesantunan: Analisis Teks pada Surat Keluhan

Ratings:

5.0

(2)
|Views: 3,563 |Likes:
Published by Gusnawaty

More info:

Published by: Gusnawaty on Mar 20, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2014

pdf

text

original

 
Bahasa dan Kesantunan: Analisis Teks pada Surat KeluhanHarian Fajar Makassar
(
 Language and Politeness: a Text Analysis in Complaint Letter 
 
at “Harian Fajar” dailyin Makassar)
Oleh GusnawatyFakultas Sastra UnhasAbstrak:Kesantunan dalam bertutur menurut Brown dan Levinson (1978/1987); Leech(1983); Sachiko Ide (1989) sangat penting diperhatikan dalam kehidupan sosial untuk menghindari konflik yang mungkin terjadi dalam setiap interaksi komunikasi. Namun,kesantunan dalam bertutur diterapkan secara berbeda pada setiap kebudayaan karenasetiap teks tidak bisa terlepas dari konteksnya.Tulisan ini bertujuan mengkaji strategi kesantunan dalam Budaya Makassar yangterimplementasi dalam Surat Keluhan Pembaca yang terbit di Harian Fajar Makassar.Metode Analisis yang dilakukan adalah analisis fungsional dengan melihat aspek Field, Tenor, dan Mode dalam Teks. Hasil analisis memperlihatkan Kesantunan Tutur Makassar menggunakan Strategi Kesantunan Negatif, yakni suatu strategi yangmemperlihatkan jarak dalam berkomunikasi.Kata Kunci: Kesantunan, Analisis Fungsional, dan Konflik Interpersonal.
 Abstract:Politeness in speaking according to Brown and Levinson (1978/1987); Leech (1983);and Ide (1989) is very important to notice in social life in order to avoid conflict whichmay occur in communication. Yet, politeness in speaking is applied differently in different culture because each text cannot be apart from its context (Leech, 1983).The goal of this paper is to examine the politeness strategies in Makassar Culture that implemented in Complaint Letters which is published in “Harian Fajar” daily. Functional Analysis with focus on Field, Tenor, and Mode of Text is used to analyze thedata. The analysis shows the politeness culture of Makassar uses Negative PolitenessStrategies. The strategic indicates there is a distance in communication betweeninterlocutors. Keywords: Politeness, Functional Analysis, and Interpersonal Conflict.
1.Pendahuluan
Kramsch (1998) berpendapat bahasa berfungsi dalam dua cara, semuanya berhubungan dengan budaya: (1) Melalui apa yang dikatakan dan apa rujukannya atau1
 
yang disebut semantik, dan (2) Melalui apa yang dilakukan dalam konteks atau dikenaldengan istilah pragmatik.Setiap praktek pembuatan makna terdiri atas 2 elemen (Ahimsa-Putra, 34-39;Budiman, 46-48; Kramsch, 15; Sobur, 46; Christomy, 20-21; Noth, 59-60) yaitu terdiriatas
Signifier 
‘penanda’ atau bunyi atau kata. Misalnya: /surat/ bukanlah tanda sebelumseseorang mengenalinya sebagai tanda (signified); dan
 signified 
‘petanda’ atau dikenalsebagai konsep.Oleh karena itu sebuah
tanda
bukanlah kata atau bunyi tertentu bukan juga objek rujukannya tetapi hubungan antara keduanya. Misalnya: sebuah kalimat
’innalillahi wainnailaihi raajiuun’ 
terpasang di mulut lorong. Kata tersebut tidak bermakna bagi turisasing yang tidak tahu arti dan makna dari kalimat tersebut. Sebaliknya, kalimat tersebut bermakna bagi orang yang sedang mencari alamat keluarganya yang kematian, atau bagikerabat yang ingin mengucapkan turut berbelasungkawa.Tidak ada sesuatu hubungan wajib antara penanda dan petandanya alias bersifatarbitrer. Misalnya: orang Indonesia menyebut kata
’rumah’ 
untuk tempat tinggalnya;orang Inggris menyebut
’house’ 
; orang Bugis menyebut
’bola’ 
, Makassar ‘
balla’ 
danseterusnya. Setiap kelompok pemakai bahasa memiliki tanda sendiri-sendiri untuk menandai konsep yang dimaksud. Tidak ada ketentuan atau rumus-rumus tertentu; ataudengan kata lain bersifat mana suka.Bagaimana tanda bermakna? Bagaimana tanda memaknai dunia?
Mereka merujuk pada suatu realitas yang terbatas; dapat dicari di kamus – disebutmakna DENOTATIF. Misalnya kata
buaya
’seekor binatang buas yang hidupnyadi sungai’
Kata yang sama memiliki assosiasi berbeda bagi orang Bugis Cabenge, yaituseekor binatang yang harus dihormati, khususnya bila menyebut namanya, orangCabenge akan menyebut binatang tersebut sebagai ‘
 punna uae
’ atau ’si empunyaair’ atau sang penghuni sungai’ karena desa Cabenge terletak dekat sungaiWalennae, dan banyak cerita seram yang berkaitan dengan hal tersebut. Maknayang berbeda bagi kata yang sama karena assosiasi tertentu disebut maknaKONOTATIF.2
 
Sebagai ikonik bagi penuturnya – misalnya sebuah puisi yang diciptakan denganirama tertentu memperkuat makna denotatif dan konotatif setiap kata. Sehinggakata-kata tersebut dapat menghibur pendengarnya.Ketiga tipe tanda di atas merujuk pada realitas dengan cara yang berbeda – tergantung pada budaya setempat. Misalnya orang Indonesia memiliki banyak kata yang berbeda untuk 
beras
: ’padi’ bila masih ada kulitnya atau masih di sawah; ’beras’ bilasudah bersih dari kulit; ’nasi’ bila sudah dimasak. Sebaliknya untuk referen yang samahanya disebut dengan satu kata bagi orang Amerika, yakni ’rice’.Pengalaman yang berbeda secara alamiah menimbulkan makna linguistik yang berbeda. Kata ’isteri’ (Indonesia) dan ’baine’ (Makassar) memiliki makna denotatif yangsama, akan tetapi kata-kata ini memiliki assosiasi yang berbeda bagi penuturnya di zamandulu.
’Baine’ 
bagi orang Makassar di zaman dulu kadang juga disebut
’orang dibelakang
’ atau hanya semacam
kamboti
....
’tempat bertelur’
yang berarti tidak pernahdiminta pendapatnya dalam suatu permasalahan.Masyarakat yang sama pun kadang memiliki assosiasi makna yang berbeda padakata yang sama. Misalnya orang Bugis memiliki ungkapan ’lebih baik dimarahi orangBone dari pada dirayu orang Sidrap’. Mengapa demikian? Karena konon kabarnya orangSidrap dalam berbicara dianggap ’kasar’ bagi kelompok pemakai bahasa Bugis lain.Misalnya, orang Sidrap dalam menyuruh makan mengatakan:
abbusə’no
artinya’makanlah’; kata tersebut bagi dialek Bugis lain akan merah telinganya bila mendengar kata tersebut. Karena kata tersebut memiliki assosiai bagi mereka
’makanan yang dijejalkan dalam mulut dan didorong secara paksa untuk ditelan, karena orang yang makan itu sebetulnya sudah kenyang’.
 Makna kata-kata juga dapat diperoleh dari co-text: alat-alat kohesif. Seperti pronomina (dia, mereka), demonstrativa (itu, ini), konjungsi (sebagai contoh, ketika,tetapi, sebaliknya, begitu pula, dls). Selain itu, sebuah tanda atau kata berhubungandengan kata-kata lain yang sudah ada dalam komunitas pemakai bahasa sejak lama atau pada teks sebelumnya. Misalnya, bila ada seorang peneliti budaya yang ingin menelitilontarak dan bermaksud meminjam lontarak pada seorang penduduk kampung.Kemungkinan besar dia tidak akan dengan mudah percaya dan meminjamkan lontaraknyawalaupun sudah diberitahu kalau lontarak tersebut hanya dipinjam sebentar. Mengapa?3

Activity (52)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Linda Purwati liked this
akunamanyaani liked this
Koly Veteriner liked this
Chazman Ttd liked this
Abdi Ufi liked this
Yan Heryana liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->