Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
PELUANG KINERJA INDUSTRI ALAT BERAT DI INDONESIA, 2012

PELUANG KINERJA INDUSTRI ALAT BERAT DI INDONESIA, 2012

Ratings: (0)|Views: 241 |Likes:
Dalam tiga tahun terakhir ini, industri alat berat di dalam negeri tumbuh cukup mengesankan. Hal ini tercermin dari pesatnya pertumbuhan sektor industri yang menggunakan alat berat seperti industri pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan konstruksi. Belakangan, Pemerintah melalui MP3EI mulai gencar membangun proyek-proyek infrastruktur di berbagai wilayah Indonesia. Pertumbuhan keempat sektor itu ikut mendorong tingginya permintaan akan alat berat.
Dengan demikian produsen utama alat berat di dalam negeri PT Komatsu, PT Caterpilar, PT Hitachi Constrution Machinery Indonesia, dan PT Sumitomo Construction Machinery Indonesia menggenjot terus produksinya. Bahkan sejak 2010, hampir semua agen tunggal dan distributor alat berat di Indonesia berhasil meningkatkan penjualannya. Yang paling spektakuler adalah PT United Tractors, anak usaha Astra Group ini pada 2011 berhasil menjual 8.467 unit atau menguasai pangsa pasar 42,4% dibanding 2009 yang hanya 3.111 unit. Sementara itu, PT Hexindo Adiperkasa meraih kontrak penjualan alat berat senilai US$200 juta dari beberapa perusahaan tambang dan perkebunan, sedangkan PT Intraco Penta telah menggandeng perusahaan terkemuka China yaitu Shinotruck. Langkah ini menjadikan INTA sebagai total provider solution dalam bisnis alat berat. Bahkan Caterpilar Inc, produsen alat berat Amerika Serikat akan melipatgandakan kapasitasnya menjadi 2400 unit per tahun.
Tingginya permintaan alat berat di dalam negeri, ternyata menarik minat investor asal China dan Korea Selatan. Sany Group melalui Sany Heavy industri Co, Ltd. (China) menggandeng PT Jimac Perkasa akan mendirikan pabrik alat berat senilai Rp1,72 triliun. Sany Group akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi alat berat untuk memenuhi pasar Asean, Jepang dan Austrlia. Sebelumnya, Sumitomo Construction Machinery, pabrik perakitan excavator sudah beroperasi sejak September 2011. Bahkan, pada 2013 produsen alat berat merek “Sumitomo” ini akan menambah kapasitasnya dari 1.000 menjadi 2.000 unit per tahun.
Belakangan, naiknya permintaan alat berat dipicu oleh berkembangnya tambang kecil, sehingga pasar alat berat mulai bergeser. Sebelumnya pemakai korporat menguasai pasar lebih dari 80%, kini perannya mulai turun menjadi sekitar 60-70%. Sementara perusahaan rental juga mulai berkembang dari rental skala besar sampai skala kecil dan menengah. Sektor pertambangan masih merupakan pemakai terbesar. Pada 2011, segmen ini menyerap sekitar 61% atau sebanyak 12.186 unit. Diikuti sektor perkebunan 3.796 unit (19,0%), konstruksi 2.197 unit (11,0%), dan kehutanan 1.798 unit (9,0%)
Kondisi ini mendorong tingginya permintaan alat berat. Diperkirakan, permintaan alat berat dalam periode lima tahun ini (2012-2016) akan terus meningkat dari 19.596 unit menjadi 27.435 unit. Permintaan didominasi terutama oleh jenis excavator. Pada 2012, permintaan excavator diproyeksikan mencapai 11.424 unit, bulldozer (3.880 unit), dan dumptruck (2.333 unit). Kemudian meningkat menjadi masing-masing 15.995 unit, 5.432 unit, dan 3.264 unit pada 2016.
Dalam tiga tahun terakhir ini, industri alat berat di dalam negeri tumbuh cukup mengesankan. Hal ini tercermin dari pesatnya pertumbuhan sektor industri yang menggunakan alat berat seperti industri pertambangan, perkebunan, kehutanan, dan konstruksi. Belakangan, Pemerintah melalui MP3EI mulai gencar membangun proyek-proyek infrastruktur di berbagai wilayah Indonesia. Pertumbuhan keempat sektor itu ikut mendorong tingginya permintaan akan alat berat.
Dengan demikian produsen utama alat berat di dalam negeri PT Komatsu, PT Caterpilar, PT Hitachi Constrution Machinery Indonesia, dan PT Sumitomo Construction Machinery Indonesia menggenjot terus produksinya. Bahkan sejak 2010, hampir semua agen tunggal dan distributor alat berat di Indonesia berhasil meningkatkan penjualannya. Yang paling spektakuler adalah PT United Tractors, anak usaha Astra Group ini pada 2011 berhasil menjual 8.467 unit atau menguasai pangsa pasar 42,4% dibanding 2009 yang hanya 3.111 unit. Sementara itu, PT Hexindo Adiperkasa meraih kontrak penjualan alat berat senilai US$200 juta dari beberapa perusahaan tambang dan perkebunan, sedangkan PT Intraco Penta telah menggandeng perusahaan terkemuka China yaitu Shinotruck. Langkah ini menjadikan INTA sebagai total provider solution dalam bisnis alat berat. Bahkan Caterpilar Inc, produsen alat berat Amerika Serikat akan melipatgandakan kapasitasnya menjadi 2400 unit per tahun.
Tingginya permintaan alat berat di dalam negeri, ternyata menarik minat investor asal China dan Korea Selatan. Sany Group melalui Sany Heavy industri Co, Ltd. (China) menggandeng PT Jimac Perkasa akan mendirikan pabrik alat berat senilai Rp1,72 triliun. Sany Group akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi alat berat untuk memenuhi pasar Asean, Jepang dan Austrlia. Sebelumnya, Sumitomo Construction Machinery, pabrik perakitan excavator sudah beroperasi sejak September 2011. Bahkan, pada 2013 produsen alat berat merek “Sumitomo” ini akan menambah kapasitasnya dari 1.000 menjadi 2.000 unit per tahun.
Belakangan, naiknya permintaan alat berat dipicu oleh berkembangnya tambang kecil, sehingga pasar alat berat mulai bergeser. Sebelumnya pemakai korporat menguasai pasar lebih dari 80%, kini perannya mulai turun menjadi sekitar 60-70%. Sementara perusahaan rental juga mulai berkembang dari rental skala besar sampai skala kecil dan menengah. Sektor pertambangan masih merupakan pemakai terbesar. Pada 2011, segmen ini menyerap sekitar 61% atau sebanyak 12.186 unit. Diikuti sektor perkebunan 3.796 unit (19,0%), konstruksi 2.197 unit (11,0%), dan kehutanan 1.798 unit (9,0%)
Kondisi ini mendorong tingginya permintaan alat berat. Diperkirakan, permintaan alat berat dalam periode lima tahun ini (2012-2016) akan terus meningkat dari 19.596 unit menjadi 27.435 unit. Permintaan didominasi terutama oleh jenis excavator. Pada 2012, permintaan excavator diproyeksikan mencapai 11.424 unit, bulldozer (3.880 unit), dan dumptruck (2.333 unit). Kemudian meningkat menjadi masing-masing 15.995 unit, 5.432 unit, dan 3.264 unit pada 2016.

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: MEDIA DATA RISET, PT on Apr 09, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/29/2014

pdf

text

original

 
 
Penawaran Studi :
PELUANG KINERJA INDUSTRI ALAT BERAT DI INDONESIA, 2012
(
Untuk Menghadapi Mega Proyek MP3EI)
 Desember 2012
Dalam tiga tahun terakhir ini, industri alat berat di dalam negeri tumbuh cukup mengesankan. Hal ini tercermin daripesatnya pertumbuhan sektor industri yang menggunakan alat berat seperti industri pertambangan, perkebunan,kehutanan, dan konstruksi. Belakangan, Pemerintah melalui MP3EI mulai gencar membangun proyek-proyekinfrastruktur di berbagai wilayah Indonesia. Pertumbuhan keempat sektor itu ikut mendorong tingginya permintaanakan alat berat.Dengan demikian produsen utama alat berat di dalam negeri PT Komatsu, PT Caterpilar, PT Hitachi ConstrutionMachinery Indonesia, dan PT Sumitomo Construction Machinery Indonesia menggenjot terus produksinya. Bahkansejak 2010, hampir semua agen tunggal dan distributor alat berat di Indonesia berhasil meningkatkan penjualannya. Yang paling spektakuler adalah PT United Tractors, anak usaha Astra Group ini pada 2011 berhasil menjual 8.467unit atau menguasai pangsa pasar 42,4% dibanding 2009 yang hanya 3.111 unit. Sementara itu, PT HexindoAdiperkasa meraih kontrak penjualan alat berat senilai US$200 juta dari beberapa perusahaan tambang danperkebunan, sedangkan PT Intraco Penta telah menggandeng perusahaan terkemuka China yaitu Shinotruck.Langkah ini menjadikan INTA sebagai
total provider solution
dalam bisnis alat berat. Bahkan Caterpilar Inc,produsen alat berat Amerika Serikat akan melipatgandakan kapasitasnya menjadi 2400 unit per tahun. Tingginya permintaan alat berat di dalam negeri, ternyata menarik minat investor asal China dan Korea Selatan.Sany Group melalui Sany Heavy industri Co, Ltd. (China) menggandeng PT Jimac Perkasa akan mendirikan pabrikalat berat senilai Rp1,72 triliun. Sany Group akan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi alat berat untukmemenuhi pasar Asean, Jepang dan Austrlia. Sebelumnya, Sumitomo Construction Machinery, pabrik perakitan
excavator
sudah beroperasi sejak September 2011. Bahkan, pada 2013 produsen alat berat merek
Sumitomo”
iniakan menambah kapasitasnya dari 1.000 menjadi 2.000 unit per tahun.Belakangan, naiknya permintaan alat berat dipicu oleh berkembangnya tambang kecil, sehingga pasar alat beratmulai bergeser. Sebelumnya pemakai korporat menguasai pasar lebih dari 80%, kini perannya mulai turun menjadisekitar 60-70%. Sementara perusahaan rental juga mulai berkembang dari rental skala besar sampai skala kecil danmenengah. Sektor pertambangan masih merupakan pemakai terbesar. Pada 2011, segmen ini menyerap sekitar61% atau sebanyak 12.186 unit. Diikuti sektor perkebunan 3.796 unit (19,0%), konstruksi 2.197 unit (11,0%), dankehutanan 1.798 unit (9,0%)Kondisi ini mendorong tingginya permintaan alat berat. Diperkirakan, permintaan alat berat dalam periode limatahun ini (2012-2016) akan terus meningkat dari 19.596 unit menjadi 27.435 unit. Permintaan didominasi terutamaoleh jenis
excavator
. Pada 2012, permintaan
excavator
diproyeksikan mencapai 11.424 unit,
bulldozer
(3.880 unit),dan
dumptruck
 
(2.333
unit). Kemudian meningkat menjadi masing-masing 15.995 unit
,
5.432 unit, dan 3.264 unitpada 2016.Pembahasan dalam buku studi ini meliputi aspek bahan baku dan komponen, produksi, penjualan dan potensi pasar.Laporan juga dilengkapi dengan permasalahan yang dihadapi, distribusi & pemasaran, ekspor-impor, permintaandari masing-masing segmen industri serta proyeksinya lima tahun ke depan. Buku studi ini dilengkapi KebijakanPemerintah yang terkait dengan bisnis alat berat, profil perusahaan, dan diakhiri prospek & kesimpulan.Buku studi ini akan bermanfaat bagi kalangan bisnis terutama para pengambil keputusan di sektor alat berat, sertabagi pelaku bisnis yang terkait secara langsung maupun tidak langsung seperti sektor pembiayaan alat berat,perbankan, pertambangan, perkebunan, kehutanan, kontruksi. Dapat juga sebagai referensi bagi investor ataupuncalon investor.Buku studi setebal 400 halaman ini, kami tawarkan dengan harga
Rp 6.500.000 (Enam Juta lima ratus ribuRupiah)
per buku. Untuk pemesanan dan informasi dapat menghubungi PT Media Data Riset melalui teleponnomor
(021) 809 6071, 809 3041 dan faximile (021) 809 6071
dengan mengisi formulir terlampir. Pemesananuntuk luar negeri atau luar Jakarta ditambah ongkos kirim. Demikian penawaran ini, atas perhatian dankerjasamanya kami ucapkan terima kasih. Jakarta, Desember 2012
PT Media Data RisetDrs. Dudi KusdianDirektur
 
 
 
DAFTAR ISI
PELUANG KINERJA INDUSTRI ALAT BERAT DI INDONESIA, 2012
(
Untuk Menghadapi Mega Proyek MP3EI)
 Desember 2012
1. PENDAHULUAN2. PENDUDUK DAN GAMBARAN UMUMPEREKONOMIAN DI INDONESIA
2.1. Populasi Penduduk Indonesia2.1.1. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia2.1.2. Proyeksi Penduduk Per Provinsi2.1.3. Proyeksi penduduk per kelompok umur2.2. Indikator Ekonomi Indonesia2.3. Produk Domestik Bruto (PDB) Menurut SektorUsaha2.3.1. Perkembangan PDB Indonesia2.3.2. Kontribusi PDB per Sektor TerhadapPerekonomian Indonesia2.4. Penanaman Modal2.4.1. Perkembangan Investasi2.4.2. Penanaman Modal Dalam Negeri danAsing2.5. Gambaran Umum Ekonomi Indonesia2.5.1. Ekonomi 2012 ditargetkan tumbuh 7%2.5.2. Penerimaan Negara Lampai Target2.5.3. APBN Pro Birokrat2.6. Defisit APBN Rp190 Triliun2.7. Perbesar Rasio Belanja Infrastruktur2.8. BBM Pengaruhi Inflasi
3. INDUSTRI KOMPONEN DAN SUKUCADANG ALAT BERAT
3.1. Industri Spare-Part3.2. Perubahan Karakteristik Pasar Alat Berat danSuku Cadangnya3.3. Pengadaan Suku Cadang dan Pelayanan yangDibutuhkan3.4. Sistem Saluran dan Distribusi Suku Cadang3.4.1. Independent Stockist/Importir3.4.2. Stockist sekaligus jaringan toko3.4.3. Agen Tunggal Alat Berat3.4.4. Agent Tunggal Part dari LokalManufacturer3.5. Sistem Distribusi Melalui Independent Stockist3.6. Alur Distribusi Pengadaan dan Penyaluran PartAlat Berat3.7. Pola Hubungan3.7.1. Stockist dalam negeri denganpemasoknya3.8. Keunggulan Sistem Distribusi IndependentStockist3.9. Produsen Spare-part3.9.1. PT Blessindo Prima Sarana (BPS)3.9.2. PT Alpindo Mitra Baja3.9.3. CV Anugerah Hidup Abadi3.10. Kandungan Lokal3.11. Masih Sulit Menambah TKDN
4. KONDISI DAN KINERJA INDUSTRI ALATBERAT DI INDONESIA
4.1. Pengertian Alat Berat4.1.1. Jenis Alat Berat4.1.2. Fungsi Alat Berat4.1.3. Pengoperasian Alat Berat4.1.4. Alat Berat Yang Sudah Diproduksi4.2. Kapasitas Produksi4.3. Perkembangan Industri Alat Berat di Indonesia4.4. Produsen Alat Berat4.4.1. PT Komatsu Indonesia, Tbk4.4.2. PT Caterpillar Indonesia4.4.3. PT Hitachi Construction MachineryIndonesia4.4.4. PT Sumitomo SHI ConstructionMachinery Indonesia4.5. Produksi Naik 33,8% per Tahun4.5.1. Produksi 2012 hanya 5.793 Unit4.5.2. Utilisasi Capai 77,4%4.5.3. Target Produksi 2012 Turun4.6. Nilai Produksi Mencapai US$1,3 Miliar4.7. Produksi Menurut Jenis4.7.1. Peranan Excavator Dominan4.7.2. Excavator Komatsu Terbesar4.7.3. Diproyeksi Naik 15%4.8. Market Size4.9. Kebutuhan Alat Berat Menurut Sektor4.9.1. Sany Incar Pasar Konstruksi4.10. Karakteristik Pemakai Alat Berat4.10.1 Pertambangan Batu Bara4.10.2. Kehutanan4.10.3. Perkebunan4.10.4. Konstruksi4.11. Karakteristik pemakai alat berat berdasarkanskala usaha4.11.1. Pemakai Besar4.11.2. Penyewaan (rental alat berat)4.11.3 Pemakai Kecil-Menengah4.12. Perubahan dalam karakteristik Pemakai alatberat4.12.1. Berdasarkan fungsinya4.13. Proyeksi Permintaan
5. PERANAN AGEN TUNGGAL DAN SISTEMDISTRIBUSI
5.1. Peranan Agen Tunggal5.2. Agen Tunggal Merek Asing5.2.1. PT United Tractors (UT), Tbk5.2.2. PT Trakindo Utama5.2.3. PT Hexindo Adiperkasa, Tbk5.2.4. PT Intraco Penta, Tbk5.2.5. PT Jimac Perkasa5.2.6. PT Kobexindo Tractors Tbk
 
 
5.3. Sistim Distribusi5.3.1. PT Jimac Perkasa5.3.2. PT Gaya Makmur Tractors5.3.3. PT Hino Motors Sales Indonesia5.3.4. PT Kobexindo Tracktors5.4. After sales service5.4.1. United Tractors5.4.2. PT Trakindo Utama5.4.3. PT Hexindo Adiperkasa5.4.4. PT Daya Kobelco5.4.5. PT Swadaya Traktor Adiperkasa5.4.6. INTA Group Gelar Gathering 2012
6. PENJUALAN ALAT BERAT DOMESTIK 
6.1. Penjualan Tumbuh 30,1% per Tahun6.2. Penjualan Menurut Distributor6.2.1. United Tractors Terbesar6.2.2. PT Hexindo Adiperkasa6.2.3. PT Intraco Penta6.3. Penjualan Menurut Sektor Pemakai6.3.1. Komatsu VS Hitachi6.3.2. Pangsa Pasar Excavator 74,7%6.4. Target Penjualan 2012 direvisi6.4.1. United Tractors Revisi Target Penjualan6.4.2. Hexindo Targetkan Naik 10,3%6.4.3. PT Intraco Penta Targetkan 20%6.4.4. Caterpillar Naik 122%6.4.5. PT Kobexindo Targetkan Rp1,5 Triliun6.4.6. Kobelco Incar Market Leader di KTI6.4.7. PT Jimac Perkasa Andalkan Sany6.4.8. PT Gaya Makmur Tractors6.5. Mulai Lesu6.5.1. Penjualan UT Turun 14,7%6.5.2. PT Intraco Penta Tbk6.5.3. PT Kobexindo Tractors Tbk6.6. Omzet Ditaksir US$2 Miliar6.7. Pangsa Pasar Menurut Distributor6.8. Persaingan6.9. Perilaku konsumen6.10. Harga
7. EKSPOR-IMPOR ALAT BERAT
7.1. BMDTP Agar Dikaji Ulang7.2. Impor Naik 40,5% per Tahun7.2.1. Impor Menurut Jenis7.2.2. Jepang Pemasok Terbesar7.3. Ekspor Semester I/2012 Raih US$127,7 Juta7.3.1. Terbesar Excavator7.3.2. Tiga Negara Pasar Terbesar
8. INVESTASI BARU DAN PERLUASAN
8.1. Mulai Gairah8.2. Investasi Baru8.2.1. Hinabi Bangun Pabrik Baru8.2.2. Sany Group Gandeng Jimac8.2.3. Korea Selatan jajaki investasi alat berat8.2.4. Intraco Penta Gandeng Sinotruk8.2.5. Pabrik Caterpillar di Batam selesaiakhir 20128.2.6. Hino Siapkan US$125 juta
9. INDUSTRI MULTIFINANCE/PEMBIAYAAN
9.1. Latar belakang9.2. Bentuk Pembiayaan Alat Berat9.3. Jumlah Perusahaan Pembiayaan Alat Berat9.4. Nilai Bisnis Pembiayaan Alat Berat Rp 107,5triliun9.5. Alat Berat Topang Kinerja Multifinance9.6. Target Pembiayaan di Atas Rp 1 triliun9.7. Tren Leasing Tumbuh Agresif 9.8. Raih pangsa pasar 36,2%9.9. Mulai Melambat9.10. Alihkan pembiayaan9.11. Pemain Papan Atas9.11.1. PT Buana Finance9.11.2. PT Surya Artha Nusantara Finance(SAN Finance)9.11.3. PT Clipan Finance Indonesia9.11.4. PT Trust Finance Indonesia (TFI)9.11.5. PT Orix Indonesia Finance9.11.6. PT Intan Baruprana Finance (IBF)9.11.7. PT BFI Finance9.11.8. PT MNC Finance9.11.9. PT Al Ijarah Indonesia Finance (ALIF)9.11.10. PT Verena Multifinance9.12. Hambatan Leasing9.13. Karakteristik pembiayaan alat berat9.14. Persyaratan pembiayaaan9.14.1. Persyaratan umum9.14.2. Tingkat bunga dan jangka waktu9.15. Sumber pendanaan Multifinance9.15.1. Sumber dari perbankan9.15.2. Joint financing9.16. Persaingan9.17. Strategi pemasaran9.17.1. Meningkatkan pelayanan kepadakonsumen9.17.2. Memperluas distribusi9.17.3. Customer relationship9.17.4. Kerjasama dengan dealer9.17.5. Membangun jaringan denganperbankan9.18. Kesimpulan
10. SEKTOR INDUSTRI PEMAKAI ALAT BERAT
10.1. Pertambangan Batu Bara10.1.1. Perusahaan Tambang Batu Bara10.1.2. Wilayah penambangan batubara10.1.3. Produksi Meningkat10.1.4. Batu Sandungan Batubara10.1.5. Kebijakan Pembatasan Ekspor Tidak Tepat10.1.6. Akan Peroleh Keringanan10.1.7. DMO Dipangkas

Activity (2)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 thousand reads
1 hundred reads

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->