• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
 DAFTAR ISI
Seni Menata Hati dalam BergaulDiam Itu EmasMenggapai Hidup Berkah5 Tipe Karyawan di Kantor KitaKiat-kiat Membangun KepercayaanRumah Tangga yang Menyenangkan(Meminimalkan Potensi Konflik)Menakar Kemuliaan AkhlakGetaran Allah di Padang ArafahMenjaga Akhlak kepada AllahMengikis Sikap OtoriterNikmati ProsesAmal yang Tetap BermaknaSuami, Pemimpin Bagi KeluargaKarunia HidayahRasul Panutan UmmatBila Selalu Mengingat MatiSebaik-baiknya ManusiaIndahnya Kasih SayangMengapa Do'a Tidak DiijabahAl QawiyyuAl WaliyyuBarokah Shalat KhusyuBelajar dari WajahBersandar Hanya kepada AllahBila Hati BercahayaBila Selalu Mengingat MatiBuah Kebeningan HatiBudaya BersahajaBunga Rampai NasihatMencintai KebersihanDahsyatnya SedekahEtika BerwirausahaHakikat CintaIkhlas (1)
 
Page 1 of 151Daftar Isi3/21/2009file://C:\Documents and Settings\Ayyash\Local Settings\Temp\~hh2926.htm
 
Ikslas (2)Ilmu Pembersih HatiIndahnya Hidup BersahajaJalin KebersamaanKeluarga Kunci KesuksesanKeluh KesahKepompong RamadhanKeutamaan dan Kasih Sayang IbuKewirausahanKunci Hidup Sukses5 (Lima) SLupakan Jasa dan Kebaikan DiriManajemen QalbuManajemen WaktuMengapa Do'a Tidak DiijabahRasul Panutan UmmatPotensi RuhiyahZuhudPaksakan diri untuk berbuat taatBila Orang Lain Berbuat SalahBila diri sempit hatiRamadhan, Bulan Introspeksi DiriKekuatan amal jamaahKriteria kebahagiaan duniaKiat-kiat Membangun KepercayaanKunci Pengokoh JiwaIlmu pembersih hatiMemperindah hatiIkhtiar menggapai bening hatiMengoptimalkan daya ubahMenikmati kritik dan celaanMenjaga pandanganPenyebab borosPribadi muslim berprestasiSebaik - baik manusiaSelalu Menata HatiWaspadai tipuan setanUpaya menghidupkan qolbuMengubah dengan Kekuatan Tauladan
Calon orang besar memulai perubahanKiat menjaga lisanWanita SolehahTawadhuCeramah Nuzulul Quran
 
Page 2 of 151Daftar Isi3/21/2009file://C:\Documents and Settings\Ayyash\Local Settings\Temp\~hh2926.htm
 
5 (Lima) S 
K.H. Abdullah Gymnastiar
 
Suatu saat, adzan Maghrib tiba. Kami bersegera shalat di sebuah mesjid yang dikenal dengantempat mangkalnya aktivis Islam yang mempunyai kesungguhan dalam beribadah. Di sana tampakbeberapa pemuda yang berpakaian “khas Islam” sedang menantikan waktu shalat. Kemudian,adzan berkumandang dan qamat pun segera diperdengarkan sesudah shalat sunat. Hal yangmenarik adalah begitu sungguh-sungguhnya keinginan imam muda untuk merapikan shaf. Tandahitam di dahinya, bekas tanda sujud, membuat kami segan. Namun, tatkala upaya merapikan shaf dikatakan dengan kata-kata yang agak ketus tanpa senyuman, “Shaf, shaf, rapikan shafnya!”,suasana shalat tiba-tiba menjadi tegang karena suara lantang dan keras itu. Karuan saja, padawaktu shalat menjadi sulit khusyu, betapa pun bacan sang imam begitu bagus karena terbayangteguran yang keras tadi.
 
Seusai shalat, beberapa jemaah shalat tadi tidak kuasa menahan lisan untuk saling bertukarketegangan yang akhirnya disimpulkan, mereka enggan untuk shalat di tempat itu lagi. Pada saatyang lain, sewaktu kami berjalan-jalan di Perth, sebuah negara bagian di Australia, tibalah kami disebuah taman. Sungguh mengherankan, karena hampir setiap hari berjumpa dengan pendudukasli, mereka tersenyum dengan sangat ramah dan menyapa “Good Morning!” atau sapa dengantradisinya. Yang semuanya itu dilakukan dengan wajah cerah dan kesopanan. Kami berupayamenjawab sebisanya untuk menutupi kekagetan dan kekaguman. Ini negara yang sering kita sebutnegara kaum kafir.
 
Dua keadaan ini disampaikan tidak untuk meremehkan siapapun tetapi untuk mengevaluasi kita,ternyata luasnya ilmu, kekuatan ibadah, tingginya kedudukan, tidak ada artinya jikalau kitakehilangan perilaku standar yang dicontohkan Rasulullah SAW, sehingga mudah sekali merontokankewibawaan dakwah itu sendiri.
 
Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan dengan berinteraksi dengan sesama ini, bagaimanakalau kita menyebutnya dengan 5 (lima) S : Senyum, salam, sapa, sopan, dan santun.
 
Kita harus meneliti relung hati kita jikalau kita tersenyum dengan wajah jernih kita rasanya ikutterimbas bahagia. Kata-kata yang disampaikan dengan senyuman yang tulus, rasanya lebih enakdidengar daripada dengan wajah bengis dan ketus. Senyuman menambah manisnya wajahwalaupun berkulit sangat gelap dan tua keriput. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita termasukorang yang senang tersenyum untuk orang lain? Mengapa kita berat untuk tersenyum, bahkandengan orang yang terdekat sekalipun. Padahal Rasulullah yang mulia tidaklah berjumpa denganorang lain kecuali dalam keadaan wajah yang jernih dan senyum yang tulus. Mengapa kita begituenggan tersenyum? Kepada orang tua, guru, dan orang-orang yang berada di sekitar kita?
 
S yang kedua adalah salam. Ketika orang mengucapkan salam kepada kita dengan keikhlasan,Kiat Menjadi Unggul
Menggapai Ma'rifatullah
 
 
Page 3 of 151Daftar Isi3/21/2009file://C:\Documents and Settings\Ayyash\Local Settings\Temp\~hh2926.htm
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...