Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
20Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
BAB-III

BAB-III

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 3,011 |Likes:
Published by darmonosumarlan
sejarah kehutanan papua
sejarah kehutanan papua

More info:

Published by: darmonosumarlan on Mar 22, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2014

pdf

text

original

 
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN
III - 1
SEJARAH KEHUTANAN PAPUA
BAB-IIIPERIODISASI PENGELOLAAN HUTAN
3.1. PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN DI INDONESIA
Pengusahaan hutan produksi Indonesia mulai dilaksanakan pada tahun1967-an bersamaan dengan dimulainya pembangunan nasional setelahterciptanya kondisi sosial politik yang stabil. Sumber daya hutanmerupakan salah satu modal pembangunan yang sangat diperlukan padasaat itu, melalui devisa yang dihasilkan dari penjualan
logs 
kayu yangdihasilkan dari pengusahaan hutan produksi. Untuk mendorongberkembangnya pengusahaan hutan pemerintah mengeluarkan UU No. 1Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing yang kemudian dilengkapidengan UU No. 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri.Sebelumnya pemerintah mengeluarkan UU No. 5 Tahun 1967 tentangKetentuan-ketentuan Pokok Kehutanan yang mengatur mengenaiperencanaan hutan, pengurusan hutan, pengusahaan hutan danperlindungan hutan.
3.1.1. SISTEM HAK PENGUSAHAAN HUTANProsedur Perijinan HPH
Pemberian hak pengusahaan hutan pertama kali diatur melalui SK MenteriPertanian No 57/8/1967 tentang Syarat-syarat dan Cara PenyelesaianPermohonan HPH, yang diikuti dengan SK No 25/4/1968 tentangPelimpahan Wewenang Penandatanganan Surat Keputusan PemberianHPH kepada Direktur Jenderal Kehutanan.Pengusahaan hutan yang pada awalnya berupa hutan belantaradilaksanakan melalui pemberian konsesi berdasarkan permintaan.Penetapan areal hak pengusahaan hutan dilakukan secara
top down 
,deliniasi areal hutan dilakukan di atas peta dengan batas-batas yangditentukan secara kompromi, imajiner serta
trial and error 
. Untuk menjaminkemantapan kawasan seluruh areal hutan yang dibebani konsesiditetapkan sebagai kawasan hutan produksi melalui SK Menteri PertanianNo. 291/Kpts/UM/5/1970 tentang Penetapan Areal Kerja PengusahaanHutan sebagai Kawasan Hutan Produksi.
 
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN
III - 2
SEJARAH KEHUTANAN PAPUA
Pengaturan lebih lanjut mengenai hak pengusahaan hutan ditetapkanmelalui PP No. 21 Tahun 1970 tentang Hak Pengusahaan Hutan dan HakPemungutan Hasil Hutan sebagai penjabaran UU No. 5 Tahun 1967.Sesuai dengan peraturan pemerintah ini, pemberian hak pengusahaanhutan menjadi wewenang Menteri Pertanian. Keluarnya peraturanpemerintah ini juga dimaksudkan untuk menghindari terjadinya dualismedalam pelaksanaan pemberian hak pengusahaan hutan dan hakpemungutan hasil hutan, dengan menghapus wewenang Pemerintah.Daerah memberikan ijin eksploitasi hutan sebagaimana diatur dalam PPNo. 64 Tahun 1957. Hak Pengusahaan Hutan (HPH) adalah hak untukmengusahakan hutan di dalam suatu kawasan hutan yang meliputikegiatan-kegiatan penebangan kayu, permudaan dan pemeliharaan hutan,pengolahan dan pemasaran hasil hutan sesuai dengan Rencana KaryaPengusahaan Hutan menurut ketentuan-ketentuan yang berlaku sertaberdasar asas kelestarian hutan dan asas perusahaan.HPH dapat diberikan kepada perusahaan milik negara dan perusahaanswasta nasional, dengan jangka waktu paling lama 20 tahun dan dapatdiperpanjang apabila tidak bertentangan dengan kepentingan umum. Luasareal hutan yang diberikan kepada pemohon hak pengusahaan hutansesuai dengan Rencana Karya Pengusahaan Hutan dan target produksiyang diajukan oleh pemohon yang bersangkutan dan telah disyahkan olehMenteri Kehutanan. Hak Pengusahaan Hutan diberikan oleh MenteriKehutanan setelah mendapat rekomendasi dari Gubernur.Pemegang konsesi HPH selain berkewajiban untuk membayar beberapa jenis iuran seperti iuran hak pengusahaan hutan dan iuran hasil hutanserta iuran-iuran lainnya, juga diwajibkan untuk menyusun Rencana KaryaPengusahaan Hutan yang terdiri atas : 1) RKT yang harus diserahkanuntuk disahkan paling lambat dua bulan sebelum penebangan dimulai, 2)RKL yang harus diserahkan untuk disahkan dalam waktu satu tahunsetelah dikeluarkan Surat Keputusan Hak Pengusahaan Hutan, 3) RKPHyang meliputi seluruh jangka waktu pengusahaan hutan yang harusdiserahkan untuk disahkan dalam waktu tiga tahun setelah dikeluarkanSurat Keputusan Hak Pengusahaan Hutan.
 
PERKEMBANGAN PENGELOLAAN HUTAN
III - 3
SEJARAH KEHUTANAN PAPUA
SK Menteri Kehutanan No. 269/Kpts-II/1989 tentang Ketentuan TatacaraPelaksanaan Permohonan Hak Pengusahaan Hutan dan PerpanjanganHak Pengusahaan Hutan mengatur kembali prosedur perijinan untukmemperoleh hak pengusahaan hutan dengan mencabut SK MenteriPertanian No. Kep. 57/8/1978, SK Dirjen Kehutanan No.141/Kpts/Dj/I/1981, dan SK Menteri Kehutanan No. 027/Kpts-II/1988. SKMenteri Kehutanan No. 269/Kpts-II/1989 kemudian disempur-nakanmelalui SK No. 204/Kpts-II/1990 dan No. 649/Kpts-II/1990, dan kemudiandiganti dengan SK No. 236/Kpts-II/1995 tentang Tata Cara danPersyaratan Permohonan Hak Pengusahaan Hutan. Sementara itu tatacara pembaruan hak pengusa-haan hutan yang sudah hampir habis masakonsesinya diatur melalui Keputusan Menteri Kehu-tanan dan PerkebunanNo. 732/Kpts-II/1998 tentang Persyaratan dan Pembaruan HakPengusahaan Hutan.
Sistem Silvikultur dalam Sistem HPH
Sesuai dengan SK Direktur Jenderal Kehutanan No. 35/Kpts/DD/I/1972,sistem silvikultur yang digunakan dalam pengusahaan hutan adalah sistemTPI, THP dan THPA. Sistem silvikultur kemudian disempurnakan melaluiSK Menteri Kehutanan No. 485/Kpts/1989 tentang Sistem SilvikulturPengelolaan Hutan Alam Produksi di Indonesia, yang menetapkan bahwasistem silvikultur yang dapat digunakan dalam pengusahaan hutan adalahsistem Silvikultur TPTI, THPA dan THPB.Sistem TPTI diatur lebih lanjut melalui SK Direktur Jenderal PengusahaanHutan No. 564/Kpts/IV-BPHH/1989 tentang Pedoman Tebang Pilih TanamIndonesia. Sistem TPI atau TPTI mensyaratkan bahwa penebangan hanyaboleh dilaksanakan pada pohon dengan 50 cm ke atas pada HutanProduksi Bebas dan diameter 60 cm ke atas pada Hutan ProduksiTerbatas dengan menggunakan daur tebang 35 tahun.Melalui Keputusan Menteri Kehutanan 435/Kpts-II/1997 tentang SistemSilvikultur dalam Pengelolaan Hutan Tanaman Industri, diterapkansistem silvikultur barudalam pengelolaan hutan tanaman industri yang disebut TTJ. Satu tahunkemudian sistim silvikultur TTJ mengalami penyempurnaan, yaitu menjadiTPTJ yang dapat diterapkan pada hutan alam, melalui Keputusan MenteriKehutanan dan Perkebunan No. 625/Kpts-II/1998 tentang SistemSilvikultur TPTJ dalam Pengelolaan Hutan Produksi Alam.

Activity (20)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Okama Wetipo added this note
Learning & Working Together Freddy Pattiselanno – Universitas Negeri Papua (UNIPA) Kajian aspek etnobotani suku Dani di Lembah Baliem, Papua 1 Vote Agustina Y.S. Arobaya (Pusat Penelitian Keanekaragaman Hayati Papua) & Freddy Pattiselanno (Jurusan Produksi Ternak Fakultas Peternakan Periknan & Ilmu Kelautan) Universitas Negeri Papua, Manokwari Kami berdua melakukan studi yang berbeda
Raflis liked this
Arianz Kool liked this
Dahli Devilin liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->