• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
KOMENTAR SEORANG AWAM TENTANG
KRISIS KEUANGAN GLOBAL
SEBUAH PARODI
Ditulis oleh:SYAHRIL BERMAWANSaudara-saudaraku tercinta. Semoga keselamatan dan rahmat Allah bagi andasekalian. Apakah saat ini Anda sudah sadar bahwa tatanan perekonomian duniasedang menuju kehancuran? Atau kalau mau lebih extreme, dunia sedang menujukiamat (seperti yang diramalkan Bangsa Maya, yaitu tahun 2012)? Berapabanyakkah dari penduduk bumi yang tahu dan sadar apa yang sedang dan akanterjadi?Baru baru ini seorang teman yang mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres,bertanya kepada saya lima buah pertanyaan:
1.
apa yang sedang terjadi?,
2.
seberapa parah keadaannya?,
3.
apa dampaknya kepada kita?,
4.
berapa lama ini akan berlangsung?,
5.
apa yang harus kita lakukan?Wah ini pertanyaan yang tidak kepalang tanggung. Saya bukan seorang ekonom yang punya kompetensi untuk memberikan jawaban. Juga bukan seorang politisi yang mempunyai kemampuan melihat kedepan. Namun karena yang bertanyaadalah teman dekat, dan saya tidak ingin mengecewakannya (waduh…. Sok santunniii yee.) dan tidak tega membiarkan dia hanyut dengan pikirannya sendiri,kemudian mengambil kesimpulan sendiri, dan akhirnya panik sendiri, maka sayalalu berbagi. Apa yang saya bagi? Pendapat. Ya hanya pendapat pribadi saya yangbisa saya bagi dengan teman tersebut. Tidak lebih dari itu. Karena dalam segalaaspek, saya adalah orang awam.Setelah beberapa hari berlalu semenjak teman tersebut bertanya, saya laluberpikir: kenapa aku hanya berbagi pendapat dengan seorang temanku saja.Kenapa tidak berbagi juga kepada saudara-saudaraku yang lain? Nah inilah latarbelakang kenapa saya menulis ini. Semoga ada manfaatnya. Sekurang-kurangnya
Halaman 1 dari 15
 
untuk merangsang teman teman agar berpikir lebih lanjut. Andaikata setelah initeman-teman ada pendapat lain, mari kita berbagi. OK?!
APA YANG SEDANG TERJADI?
Saudara-saudara tentu sudah tahu bahwa yang sedang terjadi sekarang diberinama oleh banyak orang “global financial crisis”. Tidak salah, memang. Tapimenurut saya kurang tepat. Ibarat orang yang mengalami demam. Kalau ditanyaanda sakit apa akan dijawabnya: demam. Tidak salah; tetapi kurang tepat. Demambukan penyakit, melainkan gejala dari suatu penyakit lain yang lebih serius darihanya sekadar demam.Begitu juga dengan keadaan sekarang. GFC (eit, jangan salah ya. Itu huruf Gbukan K) itu adalah gejala dari sesuatu yang lebih serius. Menurut “penerawangansaya” (ce ila, niru niru gaya parodi di teve), yang sedang terjadi sekarang adalah“makhluk bumi yang bernama manusia, sedang menerima hasil panen dari apa yang selama bertahun-tahun telah ditanamnya”. Atau menurut istilah kaumspiritualis “karma”. Karena saya termasuk orang yang rada rada spiritualis (ehsiapa sih yang nggak spiritualis?) maka saya akan pakai istilah itu. Ya, kita sedangmenerima karma secara kolektif.Mari kita lihat hal buruk apa yang pernah kita lakukan sehingga sekarang menuaikarma dalam bentuk GFC?Pada awalnya, nenek moyang manusia hidup secara mandiri. Semua kebutuhannyadipenuhinya sendiri. Jika perlu makanan mereka akan berburu dan mencarinya dihutan. Jika perlu pakaian mereka akan merajutnya sendiri dari berbagai serattumbuhan yang bisa diperolehnya. Pada era itu tidak ada istilah “ekonomi”,apalagi istilah “financial”. Semua kebutuhan dipenuhi setiap orang, masing-masing.Dalam perkembangan selanjutnya, dikala jumlah penduduk bumi semakinbertambah banyak, terjadilah spesialisasi. Ada orang yang kerjanya hanyaberburu saja. Sedangkan yang lain kerjanya hanya merajut pakaian, dst. Makamulailah mereka hidup dalam situasi barter, tukar menukar barang. Jika seorangperajut pakaian butuh makanan, maka dia akan membawa hasil rajutannya untukditukarkan kepada seorang pemburu yang membutuhkan pakaian. Pada era itubelum dikenal yang namanya “uang” (apalagi ATM atau “kartu kredit”, ha ha ha).Semua keperluan mereka dapatkan dengan cara barter.Jumlah penduduk semakin banyak. Sehingga semakin sulit menemukan orang yangsesuai untuk pertukaran barang. Seseorang yang punya pakaian dan membutuhkanmakanan, akan sulit mencari seseorang yang punya makanan dan sekaligusmembutuhkan pakaian. Maka muncullah alat penukar. Barang tidak perlu
Halaman 2 dari 15
 
ditukarkan langsung dengan barang, tapi dengan alat penukar yang disepakatibersama oleh suatu komunitas. Dengan demikian pertukaran menjadi lebih mudah.Konon pada tahap awal, alat penukar itu bisa bermacam benda, seperti kerang,misalnya.Lama kelamaan jumlah penduduk bertambah terus. Pertukaran barang tidakhanya terjadi dalam suatu komunitas, tetapi antar komunitas, yang alat penukar yang disepakati di komunitas lainnya bisa berbeda-beda, alias tidak sama. Makamuncullah kesulitan.Singkat cerita (waduh, emangnya lagi mendongeng nih) muncullah ide untukmembuat suatu alat penukar yang disepakati oleh banyak orang dari berbagaikomunitas. Belakangan berkembang menjadi emas dan perak. Sehingga dulu itu,kalau orang berbelanja harganya diukur dengan “tail emas” (ingatkan cerita silat?Makanya jangan pandang sebelah mata tuh pada cerita silat. Banyak pelajaran yang bisa diperoleh. Sayang sekarang belum muncul penerus kepiawaian Kho PingHoo). Kemana mana bepergian orang akan membawa keping emas dalam kantongkecil yang diselipkan di pinggang.“Kemajuantersebut bukannya tanpa masalah. Orang mulai merasa kesulitanmembawa-bawa emas sebagai alat penukar. Dan setiap kali terjadi transaksi,keaslian emas diperiksa dengan menggigitnya (ingatkan film cowboy? Makanya jangan suuszan. Film cowboy itu jauh lebih bagus lho, dari sinetron yangmenjamur di teve kita). Lagi pula membawa-bawa emas dalam bepergian itu tidakpraktis. Kan berat. Coba kalau anda mau mobil. Harus bawa berapa
tail 
emas? Dan yang paling repot lagi bagaimana akan membayar sewa angkot, beli es doger, dansurabi? Ha ha ha.Kemudian muncul ide untuk mempergunakan uang kertas. Ya kertas. Kertas biasa.Tetapi dicetak bagus, ditulisi berapa nilainya, dan disahkan secara legal olehpemerintah. Tapi kan kertas nggak ada nilainya. Betul. Nilai intrinsik-nya nggakada (wah sok pakar, pakai istilah keren segala. ). Nilainya dikaitkan dengan emas.Jadi pada hakekatnya, setiap lembar uang kertas yang ada didalam kantong kita,adalah merupakan pernyataan bahwa kita mempunyai emas senilai itu di kaspemerintah (baca Bank Sentral). Dengan demikian tidak ada Negara yang bisaseenaknya mencetak uang kalau tidak ada backing emas di Bank Sentral (eh Andasudah tahu kan untuk Indonesia bank sentralnya adalah Bank Indonesia, yangmenjadi sangat terkenal dengan kasus BLBI dan kasus suap yang sampai harusmelibatkan besannya Pak SBY. Kalau untuk Amerika, negeri asal para cowboy danRambo, adalah The Federal Reserve, atau sering disingkat The Fed. Wah lumayan juga pengetahuan ogut nich.. Ha ha ha).
Halaman 3 dari 15
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...