Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
0Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
aspek

aspek

Ratings: (0)|Views: 90|Likes:
Published by Lola Putri

More info:

Published by: Lola Putri on Apr 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

04/10/2013

pdf

text

original

 
HUKUM KELUARGA YANG MENGATUR KETURUNAN,KEKUASAAN ORANG TUA, PERWALIAN, PENDEWASAAN,CURENTELE,
 
DAN ORANG HILANG
 
A.
 
HUKUM KELUARGA
 
Hukum keluarga
menurut doctrine
adalah hukum yangmengatur perkawinan keturunan. Hukum keluarga
menurutK.U.H.Perdata
pada asasnya mengatur tentang:
 
Perkawinan
 
Akibat hukum dari perkawinan
 
Suami istri
 
mengenai diri/person suami istri
 
mengenai harta benda suami istri
 
anak 
 
anggota keluaga yang lain
 
Hubungan antara wali dan pupilnya
 
Hubungan antara curator dengan Curandus
 
Termasuk hukum keluarga antara lain ialah:
 
a.
 
 Kekuasaan Orangtua (Ouderlijk Macht)
 
 b.
 Perwalian (Voogdij)
 
c.
 Pengampunan (Curatele)
 
d. Pendewasaan (Handlichting)
 
e. Orang yang hilang
 
Asas-asas hukum keluarga
 
Di dalam hukum keluarga terdapat tiga asas, asas perkawinan, asas putusnya perkawinan,dan asas harta benda dalam perkawinan.
 
1.
 
Asas perkawinan
 
Sumber Hukum Keluarga tertulis:
 
a. Kaidah-kaidah hukum yang bersumber dari undang-undang,yurisprodensi dan traktat.
 
 
 b. KUHPerdata.
 
c. Peraturan perkawinan campuran.
 
d. UU No.32./1954 tentang pencatatan nikah, talak dan rujuk, dsb.
 
Sumber Hukum Keluarga yang tidak tertulis:
 
1. Asas monogami ( pasal 27 BW, pasal 3 UUP ) yang
 berbunyai:”
Dalam waktu yang sama seorang lelaki hanya bolehmempunyai seorang istri, dan seorang perempuan hanya seorang suami
”.
 
2. Undang-undang yang memandang soal perkawinan hanya dalamhubungan perdata ( pasal 26 BW ) yang berbun
yi:” Perkawinan yang
sah adalah perkawinan yang dilakukan dimuka petugas kantor 
 pencatatan sipil “.
 
3. Perkawinan adalah suatu persetujuan antara seorang laki-laki danseorang prempuan dibidang hukum keluarga. Menurut pasal 28 asas perkawinan menghendaki adanya kebebasan kata sepakat antara keduacalon suami istri, dengan demikian jelaslah kalau perkawinan itu adalah persetujuan.
 
4. Perkawinan supaya dianggap sah, harus memenuhi syarat-syarat yangdikehendaki oleh undang-undang.
 
2.
 
Asas putusnya perkawinan
 
Ialah berakhirnya perkawinan yang dibina oleh pasangan suami istriyang disebabkan oleh kematian, perceraian, atas putusan pengadilan.Menurut BW juga disebabkan tidak hadirnya suami istri selama 10tahun, dan diikuti dengan perkawinan baru.
 
Alasan putusnya perkawinan:
 
Salah satu pihak berbuat zina, pemabuk, penjudi yang sukar untuk disembuhkan.
 
Salah satu pihak meninggalkan selama 2 tahun berturut-turut tanpaizin dan tanpa alasan yang sah atau diluar kemampuannya.
 
Salah satu pihak cacat badan atau penyakit sehingga tidak bisamenjalankan kewajibannya sebagai istri.
 
Akibat putusnya perkawinan:
 
Baik suami istri tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anak-anaknya.
 
 
Bapak bertanggung jaawab atas biaya pemeliharaan dan pendidikananak-anaknya.
 
Pengadilan dapat mewajibkan kepada bekas suami untuk memberikan biaya penghidupan kepada istrinya.
 
3.
 
Asas harta benda dalam perkawinan
 
Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.
 
Harta bawaan masing-masing dan harta benda yang diperolehmasing-masing sebagai hadiah perkawinan dibawah penguasaanmasing-masing, sepanjang tidak ditentukan lain.
 
Bila perkawinan putus maka pembagian harta benda berdasarkanhukum masing-masing.
 
Pengaturan Mengenai Anak Dalam Perkawinan Campuran
 
Menurut Teori Hukum Perdata Internasional
 
Menurut teori hukum perdata internasional, untuk menentukanstatus anak dan hubungan antara anak dan orang tua, perlu dilihatdahulu perkawinan orang tuanya sebagai persoalan pendahuluan,apakah perkawinan orang tuanya sah sehingga anak memiliki hubunganhukum dengan ayahnya, atau perkawinan tersebut tidak sah, sehinggaanak dianggap sebagai anak luar nikah yang hanya memiliki hubunganhukum dengan ibunya.
 
Dalam sistem hukum Indonesia, Prof.Sudargo Gautamamenyatakan kecondongannya pada sistem hukum dari ayah demikesatuan hukum dalam keluarga, bahwa semua anak 
 – 
anak dalamkeluarga itu sepanjang mengenai kekuasaan tertentu orang tua terhadapanak mereka (ouderlijke macht) tunduk pada hukum yang sama.Kecondongan ini sesuai dengan prinsip dalam UU Kewarganegaraan No.62 tahun 1958.
 
Kecondongan pada sistem hukum ayah demi kesatuan hukum,memiliki tujuan yang baik yaitu kesatuan dalam keluarga, namundalam hal kewarganegaraan ibu berbeda dari ayah, lalu terjadi perpecahan dalam perkawinan tersebut maka akan sulit bagi ibu untuk mengasuh dan membesarkan anak-anaknya yang berbedakewarganegaraan, terutama bila anak-anak tersebut masih dibawahumur.
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->