Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Biografi Tokoh Muhammadiyah

Biografi Tokoh Muhammadiyah

Ratings: (0)|Views: 54 |Likes:
Published by Kenk Dwi Putra
KH. Ahmad Dahlan
KH. Ahmad Dahlan

More info:

Published by: Kenk Dwi Putra on Apr 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2013

pdf

text

original

 
BIOGRAFITOKOH MUHAMMADIYAH
( Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Al-Islam )Disusun Oleh :
 Nama Hari Dwi PutraProdi PTIK ( semester 1 )
STKIP MUHAMMADIYAH KUNINGAN2011
 
Biografi 3 Tokoh Muhammadiyah
I.
 
Kyai Haji Ahmad Dahlan
 
Muhammad Darwisy (Nama Kecil Kyai Haji Ahmad Dahlan)dilahirkan dari kedua orang tuanya, yaitu KH. Abu Bakar (seorang ulama dan Khatib terkemuka di Mesjid Besar Kesultanan Yogyakarta) dan Nyai Abu Bakar (puteri dari H.Ibrahim yang menjabat sebagai penghulu kesultanan juga). Iamerupakan anak ke-empat dari tujuh orang bersaudara yangkeseluruhanya saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya.Dalam silsilah ia termasuk keturunan yang kedua belas dariMaulana Malik Ibrahim,seorangwali besar dan seorang yang terkemuka diantara Wali Songo, yang merupakan pelopor  pertama dari penyebaran dan pengembangan Islam di Tanah Jawa (Kutojo dan Safwan,1991).Adapun silsilahnya ialah Muhammad Darwisy (Ahmad Dahlan) bin KH Abu Bakar bin KH.Muhammad Sulaiman bin Kiyai Murtadla bin Kiyai Ilyas bin Demang Djurung DjuruKapindo bin Demang Djurung Djuru Sapisan bin Maulana Sulaiman Ki Ageng Gribig(Djatinom) bin Maulana Muhammad Fadlul'llah (Prapen) bin Maulana 'Ainul Yaqin binMaulana Ishaq bin Maulana Malik Ibrahim (Yunus Salam, 1968: 6).Muhammad Darwisy dididik dalam lingkungan pesantren sejak kecil yang mengajarinya pengetahuan agama dan bahasa Arab. Ia menunaikan ibadah haji ketika berusia 15 tahun(1883), lalu dilanjutkan dengan menuntut ilmu agama dan bahasa arab di Makkah selamalima tahun. Di sinilah ia berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam duniaIslam, seperti Muhammad Abduh, al-Afghani, Rasyid Ridha, dan ibn Taimiyah.Buah pemikiran tokoh-tokoh Islam ini mempunyai pengaruh yang besar pada Darwisy. Jiwadan pemikirannya penuh disemangati oleh aliran pembaharuan ini yang kelak kemudian harimenampilkan corak keagamaan yang sama, yaitu melalui Muhammadiyah, yang bertujuanuntuk memperbaharui pemahaman keagamaan (ke-Islaman) di sebagian besar dunia Islamsaat itu yang masih bersifat ortodoks (kolot).Ortodoksi ini dipandang menimbulkan kebekuan ajaran Islam, serta stagnasi dan dekadensi(keterbelakangan) ummat Islam. Oleh karena itu, pemahaman keagamaan yang statis iniharus dirubah dan diperbaharui, dengan gerakan purifikasi atau pemurnian ajaran Islamdengan kembali kepada al-Qur'an dan al-Hadits.Pada usia 20 tahun (1888), ia kembali ke kampungnya, dan berganti nama Ahmad Dahlan.Sepulangnya dari Makkah ini, iapun diangkat menjadi khatib amin di lingkungan KesultananYogyakarta. Pada tahun 1902-1904, ia menunaikan ibadah haji untuk kedua kalinya yangdilanjutkan dengan memperdalam ilmu agama kepada beberapa guru di Makkah.Sepulang dari Makkah, ia menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak KyaiPenghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan, seorang Pahlawanan
 
 Nasional dan pendiri Aisyiyah. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH. AhmadDahlan mendapat enam orang anak yaitu Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan,Siti Aisyah, Siti Zaharah (Kutojo dan Safwan, 1991).Di samping itu, KH. Ahmad Dahlan pernah pula menikahi Nyai Abdullah, janda H.Abdullah. Ia juga pernah menikahi Nyai Rum, adik Kyai Munawwir Krapyak. KH. AhmadDahlan juga mempunyai putera dari perkawinannya dengan Ibu Nyai Aisyah (adik AdjenganPenghulu) Cianjur yang bernama Dandanah. Beliau pernah pula menikah dengan Nyai YasinPakualaman Yogyakarta (Yunus Salam, 1968: 9).Sebagai seorang yang sangat hati-hati dalam kehidupan sehari-harinya, ada sebuah nasehatyang ditulisnya dalam bahasa Arab untuk dirinya sendiri, yaitu :"Wahai Dahlan, sungguh di depanmu ada bahaya besar dan peristiwa-peristiwa yang akanmengejutkan engkau, yang pasti harus engkau lewati. Mungkin engkau mampu melewatinyadengan selamat, tetapi mungkin juga engkau akan binasa karenanya. Wahai Dahlan, cobaengkau bayangkan seolah-olah engkau berada seorang diri bersama Allah, sedangkan engkaumenghadapi kematian, pengadilan, hisab, surga, dan neraka. Dan dari sekalian yang engkauhadapi itu, renungkanlah yang terdekat kepadamu, dan tinggalkanlah lainnya"(diterjemahkan oleh
 Djarnawi Hadikusumo
).Dari pesan itu tersirat sebuah semangat yang besar tentang kehidupan akhirat. Dan untuk mencapai kehidupan akhirat yang baik, maka Dahlan berpikir bahwa setiap orang harusmencari bekal untuk kehidupan akhirat itu dengan memperbanyak ibadah, amal saleh,menyiarkan dan membela agama Allah, serta memimpin ummat ke jalan yang benar danmembimbing mereka pada amal dan perjuangan menegakkan kalimah Allah. Dengandemikian, untuk mencari bekal mencapai kehidupan akhirat yang baik harus mempunyaikesadaran kolektif, artinya bahwa upaya-upaya tersebut harus diserukan (dakwah) kepadaseluruh ummat manusia melalui upaya-upaya yang sistematis dan kolektif.Kesadaran seperti itulah yang menyebabkan Dahlan sangat merasakan kemunduran ummatislam di tanah air. Hal ini merisaukan hatinya. Ia merasa bertanggung jawab untuk membangunkan, menggerakkan dan memajukan mereka. Dahlan sadar bahwa kewajiban itutidak mungkin dilaksanakan seorang diri, tetapi harus dilaksanakan oleh beberapa orang yangdiatur secara seksama. Kerjasama antara beberapa orang itu tidak mungkin tanpa organisasi.Untuk membangun upaya dakwah (seruan kepada ummat manusia) tersebut, maka Dahlangigih membina angkatan muda untuk turut bersama-sama melaksanakan upaya dakwahtersebut, dan juga untuk meneruskan dan melangsungkan cita-citanya membangun danmemajukan bangsa ini dengan membangkitkan kesadaran akan ketertindasan danketertinggalan ummat Islam di Indonesia. Strategi yang dipilihnya untuk mempercepat danmemperluas gagasannya tentang gerakan dakwah Muhammadiyah ialah dengan mendidik  para calon pamongpraja (calon pejabat) yang belajar di OSVIA Magelang dan para calonguru yang belajar di Kweekschool Jetis Yogyakarta, karena ia sendiri diizinkan oleh pemerintah kolonial untuk mengajarkan agama Islam di kedua sekolah tersebut.Dengan mendidik para calon pamongpraja tersebut diharapkan akan dengan segeramemperluas gagasannya tersebut, karena mereka akan menjadi orang yang mempunyai pengaruh luas di tengah masyarakat. Demikian juga dengan mendidik para calon guru yangdiharapkan akan segera mempercepat proses transformasi ide tentang gerakan dakwah

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->