berbagai peristiwa dan sekaligus menjadi sebab bagi peristiwa
lainnya. Kedua kakinya berdiri kokoh menopang tubuh yang
setengah membungkuk membiarkan kepala tertunduk meratapi
hati yang tidak henti-henti merindukan aroma tanah, air, api, dan
angin dari seluruh penjuru negeri.
Sudahlah Adi Prabu, tegur Sri Kresna seolah mengerti apa
yang dirasakan Yudhistira. Kita tidak mungkin menghindari
peperangan, semua pemuka Astina sudah tertutup matahatinya
untuk berdamai, sambung Sri Kresna dengan suara yang tidak
kalah sedih dengan apa yang dirasakan Yudhistira. Yudhistira
diam tidak menimpali perkataan Sri Kresna yang dianggapnya
telah mengkristal dan menjadi fatwa serta hakikat dari kebenaran
itu sendiri. Hatinya masih terus mencari pembenaran terhadap
peperangan besar yang akan menghancurkan banyak tubuh, jiwa,
dan alam semesta untuk sebuah tahta yang tidak ada artinya
sama sekali.
Tahta waris heriditas adalah tahta yang
menggelayut dalam setiap gerakan aliran darahnya dan selalu
mencoba memberi tanda perbedaan warna darah itu sendiri
dengan lainnya.
Yudhistira mendudukkan tubuhnya dalam posisi kaki
terlipat dengan mata terpejam dan menutup semua indera
lainnya sambil terus mengingat setiap aliran nafasnya.
Kehidupan alam semesta dirasakan terhenti sejenak dan
membiarkan Yudhistira mencoba menyediakan diri untuk
mewadahi wujud alam di dalam relung hatinya. Perlahan
harmonisasi alam bergerak berirama di dalam hati manusia yang
tercipta dan tercukupkan untuk setiap jengkal luasan alam dan
pergerakan mahluk di dalamnya.
2
Leave a Comment