• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
1
YUDHISTIRA AJINING PANGABEKTI
Oleh : Taranderi Arasy
Yudhistira berjalan menyusuri padang ilalang sepanjang

perbatasan Negara Astina dan Wirata. Dipalingkan kepalanya ke arah semak-semak bambu sambil menahan hatinya untuk tidak melangkah melewati batas negara yang terikat sumpah selama tujuh tahun pengembaraan.

Sebagian tubuhnya gemetar mencium aroma keringat jeritan kelaparan yang tercampur oleh kuatnya amis darah. Seolah lautan darah telah menenggelamkan seluruh negeri Astina ke dalam kesengsaraan dan kehinaan.

Raut muka Yudhistira mengeras dengan pandangan sayu ke arah bukit-bukit memerah dengan tebing patah di beberapa bagian lerengnya. Bukit yang semula hijau kegelapan telah menampakkan wajah penuh kerut dari parit-parit tempat mengalirnya air hujan yang enggan masuk ke dalam tanah. Lapat-lapat terdengar semilir dedaunan meliuk dan berbisik kepada matahari untuk tidak menguapkan seluruh air dari permukaan akar-akarnya.

Putra tertua Pandu Dewanata yang merupakan titisan Dewa Dharma termenung memandang ke arah gunung-gunung yang menjulang tanpa sedikitpun tanda hujan akan membasahi lereng- lerengnya. Dengan mata terpejam dibiarkan hidungnya menghirup udara kehidupan dari tanah kelahiran Wangsa Kurawa dan Pandawa, yang merupakan simbol akibat dari

1

berbagai peristiwa dan sekaligus menjadi sebab bagi peristiwa lainnya. Kedua kakinya berdiri kokoh menopang tubuh yang setengah membungkuk membiarkan kepala tertunduk meratapi hati yang tidak henti-henti merindukan aroma tanah, air, api, dan angin dari seluruh penjuru negeri.

Sudahlah Adi Prabu, tegur Sri Kresna seolah mengerti apa yang dirasakan Yudhistira. Kita tidak mungkin menghindari peperangan, semua pemuka Astina sudah tertutup matahatinya untuk berdamai, sambung Sri Kresna dengan suara yang tidak kalah sedih dengan apa yang dirasakan Yudhistira. Yudhistira diam tidak menimpali perkataan Sri Kresna yang dianggapnya telah mengkristal dan menjadi fatwa serta hakikat dari kebenaran itu sendiri. Hatinya masih terus mencari pembenaran terhadap peperangan besar yang akan menghancurkan banyak tubuh, jiwa, dan alam semesta untuk sebuah tahta yang tidak ada artinya sama sekali.

Tahta waris heriditas adalah tahta yang menggelayut dalam setiap gerakan aliran darahnya dan selalu mencoba memberi tanda perbedaan warna darah itu sendiri dengan lainnya.

Yudhistira mendudukkan tubuhnya dalam posisi kaki terlipat dengan mata terpejam dan menutup semua indera lainnya sambil terus mengingat setiap aliran nafasnya. Kehidupan alam semesta dirasakan terhenti sejenak dan membiarkan Yudhistira mencoba menyediakan diri untuk mewadahi wujud alam di dalam relung hatinya. Perlahan harmonisasi alam bergerak berirama di dalam hati manusia yang tercipta dan tercukupkan untuk setiap jengkal luasan alam dan pergerakan mahluk di dalamnya.

2
Sadar atau tidak sadar,

harmonisasi telah menjaga kehidupan dan melepaskan kematian dalam suatu azas keseimbangan. Kesamaan dan perbedaan dari bagian alam yang membentuk harmonisasi itu sendiri terus berputar mengitari jagad raya dan tidak terhenti oleh tangisan anak yang ditinggal mati bapaknya.

Alam menjabarkan dan mengkristalkan begitu banyak hak dan kewajiban manusia dalam satu wadah mutlak dari wujud kebenaran sebagai pemikiran dan laku kewajiban.

Setiap keteraturan aliran nafas merupakan tatanan kehidupan yang memohon agar manusia tunduk kepada keteraturan dan keseimbangan alam, serta mewariskan kepada setiap titik-titik darah turunannya.

Semerbak aroma dupa di dalam ruang pemujaan tidak lebih hanya merupakan akibat dari sebab yang menumpangkan pesannya lewat udara dan berujung pada sebuah tarikan nafas. Seluruhnya bergerak saling berurutan agar hati nuraninya mampu menguraikan pesan secara bijaksana.

Yudhistira terkias sebagai hidung yang mampu mencium aroma gerakan alam yang berapi-api menebarkan asapnya. Kesejatian dan kemurnian unsur air, api, angin dan tanah dalam tubuh Yudhistira tidak henti-henti membahasakan setiap penderitaan keempat unsur alam yang menjadi saudaranya ke dalam setiap tarikan nafasnya. Penderitaan keempat unsur tubuh yang menyebar di dalam alam dan mahluknya terasa sebagai jeritan yang setiap detik selalu mengoyak dinding-dinding kesabaran dan memberi tanda waktu pada setiap jeritannya. Layaknya penderitaan manusia yang juga hanya terdiri dari unsur yang sama, jiwa itu sendiri hanya mampu mengalir dan

3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...