• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • 2
    CommentGo Back
Download
 
Inspiring Paper 2008
Seri Lingkungan Hidup dan Tata Kelola SDA
TATA EKOLOGI DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM (SDA)DALAM KHILAFAH
[Agustina Senjayani, SP; Emilda, SPi; Prihatin Ika Wahyuningrum, SPi, MSi; Siska PurnamasariPutri, SP]
CONTENT :
1.Meluasnya krisis ekologi dan gagalnya pengelolaan SDAdalam menyejahterakan manusia2.Upaya global mengatasi krisis ekologi dengan konvensiUNFCCC
-
UNFCCC solusi atau konspirasi3.Krisis ekologi buah dari penerapan tatanan kapitalismeliberalisme
-
Akar kapitalisme dunia dan perkembangannya
-
Fakta liberalisasi politik dan ekonomi di Indonesia
-
Dampak liberalisasi terhadap krisis ekologi dan kesejahteraan umatmanusia4.Tata Ekologi dan Pengelolaan SDA dalam Khilafah
-
Landasan Filosofi “
laa tufsidu fil ard 
-
Bertumpu pada sistem politik dan ekonomi IslamSistem Politik Islam bersih dan kuat (
good goverment clean governance
)Sistem Ekonomi Islam mensejahterakan manusiaPrinsip kepemilikanPilar DistribusiPengelolaan kekayaanPertanian, Perdagangan dan Industri dan regulasi eksplorasi
-
Menciptakan Keseimbangan antara aspek ekplorasi dan konservasiEksplorasi untuk memenuhi kebutuhan bukan ’kerakusan’
-
Merehabilitasi kerusakan pasca penerapan sistem kapitalismeMengubah
life habit 
Memanfaatan teknologi ramah lingkungan Transformasi Sistem
Bencana Ekologi dan Paradoks UNFCCC
Krisis ekologi menempati isu terpenting dewasa ini. Alam tak lagi bersahabatdan menghukum manusia dengan beragam bencana. Di darat, frekuensi kejadianbanjir, tanah longsor, semakin meningkat setiap tahun menewaskan jutaan warga,melenyapkan kekayaan sumber daya. Di laut, fenomena abrasi, tsunami, rob (banjirpasang), mengancam nelayan dan jalur-jalur perhubungan. Krisis ekologi jugadiperparah oleh fenomena perubahan iklim dengan dampak lanjutan krisis pangan,tenggelamnya daerah pesisir dan pulau-pulau kecil, bahaya kekeringan, kehancuransumberdaya alam,
biodiversity loss
, hingga ledakan (
outbreak 
) wabah penyakit yangsemakin membayang di depan mata. Bagi Indonesia, krisis ini menambah beratbeban masyarakat yang belum pulih dari krisis ekonomi. Bencana meluas dikala hargabahan pokok meroket, tarif listrik dan harga BBM terus merangkak naik, kelangkaan
1
 
minyak tanah dan air bersih membelit. Sumber daya alam (SDA) yang melimpah ditanah air berupa minyak, gas alam, bahan tambang, kekayaan lautan, kekayaanhutan, kesuburan lahan dengan beragam tanaman pangan yang tumbuh diatasnyatersisa dalam catatan, tak mampu menolong rakyat dari kesulitan hidup. Krisis yangbertubi-tubi ini menegaskan betapa seriusnya kegagalan tata kelola ekologi dan SDAyang telah dijalankan selama ini.Menyadari krisis ekologi sebagai persoalan global, masyarakat dunia telah lamaberembug membahasnya. Tak kurang dari 154
International Multilateral Agreement 
telah dibuat.. Tahun 1992, pada
diRio de Janeiro,Brazil, 150 negara berikrar untuk menghadapi masalah gas rumah kaca dan setuju untukmenterjemahkan maksud ini dalam suatu perjanjian yang mengikat. Tahun 1997 di Jepang, 160 negara merumuskan persetujuan yang lebih kuat yang dikenal denganProtokol Kyoto. Protokol Kyoto mengatur dan mengikat negara-negara yangbersepakat untuk menurunkan jumlah gas pencemar (
greenhouse gas/gas rumahkaca/GRK 
) yang dilepaskan ke angkasa terutama gas karbon dioksida (CO
2
), asapindustri dan kendaraan bermotor dengan bahan bakar fosil, hingga ke tingkatterendah (5,2 persen) mulai 2012. Terkini, Indonesia menjadi tempat penyelenggaraanKonferensi Perubahan Iklim di Nusa Dua Bali 3-15 Desember 2007 yang diikuti 187negara.Ratifikasi terhadap Konvensi Perubahan Iklim (
United Nations Framework Convention on Climate Change
/UNFCCC) telah menghasilkan sejumlah program.Ironisnya, dari semua negara industri yang dianggap maju, hanya 39 negara saja diantaranya yang telah menandatangani kesepakatan itu termasuk Rusia, Jepang, dannegara-negara Eropa. Amerika Serikat sebagai penyumbang terbesar GRK bersamaCina, dan India menolak menandatanganinya.
Bali Roadmap
yang dirancang tidakmampu menghasilkan statemen tegas tentang besaran pengurangan emisi energidalam jangka waktu tertentu karena AS dan negara maju lainnya menolak usulanangka pasti yang mengikat pengurangan industri mereka antara 25%–40% hinggatahun 2020 nanti. Alasan utama negara besar enggan meratifikasi perjanjiandisebabkan dua faktor utama, yaitu melindungi kepentingan ekonomi yang sangatvital dan belum adanya pengganti bahan bakar fosil yang signifikan untukindustrialisasi dan sarana transportasi. Pengurangan emisi gas menyangkut skenarioberbiaya tinggi. AS khawatir, sebagai negara dengan emisi gas terbesar di dunia,biaya yang ditanggung pun menjadi lebih besar, ketimbang yang ditanggung negaralain. Perdagangan emisi—terutama CO
2
—dimana negara atau pelaku bisnis yangberkomitmen untuk mengurangi CO
2
dapat membeli atau menjual batas emisi yangdiizinkan. Model lain dari perdagangan emisi adalah dimana para pemilik penambat
2
 
karbon atau carbon sink—yaitu hutan—akan mendapatkan kompensasi ataspenyerapan carbon yang dilakukan oleh carbon sink tersebut. Beberapa model dariperdagangan emisi yang dilakukan berupa
Clean Development Mechanism
(CDM),
Cap and Trade
, REDD (
Reducing Emission from Deforestation and Degradation
)
 
dan
VCM
(
Voluntary Carbon Market 
). Hanya saja kemudian, perdagangan emisi ini menjadisemacam lisensi untuk tetap mengotori atmosfer.Alih-alih menyelesaikan persoalan ekologi, Konferensi Bali semakinmengokohkan saratnya kepentingan politik dan skema dagang negara-negara majudalam pembahasan isu ekologi. Konvensi tersebut mengikat Indonesia dan negaraberkembang (
developing country 
) untuk menjalankan sejumlah kebijakan Mitigasi danAdaptasi. Kementrian Lingkungan Hidup menyebut beberapa program diantaranyaProyek CDM (
Clean Development Mechanism
), kebijakan energi mix nasional;kebijakan konservasi energi dan kebijakan bebas pajak bagi impor peralatan teknologibersih. Kenyataannya, dalam cengkeraman liberalisasi sektor-sektor strategis,serangkaian kebijakan tersebut semakin menyengsarakan rakyat. Rakyat harusmembeli BBM dengan harga lebih mahal, melakukan konversi dari minyak tanah kegas dikala daya beli jatuh, menanam jarak pada saat ditimpa krisis pangan, dilarangberburu dan kesulitan mengambil kayu bakar di hutan karena program konservasioleh lembaga-lembaga internasional . Disisi lain dibukanya kran investasi telahmenyebabkan merajalelanya pembukaan hutan perkebunan sawit untuk bahan bakubioenergi, bahkan diberikan izin penambangan di wilayah hutan lindung. Transferteknologi dan pembebasan pajak impor selain menguras anggaran juga memperkuatketergantungan. Di titik ini masa depan penyelamatan alam dan pemeliharaanmanusia menjadi semakin suram.
Buah Liberalisasi dan Penerapan Sistem Kapitalis Sekuler
 Tak dapat dipungkiri bahwa krisis ekologi yang terjadi adalah buah dari tatakelola kehidupan yang bukan saja tak bijak tetapi juga sangat merusak (destruktif).Bila dilacak, pola destruktif tatakelola ekologi ternyata dilahirkan dari sistemkapitalisme sekulerisme yang saat ini diterapkan di seluruh dunia. Sistem ini memilikicara pandang khas terhadap kehidupan (
worldview
) yang menetapkan prinsipsterilitas politik dari pengaruh spiritualitas (agama/al-wahyu). Pada awalnya carapandang ini dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari belenggu dogma gerejayang berkembang pada abad kegelapan yang kemudian melahirkan revolusipencerahan
renaissance
dan
aufklarung
’. Proses pembebasan manusia telahmentahbiskan kedaulatan tak terbatas pada manusia sebagai elemen ekosistem(
anthroposentrism
). Kedaulatan tak terbatas ini memberi kewenangan pada manusiauntuk memuaskan kebutuhan (
need 
) dan keinginan (
want 
) melalui kebebasankepemilikan dan kebebasan tindakan mengeksploitasi alam. Dalam perjalanannya,
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...

with scribd jadi tambah rakus untuk baca..bravo scribd

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...