Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Ciputra

Ciputra

Ratings: (0)|Views: 112 |Likes:
Published by Dedi Panjaitan
Buku Ciputra Way
Buku Ciputra Way

More info:

Published by: Dedi Panjaitan on Apr 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/08/2013

pdf

text

original

 
1
Pengantar
Menurut Louis Gerstner, mantan CEO dari IBM, ada empat jenismanusia, yaitu:1. Those to whom things happen (seseorang yang hanyamampu menerima kejadian tanpa kepedulian khusus ataudalam bahasa Betawinya, blo'on).2. Those who watch things happen (seseorang yang hanyamampu melihat dan mengamati suatu kejadian tanpa mampuberbuat apa-apa yang produktif, tapi sekadar mencela).3. Those who do not even know things are happening(seseorang yang benar-benar na'if dan tidak menyadarikejadian sekelilingnya, bahkan tidak peduli).4. Those who make things happen (seseorang yang mempunyaikemampuan untuk mewujudkan sesuatu, di mana sebelumnyaorang lain tidak mampu bahkan untuk memikirkannya apalagimewujudkannya).Dari keempat jenis manusia tersebut di atas, yang akan dibahashanyalah jenis yang keempat yaitu, Those who make thingshappen.Salah satu contoh yang cukup menarik adalah kemampuan Ir.Ciputra mengubah suatu daerah yang sebelumnya kambing punenggan hidup, menjadi suatu kawasan hunian yang prestisius diSurabaya Barat, yang dikenal dengan sebutan " Citra Raya".Kisahnya begini:Di Surabaya Barat terdapat daerah kosong seluas kurang lebih1,500 ha yang dikenal dengan nama daerah Lakar Santri, yangmerupakan daerah yang sulit dikembangkan untuk usahaagraris secara ekonomis karena sangat kering sehinggatumbuh-tumbuhan pun sangat terbatas yang mampu bertahanhidup. Dengan pandangan jauh ke depan dan didukung olehpengenalan teknologi terapan yang memadai, Ir. Ciputradengan bantuan menantunya, Harun Hajadi yang melaksanakanproyek, membuat perencanaan untuk membangun real-estatepada tahun 1993 sebagai sebuah self contained city yangdilengkapi dengan pada golf bertaraf internasional 27 lubang(holes), sekolah nasinoal dan international, fasilitas-fasilitasibadah, waterpark terbesar di Indonesia, perumahan highdensity maupun low density, taman-taman bermain, pasartradisional maupun supermarket, infrastruktur bertaraf international seperti water-treatment plat serta fasilitas-fasilitas lainnya.Modal awal untuk membangun real-eastate tersebutdirencanakan sebesar RP 60 miliar dan mengharapkandukungan perbankan, dalam hal ini adalah Bank RakyatIndonesia, sebesar RP2,5 miliar. Pada waktu permohonandukungan pinjaman dimohonkan ke BRI, baik Direktur KreditKorporasi pada waktu itu yaitu Djokosantoso Moelijonomaupun Direktur Utamanya, Iwan Prawiranata, memintapenjelasan selengkap-lengkapnya mengenai proyek tersebutsebagai bagian dari penjelasan atas feasibility study yang telahdisusun. Hal ini sangat diperlukan mengingat calon lahan yangakan dibangun sebenarnya mengandung risiko karena keringdan sulitnya sumber daya air, padahal tidaklah mungkin suatureal-estate dibangun tanpa air. Justru di sini kunci darikeberhsilan seorang Ciputra, yaitu make things happen melaluiterapan teknologi. Dia menggunakan sumber air sungai Brantasyang dipompa ke dalam empat kolam besar dengan masing-masig olahan kebersihan dan dengan penggunaan yangberbeda. Untuk kolam pertama tidak ada treatment khususkarena dipergunakan untuk menyirami lahan, denganmemanfaatkan pupuk-pupuk organik yang terbawa oleh aliransungai. Baru mulai kolam besar kedua sampai dengan keempatdiadakan pengolahan pembersihan air di mana pada kolamkeempat sudah layak minum. Proyek ini berjalan dengan baikdan pada tahun 1997, pinjamanya kepada BRI telah dilunasisecara tertib.Saat ini, Citra Raya sudah dikembangkan seluas 600 ha dengansejumlah 8000 redensial serta lapangan golf bertaraf internasional dengan tantangan lapangan yang cukupmenjanjikan. Dalam usahanya untuk meningkatkan citranya dikota kedua terbesar di Indonesia, tahun 2003 " Citra Raya KotaMandiri" memposisikan dirinya (repositioned) menjadi " CitraRaya, the Singapore of Surabaya". Langkah ini mendapatsambutan luar biasa dari masyarakat Surabaya dan dalamusaha mewujudkan impian ini pengembang membaginya dalamtiga tahapan, yaitu tahun pertama mengk ampanyekan tahapCLEAN (BERSIH), tahun kedua tahap GREEN (HIJAU) dan tahunketiga dan seterusnya menjadi tahap MODERN sesuai dengankarakter dari kota Singapura.Tahap CLEAN sudah berhasil direalisasikan sehingga, Citra Rayadapat menyatakan dirinya sebagai kota terbersih di seluruhIndonesia sama dengan kebersihan kota Singapura.Selanjutnya, tahun 2005, Citra Raya telah memanam lebih dari100.000 pohon dalam usahanya untuk segera dapatmewujudkan tahapan GREEN. Pada tahun 2006 ini, Citra Rayatelah mulai memasuki tahapan MODERN, di mana bangunan-bangunan baru yang didukung oleh fasilitas teknologi yangcanggih akan mampu mendukung orientasi sebagai kota yangmemenuhi kaidah MODERN.Kisah di atas menggambarkan kebenaran dari kata-kata LouisGerstner tersebut di atas, bagaimana seorang pemimpin itumampu mewujudkan sesuatu yang orang lain mungkin sulitmelaksanakannya. Ir. Ciputra telah membuktikan bahwa dirinyamemiliki kapasitas tersebut. Bayangkan saja, lahan yangdibangun tersebut sudah ada sejak ratusan tahun sebelumnyatanpa ada yang mampu memanfaatkan secara ekonomismaupun ekologis karena merupakan lahan yang tidak produktif,namun dengan kepiawaian serta kepakaran dan kepemimpinanseorang Ciputra, lahan tersebut dapat menjadi hunian yangprestisius. Kemungkinan waktu mendapatkan izinpembebasantanah dan pengembangan dari Pemerintah Daerahpada masa pemutusan proyek, nilai tanah tersebut tidaksampai RP5000,/per meter persegi secara rata-rata, sementarasekarang ini kalau Anda berkeinginan membeli tanah CitraRaya, Anda harus berani membuka kocek seharga jutaan/permeter persegi.Tidaklah heran kalau sebelum pembangunan real-estate dahuludi awal tahun 1990-an kambing pun tidak bisa hidup di sanakarena tidak mau,sekarang pun si kambing pasti juga tidak bisaberkeliaran di lapangan golf karena tidak boleh..Perlukah Pendidikan Formal Bagi Seorang Entrepreneur?Sebagi manusia pembelajar, entrepreneur belajar dari semua hal, bahkan dari tempat-tempat yang banyak orang mungkin tidak membayangkannya sebagai tempatbelajar. Ciputra belajar dari bawahannya, Ciputra belajar dari persoalan yang dihadapinya, bahkan Ciputra belajar dari semua orang yang pernah berhubungandengannya.Pengakuan semacam ini tampaknya memang sudah umum kita dengar dari banyak entrepreneur sukses. Sayangnya, hal ini acapkali menghadirkan penafsiranekstrem tentang pendidikan. Karena demikian besarnya penekanan pentingnya belajar dari segala hal, muncullah anggapan bahwa ternyata belajar menjadientrepreneur tidak perlu berbekal pendidikan formal. Sekolah formal sebagai tempat belajar yang sangat mendasar dianggap tidak penting lagi. Apalagi aneka bukuyang sering mempertanyakan arti pentingnya sekolah. Seolaholah karena secara spesifik sekolah formal tidak mengajarkan bagaimana cara berbisnis, maka untukmenjadi entrepreneur pun dianggap tidak perlu dibekali dengan pendidikan.
 
2
Ciputra bukan entrepreneur dalam golongan demikian. Ciputra tidak pernah menisbikan peranan pendidikan formal, bahkan ia termasuk tokoh bisnis yang bukansaja menaruh perhatian, tetapi terlibat aktif dalam aneka yayasan yang menaungi sejumlah sekolah-sekolah berkualitas. Ciputra antara lain telah terlibat dalamYayasan Pendidikan Jaya, Yayasan Tarumanagara, Yayasan Prasetya Mulya, Yayasan Don Bosco, dan Yayasan Ir Ciputra, dan sejumlah yayasan lainnya, yangkesemuanya telah mendidik sedikitnya 25 ribu orang di negeri ini.Bagi Ciputra, memang ada manusia yang menjadi sukses sebagai entrepreneur tanpa bekal pendidikan formal yang memadai, barangkali karena mereka diberi bakatyang luar biasa. Namun, dari pengalamannya selama empat dasawarsa menjadi entrepreneur, Ciputra memahami bahwa pada akhirnya mengandalkan bakat sajatidak cukup. Bakat harus ditopang oleh ilmu dan pengalaman. Apalagi bila seseorang ingin menjadi entrepreneur yang sukses hingga mencapai prestasi puncak.
“Kalau hanya mengandalkan bakat, Anda juga bisa sukses, tetapi dugaan saya hanya sampai tingkat menengah saja. Tidak akan berhasil secara optimal.” kata Ciputra.
 Ciputra tidak setuju pada pandangan yang mengatakan entrepreneur tidak perlu pendidikan formal. Modal optimisme dan keberanian mencoba dianggap sudahcukup. Ciputra sama sekali tak menyetujui pendapat demikian. Bahwa seorang entrepreneur sering mengandalkan intuisinya dalam mengambil keputusan, bagiCiputra sama sekali bukan pembenaran untuk tidak menempuh pendidikan. Sebab intuisi bagi Ciputra sangat berkaitan dengan pengetahuan. Intuisi muncul berkattempa
an pengalaman. Dan, salah satu sumber pengalaman adalah dari pendidikan. “Bagaimana Anda menjadi entrepreneur jika tidak ada
pengalaman, danbagaimana Anda dapat pengalaman tanpa ilmu? Bagaimana Anda mendapat pengalaman tanpa mencarinya? Itu seperti Anda menembak orang tanpa peluru. Tidak
akan berhasil. Pengalaman harus diciptakan dan pengalaman bisa menolong kita meraih keunggulan.”
 
Bagi Ciputra jelas, bahwa “Orang yang bodoh ada dua macam. Pertama, mereka yang merasa dirinya pintar dan karenanya tidak m
au mendengarkan pendapat oranglain lagi. Kedua, mereka yang tidak mau meniru perbuatan baik yang telah dilakukan orang lain karena enggan mengakui keunggul
an orang lain.”
 Kisah Scott Smigler yang belum lama berselang dimuat di majalah Entrepreneur barangkali adalah satu contoh lagi tentang pentingnya pendidikan bagi seorangentrepreneur. Smigler adalah seorang mahasiswa asal Amerika Serikat yang berusia 22 tahun dengan indeks prestasi 3,7. Tanpa meninggalkan bangku kuliah iaberhasil membangun bisnis beromzet setara dengan Rp2,4 miliar per tahun tanpa meninggalkan bangku kuliah.Mahasiswa jurusan keuangan di Bentley College, di Waltham, Amerika Serikat ini ketika lulus dari sekolah lanjutan atas, mendirikan Exclusive Concepts Inc, sebuahperusahaan yang menyediakan jasa professional desain web dan solusi marketing online bagi perusahaan-perusahaan yang sedang bertumbuh. Mulanya iamenjalankannya sendirian dari kamar belajarnya di rumah orang tuanya. Dengan membangun reputasi sebagai penyedia jasa yang kompeten dan professional, iameraih kepercayaan pelanggannya lewat promosi mulut ke mulut.Kini ia telah merambah lebih jauh dengan membuka kantor di Burlington, Massachusetts. Dengan dibantu lima orang staf, ia mencatat omzet US $ 300 ribu atau lebihdari RP2,4 miliar pada 2003. sambil secara penuh mengelola bisnisnya, ia tetap menekuni studinya di Bentley College dengan indeks prestasi 3,7 dan mendirikanEntrepreneurship Society di sekolah itu. Dan setiap minggu ia menyisihkan waktu puluhan jam untuk memberi nasihat kepada para entrepreneur di segala usia.Yang menarik, tak satu pun nasihat Smigler yang mengecilkan arti pendidikan, dan bahkan ia tetap melanjutkan pendidikannya kendati ia telah berhasil sebagaientrepreneur. Kata Smigler, lingkungan bisn
is berubah cepat. Pendidikan adalah salah satu factor penting menuju sukses. “ Tidak benar bahwa menambah
pengetahuan lewat pendidikan hanya membuang waktu. Justru sangatlah mungkin untuk membesarkan perusahaan sambil Anda mengisi
‘aki’ dengan mengikuti
pe
ndidikan. Dalam jangka panjang Anda akan mengetahui manfaatnya.”
 Maka bila ada nasihat tentang pendidikan dari Ciputra untuk orang-orang muda yang menyiapkan diri menjadi entrepreneur, itu adalah sebuah pesan untuk tidakpernah menyia-nyiakan pendidikan formal yang sudah ditempuh. Jangan tinggalkan, tetapi justru gunakanlah pendidikan untuk mempelajari lebih banyak hal demimewujudkan impian sebagai entrepreneur. Seperti Ciputra yang mengejar ilmu dengan membaca majalah-majalah terbaik, buku-buku terbaik, dan mengikutiseminar-seminar di seluruh dunia. Hadir di berbagai kongres real estat dunia, baik sebagai peserta maupun pembicara. Mencoba menggali pelajaran dari tokoh-tokohterbaik dunia, seperti ketika mengunjungi Jack Welch, tokoh yang luar biasa dari kelompok bisnis General Electrict, di New York, Amerika Serikat.
“ JANGAN TINGGALKAN, TETAPI JUSTRU GUNAKANLAH PENDIDIKAN FORMAL UNTUK MEMPELAJARI LEBIH BANYAK HAL DEMI MEWUJUDKAN IMPIAN SEB
AGAI
ENREPRENEUR.”
 Bab I : Bakat Entrepreneur Bisa Dikembangkan oleh Siapa Saja Hits : 2446 PDF Cetak E-mailKita perlu memahami bahwa bagi Ciputra, ada perbedaan mendasar antara seorang entrepreneur dengan seorang pemilik dan pengelola usaha [bisnis] biasa. Ia
menjelaskan bahwa, “Entrepreneur adalah seseorang yang in
ovatif dan mampu mewujudkan cita-cita kreatifnya ke dunia nyata. Entrepreneur akan mampumengubah padang ilalang menjadi kota baru, atau mengubah tempat pembuangan sampah menjadi resor yang indah. Entrepreneur bias mengubah kawasan kumuhmenjadi wilayah gedung pencakar langit tempat ribuan yang bekerja dan beraktivitas. Bahkan di tangan seorang entrepreneur, kotoran dan barang rongsokan diubah
menjadi emas.”
 Bagi Ir. Ciputra, sedikitnya ada tiga cirri utama seorang entrepreneur. Pertama, seorang entrepreneur mampu melihat peluang bisnis yang tidak dilihat atau tidakdiperhitungkan oleh orang lain. Ia melihat kemungkinan dan memiliki visi untuk menciptakan sesuatu yang baru yang memicu semangatnya untuk bertindak. Kedua,seorang entrepreneur adalah orang yang bertindak untuk melakukan inovasi, mengubah keadaan yang tidak/kurang menyenangkan menjadi keadaan seperti yang iainginkan. Tindakanlah yang membuat entrepreneur menjadi innovator. Ketiga, seorang entrepreneur adalah pengambil risiko, baik risiko yang bersifat financial [baca:rugi], maupun risiko yang bersifat mental [baca:dianggap gagal]. Dengan tiga cirri pokok tersebut, seorang entrepreneur sejat
i seperti seorang “perintis kawasanbaru”, “ penjelajah rimba raya”, atau juga “ pendaki gunung” yang sel
alu mencari puncak-puncak taklukan baru. Mereka bermimpi, maju bergerak menuju tantangandan tidak gentar memikul risiko. Ringkasnya entrepreneur sejati berani rugi, berani malu dan juga berani terkenal.Dalam pandangan Ciputra, orang yang memiliki atau mengelola sebuah bisnis, belum tentu seorang entrepreneur. Orang bias memiliki suatu bisnis dengan menirubisnis yang sudah berhasil, seperti banyak dilakukan dalam system waralaba. Dalam konteks ini seseorang menjadi pebisnis atau pengusaha, karena memiliki bisnis.Atau orang bias menjadi pemilik dan pengelola bisnis karena warisan dari orangtua, dari keluarga dan kerabatnya. Pebisnis model ini tidak memulai dengan visi, tidakmelakukan tindakan-tindakan inovatif, dan juga tidak mengambil risiko yang besar
. “Mereka itu bias disebut sebagai pebisnis atau pengusaha, tapi saya kira bukanentrepreneur seperti yang saya maksudkan,” kata Ciputra menegaskan pandangannya. Jadi, menurut Ciputra, seorang entrepreneur
pastilah pebisnis dan pengusahayang handal. Namun, seorang pebisnis atau pengusaha, belum tentu memenuhi kualifikasi untuk bias disebut sebagai entrepreneur.Kalau demikian, apakah untuk menjadi Entrepreneur dibutuhkan bakat khusus? Kalau yang kita maksud adalah entrepreneur sekaliber Ir. Ciputra, maka sudah pastifactor bakat merupakan salah satu factor yang memengaruhi kesuksesannya. Bakat, yakni sifat bawaan lahir, telah mendorong Ciputra kecil meninggalkan DesaPapaya, Kecamatan Bumbulan, menuju kota Gorontalo agar bias melanjutkan pendidikan SMPnya. Dengan cita-cita membara untuk menjadi seorang arsitek, iameninggalkan Gorontalo untuk melanjutkan sekolahnya ke Manado, dan kemudian menuju pulau Jawa untuk masuk ke Fakultas Arsitektur, Institut TeknologiBandung. Semua langkah itu menunjukkan adanya cita-cita yang besar, ada visi, dan keberanian mengambil risiko yang tidak dilakukan oleh kebanyakan kawan-kawannya di masa remaja dulu.
 
3
Bakat Ciputra kemudian berkembang dan terasah oleh lingkungannya. Impian-impian Ciputra bergerak secara dinamis mengikuti proses pembelajarannya. Lalu usahamendirikan biro konsultan, berlanjut dengan pendirian PT Perentijana Djaja, kemudian PT Pembangunan Jaya, adalah tempat di mana Ciputra melatih dirinya agarsiap menjadi entrepreneur property dalam skala dunia. Jadi, di samping soal bakat, sukses Ciputra juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan yang kondusif dankesempatan-kesempatan berlatih pada tahap-tahap kehidupannya.Pentingnya factor lingkungan yang kondusif dan latihan untuk mengembangkan potensi dan mengasah bakat-bakat kaum muda di Indonesia, bahkan telah membuatdidirikannya Universitas Ciputra di Surabaya, yang memilih tema utama Creating World Class Entrepreneur. Ciputra menyadari bahwa ada kondisi yang harusdiciptakan untuk mendorong dan memperbesar kemungkinan lahirnya para entrepreneur baru yang membangun dan mengharumkan nama Indonesia di masadepan. Ciputra sendiri menemukan bakat atau talenta terbaiknya sebagai entrepreneur lewat proses pembelajaran yang berkelanjutan. Oleh karena itu, ia sukabicara soal pentingnya orang mau belajar. Ia sendiri tidak pernah mengangap dirinya sebagai orang jenius dalam segala bidang, tetapi sebagai orang yang maubelajar. Dengan kata lain, ia tidak merasa kalau orang berbakat maka tidak perlu belajar lagi. Justru ia merasa bahwa orang yang berbakat akan senang belajar darisumber-
sumber terbaik. Kata Ciputra, “Entrepreneur yang paling berbakat pun teta
p manusia biasa. Dan Anda tidak harus menjadi orang jenius dalam semua bidanguntuk menjadi entrepreneur sukses. Setahu saya, Li Kha Sing juga bukan orang jenius di segala bidang. Namun ia berhasil menjadi entrepreneur sukses, baik dinegerinya maupun di mancanegara. Kita hanya perlu jenius dalam bidang yang sesuai dengan bakat dan pilihan hidup kita. Dan untuk itu kita harus te
rus belajar.”
 Bagi Ciputra, entrepreneur yang berkemungkinan sukses biasanya adalah seseorang yang tidak cepat puas, yang ingin mengetahui sesuatu lebih banyak lagi sampai iadapat memahami dan mewujudkan sesuatu dari yang baru diketahuinya itu. Cirri-ciri semacam ini, sebagaimana dikatakan Roodney Overton, seorang penulis lebihdari 25 buku laris tentang panduan berbisnis, memang sangat menentukan bagi keberhasilan seorang entrepreneur. Seorang entrepreneur menurut Roodney, harus
mempunyai ‘a burning desire to realize, actualize and turn (your) ideas into reality.’ Semangat belajar seorang entrepreneur
adalah semangat yang tidak berhentisekadar belajar, tetapi harus mempunyai visi yang jauh ke depan disertai tindakan yang konkret. Ia harus mempunyai antusiasme yang tidak terbatas akan ide-idenya, yang mungkin saja tidak dimengerti orang lain.Ciputra adalah orang yang tak pernah berhenti bekerja dan belajar demi menciptakan sesuatu yang lebih bernilai. Ia bahkan tidak malu belajar dan merasa banggaserta berterima kasih jika ada banyak orang yang mengajarkan sesuatu yang baru kepadanya. Tidak hanya ketika dia masih merangkak dari bawah, tetapi juga sampaisaat ini, ketika dia telah menjadi salah satu tokoh terkemuka di Indonesia. Misalnya, belum lama ini, Pak Ci membuat konsep mal untuk sebuah proyek di Solo. Untukmendapatkan pendapat kedua, dia memanggil manajer pemasaran dan manajer operasi di perusahaan itu. Kedua manajer itu memang mempunyai latar belakangpendidikan arsitektur. Ciputra meminta mereka menilai konsep mal yang dia buat. Ternyata mereka kurang puas. Mereka menganggap konsep bikinan Ciputramempunyai banyak kelemahan. Masing-masing dari mereka mempunyai pendapat sendiri tentang kelemahan konsep itu. Sampai hamper sebulan lebih, denganmemasukkan saran-saran yang diajukan oleh para manajer itu, konsep tersebut masih dianggap kurang di sana sini.Akhirnya Ciputra membentuk sebuah tim untuk merumuskan konsep yang unggul yang terdiri dari dua orang manajer dan sebuah biro konsultan, sampai lahirlah
sebuah konsep yang terbaik. “ Sungguh saya senang, karena mereka berhasil membuat satu konsep baru yang jauh lebih baik,”
kata Ciputra. Ini merupakan satu buktibahwa Ciputra bukan seorang yang merasa paling pintar, melainkan orang yang mau belajar, terbuka dan mau mengakui keunggulan orang lain. Orang yang percayabahwa ada orang yang punya pikiran sama baik, dan terkadang lebih baik dari dirinya.Orang-orang muda yang akan maupun tengah menyiapkan diri menjadi entrepreneur layaknya mencatat karakter demikian itu. Rasa ingin tahu yang besar untukmewujudkan atau menciptakan sesuatu yang lebih baik dan bernilai mengharuskan seorang entrepreneur sebagai manusia pembelajar, tak pernah berhenti belajar.Kembali ke soal bakat, bagaimana jika orang merasa hanya memiliki sedikit bakat untuk menjadi entrepreneur? Untuk kasus semacam ini Ciputra memberikan duaanjuran. Pertama, jadilah professional [pegawai] dengan kemampuan entrepreneurship. Orang seperti Jack Welch, yang pernah memimpin perusahaan No. 9terbesar di dunia
 –
General Electrics yang legendaris itu
adalah contoh professional dengan kemampuan entrepreneurship yang handal. Memilih menjadi nahkoda
sebuah “kapal bisnis” skala dunia, juga merupakan suatu prestasi yang mengagumkan, bukan? Jadi potensi entrepreneurship tetap
perlu dikembangkan, sekalipunberada dalam konteks organisasi bisnis yang bukan milik sendiri. Para profesional dengan kemampuan entrepreneurship ini umumnya disebut sebagai intrapreneur.Kedua, mulailah dengan merintis bisnis dalam skala kecil. Atau bias meneruskan bisnis keluarga yang telah lebih dulu ada, lalu mengembangkannya. Bias juga
“meniru” bisni
s orang lain atau mengambil bisnis waralaba. Lalu secara bertahap cobalah untuk lebih maju dengan membangun visi dan mengambil risiko yang lebihbesar. Dalam pandangan penulis, menjadi pebisnis dan pengusaha dalam skala kecil menengah justru sangat diperlukan dalam konteks membangun Indonesia kedepan. Sebab yang terpenting adalah menciptakan lapangan kerja, pertama-tama bagi diri sendiri, dan kemudian belajar mempekerjakan orang.Bagaimana jika orang merasa tak berbakat, tetapi ingin memiliki bisnis sendiri? Pertanyaan ini bersifat paradoks. Sebab, bakat seseorang umumnya menumbuhkanminatnya terhadap sesuatu. Seperti bakat Pak Ci sebagai entrepreneur dalam industri property membuatnya amat berminat melihat, mendengar, bermimpi, danmemperbincangkan hal-hal yang bertalian dengan dunia properti. Jadi, jika seseorang berminat untuk memiliki bisnis sendiri, maka minatnya itu sendiri harusdimengerti sebagai bakat dan potensinya. Sehingga, tak usah pusing soal apakah kita berbakat atau tidak. Sepanjang ada hasrat besar untuk menjadi entrepreneur,anggap saja itu merupakan petunjuk bahwa kita berbakat. Lalu cobalah membangun visi, mencari cara menginovasi dan menciptakan suatu produk, dan belajarmengambil risiko tahap demi tahap. Bulatkan tekad untuk menjadi pengusaha, menjadi pebisnis, menjadi entrepreneur.Untuk diingat
1
“ENTREPRENEUR YANG PALING BERBAKAT PUN TETAP MANUSIA BIASA. DAN ANDA TIDAK HARUS MENJADI ORANG JENIUS DALAM SEMUA BIDANG UNTU
K MENJADIENTREPRENEUR SUKSES. SETAHU SAYA, LI KHA SING JUGA BUKAN ORANG JENIUS DI SEGALA BIDANG. NAMUN IA BERHASIL MENJADI ENTREPRENEUR SUKSES, BAIKDI NEGERINYA MAUPUN DI MANCANEGARA. KITA HANYA PERLU JENIUS DALAM BIDANG YANG SESUAI DENGAN BAKAT DAN PILIHAN HIDUP KITA. DAN UNTUK ITU
KITA HARUS TERUS BELAJAR.”
 Siapakah Entrepreneur Itu?Ini merupakan pertanyaan yang sangat klasik. Hampir semua kajian mengenai entrepreneurship, terutama yang bersifat akademis, mencoba menawarkan anekaragam definisi dan pengertian mengenai sosok manusia yang disebut entrepreneur ini. Semua kajian, perdebatan, dan polemic di seputar definisi entrepreneur itu,sekurang-kurangnya menunjukkan besarnya peranan yang mereka mainkan. Para entrepreneur tidak saja berperan dalam memajukan perekonomian, tetapi jugamembangun peradaban suatu bangsa melalui karya-karya kreatif mereka yang dinikmati masyarakat banyak. Multi peran yang dimainkan oleh entrepreneurmembuat sosoknya menjadi sulit untuk dipenjara ke dalam sebuah definisi yang lengkap dan tuntas. Berikut ini sejumlah pengertian yang ditawarkan para ahli dariwaktu ke waktu.Di paruh pertama abad ke-18, Richard Cantillon [1730], seseorang yang disebut-
sebut sebagai pencetus istilah “ entrepreneur”, pernah mengatakan bahwa inti dari
kegiatan entrepreneur adalah menanggung risiko. Mereka membeli barang tertentu hari ini, lalu menjualnya esok hari dengan harga yang tak pasti [baca: belum pastiuntung]. Ibarat seorang pedagang membeli sejumlah barang di pasar tanah Abang dan Mangga Dua, dan kemudian menjualnya kembali esok hari kepadakonsumennya di pasar Bekasi dan Depok. Tak ada kepastian memperoleh keuntungan, namun risiko itu akan ditempuh oleh seorang entrepreneur. Tegasnya,Cantillon mengatakan bahwa entrepreneur adalah a self-employed person with uncertain returns.

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->