Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
1Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Ilmu Fiqih

Ilmu Fiqih

Ratings: (0)|Views: 148|Likes:

More info:

Published by: Aziest Ziest Guziest on Apr 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOCX, TXT or read online from Scribd
See More
See less

12/28/2013

pdf

text

original

 
Filed under:Tak Berkategori
 — 
ahmadfaruq @ 20:18
I.
 
Pengertian Ilmu Fiqih
 
Firman Allah dalam QS At Taubah [9] : 123;
 
“Maka apakah tidak lebih baik dari tiap
-tiap kelompok segolongan manusia untuk ber 
“tafaqquh” 
(memahami fiqih) dalam urusan agama dan untuk memberi peringatan kaumnya bila mereka kembali;mudah-mudahan kaumnya dapat berhati-
hati (menjaga batas perintah dan larangan Allah).” 
 
Hadits Nabi :
 
“Barangsiapa dikehendaki oleh Allah akan diberikannya kebajikan dan keutamaan, niscaya diberikankepadanya “ 
ke-faqih-an
” (memahami fiqih) dalam urusan agama.” 
(HR. Bukhari-Muslim).
 
Ilmu fiqih adalah ilmu untuk mengetahui hukum Allah yang berhubungan dengan segala amaliah mukallaf baik yang wajib, sunah, mubah, makruh atau haram yang digali dari dalil-dalil yang jelas (tafshili).
Produk ilmu fiqih adalah “fiqih”. S
edangkan kaidah-kaidah istinbath (mengeluarkan) hukum dari
sumbernya dipelajari dalam ilmu “
Ushul Fiqih
”.
 
II.
 
Perkembangan Ilmu Fiqih
 A.
 
Masa Nabi
 
Nabi Muhammad SAW adalah seorang Rasul yang makshum (terpelihara dari dosa dan kesalahan).Beliau menerima wahyu dari Allah serta semua perbuatan, ucapan, taqrir dan himmahnya adalahkebenaran yang menjadi hukum dan diikuti oleh umatnya.
 
Dalam masa Nabi wahyu Al-
Qur‟an masih terus turun susul
-menyusul. Wahyu yang turun kadang-kadang merupakan jawaban atau solusi masalah yang sedang terjadi pada diri Nabi dan parasahabatnya.Dalam urusan duniawi, peperangan, siasat politik, muamalah dan yang semacamnya kadang Nabi juga bermusyawarah dengan para sahabat, terkadang juga Nabi menerima usulan dan masukan daripara sahabat, bahkan kadang Nabi meninggalkan pendapatnya sendiri.
 
Pada peristiwa perang Badar, Rasulullah memerintahkan pasukan Islam untuk mengambil posisi disuatu tempat, tetapi perintah Nabi itu disanggah oleh salah seorang sahabat yang mengusulkan agar pasukan kaum Muslimin mengambil posisi didepan sumber mata air dan ternnyata usulan itu diterimadan dilaksanakan oleh Nabi.
 
Beberapa penduduk Madinah ada yang berusaha mengawinkan pohon kurma untuk memperolehbuah yang lebih banyak. Melihat itu Nabi melarang mereka mengawinkan serbuk sari pohon kurma,maka penduduk Madinah mentaati larangan Rasulullah tersebut. Ternyata pada tahun itu pohon-pohon kurma tidak menghasilkan buah. Lalu Nabi mengijinkan lagi mengawinkan serbuk sari pohonkurma, seraya bersabda
“Kamu lebih mengetahui urusan duniamu”.
 
Pada waktu perang Khaibar para sahabat menyalakan api dibawah periuk. Melihat itu kemudian Nabi
bertanya : “Apa yang sedang kalian masak dalam periuk itu ? “ Sahabat menjawab : “Daging keledai
 jinak
”. Nabi kemudian berkata : “Buang isi perikuk itu dan pecahkan periuknya”. Salah seorangsahabat berdiri dan berkata : “Bagaimana kalau kami membuang isinya dan kami mencuci periuknya?” Nabi menjawab : “Seperti itupun boleh”.
 
Jadi dalam hal-hal yang bukan merupakan esensi pokok-pokok syariat agama, keputusan Nabitidaklah otoriter, masih mempertimbangkan musyawarah dan kemaslahatan.
 
Para sahabat Nabi terkadang juga melakukan perbuatan “ijtihad pribadi” maka tindakan mereka itu
ada yang disetujui Nabi, disalahkan kemudian Nabi memberitahukan yang benar atau Nabi memberikomentar terhadap ijtihad para sahabatnya. Terkadang diantara para sahabat Nabi terjadi perbedaan
 
pendapat mengenai suatu masalah, maka merekapun datang kepada Nabi dan menanyakanmasalah tersebut maka Nabi memberitahukan hukumnya. Contohnya adalah sebagai berikut :
 1.
 
Dalam perang
Zatu al Salasil 
(perang musim dingin) „Amr bin Ash mengalami mimpi junub. Akantetapi „Amr bin Ash takut mandi karena hawanya sangat dingin, kemudian ia hanya ber taya
mum
dan melakukan shalat subuh. Disaat ijtihad „Amr bin Ash itu sampai kepada Nabi, maka beliaubertanya kepada „Amr bin Ash : “(Benarkah) kamu shalat bersama sahabat kamu,sedangkankamu berada dalam keadaan junub ?” maka „Amr bin Ash menjawab : “Aku mende
ngar Allahberfirman :
 
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepada dirimu.” 
 
(QS An-Nisa : 29)
 
Mendengar jawaban itu Nabi hanya tersenyum dan tidak memberi komentar apa-apa. Hal itumerupakan taqrir beliau yang menunjukkan persetujuannya.
 1.
 
Dalam suatu perjalanan, Umar bin Khattab dan „Ammar bin Yasir sama
-sama dalam keadaan junub. Pada saat itu mereka tidak mendapatkan air untuk mandi besar, sementara waktu shalat
telah tiba. „Ammar ber 
-ijtihad dengan meng qiyas kan air deng
an debu, maka „Ammar berguling
-guling diatas tanah. Sementara Umar bin Khattab tidak ber tayamum yang menurutnya hanyamenghilangkan hadas kecil dan memilih untuk menunda shalat.
 
Maka tatkala keduanya melaporkan apa yang mereka lakukan, Nabi menyatakan bahwa keduaijtihad itu keliru. Nabi mengatakan bahwa yang benar adalah mereka cukup dengan tayamumbiasa tanpa harus berguling-guling ke tanah dan tayamum itu juga bisa menghilangkan hadasbesar dalam keadaan darurat.
 1.
 
Bani Quraidhah adalah orang-orang Yahudi penduduk Madinah yang terikat perjanjianpersekutuan dengan kaum Muslimin untuk saling membantu bila Madinah diserang musuh. Padasaat perang Ahzab (Khondaq), Yahudi Bani Quraidhah melakukan pengkhianatan berusahamembantu musuh yang mengepung kota Madinah. Setelah kaum pengepung diporak-porandakan oleh badai gurun yang dahsyat dan peperangan pun selesai, Allah memerintahkan
Nabi mengepung Bani Quraidhah. Untuk itu nabi bersabda : “Jangan ada diantara kalian yang
melakukan shalat Ashar kecuali di perkampun
gan Bani Quraidhah”. Sekelompok sahabat Nabi
memahami sabda Nabi tersebut berdasarkan mantuq (makna lahirnya) maka mereka bergegaspergi dan bahkan menunda shalat ashar. Sebagian sahabat yang lain memahami sabda Nabidiatas berdasarkan mafhum (makna tersirat) yaitu boleh melakukan shalat Ashar tepat waktu,baru setelah itu harus segera bergegas menuju ke perkampungan Bani Quraidhah. TernyataNabi membenarkan kedua pemahaman tersebut.
 
Jadi pada masa Nabi semua masalah dan perbedaan pendapat dapat diketahui hukumnya yangseharusnya berdasarkan keputusan akhir dari Nabi yang masih ada ditengah-tengah para sahabat.
 
B.
 
Masa Khulafaur Rasyidin
 
Khalifah Abu Bakar ketika mendapati masalah yang belum diketahui status hukumnya, maka beliaumengumpulkan fukaha dari kalangan para sahabat dan menanyakan apa ada yang mengetahuihadits Nabi tentang masalah tersebut. Bila ada yang menyampaikan hadits Nabi maka Khalifah AbuBakar memutuskan hukumnya berdasarkan hadits tersebut, tetapi bila tidak ada hadits maka Khalifah Abu Bakar bermusyawarah menentukan keputusan berdasarkan kesepakatan dengan para sahabat.
 
Khalifah Umar pun mengikuti cara yang dilakukan oleh Abu Bakar. Pada masa dua khalifah pertamayaitu Abu Bakar dan Umar, para sahabat Nabi semuanya masih berada di Kota Madinah, maka
kesepakatan para sahabat pada masa khalifah Abu Bakar dan Umar ini menjadi Ijma‟ yang mutlak
dapat dijadikan hujjah dan wajib diikuti oleh seluruh kaum muslimin.
 
 
Pada masa Khalifah Usman bin Affan sebagian sahabat besar baru bertebaran keluar dari kotaMadinah dengan tujuan mengajarkan agama pada kota-kota yang telah ditaklukkan oleh kaummuslimin. Pada masing-masing kota yang didiami, para sahabat besar mengajarkan agama sesuaidengan kapasitasnya masing-masing yang akhirnya disetiap kota besar menghasilkan para ulama
dan mujtahid dari generasi tabi‟in dan tabi‟it
-
tabi‟in.
 
Pada masa Khalifah Ali bin Abu Thalib bahkan beliau memindahkan pusat pemerintahannya dariMadinah ke Kufah. Pada masa pemerintahan Ali pula mulai terjadi perang pertumpahan darahdiantara sesama kaum Muslimin, yaitu perang Jamal, perang Shiffin dan perang Nahrawand.
 
Jumhur ulama berpendapat bahwa kebijaksanaan dan keputusan hukum Khulafaur Rasyidin dapatdijadikan hujjah, berdasarkan Hadits Nabi :
 
“Ikutilah jejak dua orang sepeninggalku, (yaitu)Abu Bakar dan Umar.” 
(HR Tirmidzi, Thabarani,Hakim)
 
“Maka bahwasanya siapa yang hidup (lama) diantara kamu niscaya akan melihat perselisihan
(faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang 
diberi hidayah.” 
(HR. Abu Dawud).
 
Disamping empat orang Khulafaur Rasyidin, para fuqaha sahabat besar juga ada yang dikenalsebagai mufti dan memberi fatwa hukum. Perkataan sahabat (qaul sahabi) yang tidak disandarkanberasal dari Nabi disebut hadits mauquf.
Sahabat Nabi adalah generasi Islam yang terbaik. Mereka diridhoi oleh Allah pada beberapaayat Al-
Qur‟an dan diridhoi oleh Nabi dalam beberapa hadits.
Firman Allah dalam QS At-Taubah : 100 :
 
“Orang 
-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) diantara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan
merekapun ridha kepada Allah.” 
 
Hadits Nabi :
 
“Saya adalah kepercayaan sahabatku, sedang sahabatku adalah kepercayaan sekalian umatku.” 
 
Para Sahabat itu para murid yang ditarbiyah (dididik) langsung oleh Nabi. Mereka mengetahuilatar belakang turunnya ayat Al-
Qur‟an (asbabun nuzul), mengetahui latar belakang timbulnya
hadits (asbabul wurud), terbukti jihadnya, lebih bersih hatinya, lurus manhajnya dan palingbesar jasanya kepada Islam. Maka pendapat sahabat itu sangat layak untuk dijadikan rujukandan diikuti.
 
Diantara Fukaha (ahli Fiqih) Sahabat besar selain empat orang Khulafaur Rasyidin yang dikenalbanyak memberi fatwa adalah :
 1.
 
 Abdullah Ibnu Abbas, mengembangkan perguruannya di Mekkah.
 2.
 
 Abdullah Ibnu Mas‟ud, mengembangkan perguruannya di Kufah.
 3.
 
 Abdullah Ibnu Umar, mengembangkan perguruannya di Madinah.
 4.
 
 Abdullah bin „Amr bin Ash, mengembangkan perguruannya di
Mesir.
 5.
 
Muadz bin Jabal, mengembangkan perguruannya di Damaskus (Syria).
 6.
 
Zaid bin Tsabit, mengembangkan perguruannya di Madinah.
 7.
 
 Aisyah, Ummul Mukminin
 8.
 
 Abu Hurairah, sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits Nabi.
 9.
 
 Abu Darda‟, mengembangkan perguruannya
di Basrah.
 
10.
 
 Abu Musa Al-
 Asy‟ari, mengembangkan perguruannya di Basrah.
 
11.
 
Ubay bin Ka‟ab, pernah menjadi Hakim Khalifah Umar di Basrah.
 

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->