Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
makalah

makalah

Ratings: (0)|Views: 40 |Likes:
Published by Muhsin Rokan
Universitas Negeri Makassar Digilib Unm Andikasmaw 292 1 Humanis 1
Universitas Negeri Makassar Digilib Unm Andikasmaw 292 1 Humanis 1

More info:

Published by: Muhsin Rokan on Apr 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/12/2013

pdf

text

original

 
 
POLITIK HUKUM, ASPEK, DAN TEORI PERUBAHANPERATURAN PERUNDANG-UNDANGANPEMERINTAHAN DAERAHANDI KASMAWATI
Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar
Abstrak:
 Tuntutan terhadap perubahan bidang hukum terutama hukum tata negaraberkonsekuensi dilakukannya perubahan perundang-undangan termasuk perundang-undang pemerintahan daerah dapat dilihat dalam kurun waktu 9 (sembilan) tahunundang-undang pemerintahan daerah mengalami perubahan yaitu 2 (dua) kalipenggantian dan 2 (dua) kali revisi, hal ini menunjukkan bahwa perundang-undangandibuat untuk menyesuaiakan dengan kebutuhan dan perkembangan masyarakat yangdilandasi oleh teori-teori dan dilatarbelakangi oleh aspek-aspek pengubah hukum.
Kata Kunci
: Perubahan undang-undang dalam politik hukum, aspek, dan teori.
PENDAHULUAN
Ketika tuntutan reformasiberkumandangkan pada tahun 1998 lalu,berbagai konsekuensi yang perluditangani oleh pemerintah maupunmasyarakat, termasuk pembenahan danperubahan yang fundamental dalambidang hukum dan politik, perjalananroda kenegaraan yang tidak konsisten,tidak bisa tidak, harus mengalamiperubahan yang selaras, baik terhadaptuntutan masyarakat internasionalmaupun masyarakat lokal.Akibat dari derasnya tuntutanterhadap perubahan dibidang hukum,terutama dalam bidang hukum tatanegara, maka pemerintah dalam rangkamewujudkan agenda reformasi, untukmenegakkan supremasi hukum,dilakukannlah pembenahan terhadapberbagai peraturan perundang-undangandengan cara membuat peraturanperundang yang baru maupun merubahperaturan perundang-undangan ataumengganti peraturan perundang yang ada.Hukum Tata Negara merupakansalah satu bidang hukum, cukup banyakmengalami perubahan sebagaimana kitalihat pada perubahan perundang-undangan pemerintahan daerah dariundang-undang No. 5 Tahun 1974tentang Pemerintahan Daerah merupakanundang-undang peninggalan orde barupada masa pemerintahan Soeharto,kemudian diera reformasi ini digantimenjadi undang-undang No. 22 Tahun1999 pada masa pemerintahan KH. AbdulRahman Wahid, empat tahun kemudiandiganti lagi menjadi undang-undang No.32 Tahun 2004 pada masa pemerintahanMegawati Soekarno Putri, kemudianditahun 2005 lahir undang-undang No. 8 Tahun 2005 tentang Penetapan PERPUNo. 3 Tahun 2005 tentang Perubahan atasUndang-undang No. 32 Tahun 2004tentang Pemerintahan daerah, dan padatahun 2008 undang-undang pemerintahandaerah direvisi melalui undang-undangNo. 12 Tahun 2008 tetang Perubahankedua Undang-Undang PemerintahanDaerah.
 ____________Politik Hukum, Aspek, dan Teori Perubahan Peraturan Perundang-Undangan...
. Andi Kasmawati
 
 
Humanis, Volume XII Nomor 1, Januari 2011_______________________________________
7
Berdararkan hasil pengamatanterhadap perubahan peraturan perundang-undangan pemerintahan daerah yangtelah dilakukan, menunjukkan bahwa adaperbedaan limit waktu sebelum reformasidan setelah reformasi. Perubahan undang-undangan pemerintahan daerah padamasa sebelum reformasi boleh dikatakantidak pernah dilakukan pergantian yangberlaku hanya undang-undang No. 5 Tahun 1974 tentang PemerintahanDaearh sampai di ganti dengan undang-undang No. 22 Tahun 1999 tentangPemerintahan Daerah (setelah reformasi)cukup lama baru mengalami perubahanyaitu sekitar 25 tahun, dibandingperubahan undang-undang No. 22 Tahun1999 menjadi undang-undang No 32tahun 2004 sekitar 5 tahun dan sudahdilakukan revisi sebanyak dua kali.Adanya perubahan perundang-undangan merupakan reflekasi dariadanya ketidak puasan masyarakatterhadap pemerintahan orde baru, yangmenggambarkan kuatnya posisi eksekutidihadapan legislatif (yang sesungguhnyatelah menjadi tradisi di Indonesia dizaman kolonial dan bahkan juga sejakzaman sebelumnya) ini disebabkankarena 2 (dua) alasan, yaitu:
pertama
 karena ada dan selalu didayagunakannyawewenan konstitusional badan-badaneksekutuf untuk terlibat dalamperancangan perundang-undangan yangkarena praktiknya (karena dikuasainyasumber daya yang berlebih)menyebabkan eksekutif mampu lebihdominan berprakarsa. Alih-alih ide dankebijakan yang diprakarsai lembagaperwakilan yang seharusnya mendahului,dalam banyak peristiwa, justru ide-idedan prakarsa eksekutif itulah yang lebihbanayak merintis dan mengontrolperkembangan. Kontrol eksekutif didunia perundang-undangan, menjaditampak lebih besar lagi ketika orang jugamau memerhatikan ”keleluasaan”eksekutif dalam membuat perubahanhukum atau
regulatori laws
yangsebetulnya hanya bertaraf peraturanpelaksanaan, tetapi dalam praktekmenimbulkan efek-efek perubahan polakehidupan yang jauh juga.
Kedua
Kenyataan bahwa dalam perkembanganpolitik yang terjadi di zaman orde baru,kekuatan politik yang berkuasa dijajaraneksekutif ternyata juga mampumemanuver dan mendominasiDPR/MPR. Sebagai hasil kompromi-kompromi politik yang diperoleh darihasil
trade off 
antara berbagai kekuatanpolitik yang terjun kekancah percaturanpolitik diawal tahun 70 an disepakatibahwa tidak semua anggota DPR/MPRmerupakan hasil pemilihan.Dalam Konstruksi seperti ini, dapatlah dikatakan bahwa: Hukum diIndonesia dalam perkembangannyadiakhir abad ke 20 ini benar-benar secarasempurna menjadi semacam
governmentsocial control
dan berfunsi sebagai
toolsof social engjinering
. Akibatnya hukumpositif sebagai hukum perundang-undangan sepanjang sejarahperkembangan pemerintahan orde barutelah menjadi kekuatan kontrol ditanganpemerintah terlegitimasi (secara formal-yuridis) dan tidak selamanyamerfleksikan konsep keadilan, asas-asasmoral dan wawasan kearifan yangsebenarnya, sebagaimana yangsesungguhnya yang hidup didalamkesadaran hukum masyarakat awam.Dalam situasi seperti itulah gerakan-gerakan dari bawah untuk menuntut hak-hak asasi manusia kemudian meletupsecara terbuka, dan justru terdengar lebihkuat dan lebih santer dari apa yang
 
 
terjadi semasa jaya-jayanya ide hukumrevolusi diawal tahun 60 an.Situasi ini menunjukkan bahwasituasi kekuatan politik legislatif telahdimonopoli oleh eksekutif yang dominanitu, yang pada gilirannya sistem hukummenjadi hukum
represif (otoriterian)
danbukan hukum masyarakat yang
responsif 
 (
demokratik)
. Hal ini merupakanperwujudan kontradiktipf yang selaludiciptanakan antara fungsi hukum danpolitik, terutama melalui konfigurasi dankecenderungan egoisme individualistikmaupun kelompok berkepentingan.Berkaitan dengan kecenderunganini Von der Heydte dalam AbrahamAmos (2005: 63) mengemukakan bahwa:...tiap-tiap norma hukum positif sebagaisuatu realitas simultan dan postulatmoral yang tidak dibatasi waktu sertatujuan politik yang bergantung dari waktuke waktu secara terbatas. Hukum beradadiantara ketegngan moral dan politikyang saling berkontraksi. Dalil-dalilkeadilan bukanlah sekadar prinsip daritatanan yang terdiri dari kebebasanmanusia tetapi juga kehendak individu,ukuran kebenaran moral dan tujuanakhirnya.”Menelusuri makna dibalik pikiranVon der Heygte ahli hukum MekxicoEdurdo Garcia Meynes dalam AbrahamAmos (2005: 63) mengatakan bahwa:...seraya menerima kebenaran yangobyektif dari nilai-nilai hukum, bahwanilai-nilai hukum itu mempunyaiberbagai bentuk relativitas dalam tigabentuk yakni : 1) relativitas pada orang,2) relativitas pada situasi-situasi, 3)relativitas pada ruang dan waktu.Berdasarkan hal-hal yangdikemukakan diatas oleh Abraham Amos(2005: 64) mengemukakan bahwa:Hukum yang eksis dalam masyarakatmerupakan bentuk hukum yang bersifat
imperative responces
artinya netral tidakberpihak bagi siapa pun yang melakukankesalahan atau kejahatan (dan tidakmengadopsi kepentingan tertentu). Jadi aturan hukum dibuat bukanmelindungi kepentingan parapembuatnya, melainkan hukum dibuatuntuk melindungi kepentingan wargamasyarakat. Artinya hukum itu harusberada pada posisi yang setara yaituantara kepentingan pemerintah danmasyarakat harus berimbang (
ekuilibrasi
)sesuai dengan hukum
thermodinamika
. Jika tidak, hukum hanya akan menjadi
vampire
penghisap darah manusiasehingga validitasnya tidak diakuisebagai hukum responsif yang mewakili jaminan rasa keadilan bagi semua pihaktanpa pengecualian.
HAKIKAT POLITIK HUKUM DANPERUBAHAN PERUNDANG-UNDANGAN PEMERINTAHANDAERAH1.
 
Politik Hukum dan Hubunganantara Hukum dan Politik
Pada pemaparan mengenai politikhukum, diperlukan penjelasan menganaikajian politik hukum apakah merupakankajian ilmu politik atau kajian ilmuhukum, hal ini masih seringdipertentangkan, namun oleh SoerjonoSoekanto dan Purbadcaraka dalam SriSoemantri (2006: 35) dikemukakanbahwa: “Displin Politik Hukum terbentukdari gabungan dua disiplin hukum, yaitudisiplin ilmu hukum dan filsafat hukum.Ilmu Hukum diarahkan pada cara untukmencapai tujuan. Adapun filsafat hukumdiarahkan untuk melihat tujuan yangdiinginkan”
 ____________Politik Hukum, Aspek, dan Teori Perubahan Peraturan Perundang-Undangan...
. Andi Kasmawati

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->