Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
51Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pemberdayaan-masyarakat-desa

Pemberdayaan-masyarakat-desa

Ratings:

4.6

(10)
|Views: 3,779 |Likes:
Published by M. Hakiki Arif
Pemberdayaan masyarakat desa, pedesaaan, swadaya
Pemberdayaan masyarakat desa, pedesaaan, swadaya

More info:

Published by: M. Hakiki Arif on Mar 27, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2014

pdf

text

original

 
 
1
PEMBANGUNAN PEREKONOMIAN
 
NASIONAL MELALUIPEMBERDAYAAN MASYARAKAT DESAOleh : MG Ana Budi RahayuPengantar
Pada tingkat makro, pertumbuhan PDB triwulan I tahun 2006 sebesar 2,03%dibandingkan pada triwulan IV tahun 2005. Kontribusi terbesar adalah sektor pertaniansebesar 18,77% (BPS, 2006). Walaupun perkembangan sektor pertanian mengalamipasang surut, namun kenyataannya sektor ini masih diandalkan untuk mendorongpertumbuhan perekonomian nasional. Potensi yang cukup besar masih dapat digali disektor ini, baik berupa ketersediaan sumber daya alam maupun sumber daya manusia.Hampir 60% jumlah penduduk Indonesia tinggal di daerah pedesaan yang persebarannyasampai di desa terpencil. Sektor pertanian ini juga menyerap tenaga kerja yang cukupbesar hampir sekitar 74%. Dari gambaran tersebut, pembahasan mengenai sektorpertanian yang ternyata tidak lepas dari peran masyarakat pedesaan (petani) sangatrelevan apabila dikaitkan dengan pembangunan perekonomian nasional.Sejak pemerintahan Orde Baru sampai sekarang, gonjang-ganjing mengenaipeningkatan taraf hidup petani di pedesaan selalu mengalami dinamika. Apapunkebijakan pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup petani, seringkali menuai kritikandan kontroversi dari berbagai pihak. Banyak kalangan yang mengatakan petani sebagai"
wong cilik"
yang kehidupannya semakin tertindas dan harus menjadi tumbal ataskebijakan perekonomian pemerintah. Kita lihat kembali bagaimana kebijakan penentuanharga dasar gabah, pengurangan subsidi pupuk, mahalnya harga bahan bakar dan baru-baru ini kebijakan import yang dirasa tidak berpihak pada kepentingan dan kesejahteraanpetani.Disisi lain, pembangunan nasional juga menciptakan kesenjangan antara desa dankota. Banyak peneliti yang sudah membuktikan bahwa pembangunan semakinmemperbesar jurang antara kota dan desa. Sangat disadari, negara berkembang sepertiIndonesia mengkonsentrasikan pembangunan ekonomi pada sektor industri yangmembutuhkan investasi yang mahal untuk mengejar pertumbuhan. Akibatnya sektor lainseperti sektor pertanian dikorbankan yang akhirnya pembangunan hanya terpusat dikota-kota. Hal ini juga sesuai dengan hipotesa Kuznets, bahwa pada tahap pertumbuhanawal pertumbuhan diikuti dengan pemerataan yang buruk dan setelah masuk pada tahappertumbuhan lanjut pemerataan semakin membaik. (Todaro, 2000) Faktor-faktor yangmempengaruhi kesenjangan tersebut antara lain karena perbedaan pendidikan,ketersediaan lapangan pekerjaan, infrastruktur investasi, dan kebijakan (Arndt, 1988).Dewasa ini, telah banyak para ahli pembangunan masyarakat pedesaan yangmengangkat permasalahan ini ke permukaan. Karena sesungguhnya yang terjadi petanitetap miskin, sebab persoalan yang berkaitan dengan produksi seperti kapasitas sumberdaya manusia, modal, dan kebijakan tetap sama dari tahun ke tahun walaupun bentuknyaberbeda. Studi mengenai kemiskinan pedesaan oleh Sarman dan Sajogyo (2000)menunjukkan bahwa untuk daerah pedesaan di Sulteng mencapai 48,08% sementarauntuk perkotaan sekitar 12,24%. Studi ini menggunakan pendekatan jisam (kajian
 
 
2
bersama) sehingga kriteria kemiskinan sangat lokalistik berkaitan dengan pemenuhankebutuhan dasar dan kepemilikan masyarakat.Banyak proyek/program pemerintah yang sudah dilakukan untuk mendorongpembangunan perekonomian masyarakat pedesaan. Proyek/program tersebut dilakukanmasing-masing departemen maupun antar departemen. Pada umumnya proyek-proyek yang digulirkan masih pada generasi pemberian bantuan fisik kepada masyarakat. Baik berupa sarana irigasi, bantuan saprotan, mesin pompa, pembangunan sarana air bersihdan sebagainya. Kenyataannya, ketika proyek berakhir maka keluaran proyek tersebutsudah tidak berfungsi atau bahkan hilang. beberapa faktor yang mempengaruhikegagalan proyek tersebut antara lain, yaitu: (1) ketidaktepatan antara kebutuhanmasyarakat dan bantuan yang diberikan (2) paket proyek tidak dilengkapi denganketrampilan yang mendukung (3) tidak ada kegiatan monitoring yang terencana (4) tidak ada kelembagaan di tingkat masyarakat yang melanjutkan proyek. Belajar dari berbagaikegagalan tersebut, generasi selanjutnya proyek-proyek mulai dilengkapi dengan aspek lain seperti pelatihan untuk ketrampilan, pembentukan kelembagaan di tingkatmasyarakat, keberadaan petugas lapang, melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat(LSM). Atau dengan kata lain beberapa proyek dikelola dengan pendekatanpemberdayaan masyarakat. Dibandingkan dengan generasi sebelumnya, hasil proyek lebih lama dimanfaatkan oleh masyarakat bahkan berkembang memberikan dampak positif.Pemberdayaan adalah bagian dari paradigma pembangunan yang memfokuskanperhatiannya kepada semua aspek yang prinsipil dari manusia di lingkungannya yaknimulai dari aspek intelektual (Sumber Daya Manusia), aspek material dan fisik, sampaikepada aspek manajerial. Aspek-aspek tersebut bisa jadi dikembangkan menjadi aspek sosial-budaya, ekonomi, politik, keamanan dan lingkungan.Telaah lebih lanjut paper ini adalah bagaimanakah peran pemberdayaanmasyarakat desa dalam program-program pemerintah untuk peningkatan pendapatan.Kemudian seberapa besarkah kegiatan ekonomi masyarakat desa mendukungperekonomian nasional. Topik tersebut masih relevan untuk dibahas bagi agendapembangunan ekonomi Indonesia ke depan, mengingat keberadaan masyarakat desa darisisi kualitas dan kuantitas menjadi peluang dan tantangan.
Dikotomi biaya dan manfaat pemberdayaan masyarakat (Kasus ProgramPemberdayaan masyarakat)
Pada bagian ini merupakan analisis biaya dan manfaat program pemberdayaanmasyarakat. Walaupun tidak didukung dengan data-data kuantitatif yang lengkap tapianalisis deskriptif di bawah ini cukup berarti. Sebagai bahan analsis digunakan beberapakasus proyek yang menggunakan pendekatan pemberdayaan. Proyek tersebut adalahProgram PIDRA di propinsi NTT, Proyek BRDP di Propinsi Bengkulu, dan ProgramPompanisasi di Indramayu.
 
 
3
1. Program Participatory Integrated Development in Rainfed Area (PIDRA) di PropinsiNusa Tenggara Timur (NTT).Program PIDRA merupakan replikasi Proyek Pengembangan Lahan Kering(P2LK) Jawa Timur yang diperbaharui pada aspek partisipasi masyarakat pemanfaatproyek. Program ini dilaksanakan berdasarkan Loan Agreement Nomor 539-ID tanggal21 Juni 2000 yang didanai oleh International for Agricultural Development (IFAD).Tujuan Program PIDRA adalah meningkatkan pendapatan, produksi pangan danketahanan pangan. Komponen kegiatan program ini meliputi (1) pemberdayaanmasyarakat dan gender, (2) pengembangan pertanian dan peternakan (3) pengembanganlahan dan infrastruktur desa (4) manajemen program dan dukungan kelembagaan.Peran Bina Swadaya sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat Utama (LSMU)yang memberikan bantuan teknis kepada pengelola proyek tingkat propinsi dan LSMlokal dalam mengembangkan pendekatan partisipatif. Keterlibatan masyarakat penerimaprogram sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi. Perencanaan ditingkat masyarakat difasitasi oleh pendamping dengan menggunakan metode RuralRapid Appraisal (RRA). Masyarakat penerima proyek menentukan sendiri programmaupun rencana kerja sesuai dengan potensi desa yang dimiliki. Program ini membentuk Kelompok Mandiri (KM) secara demokratis dengan menetapkan pengurus dan anggotakelompok. Asas dari, untuk, dan oleh anggota berlaku di KM, dimanapertanggungjawaban pengurus kepada anggota dilakukan melalui Rapat Anggota. AturanKM dibuat secara tertulis dalam bentuk Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran RumahTangga (ART), butir-butir dalam AD dan ART dibuat bersama oleh pengurus dananggota. Untuk kegiatan permodalan KM, proyek memberikan
matching grant 
setelahKM memenuhi persyaratan jumlah tabungan yang terkumpul.Hasil yang diperoleh sampai dengan tahun 2005 adalah:1. Terbentuknya sebanyak 710 KM yang tersebar di 5 Kabupaten (TTU, TTS, SumbaBarat, Sumba Timur dan Alor), atau sekitar 14.239 Kepala Keluarga (KK). KM inimempunyai administrasi kelompok yang lengkap, pertemuan anggota yang teratur,tabungan yang teratur serta kegiatan usaha produktif.2. KM mempunyai jaringan kerja dengan Pihak Pemerintah Daerah, swasta dansekolah.3. Meningkatnya pendapatan anggota KM, yang dilihat dari kepemilikan ternak maupun usaha, pengembalian pinjaman yang lancar, peningkatan konsumsi keluargauntuk investasi pendidikan dan kesehatan.4. Terlaksananya kegiatan konservasi yang mendukung ketahanan pangan (DASMikro).2. Program Bengkulu Regional Development Project (BRDP)BRDP merupakan proyek yang dibiayai oleh Bank Dunia yang dilaksanakansejak tahun 1998. Komponen BRDP merupakan kegiatan masyarakat desa melaluipartisipasi masyarakat yang meliputi: (1) pembangunan sarana/prasarana desa (2) Adopsipertanian dan (3) usaha ekonomi produktif dalam bentuk dana bergulir. BRDP mencakup220 desa di 16 kecamatan pada 3 kabupaten, yaitu Bengkulu Utara, Bengkulu Selatandan Rejang Lebong. Di tingkat masyarakat desa dibentuk UPKD (Unit Pengelola

Activity (51)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Daryono Soebagyo liked this
Iche Chayankdok liked this
Jenti Imucth liked this
babi bau liked this
Iche Chayankdok liked this
Agus Yando liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->