Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
RUU JPH_ Upaya Melindungi Masyarakat Atau Legalisasi Proyek Bermotif Uang

RUU JPH_ Upaya Melindungi Masyarakat Atau Legalisasi Proyek Bermotif Uang

Ratings: (0)|Views: 1|Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on Apr 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/16/2014

pdf

text

original

 
20/04/13 RUU JPH: Upaya Melindungi Masyarakat Atau Legalisasi Proyek Bermotif Uang? | Hizbut Tahrir Indonesiahizbut-tahrir.or.id/2013/04/20/ruu-jph-upaya-melindungi-masyarakat-atau-legalisasi-proyek-bermotif-uang/?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_ca… 1/6
HTI (http://hizbut-tahrir.or.id/) Home (http://hizbut-tahrir.or.id/category/muslimah/)Aktualita (http://hizbut-tahrir.or.id/category/muslimah/aktualita/)
RUU JPH: Upaya Melindungi Masyarakat Atau LegalisasiProyek Bermotif Uang?
 
JPH) setelah sempat diangkatkembali di akhir Februari lalu, kinikembali ‘mandek’. RancanganUndang-Undang yang sudah diusulkansejak tahun 2004 ini hingga kini belum juga disahkan. Di kalangan pembuat kebijakan, pro kontra terus mengiringi upayauntukmengesahkan rancangan undang-undang ini. Beberapa hal yang masih diperdebatkanantara lain terkait Badan atau Lembaga Penjamin Produk Halal dan sifat dari pendaftaran produk halal tersebut. Terkait siapa yang menjadi Badanatau Lembaga Penjamin Produk Halal, hingga kini masih ada perbedaan antara DPR dengan pemerintah. Pemerintah yangdalam hal ini diwakili oleh Kementrian Agama bersikukuh bahwa kelembagaan tersebutsemestinya berada di bawah Menteri Agama. Sementara DPR, terutama Fraksi PKSberpendapat bahwa kelembagaan ini harus langsung berada di bawah Presiden yangselama ini dipegang oleh Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Makanan MajelisUlama Indonesia (LPPOM MUI). Tarik menarik wewenang sebagai lembaga pemberisertifikasi di antara pihak Departemen Agama dan LPPOM MUI banyak yang mendugaterkait komersialisasi pemberian sertifikat. Selain itu sifat dari pendaftaran produk halal juga masih diperdebatkan, apakah bersifat mandatory (wajib) atau bersifat voluntary(sukarela). (http://bimasislam.kemenag.go.id, 19 Februari 2013)Sementara itu di masyarakat, selain arus opini yang terus mendesak agar RUU JPHsegera disahkan, aktivitas penolakan terhadap RUU JPH juga banyak diaruskan oleh parapengusaha dan kelompok liberal. Sebagian pengusaha merasa keberatan karena dianggapakan merugikan mereka terkait biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkansertifikasi halal bagi produk yang diluncurkan. Sebagai contoh adalah pernyataan Sofyan
Index
>
(http://hizbut-tahrir.or.id/category/muslimah/release-muslimah/)
release (http://hizbut-tahrir.or.id/category/muslimah/releasemuslimah/)
 
Rabu, 17/04/13 2:22WIB
Hizbut Tahrir Menyelenggarakan Seminar Perempuan yang Krusial“Bersegera Menegakkan KhilafahUntuk Melindungi Para PerempuanMulia Syam” (http://hizbut-tahrir.or.id/2013/04/17/hizbut-tahrir-menyelenggarakan-seminar-perempuan-yang-krusial-bersegera-menegakkan-khilafah-untuk-melindungi-para-perempuan-mulia-syam/)
Kantor Media PusatNo : 1434 AH /43 | Sabtu, 04 Jumada Al-Thani|1434 AH14-04-2013 CEPress releaseHizbut Tahrir Menyelenggarakan Seminar Perempuan yang Krusial:“Bersegera Menegakkan Khilafah UntukMelindungiPara Perempuan Mulia Syam Dengan dukungan ulama Ushul Fiqhterkemuka, politisi ulung, dan pemikir ternama Ata Ibnu Khalil Abu Arrashtah, Amir Hizbut Tahrir, Hizbut Tahrir akanmenyelenggarakan seminar perempuanyang sangat …
Release (http://hizbut-tahrir.or.id/category/muslimah/release-muslimah/)Reportase (http://hizbut-tahrir.or.id/category/muslimah/reportase/)Telaah Kritis (http://hizbut-tahrir.or.id/category/muslimah/telaah-kritis/)
 
20/04/13 RUU JPH: Upaya Melindungi Masyarakat Atau Legalisasi Proyek Bermotif Uang? | Hizbut Tahrir Indonesiahizbut-tahrir.or.id/2013/04/20/ruu-jph-upaya-melindungi-masyarakat-atau-legalisasi-proyek-bermotif-uang/?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_ca… 2/6
Wanadi, pengusaha ini mengaku kecewa dengan RUU ini yang menurutnya hanya akanmembatasi investasi. Pengaturan ini bahkan dirasakannya sangat mengerikan. Sementaraitu kelompok liberal menganggap RUU yang tengah digarap itu sangat berbau sektariandan hanya mengakomodir kepentingan sebagian golongan. Lebih jauh, RUU ini dianggapbertentangan dengan pembukaan UUD 1945, yang melindungi seluruh bangsa Indonesia.(Hidayatullah.com 9/9/2009).Sebagian masyarakat bahkan ada juga yang menuduh bahwa selama ini telah terjadiupaya monopoli labelisasi halal oleh satu pihak, dalam hal ini Lembaga PengkajianPangan Obat-obatan dan Makanan (LPPOM) MUI yang sudah menangani layanansertifikasi halal selama 20 tahun. Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) bahkan menolakkesepakatan bersama yang telah dibuat oleh ormas-ormas Islam untuk menyerahkanwewenang kepada LPPOM MUI sebagai lembaga pemberi sertifikasi halal. ISNUmenganggap monopoli oleh LPPOM MUI memungkinkan terjadinya penyalahgunaankewenangan atau komersialisasi pemberian sertifikat halal sebuah produk. Dan untukmengantisipasi hal itu, saat ini Pengurus besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah mendirikanBadan Halal Nahdlatul Ulama (BHNU) yang memiliki fungsi menerbitkan fatwa halal untukproduk makanan, obat-obatan, maupun kosmetik. (Republika, 28/2/2013). Meskipun ketuaPBNU menyatakan bahwa BHNU bukan untuk menyaingi keberadaan LPPOM MUI danhanya untuk melayani para produsen dan konsumen internal NU, namun tetap sajakeberadaan BHNU akan menimbulkan kebingungan di masyarakat terkait standar halalyang harus diikuti.
Pemerintah Lalai, Masyarakat Dirugikan
Sebagai negeri dengan mayoritas penduduknya beragama Islam wajar saja jika selama inimasyarakat resah dengan banyak beredarnya makanan dan minuman yang tidak terjaminkehalalannya. Berdasarkan hasil survei MUI yang diumumkan Januari 2010, di Indonesiaada 30 ribu produk makanan dan minuman yang beredar, dan dari jumlah itu hanya 30%yang mencantumkan label halal, 70 % sisanya adalah subhat. (Republika,22/2/2010).Tidak adanya sanksi dari pemerintah bagi produsen yang tidak mencantumkan label halalpada produknya membuat mereka tidak merasa harus mengupayakan mendapatkansertifikasi halal. Bahkan ada pula produsen yang mencantumkan sendiri label halal padaproduknya tanpa merasa perlu mengurus sertifikasi halal yang memerlukan biaya untukmendapatkannya. Masalah biaya memang banyak dikeluhkan oleh para produsen.Selama ini biaya pembuatan sertifikasi halal yang diajukan ke LPPOM MUI berkisar antara Rp. 250 ribu hingga Rp 5 juta tergantung tingkat kesulitan produk untuk diteliti. Tarif itu hanya untuk biaya penelitian, sementara biaya transportasi, honorarium dan lainnyasemua ditanggung oleh pihak produsen yang mengajukan permohonan sertifikasi.Meskipun pihak LPPOM membebaskan biaya bagi pengusaha kecil yang memohonsertifikasi, tetap saja tarif sebesar itu dianggap memberatkan sehingga membuat banyakprodusen enggan mengajukan permohonan.(detikfinance, 14/01/2013) 
 
20/04/13 RUU JPH: Upaya Melindungi Masyarakat Atau Legalisasi Proyek Bermotif Uang? | Hizbut Tahrir Indonesiahizbut-tahrir.or.id/2013/04/20/ruu-jph-upaya-melindungi-masyarakat-atau-legalisasi-proyek-bermotif-uang/?utm_source=feedburner&utm_medium=feed&utm_ca… 3/6
Sifat pendaftaran kehalalan produk yang bersifat sukarela dan tidak diwajibkan ini telahdimanfaatkan oleh sebagian produsen nakal yang tidak bertanggung jawab. Kasus-kasusberedarnya bahan makanan haram semisal penjualan daging sapi yang dicampur dengandaging babi yang terjadi akhir-akhir ini adalah contoh dari lemahnya jaminan produk halalyang ditetapkan oleh pemerintah. Selain itu di masa perdagangan bebas saat ini,derasnya arus impor pangan dari luar semakin membuat masyarakat resah karena tidakadanya kewajiban bagi pihak importir untuk mencantumkan halal tidaknya produk mereka.Di lain pihak, berkembangnya teknologi di bidang industri makanan dan pertanian jugamembuat masyarakat bingung dengan kehalalan dan keamanan dari produk-produknya.Tidak banyak masyarakat yang paham kehalalan dari beraneka ragam bahan tambahanpangan buatan seperti lesitin, gelatin, pewarna sintetis, dan lain-lain yang semua itumemerlukan penetapan khusus dari para ahli. Sebagaimana yang pernah terjadi padaproduk impor dari Cina yang memasukkan bahan melamin ke dalam susu bubuk bayi. Apalagi ditambah dengan beredarnya produk-produk pangan hasil rekayasa genetik dipasaran yang tidak diketahui masalah keamanannya maupun kehalalannya olehmasyarakat.Keresahan masyarakat yang terus memuncak mendorong masyarakat untuk terusmendesak pemerintah mengesahkan RUU JPH. RUU ini seakan menjadi harapansebagian besar masyarakat muslim di negeri ini untuk bisa mengonsumsi pangan yanghalal dan thoyyib setelah sebelumnya,UU Perlindungan Konsumen bahkan UU Panganyang baru saja direvisi tidak banyak dirasakan implementasinya. Sebagaimana yangdisampaikan oleh Ibu Ir. Tien Gartini, M.Si. yang bertugas di Direktorat Inspeksi danSertifikasi Pangan BPOM RI. Menurut beliau, para pelaku yang ditemukan telahmemproduksi makanan tidak thoyib dapat dikenai sanksi berdasarkan UU Pangan, yaitukurungan lima tahun penjara atau denda 600 juta. Sedangkan berdasarkan UUPerlindungan Konsumen didenda kurungan enam tahun penjara atau denda dua miliar.Namun dalam kenyataannya pelanggar sering hanya dikenai denda Rp 150 ribu. Tidaklahmengherankan kita dapat menemukan banyak sekali produk berbahaya, utamanya produkimpor, beredar di masyarakat.(hizbut-tahrir.or.id, 7/11/2008).Dengan demikian bisa dibayangkan, bila untuk masalah keamanan pangan sajapemerintah saat ini telah begitu lalai apalagi di ranah kehalalan pangan. Sehingga takheran jika masyarakat begitu berharap banyak terhadap RUU JPH. Sayangnya, parapengambil kebijakan seakan tidak mampu menghadapi perlawanan pihak-pihak yang tidakmenginginkan disahkannya RUU JPH ini. Konflik yang terjadi di antara pengambilkebijakan sarat dengan motif kepentingan di antara para pengusaha dan penguasa yangtidak amanah. Fokus terhadap tugas penguasa sebagai pelayan umat telah luntur digantidengan upaya mencari keuntungan sebesar-besarnya bagi negara (baca:penguasa). Tidakada lagi pelayanan yang utuh diberikan oleh penguasa saat ini bagi masyarakat tanpadibarengi dengan upaya mencari keuntungan. Sementara rakyat harus terus hidup denganrasa was-was atas kehalalan makanan yang mereka konsumsi karena tidak ada yangmenjamin.
Masyarakat berhak atas Jaminan Pangan yang Halal, Thoyyib dan Terjangkau.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->