Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Sosiolog Prancis Tepis Anggapan Jilbab Simbol Penindasan

Sosiolog Prancis Tepis Anggapan Jilbab Simbol Penindasan

Ratings: (0)|Views: 2|Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on Apr 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/25/2015

pdf

text

original

 
20/04/13Sosiolog Prancis Tepis Anggapan Jilbab Simbol Penindasan - Syariah Publicationssyariahpublications.com/2012/10/17/sosiolog-prancis-tepis-anggapan-jilbab-simbol-penindasan/1/3
Search...
 
0
Comments4 views
Suka0
TweetTweet
0Edited by
faridmALSO WROTE
Perempuan Sejahtera danMulia dengan KhilafahBenarkah Islam Hanya Agama, Bukan Ideologi?Kesalahan Logika IdrusRamli, Bantahan atas BukuJurus Ampuh MembungkamHTIMEMBUAT SEPATU DARIKULIT BABIMengatasi Gugup SaatMengisi Kajian
Sosiolog Prancis Tepis Anggapan JilbabSimbol Penindasan
By FARIDM - Wed Oct 17, 2:47 am
Surabaya.
Hasil penelitian Anne Francoise Guttinger DeAterhadap Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia menepis anggapanBarat dan kaum feminis yangselama ini menyatakan bahwa jilbab simbol penindasansehingga bila ingin dikatakanmodern harus menanggalkan jilbab.“Justru dengan jilbab, kalian(Muslimah HTI, red)menunjukkan modernitas. Bisamengekspr esikanide. Paling berani keluar danmenyuarakan ide. Inilah modernitas,” ujar  Sosiolog asal Prancis tersebutsaat mengungkapkan hasil penelitiannya dalam acara
Open House Muslimah HTI 
, Ahad (14/10) di Gedung Dakwah HTI Jawa Timur. Anne yakin desertasinya yang berjudul
New Voice of Women in Indonesia
bisa memberikan wacana yang berbedatentang Muslimah di negara-negara Barat khususnya Prancis yang hanya menganggap jilbab sebagai simbolpenindasan dari pria yang mengatasnamakan agama. Sehingga perempuan harus memilih antara agama ataugender.Namun, Muslimah HTI menunjukkan perempuan Islam tidak perlu memilih salah satu antara keduanya. Karenamereka mampu menangkap Islam sebagai agama yang mendudukan gender secara proporsional. Walhasil,Muslimah menutup aurat mampu berbicara politik, mengkritik pemerintah, mencerdaskan masyarakat dan berjuanguntuk syariah tanpa meninggalkan perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.
Mengamati Tiga Tahun
Penelitian berawal dari ketertarikan Anne pada sebuah artikel di media massa tiga tahun silam yang memberitakansekelompok wanita Indonesia yang berkerudung putih dan jilbab hitam terkait UU Pornografi. “Berpakaian hitamputih, membawa bendera dan menentang pornografi,” kenang Anne menceritakan awal mengenal Muslimah HTI.Sejak saat itu, bukan saja tertarik untuk mengetahui lebih lanjut, tetapi ia malah menjadikan Muslimah HTIsebagai objek penelitian untuk meraih gelar doktoral (PhD) di Ehess University, Prancis.Ketertarikannya dengan Muslimah HTI ternyata mengantarkan Anne pada gambaran lain tentang Muslimah yangselama ini lebih banyak diberikan para feminis bahwa Muslimah berjilbab merupakan bentuk penindasan, berbicarapolitik ataupun syariah hanyalah milik kaum pria.“Karena saya dari Barat, saya hanya dengar suara feminis. Tapi disini (Indonesia), saya temukan bukan hanyasatu suara. Tapi banyak wacana tentang Islam yang bisa bersaing dengan (suara) feminis. Ini sesuatu yang baru,”ungkapnya di hadapan puluhan peserta open house.
Home»Muslimah»Aktualita» Sosiolog Prancis Tepis Anggapan Jilbab Simbol Penindasan
02:09 pm - Saturday 20 April 2013
HomeArtikelBeritaKeluargaKisahKonsultasiMultimediaMuslimahOpiniResensiSastraTeknologi
The NewsPulseSign InStay ConnectedEntries RSSComments RSS
Search for:
 Search
Shopping Cart
Your shopping cart is emptyVisit the shop
Recent Posts
 Alhamdulillah, Facebook dan Twitter Resmi Amir Hizbut Tahrir al ‘Alim ‘Atha bin Kholil Abu AlRasytah DiluncurkanSoal Miss World: Jangan Biarkan Jabar MakinLiberalNasionalisme Vs Ukhuwah Islamiyah Aborsi Mengancam GenerasiPaskah Bukan Ajaran YesusDin: Muhammadiyah Tolak RUU Ormas
 
20/04/13Sosiolog Prancis Tepis Anggapan Jilbab Simbol Penindasan - Syariah Publicationssyariahpublications.com/2012/10/17/sosiolog-prancis-tepis-anggapan-jilbab-simbol-penindasan/2/3
0
Comments(No Ratings Yet)4 views
Suka0
TweetTweet
0
HTI: Hingga 2012, Perempuan MasihDieksploitasiPeran Muslimah dalam MewujudkanGenerasi BerkualitasKiprah Politik Perempuan
Sebelum 3 tahun lalu, Anne memang sempat meneliti singkat tentang Muslimah NU dan Asiyah Muhammadiyah.Tapi, Muslimah HTI rupanya dipandang Anne lebih unik dengan aktifitas, pemikiran dan cara berpakaiannya.Dari situ, Anne mulai banyak mengenal Muslimah HTI. Anne mengaku Muslimah HTI sebuah gerakan yang unikdan menjadi fenomena baru. Anne bahkan sempat menganggap bahwa Muslimah HTI adalah gerakan feminis.“Apakah ini modernitas, apakah ini gerakan feminis? Apakah Muslimah HTI gerakan sosial atau partai politik?”pertanyaan yang berputar di benak Anne di awal-awal penelitian.Kemudian secara intensif Anne mengamati kegiatan Muslimah HTI terutama di Surabaya dan Jakarta. Dalamberbagai acara, Anne melihat diskusi dan debat yang diusung Muslimah HTI tidak bersifat patriarki, sifat yangselama ini dihembuskan feminis untuk menggambarkan kondisi kaum perempuan yang dikuasai pria. “Ketikadipaksa di dalam rumah, itu masuk konsep patriarki. Sehingga Muslimah HTI bukan patriarki dengan segalamacam aktifitasnya,” tegasnya.Karena dari pengamatannya selama lebih dari dua tahun, perempuan khususnya Muslimah berbicara tentangsyariah tapi juga sekaligus menjadi ibu dan manajer rumah tangga. “Ada pembagian sektor publik dan privat dalamdunia Muslimah. Mereka bisa melakukan tugas rumah tapi juga beraktifitas di tengah-tengah masyarakat,”ungkapnya.Muslimah HTI juga memilki profil yang berbeda dari perempuan pada umumnya. Tidak hanya pelajar dan dosenyang bisa menjadi anggotanya. Tapi semua kalangan. Kesadaran berpolitik para Muslimahnya sangat tinggi.“Menentang kapitalisme, liberalisme dan sekulerisme sangat aktif dilakukan,” bebernya. Anne melihat Muslimah HTI sebagai basis identitas kolektif HTI, berperan penting bagi kemajuan sosial sebuahperadaban. Perempuan sebagai ibu dan pendidik generasi punya peran sangat penting dalam perjuanganmenegakkan kembali khilafah.
(Mediaumat.com, 17/10/2012)Related posts
Jilbab dan Khimar, Busana Muslimah dalam Kehidupan Sehari-HariJilbab, Antara Gaya dan Rekonstruksi DiriJilbab Tidak Sama dengan KerudungMembiasakan Anak Berjilbab Sejak Kecilcoded bynessus
More on Aktualita
Kasus HIV/AIDS pada Ibu Rumah Tangga di Bali Meningkat
Kiprah Politik PerempuanWaspadai Rezim Represif Berkedok PancasilaIslam Menghapus Kekerasan Terhadap AnakMeninjau Ulang Keindonesiaan KitaRibuan Wanita Suriah Dibunuh dan DiperkosaTerungkap: Mata Rantai Pusat-pusatPenyiksaan Irak dengan PentagonPosisi Geografis Global Kaum Muslim YangStrategis Harus Menjadi Kekuatan PendorongUntuk Mendirikan Kembali Khilafah RasyidahJubir HTI: “Bantahan Mabes Polri terhadapVideo Itu tidak Mengurangi Arti Kekerasan Aparat”Ormas Islam serukan Bubarkan Densus 88 Astagfirullah, Muslim Rohingya Makan Tikusuntuk Bertahan HidupRakyat Suriah Runtuhkan Patung Ayah Bashar al-Assad Setelah Para Pejuang Memasuki KotaRaqqaRaib 33 tahun, tentara Soviet menetap di AfghanistanBuku: Kritik Hizbut Tahrir Terhadap UUD Mesir Wanita Iran di Stockholm Lepas BajuMenentang Hijab

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->