Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
8Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
I03_Beny Jambi_Kajian Identifikasi dan Klasifikasi Tingkat Kerusakan Lahan Akibat Kebakaran Hutan dengan Teknik PJ dan SIG

I03_Beny Jambi_Kajian Identifikasi dan Klasifikasi Tingkat Kerusakan Lahan Akibat Kebakaran Hutan dengan Teknik PJ dan SIG

Ratings:

3.43

(7)
|Views: 1,889 |Likes:
Published by BENY
KAJIAN IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI TINGKAT
KERUSAKAN LAHAN AKIBAT KEBAKARAN HUTAN
DENGAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN SIG
Lahan bekas kebakaran berakibat kurangnya unsur hara, hilangnya humus atau
bahan organik dari tanah serta rusaknya sifat fisik dan kimia tanah bagi pertumbuhan
tanaman. Pemanfaatan kembali lahan tersebut sesuai dengan peruntukkan semula
diperlukan tenggang waktu lama dan pengolahan tanah yang memadai. Kajian ini
dimaksudkan untuk melihat permasalahan lahan dan identifikasi penyebab kebakaran
juga tingkat kerusakannya.
Lokasi penelitian terletak di Kota Jambi Propinsi Jambi, berdasarkan indeks
peta rupa bumi skala 1:25.000 sampai 1:50.000, kota Jambi terletak pada koordinat
103o 30’ 00” BT - 104o 45’ 00” BT dan 1o 15’ 00” LS - 2o 00’ 00” LS. Pada lahan bekas
kebakaran dideteksi dengan menggunakan empat citra yaitu 2 dari citra Landsat
(Landsat 1,2,3 satu skene dan Landsat TM satu kwadran) serta 2 citra NOAA.
Kondisi lokasi Jambi pada kawasan dan diluar kawasan hutan sebagian besar
bergambut. Daerah bergambut berjenis tanah Organosol (Histosols) dan Glei humus
dengan tebal solum diatas 200 cm. Sedangkan pada tanah an-organik (mineral)
sebagian besar berjenis tanah Podsolik Merah Kuning (Ultisols).
Fisiografi lahan dengan topografi datar (0-8%) yang berdekatan dengan laut.
Sebagian besar daratan bertopografi berombak sampai berbukit (8-25%). Ketinggian
tempat antara 0 - 75 m dpl (dari permukaan laut). Curah hujan berkisar antara 2000 -
2500 mm/th dengan tipe iklim A menurut Schimdt dan Ferguson.
Daerah yang terbakar di Jambi seluas 19.306,07 ha, meliputi kawasan hutan
6.673,27 ha dan diluar kawasan hutan 12.632,80 ha. Kawasan hutan yang terbakar
termasuk didalamnya hutan lindung (500 ha), hutan produksi (5.417,27 ha), taman
nasional (572 ha), dan taman hutan raya (130 ha). Selanjutnya diluar kawasan hutan
yang terbakar meliputi Perkebunan (7.211,80 ha), Transmigrasi (1.464 ha), dan Lahan
masyarakat (3.457 ha).
Asal api kebakaran dimungkinkan dari beberapa sebab, antara lain : Ladang
masyarakat, Pembakaran dalam rangka pembersihan badan jalan, Penebangan kayu liar
atau perambah hutan, Percikan dari perkebunan yang berbatasan, Menyala tiba-tiba
tanpa sebab yang jelas, Bukaan peladang (berpindah), dan Pembakaran disengaja.Pemantauan atau deteksi kondisi lahan bekas terbakar dengan menggunakan
citra satelit akan semakin akurat jika dipenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
• menggunakan citra satelit yang terbaru.
• menggunakan citra satelit yang pengambilan gambarnya dilakukan pada musim
panas (bulan April sampai September).
• relatif sedikit distorsi gangguan atmosfer (awan, hujan dll) atau pada batas yang
masih dapat ditolerir ( Kanal 2 pada Landsat TM tahun 1992 merupakan kanal dinamis yang dapat
memantau obyek muka bumi secara sempurna, walaupun masing-masing kanal memiliki
kepekaan yang berbeda. Sedangkan citra Landsat TM tahun 1997 untuk kanal 6 dan
kanal 3 merupakan kanal yang dinamis untuk memantau daerah rawan terbakar dan
penutupan vegetasi.
Hasil klasifikasi berbantuan menunjukkan bahwa kondisi Jambi taun 1992 dan
1997 sebagian besar lahan pertanian (25 % dan 38 %) dan selanjutnya hutan sekunder
(41,4 % dan 32,7 %). Perbedaan pada kondisi tahun 1992 dan 1997 untuk Hutan primer
dan Semak belukar. Dimana semak belukar meningkat atau bertambah dari 15,6 %
menjadi 21,3 %. Sedangkan hutan primer dari tahun 1992 ke 1997 menurun dari 17,6 %
menjadi 7,9 %. Hal tersebut mengindikasikan adanya penebangan kayu pada hutan
primer besar-besaran dan selanjutnya ditinggalkan merana menjadi semak belukar
tanpa ada pengelolaan lebih lanjut.
Prosentase besarnya lokasi yang terbakar berat yaitu sebesar 19% (79.864 ha),
terbakar ringan 38% (159.728 ha), dan tidak terbakar 43% (180.744 ha). Prosentase
kerusakan menyebar atau pada daerah yang mengalami kebakaran berat, hanya terjadi
pada daerah gambut. Selanjuntnya Kampung, Gambut, Tegal dan Hutan masingmasing
KAJIAN IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI TINGKAT
KERUSAKAN LAHAN AKIBAT KEBAKARAN HUTAN
DENGAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN SIG
Lahan bekas kebakaran berakibat kurangnya unsur hara, hilangnya humus atau
bahan organik dari tanah serta rusaknya sifat fisik dan kimia tanah bagi pertumbuhan
tanaman. Pemanfaatan kembali lahan tersebut sesuai dengan peruntukkan semula
diperlukan tenggang waktu lama dan pengolahan tanah yang memadai. Kajian ini
dimaksudkan untuk melihat permasalahan lahan dan identifikasi penyebab kebakaran
juga tingkat kerusakannya.
Lokasi penelitian terletak di Kota Jambi Propinsi Jambi, berdasarkan indeks
peta rupa bumi skala 1:25.000 sampai 1:50.000, kota Jambi terletak pada koordinat
103o 30’ 00” BT - 104o 45’ 00” BT dan 1o 15’ 00” LS - 2o 00’ 00” LS. Pada lahan bekas
kebakaran dideteksi dengan menggunakan empat citra yaitu 2 dari citra Landsat
(Landsat 1,2,3 satu skene dan Landsat TM satu kwadran) serta 2 citra NOAA.
Kondisi lokasi Jambi pada kawasan dan diluar kawasan hutan sebagian besar
bergambut. Daerah bergambut berjenis tanah Organosol (Histosols) dan Glei humus
dengan tebal solum diatas 200 cm. Sedangkan pada tanah an-organik (mineral)
sebagian besar berjenis tanah Podsolik Merah Kuning (Ultisols).
Fisiografi lahan dengan topografi datar (0-8%) yang berdekatan dengan laut.
Sebagian besar daratan bertopografi berombak sampai berbukit (8-25%). Ketinggian
tempat antara 0 - 75 m dpl (dari permukaan laut). Curah hujan berkisar antara 2000 -
2500 mm/th dengan tipe iklim A menurut Schimdt dan Ferguson.
Daerah yang terbakar di Jambi seluas 19.306,07 ha, meliputi kawasan hutan
6.673,27 ha dan diluar kawasan hutan 12.632,80 ha. Kawasan hutan yang terbakar
termasuk didalamnya hutan lindung (500 ha), hutan produksi (5.417,27 ha), taman
nasional (572 ha), dan taman hutan raya (130 ha). Selanjutnya diluar kawasan hutan
yang terbakar meliputi Perkebunan (7.211,80 ha), Transmigrasi (1.464 ha), dan Lahan
masyarakat (3.457 ha).
Asal api kebakaran dimungkinkan dari beberapa sebab, antara lain : Ladang
masyarakat, Pembakaran dalam rangka pembersihan badan jalan, Penebangan kayu liar
atau perambah hutan, Percikan dari perkebunan yang berbatasan, Menyala tiba-tiba
tanpa sebab yang jelas, Bukaan peladang (berpindah), dan Pembakaran disengaja.Pemantauan atau deteksi kondisi lahan bekas terbakar dengan menggunakan
citra satelit akan semakin akurat jika dipenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
• menggunakan citra satelit yang terbaru.
• menggunakan citra satelit yang pengambilan gambarnya dilakukan pada musim
panas (bulan April sampai September).
• relatif sedikit distorsi gangguan atmosfer (awan, hujan dll) atau pada batas yang
masih dapat ditolerir ( Kanal 2 pada Landsat TM tahun 1992 merupakan kanal dinamis yang dapat
memantau obyek muka bumi secara sempurna, walaupun masing-masing kanal memiliki
kepekaan yang berbeda. Sedangkan citra Landsat TM tahun 1997 untuk kanal 6 dan
kanal 3 merupakan kanal yang dinamis untuk memantau daerah rawan terbakar dan
penutupan vegetasi.
Hasil klasifikasi berbantuan menunjukkan bahwa kondisi Jambi taun 1992 dan
1997 sebagian besar lahan pertanian (25 % dan 38 %) dan selanjutnya hutan sekunder
(41,4 % dan 32,7 %). Perbedaan pada kondisi tahun 1992 dan 1997 untuk Hutan primer
dan Semak belukar. Dimana semak belukar meningkat atau bertambah dari 15,6 %
menjadi 21,3 %. Sedangkan hutan primer dari tahun 1992 ke 1997 menurun dari 17,6 %
menjadi 7,9 %. Hal tersebut mengindikasikan adanya penebangan kayu pada hutan
primer besar-besaran dan selanjutnya ditinggalkan merana menjadi semak belukar
tanpa ada pengelolaan lebih lanjut.
Prosentase besarnya lokasi yang terbakar berat yaitu sebesar 19% (79.864 ha),
terbakar ringan 38% (159.728 ha), dan tidak terbakar 43% (180.744 ha). Prosentase
kerusakan menyebar atau pada daerah yang mengalami kebakaran berat, hanya terjadi
pada daerah gambut. Selanjuntnya Kampung, Gambut, Tegal dan Hutan masingmasing

More info:

Categories:Types, Research
Published by: BENY on Mar 28, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2014

 
DEPARTEMEN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN
 
BALAI TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI
 Alamat : Jl. Ahmad-Yani Pabelan PO.BOX. 295 Surakarta. 57102
BTPDAS09 34.503 2000
 
LAPORAN
KAJIAN IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI TINGKATKERUSAKAN LAHAN AKIBAT KEBAKARAN HUTANDENGAN TEKNIK PENGINDERAAN JAUH DAN SIGPENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGIPENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAIKAWASAN BARAT INDONESIA1999/2000
 
 
 ii
KAJIAN IDENTIFIKASI DAN KLASIFIKASI TINGKATKERUSAKAN LAHANAKIBAT KEBAKARAN DENGAN TEKNIKPENGINDERAAN JAUH DAN SIG
 Oleh :Beny Harjadi, C.Nugroho, S.P. dan Teguh SetiajiRINGKASAN
 Lahan bekas kebakaran berakibat kurangnya unsur hara, hilangnya humus ataubahan organik dari tanah serta rusaknya sifat fisik dan kimia tanah bagi pertumbuhantanaman. Pemanfaatan kembali lahan tersebut sesuai dengan peruntukkan semuladiperlukan tenggang waktu lama dan pengolahan tanah yang memadai. Kajian inidimaksudkan untuk melihat permasalahan lahan dan identifikasi penyebab kebakaran juga tingkat kerusakannya. Lokasi penelitian terletak di Kota Jambi Propinsi Jambi, berdasarkan indeks peta rupa bumi skala 1:25.000 sampai 1:50.000, kota Jambi terletak pada koordinat 103
o
30’ 00” BT - 104
o
45’ 00” BT dan 1
o
15’ 00” LS - 2
o
00’ 00” LS. Pada lahan bekaskebakaran dideteksi dengan menggunakan empat citra yaitu 2 dari citra Landsat (Landsat 1,2,3 satu skene dan Landsat TM satu kwadran) serta 2 citra NOAA.Kondisi lokasi Jambi pada kawasan dan diluar kawasan hutan sebagian besar bergambut. Daerah bergambut berjenis tanah Organosol (Histosols) dan Glei humusdengan tebal solum diatas 200 cm. Sedangkan pada tanah an-organik (mineral)sebagian besar berjenis tanah Podsolik Merah Kuning (Ultisols).
 
Fisiografi lahan dengan topografi datar (0-8%) yang berdekatan dengan laut.Sebagian besar daratan bertopografi berombak sampai berbukit (8-25%). Ketinggiantempat antara 0 - 75 m dpl (dari permukaan laut). Curah hujan berkisar antara 2000 -2500 mm/th dengan tipe iklim A menurut Schimdt dan Ferguson. Daerah yang terbakar di Jambi seluas 19.306,07 ha, meliputi kawasan hutan6.673,27 ha dan diluar kawasan hutan 12.632,80 ha. Kawasan hutan yang terbakar termasuk didalamnya hutan lindung (500 ha), hutan produksi (5.417,27 ha), tamannasional (572 ha), dan taman hutan raya (130 ha). Selanjutnya diluar kawasan hutan yang terbakar meliputi Perkebunan (7.211,80 ha), Transmigrasi (1.464 ha), dan Lahanmasyarakat (3.457 ha). Asal api kebakaran dimungkinkan dari beberapa sebab, antara lain : Ladangmasyarakat, Pembakaran dalam rangka pembersihan badan jalan, Penebangan kayu liar atau perambah hutan, Percikan dari perkebunan yang berbatasan, Menyala tiba-tibatanpa sebab yang jelas, Bukaan peladang (berpindah), dan Pembakaran disengaja.
 
 
 iii
Pemantauan atau deteksi kondisi lahan bekas terbakar dengan menggunakancitra satelit akan semakin akurat jika dipenuhi beberapa syarat sebagai berikut :
 
menggunakan citra satelit yang terbaru.
 
menggunakan citra satelit yang pengambilan gambarnya dilakukan pada musim panas (bulan April sampai September).
 
relatif sedikit distorsi gangguan atmosfer (awan, hujan dll) atau pada batas yangmasih dapat ditolerir ( < 10%).
 
Kanal 2 pada Landsat TM tahun 1992 merupakan kanal dinamis yang dapat memantau obyek muka bumi secara sempurna, walaupun masing-masing kanal memilikikepekaan yang berbeda. Sedangkan citra Landsat TM tahun 1997 untuk kanal 6 dankanal 3 merupakan kanal yang dinamis untuk memantau daerah rawan terbakar dan penutupan vegetasi. Hasil klasifikasi berbantuan menunjukkan bahwa kondisi Jambi taun 1992 dan1997 sebagian besar lahan pertanian (25 % dan 38 %) dan selanjutnya hutan sekunder (41,4 % dan 32,7 %). Perbedaan pada kondisi tahun 1992 dan 1997 untuk Hutan primer dan Semak belukar. Dimana semak belukar meningkat atau bertambah dari 15,6 %menjadi 21,3 %. Sedangkan hutan primer dari tahun 1992 ke 1997 menurun dari 17,6 %menjadi 7,9 %. Hal tersebut mengindikasikan adanya penebangan kayu pada hutan primer besar-besaran dan selanjutnya ditinggalkan merana menjadi semak belukar tanpa ada pengelolaan lebih lanjut.Prosentase besarnya lokasi yang terbakar berat yaitu sebesar 19% (79.864 ha),terbakar ringan 38% (159.728 ha), dan tidak terbakar 43% (180.744 ha). Prosentasekerusakan menyebar atau pada daerah yang mengalami kebakaran berat, hanya terjadi pada daerah gambut. Selanjuntnya Kampung, Gambut, Tegal dan Hutan masing-masing telah mengalami kebakaran pada tingkat ringan dan sedang yaitu sebesar :Kampung (22% dan 6%), Gambut (8% dan 14%), Tegal (9% dan 12%) serta Hutan (4%dan 6%).
 
Kata Kunci
: Kebakaran, Citra Landsat, GIS, Gambut, Hutan, Klasifikasi Citra
 

Activity (8)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Imam Bukhori liked this
Arief Budiman liked this
masdinxxx liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->