• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
2Konsep dan Struktur Metropolitan
D
EFINISI DAN
S
TRUKTUR 
M
ETROPOLITAN
 
Kota atau kawasan metropolitan merupakan perwujudan perkembangan yang alamiahdari suatu permukiman perkotaan yang berkembang sangat pesat. Perkembangantersebut menyebabkan jumlah penduduk dan luas wilayah yang sangat besar, dengankarakteristik dan persoalan yang spesifik. Oleh karenanya, suatu kota atau kawasanmetropolitan memerlukan pengelolaan tersendiri dalam hal pemecahan persoalan yangdihadapi, penyediaan prasarana dan layanan perkotaan, serta pengelolaan pembangunannya. Istilah metropolitan pertama kali digunakan secara resmi berkenaandengan skala dan pola pertumbuhan kota yang sangat cepat di Amerika. Perubahanfundamental dalam cara hidup Amerika ini dikenali pada awal abad ke-20 ketika BiroSensus [Amerika] pada tahun 1910 secara resmi memperkenalkan istilah
Metropolitan Districts
ke dalam sistem klasifikasi wilayahnya (Goheen, dalam Bourne, ed. 1971).Metropolitan selalu menghadapi persoalan-persoalan bukan saja karena besarnya jumlah penduduk, tetapi juga karena karakternya yang berbeda dengan kota bukanmetropolitan. Persoalan-persoalan yang dihadapi dalam pengelolaan dan pembangunankota atau kawasan metropolitan di negara maju pun sudah cukup kompleks, apalagi dinegara-negara sedang berkembang seperti Indonesia. Secara umum orang mengartikanmetropolitan sebagai suatu kota besar yang berhubungan dengan kehidupan modern,kehidupan kota -bukan pertanian- yang kompleks. Pengertian seperti ini memang tidak salah namun agak sulit dipakai jika suatu kebijakan teknis akan diimplementasikan padakota metropolitan. Pertanyaaan yang muncul biasanya adalah apa ketentuan pembentukan kota atau kawasan metropolitan? Berapa besar penduduknya? Bagaimanakarakternya? Bagaimana pengukurannya? Bagaimana kelembagaan pengelolaannya?Mendefinisikan kawasan metropolitan bukan merupakan tugas yang mudah.Metropolitan tidak bisa dengan mudah didefinisikan hanya berdasarkan jumlah penduduk saja, karena ada kota yang mempunyai penduduk lebih kecil tetapimempunyai luas wilayah yang besar; ada kota dengan penduduk lebih besar mempunyai
 
Metropolitan di Indonesia
14
luas kota yang lebih kecil, dan ada pula kota-kota dengan penduduk lebih kecil tetapimempunyai sifat kekotaan yang mencolok.Dalam kerangka seperti itu, bagian ini akan membahas definisi metropolitan yaitudengan: pertama, membahas sejarah penggunaan kata dan terbentuknya metropolitan;kedua, membahas ciri-ciri metropolitan; ketiga, menjelaskan struktur metropolitan; dandi akhir merumuskan definisi metropolitan.
 Sejarah Penggunaan Istilah dan Terbentuknya Metropolis
Kata metropolitan atau metropolis (metropolitan sebagai kata sifat, metropolis sebagaikata benda) telah banyak digunakan untuk menunjukkan berbagai realita perkotaan yang berbeda-beda. Apakah sebetulnya yang dimaksud dengan metropolitan atau metropolisini? Apabila dikaji dari sudut pandang historis dan leksikal (
etimology
), istilahmetropolis berasal dari bahasa Yunani Kuno, yakni berasal dari kata
meter 
yang berartiibu dan kata
 polis
yang berarti kota (Wackermann, 2000). Pada masa itu, secara harafiah,metropolis dapat diartikan sebagai “kota ibu” yang memiliki kota-kota satelit sebagaianak, namun dapat juga berarti pusat dari sebuah kota, sebuah kota-negara (
city-state
),atau sebuah propinsi di kawasan Mediterania, sehingga dapat dikatakan juga bahwa padamasa itu istilah “metropolis” memiliki konotasi yang berkaitan dengan
 fatherland 
.Hingga saat ini konotasi tersebut masih digunakan, istilah
Metropolitan France
misalnyamengacu pada bagian dari Republik Perancis yang berada di Eropa, yakni daratanPerancis dan Korsika sebagai
mother country
, di samping wilayah-wilayah di luar itusebagai bekas koloni yang bergabung dalam Republik Perancis. Istilah metropolitan jugadikatakan sebagai berasal dari kata
“metro”
yang mengambil kata dari sistem“perkereta-apian ringan” (
light train system
) di wilayah perkotaan. Kebutuhan sistemtransportasi perkotaan tersebut adalah akibat dari pertumbuhan kota yang sudahmempunyai sistem
“commuter”
penduduk perkotaan, misal dari kota-kota
“dormitory”
 ke kota induknya.
“The metropolitan area is created by combining those counties whichare integrated in terms of commuting with the central city and the county in which it lies.”
(Bourne, 1971, hal. 15)Istilah metropolis juga digunakan untuk:
“to denote the central city in ametropolitan area”
(Bergel, 1955, hal. 121-131). Secara statistik, Bourne (1971,
 Internal Structure of The City,
hal. 50) mengindikasikan dalam suatu definisi bagi istilahmetropolitan yang dikategorikan dalam dua pertimbangan utama:
First 
 , a city or cities of specified population to constitute the central city and todefine the county in which it is located as the central county; and 
second 
 , economicand social relationships with contiguous counties which are metropolitan incharacter, so that the periphery of the specific metropolitan area may bedetermined”
Setelah Perang Dunia Kedua, istilah metropolis seringkali digunakan sebagai katayang sinonim dengan istilah “ibu kota”. Baru pada akhir tahun 1970 an istilah inimenjadi objek pendekatan keilmuan untuk mengkaji ledakan pertumbuhan perkotaan, perluasan kawasan perkotaan, dan migrasi perkotaan. Secara cepat istilah ini kemudian berkembang menjadi istilah yang berkaitan dengan kajian penemuan kembali danrehabilitasi dari pusat kota dan aglomerasi perkotaan modern (Wackermann, 2000).
 
 Konsep dan Struktur Metropolitan
15
Sejak awal 1980 an penggunaan pendekatan keilmuan dalam mempelajarifenomena metropolitan menjadi semakin berkembang. Tetapi para ilmuwan danorganisasi-organisasi perencanaan lebih banyak memperhatikan perkembangan kawasan-kawasan metropolitan daripada menyusun definisi yang tepat bagi fenomena ini.Wackermann (2000) mengutip Michela Paal menyebutkan bahwa kurangnya bahan akandefinisi metropolitan ini nampak dari penjelasan akan arti kata tersebut di Kamus danEnsiklopedia Webster, yang hingga tahun 2003 tidak membahas arti dari kata metropolisdi luar konteks sebagai ibu kota sebuah negara atau pusat utama dari aktivitas penting disuatu wilayah. Di tahun 1989, Gottmann mendefinisikan
modern metropolis
sebagai
thelargest and most complex artifact that humankind has ever produced 
. Beberapa tahunsetelah itu, di tahun 1991, Jean Bastie dan Bernard Dezert menyusun definisi darimetropolis modern yang didasarkan dari fungsi sebuah kota, yakni bahwa definisisebuah metropolis:-
 
Tidak selalu ditentukan oleh ukuran demografik, dapat saja ukurannya ditentukanoleh faktor yang lebih penting dari ukuran kuantitatif populasinya-
 
Dicirikan oleh sistem infrastruktur komunikasi dan transportasi yang melayani pergerakan
commuting 
, aliran informasi, dan pengambilan keputusan.-
 
Sebagai pusat aktivitas keuangan di tingkat atas.-
 
Sebagai pusat berkumpulnya perusahaan-perusahaan internasional.-
 
Sebagai pusat kekuatan politik dan administrasi dari sebuah negara.-
 
Sebagai tempat pengembangan atau penggunaan teknologi tinggi dantelekomunikasi canggih.-
 
Sebagai tempat penting aktivitas-aktivitas budaya dan ilmiah.-
 
Sebagai tempat tujuan wisata internasional.
 
-
 
Sebagai pusat fungsional tenaga kerja dan perumahan.
 
Seorang pakar perkotaan, Angotti (1993) berpendapat bahwa sebuah metropolis bukan saja sebuah kota yang sangat besar, tetapi juga sebuah bentuk baru darimasyarakat, lebih besar, lebih kompleks dan memiliki peran kekuasaan yang lebihsentral, baik dari sisi ekonomi, politik, maupun budaya. Kota-kota industri abad 19 lebihtepat disebut sebagai pendahulu dari kota-kota metropolis yang menjadi karakteristik dari kota-kota abad 20. Sebuah metropolis adalah ekspresi urban di dunia yang salingterkait pada banyak fungsi sosial budaya dan ekonomi transnasional dan internasional.Menurut Angotti metropolis menawarkan pertumbuhan dan akumulasi dari potensi- potensi yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah. Namun Angotti juga berpendapat bahwa sebuah kota yang berpenduduk lebih darisatu juta dapat dikategorikan sebagai kota metropolitan. Ukuran demografik inididukung oleh Meijer (1993) yang berpendapat bahwa sebuah metropolis dicirikan oleh besaran penduduknya, yang juga mencirikan pusat-pusat di Eropa. Blumenfeld (1971)menjelaskan metropolis sebagai sebuah pusat permukiman dengan penduduk palingsedikit 500.000 jiwa, namun dia menganjurkan ukuran minimum satu juta jiwa bagikota-kota di Amerika Utara. Ekistic (Doxiadis 1968) mengartikan metropolis sebagai
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...