Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Syahwat Kekuasaan Demokrasi

Syahwat Kekuasaan Demokrasi

Ratings: (0)|Views: 0|Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on Apr 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/14/2014

pdf

text

original

 
[102] Syahwat Kekuasaan Demokrasi
Monday, 22 April 2013 19:26 
Sejumlah kantor pemerintahan di Kota Palopo diSulawesi Selatan hangusdilalap api, Ahad (31/3).Kebakaran ini bukan karena hubungan arus pendeklistrik, tapi akibat kemarahan massa pendukungpasangan calonwalikota/wakil walikota yang kalahdalam pemilihan umum kepala daerah (pemilukada)langsung.Kekecewaan massa itu dilampiaskan dengan melemparkan bom molotov keKantor Walikota Palopo. Tidak hanya itu, gedung-gedung perkantoranlainnya tak luput dari amuk massa. Fasilitas miliknegara itu pun luluh lantak. Banyak pihak menyayangkan kenapa peristiwa itubisa terjadi. Mengapa aparat keamanan tidakmengantisipasinya? Bukankah kerusuhan-kerusuhansebagai buntut pilkada sudah sering terjadi? Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun menyatakanseharusnya kerusuhan Palopo itu bisa dicegah.Untung saja, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu. Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi mengatakan,pemerintah akan mengevaluasi kegiatan pemilukada secara langsung.Berdasarkan catatan Kemendagri, pemilukada langsung yang dilaksanakan se jak tahun 2005 belakanganmenimbulkan dampak kerusuhan. Akibatnya 50 orang tewas dalam sejumlah aksi unjuk rasa dan kerusuhanusai pilkada langsung sejak saat itu.Kerusuhan di Palopo ini menjadi bukti kesekian kalinya wajah bopeng demokrasi. Demokrasi yang membukaruang selebar-lebarnya bagi semua orang berkompetisi untuk meraih kursi terbukti tidak mampumengendalikan syahwat kekuasaan itu sendiri.Di era serba materialistik ini, kekuasaan identik dengan kekayaan. Dengan kekuasaan, harapannya kekayaanakan didapatkan. Maka, para pemburu kekuasaan akan berkorban untuk mendapatkan kursi kekuasaan itumeski harus mengeluarkan sumber daya yang besar. Toh ini sah-sah saja dalam alam demokrasi.Mereka bisa memperoleh modal itu dari kantongnya sendiri atau dari pihak sponsor. Dan itu tidak sedikit.Mendagri menyebutkan, seorang calon kepala daerahbisa mengeluarkan uang puluhan hingga ratusan milyar untuk biaya kampanye pemilukada. Artinya, sebelum dapat jabatan, uang harus sudah dikeluarkan. Apakah ituuang dari kantong sendiri—biasanya minim—atau dari sponsor—ini yang dominan.Di sinilah yang jadi persoalan. Ketika modal sudah dikeluarkan, ternyata jabatan tidak didapatkan. Amarahyang datang. Sementara syahwat kekuasaan kadung mengawang-awang.Begitu pula yang dialami tim sukses dan pendukungnya, yang biasanya mereka pun dijanjikan jabatan ataukompensasi lainnya. Begitu, calon yang didukung kalah, mereka marah. Segala macam dihantam, tak peduliitu miliki negara. Mereka kecewa karena syahwat kekuasaannya tak tersalurkan.Sebenarnya itu tak perlu terjadi jika sistem di negeri ini tidak latah. Seolah yang dipilih langsung oleh rakyat itulebih bagus. Seolah otonomi daerah itu baik. Seolah mandiri dari kekuasaan pusat itu membawa rahmat.Seolah kebaikan itu ada dalam setiap pelaksanaan demokrasi di semua lini.Patut diketahui, demokrasi telah menjadikan orang ‘kehilangan’ keimanannya. Karena demokrasi memangtidak diperuntukkan untuk mewujudkan keimanan itu dalam tataran praktis. Sebaliknya, demokrasimenuhankan syahwat manusia meraih apa yang diimpikannya, dengan caranya sendiri. Bisa dibayangkan apayang terjadi jika calon pemimpin diliputi syahwat kekuasaan di alam demokrasi ini?Secara sunnatullah, jabatan adalah sesuatu yang sangat menggiurkan setiap manusia. Di sanaterdapat kamasyhuran, ketenaran, kehormatan dan kemapanan sosial ekonomi. Wajarlah ketika RasulullahSAW menyebutkan bahwa tidaklah dua ekor srigala lapar yang dilepas kepada kerumunan kambing lebihmerusak agama daripada ambisi seseorang terhadap harta dan jabatan.” (HR. Tirmidzi). Maka tidak jarangambisi seseorang terhadap jabatan menutupi akal sehatnya, termasuk melupakan ketentuan agamanya.Dari sisi ini, sistem demokrasi akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang gila jabatan, harta, dan kekuasaan. Alih-alih memikirkan rakyat, mereka hanya memikirkan dirinya sendiri. Mereka menjadikan jabatannya sebagailadang mendapatkan segalanya. Korupsi, manipulasi, dan sejenisnya menjadi hal yang biasa.Walhasil, tidak ada yang bisa diharapkan dari sistem demokrasi seperti ini. Selain dari sisi negara, adapemborosan uang rakyat hanya untuk memilih seorang pemimpin yang belum jelas kemampuannya dankeamanahanna roduk emimin an lahir dari sistem ini tidak akan membawa umat ke arah an diridhai
SEARCHSEBARKAN ARTIKEL INI:RUBRIK MEDIA UMAT
search...
Search
  Anjangsana AspirasiBisnis SyariahCerminEditorialEkonomiFokusHeadline NewsHikmahKonsultasiKristologiMancanegaraMedia DaerahMedia Nasional
HomeTentang KamiDaftar AgenKontakDownload
TABLOID MEDIA UMAT
MediaUmat
Join the conversationMediaUmat[102] Syahwat KekuasaanDemokrasi: Sejumlah kantor pemerintahan diKota Palopo di Sulawesi Selatan hangus dila...bit.ly/124fh3h
3 hours ago·reply·retweet·favorite
MediaUmat[102] Tolak RUU Ormas: Bukannyalepas dari nuansa otoriter seperti UUsebelumnya, RUU ini justru mirip dengan...bit.ly/13N9UJz
3 hours ago·reply·retweet·favorite
MediaUmat[102] Pancasila di Zaman Orba AlatNegara Menindas Rakyat: Pemerintah Orde Barumengeluarkan UU No 8 tahun 19...bit.ly/13N9SBr
3 hours ago·reply·retweet·favorite
MediaUmat[102] Hukum Menjadi Dropshipper:Tanya : Ustadz, mohon dijelaskan hukummenjadi dropshipper? (Ummu Kultsum, Ja...bit.ly/124feED
3 hours ago·reply·retweet·favorite

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->