Materials," applied and Environmental Microbiology, Vol. 58, No: 2, Feb. 1992.)
Selain itu para pemakai kondom semakin mudah terinfeksi atau menularkan karena selama proses pembuatankondom terbentuk lubang-lubang.
(Rubber Chemistry and Technology, Vol. 62, No:4, Sep.-Okt.1989).
Terlebih lagi kondom sensitif terhadap suhu panas dan dingin,
(Vesey, W.B., HLI Reports, Vol.9, pp. 1-4, 1991.)
sehingga 36-38% sebenarnya tidak dapat digunakan.
Dengan demikian, alih-alihsebagai pencegah, kondom justru mempercepat penyebaran HIV/AIDS. Hal ini terbukti adanya peningkatan laju infeksi sehubungan dengan penggunaan kondom 13-27% lebih.
(Weller S, Davis K.Condom effectiveness in reducing heterosexual HIV transmission (Cochrane Review). In: TheCochrane Library, Issue 2,. Chichester, John Wiley & Sons. UK, 2004)
Di AS, kampanye kondomisasi yang dilaksanakan sejak tahun 1982 bahkan terbukti menjadi bumerang. Hal ini dikutip oleh Hawari, D (2006) dari pernyataan H. Jaffe (1995), dari PusatPengendalian Penyakit Amerika Serikat (US:CDC:United State Center of Diseases Control).Evaluasi yang dilakukan pada tahun 1995 amat mengejutkan, karena ternyata kematian akibat penyakit AIDS menjadi peringkat no 1 di AS, bukan lagi penyakit jantung dan kanker.
Selain itu,kondom memang dirancang hanya untuk mencegah kehamilan, itupun dengan tingkat kegagalanmencapai 20%.Meskipun secara empiris dan kajian ilmiah telah nampak irrasionalnya strategi ini namunhingga sekarang strategi ini masih dianggap dan dinyatakan sebagai satu-satunya strategi pencegahan penularan HIV-AIDS yang terbukti efektif. Sebagaimana dinyatakan dalam StranasPenanggulangan HIV-AIDS 2007-2010.
b.Subsitusi Metadon dan Pembagian Jarum Suntik Steril
Penyebaran HIV/AIDS karena penggunaan jarum suntik secara bergantian dikalangan IDUyang sangat cepat akhir-akhir ini, dijadikan sebagai alasan untuk men-sahkan tindakan memberikan jarum suntik steril dan subsitusi metadon bagi penyalahguna NARKOBA suntik.Saat ini, strategi subsitusi metadon dalam bentuk Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM)dan pembagian jarum suntik steril telah menjadi salah satu layanan di rumah-rumah sakit, puskesmas-puskemas dan di klinik-klinik VCT (
voluntary Counseling and Testing)
.
DepKesmenyediakan 75 rumah sakit untuk layanan CST (
Care Support and Treatmen
),
tercatat 18Puskesmas percontohan, 260 unit layanan VCT yang tersebar di seluruh Indonesia.Melalui layanan ini, para penasun (pengguna NARKOBA suntik) dapat dengan mudahmemperoleh jarum suntik dan metadon dengan harga cukup murah, yaitu sekitar Rp7500/butir. Kehidupan para penasun yang lebih teratur, tidak melakukan tindak kriminal selaludiopinikan untuk membenarkan upaya ini. Namun benarkah upaya ini akan mengurangi risiko penularan HIV/AIDS? Jawabannya jelas tidak. Mengapa?Subsitusi adalah mengganti opiat (heroin) dengan zat yang masih merupakan sintesis danturunan opiat itu sendiri, misalnya metadon, buphrenorphine HCL, tramadol, codein dan zat lainsejenis.
Subsitusi pada hakekatnya tetap membahayakan, karena semua subsitusi tersebut tetap akanmenimbulkan gangguan mental, termasuk metadon. (Hawari, D. , 2004) Selain itu metadon tetapmemiliki efek adiktif. (Bagian Farmakologi. FK. UI. Jakarta.2003) Sementara itu mereka yangterjerumus pada penyalahgunaan NARKOBA termasuk para IDU pada hakikatnya sedangmengalami gangguan mental organik dan perilaku, dimana terjadi kehilangan kontrol diri yang berikutnya menjerumuskan para pengguna NARKOBA dan turunannya tersebut pada perilaku seks bebas. Perilaku seks bebas pada pasien yang mendapat terapi subsitusi metadon juga diakui olehdokter yang berkerja pada salah satu program terapi rumatan metadon di Bandung.
Sementara itusudah kita ketahui, seks bebas merupakan media penularan terpenting HIV/AIDS.Adapun pemberian jarum suntik steril kepada penasun agar terhindar dari penularanHIV/AIDS, jelas merupakan strategi yang sangat absurd. Ketika seorang pemakai sedang
’on’
atau
’fly’
karena efek narkoba suntik tersebut mungkinkah masih memiliki kesadaran untuk tidak mau berbagi jarum dengan teman ’senasib sepenanggungannya’?! Di saat seperti itu, masihkah merekamemiliki kesadaran yang bagus tentang bahaya berbagi jarum suntik bersama, padahal pada saatyang sama mereka sudah lupa (baca: tidak sadar lagi) bahwa memakai narkoba suntik sebagaimanayang mereka lakukan sekarang, dengan atau tanpa berbagi jarum suntik, adalah hal yangmembahayakan kesehatannya?! Lagi pula, sudah menjadi hal yang dipahami bahwa mereka-merekayang sudah terlanjur ’terperangkap’ dalam jerat gaya hidup yang rusak ini biasanya memiliki rasakebersamaan dan solidaritas yang sangat tinggi dengan teman-temannya sesama pemakai. Daritemanlah mereka pertama kali mengenal narkoba, dan bersama teman jugalah mereka kemudian bersama-sama berpesta narkoba. Hal ini dibuktikan oleh tingginya angka kekambuhan akibat2
Leave a Comment