• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
KESALAHAN PARADIGMA; AWAL KEGAGALAN PENANGANANEPIDEMI HIV-AIDS DI DUNIA (DAN INDONESIA)Faizatul Rosyidah
Selama triwulan Januari s.d. Maret 2008 telah terdapat tambahan 727 kasus AIDS dan 64 pengidapinfeksi HIV, dengan kematian 121orang. Ini berarti Secara kumulatif pengidap infeksi HIV dankasus AIDS sejak 1 Juli 1987 s.d. 31 Maret 2008, berjumlah 17998 terdiri dari 6130 HIV dan 11868 AIDS, dengan kematian 2486 orang.Sumber : Ditjen PPM & PL Depkes RI (dilapor Maret 2008)
Berbagai langkah dan strategi –pada berbagai level- sudah dilakukan untuk mengendalikan danmenghilangkan epidemi HIV/AIDS ini dari dunia. Namun ternyata hingga kini ’perang melawanHIV/AIDS’ ini tidak juga berhasil kita menangkan. Alih-alih berkurang atau minimal stagnanthingga diharapkan kelak menjadi hilang –dengan kematian para penderitanya- , ternyata justru jumlah penderita HIV/AIDS ini bertambah dari tahun ke tahun.Apa yang salah dari kebijakan penanganan epidemi HIV/AIDS selama ini?
Paradigma Sekuler-Liberal dalam Strategi Penanggulangan HIV-AIDS
Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia secara umum mengadopsi strategi yang digunakanoleh UNAIDS dan WHO. Kedua lembaga internasional ini menetapkan beberapa langkah penanggulangan HIV/AIDS dengan beberapa area prioritas. Karena penyakit ini hingga sekarang belum ada obatnya, maka area pencegahan adalah salah satu prioritas yang harus dilakukan.Diantara program-program yang masuk dalam area pencegahan pada Strategi NasionalPenanggulangan HIV-AIDS adalah: kondomisasi, Subsitusi Metadon dan Pembagian Jarum Suntik Steril. Upaya penanggulangan HIV/AIDS versi UNAIDS ini telah menjadi kebijakan nasional yang berada di bawah koordinasi KPAN.
a.Kondomisasi
 Kondomisasi (100% kondom) sebagai salah satu butir dari strategi nasional tersebut telahditetapkan sejak tahun 1994 hingga sekarang. Kampanye pengunaan kondom awalnya dipopulerkanmelalui kampanye ABCD. ABCD, yaitu A:abstinentia; B:be faithful; C:condom dan D:no Drug.Saat ini kampanye penggunaan kondom semakin gencar dilakukan melalui berbagai media,seperti buklet-buklet, melalui station TV nasional, seminar-seminar, penyebaran pamflet- pamflet dan stiker dengan berbagai macam slogan yang mendorong penggunaan kondom untuk 
 safe sex
’ dengan
‘dual protection’ 
(melindungi dari kehamilan tak diinginkan sekaligus melindungidari infeksi menular seksual).Kampanye kondom tak jarang dilakukan dengan membagi-bagikan kondom secara gratis ditengah-tengah masyarakat seperti mall-mall dan supermarket. Kampanye tentang kondom pun telahmasuk ke perguruan tinggi dan sekolah-sekolah. Terakhir, demi memperluas cakupan sasaran penggunaan kondom (utamanya para ABG/remaja yang masih segan kalau harus membeli diapotik), kini telah diluncurkan program ATM (Anjungan Tunai Mandiri) kondom. Cukup denganmemasukkan 3 koin lima ratus perak, maka akan keluar 3 boks kondom dengan 3 rasa.Apakah kondomisasi ini berhasil memutus mata rantai penularan HIV-AIDS? Kenyataan berbicara bahwa kondomisasi ini tidak terbukti mampu mencegah penyebaran HIV/AIDS. Di saat budaya kebebasan seks tumbuh subur, ketaqwaan yang kian tipis (bahkan mungkin tidak ada), kultur yang kian individualistis, kontrol masyarakat semakin lemah, kemiskinan yang kian menghimpitmasyarakat, maraknya industri prostitusi, dan ketika seseorang tidak lagi takut dengan ancaman’azab’ Tuhan, melainkan lebih takut kepada ancaman penyakit mematikan ataupun rasa malu karenahamil di luar nikah, maka kondomisasi dengan propaganda dual proteksinya jelas akan membuatmasyarakat semakin berani, ’nyaman dan aman’ melakukan perzinahan. Sekalipun sebenarnyakondisi ’nyaman dan aman’ tersebut adalah semu.Mengapa bersifat semu? Karena selain seks bebas akan tetap dimurkai Allah swt –dan kelak tetap mengundang adzab-Nya- meskipun menggunakan kondom, ternyata kondom sendiri terbuktitidak mampu mencegah transmisi HIV.
 
Hal ini karena kondom terbuat dari bahan dasar latex (karet),yakni senyawa hidrokarbon dengan polimerisasi yang berarti mempunyai serat dan berpori-pori.Dengan menggunakan mikroskop elektron, terlihat tiap pori berukuran 70 mikron, yaitu 700 kalilebih besar dari ukuran HIV-1, yang hanya berdiameter 0,1 mikron
. (Lytle, C. D., et al., "FiltrationSizes of Human Immunodeficiency Virus Type 1 and Surrogate Viruses Used to Test Barrier 
1
 
Materials," applied and Environmental Microbiology, Vol. 58, No: 2, Feb. 1992.)
Selain itu para pemakai kondom semakin mudah terinfeksi atau menularkan karena selama proses pembuatankondom terbentuk lubang-lubang.
(Rubber Chemistry and Technology, Vol. 62, No:4, Sep.-Okt.1989).
Terlebih lagi kondom sensitif terhadap suhu panas dan dingin,
(Vesey, W.B., HLI Reports, Vol.9, pp. 1-4, 1991.)
sehingga 36-38% sebenarnya tidak dapat digunakan.
 
Dengan demikian, alih-alihsebagai pencegah, kondom justru mempercepat penyebaran HIV/AIDS. Hal ini terbukti adanya peningkatan laju infeksi sehubungan dengan penggunaan kondom 13-27% lebih.
(Weller S, Davis K.Condom effectiveness in reducing heterosexual HIV transmission (Cochrane Review). In: TheCochrane Library, Issue 2,. Chichester, John Wiley & Sons. UK, 2004)
Di AS, kampanye kondomisasi yang dilaksanakan sejak tahun 1982 bahkan terbukti menjadi bumerang. Hal ini dikutip oleh Hawari, D (2006) dari pernyataan H. Jaffe (1995), dari PusatPengendalian Penyakit Amerika Serikat (US:CDC:United State Center of Diseases Control).Evaluasi yang dilakukan pada tahun 1995 amat mengejutkan, karena ternyata kematian akibat penyakit AIDS menjadi peringkat no 1 di AS, bukan lagi penyakit jantung dan kanker.
 
Selain itu,kondom memang dirancang hanya untuk mencegah kehamilan, itupun dengan tingkat kegagalanmencapai 20%.Meskipun secara empiris dan kajian ilmiah telah nampak irrasionalnya strategi ini namunhingga sekarang strategi ini masih dianggap dan dinyatakan sebagai satu-satunya strategi pencegahan penularan HIV-AIDS yang terbukti efektif. Sebagaimana dinyatakan dalam StranasPenanggulangan HIV-AIDS 2007-2010.
b.Subsitusi Metadon dan Pembagian Jarum Suntik Steril
 Penyebaran HIV/AIDS karena penggunaan jarum suntik secara bergantian dikalangan IDUyang sangat cepat akhir-akhir ini, dijadikan sebagai alasan untuk men-sahkan tindakan memberikan jarum suntik steril dan subsitusi metadon bagi penyalahguna NARKOBA suntik.Saat ini, strategi subsitusi metadon dalam bentuk Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM)dan pembagian jarum suntik steril telah menjadi salah satu layanan di rumah-rumah sakit, puskesmas-puskemas dan di klinik-klinik VCT (
voluntary Counseling and Testing)
.
 
DepKesmenyediakan 75 rumah sakit untuk layanan CST (
Care Support and Treatmen
),
 
tercatat 18Puskesmas percontohan, 260 unit layanan VCT yang tersebar di seluruh Indonesia.Melalui layanan ini, para penasun (pengguna NARKOBA suntik) dapat dengan mudahmemperoleh jarum suntik dan metadon dengan harga cukup murah, yaitu sekitaRp7500/butir. Kehidupan para penasun yang lebih teratur, tidak melakukan tindak kriminal selaludiopinikan untuk membenarkan upaya ini. Namun benarkah upaya ini akan mengurangi risiko penularan HIV/AIDS? Jawabannya jelas tidak. Mengapa?Subsitusi adalah mengganti opiat (heroin) dengan zat yang masih merupakan sintesis danturunan opiat itu sendiri, misalnya metadon, buphrenorphine HCL, tramadol, codein dan zat lainsejenis.
 
Subsitusi pada hakekatnya tetap membahayakan, karena semua subsitusi tersebut tetap akanmenimbulkan gangguan mental, termasuk metadon. (Hawari, D. , 2004) Selain itu metadon tetapmemiliki efek adiktif. (Bagian Farmakologi. FK. UI. Jakarta.2003) Sementara itu mereka yangterjerumus pada penyalahgunaan NARKOBA termasuk para IDU pada hakikatnya sedangmengalami gangguan mental organik dan perilaku, dimana terjadi kehilangan kontrol diri yang berikutnya menjerumuskan para pengguna NARKOBA dan turunannya tersebut pada perilaku seks bebas. Perilaku seks bebas pada pasien yang mendapat terapi subsitusi metadon juga diakui olehdokter yang berkerja pada salah satu program terapi rumatan metadon di Bandung.
 
Sementara itusudah kita ketahui, seks bebas merupakan media penularan terpenting HIV/AIDS.Adapun pemberian jarum suntik steril kepada penasun agar terhindar dari penularanHIV/AIDS, jelas merupakan strategi yang sangat absurd. Ketika seorang pemakai sedang
’on’ 
atau
’fly’ 
karena efek narkoba suntik tersebut mungkinkah masih memiliki kesadaran untuk tidak mau berbagi jarum dengan teman ’senasib sepenanggungannya’?! Di saat seperti itu, masihkah merekamemiliki kesadaran yang bagus tentang bahaya berbagi jarum suntik bersama, padahal pada saatyang sama mereka sudah lupa (baca: tidak sadar lagi) bahwa memakai narkoba suntik sebagaimanayang mereka lakukan sekarang, dengan atau tanpa berbagi jarum suntik, adalah hal yangmembahayakan kesehatannya?! Lagi pula, sudah menjadi hal yang dipahami bahwa mereka-merekayang sudah terlanjur ’terperangkap’ dalam jerat gaya hidup yang rusak ini biasanya memiliki rasakebersamaan dan solidaritas yang sangat tinggi dengan teman-temannya sesama pemakai. Daritemanlah mereka pertama kali mengenal narkoba, dan bersama teman jugalah mereka kemudian bersama-sama berpesta narkoba. Hal ini dibuktikan oleh tingginya angka kekambuhan akibat2
 
 bujukan teman-teman. Dan biasanya setiap pemakai memiliki
 peer group
dengan anggota 9-10orang.
 
Dalam kondisi lemahnya ketaqwaan, himpitan ekonomi yang semakin berat, jaringan mafianarkoba yang kuat, siapa yang bisa menjamin bahwa para pelayan penasun tidak akan “bermainmata” dengan para mafia narkoba? Bukankah bisnis haram ini menjanjikan untung yangmengiurkan? Dan bukankah ini justru membiarkan penasun sebagai penyalah guna NARKOBA?Siapakah yang bisa melakukan pengawasan 24 jam terhadap penasun, sehingga penasun dapatdipastikan akan menggunakan jarum sendiri?Dengan demikian, memberikan jarum suntik meskipun steril, di tengah-tengah jeratan mafia NARKOBA sama saja menjerumuskan anggota masyarakat kepada penyalahgunaan NARKOBA. Terlebih lagi, para pengguna narkoba ini tetap berisiko terjerumus pada perilaku seks bebas akibat kehilangan kontrol, meskipun mereka telah menggunakan jarum suntik steril.Dari sini, telah jelas bahwa penanggulangan HIV/AIDS melalui kondomisasi, subsitusimetadon dan pembagian jarum suntik steril sebenarnya tidak realistis dan tidak rasional. Kedua perilaku (
 free sex
dan penyalagunaan NAPZA) yang kita semua sudah sepakat menyebutnyasebagai ’penyimpangan perilaku’ sebenarnya menunjukkan kesepakatan yang seharusnya kita ambil bahwa sebuah penyimpangan adalah kesalahan. Sebuah penyimpangan atau kesalahan adalahsesuatu yang harus kita luruskan dan kembalikan kepada jalan yang benar. Pembenaran terhadapsebuah penyimpangan perilaku/kesalahan meniscayakan munculnya kerusakan. Sehingga upayayang kita lakukan seharusnya
all out 
dalam mengupayakan pelurusan terhadap penyimpangan yangterjadi, sembari menutup celah ’muncul dan terpeliharanya’ penyimpangan perilaku tadi di tengah-tengah masyarakat.Ketidaktegasan strategi ini untuk menjadikan perilaku seks bebas dan penyalahgunaannarkoba sebagai suatu tindakan menyimpang, salah dan harus diluruskan, menunjukkan dengansangat jelas bahwa paradigma yang melandasi strategi ini adalah
paradigma sekuler dan liberal
.Dikatakan
sekuler
karena paradigma ini berupaya menjauhkan pengaturan kehidupan dunia dariagama atau sebaliknya. Sehingga standard untuk menilai apapun (termasuk perbuatan manusia) bukanlah halal-haram, baik-buruk ataupun terpuji-tercela sebagaimana yang diajarkan oleh agama,melainkan ’kemanfaatan (yang lebih bersifat fisik/materi)’ lah yang dijadikan ukuran sebuah perbuatan itu baik atau buruk, dilakukan atau ditinggalkan, dibolehkan atau dilarang. Dikatakan
liberal
karena paradigma ini menjadikan kebebasan individu (termasuk didalamnya kebebasanseksual) sebagai hal yang diagung-agungkan, dan harus dijamin oleh negara secara mutlak atasnama hak asasi manusia. Tidak ada yang membatasi kebebasan individu ini kecuali kebebasanindividu yang lain. Dan tugas negara adalah menjadi penjamin atas terpenuhinya semua kebebasanindividu tadi. Inilah yang meniscayakan negara pengusung liberalisme senantiasa mengambilkebijakan yang bersifat ’jalan tengah’. Sebagai contoh, pada sistem sekuler-liberal kita tidak bolehmelarang seseorang merokok dengan alasan itu bisa merusak kesehatannya. Karena sehat dansakitnya seseorang adalah hak pribadi dia untuk menentukan dan memilih. Akan tetapi kita bisamelarang seseorang merokok karena hal itu (asap rokok yang dia hisap) bisa merusak kesehatankita, sementara bernafas dengan bebas tanpa kekhawatiran sakit akibat asap rokok seseorang adalahhak pribadi kita yang mana orang lain juga tidak boleh melanggarnya. Maka ketika pemenuhanterhadap dua kebebasan ini meniscayakan terjadinya benturan kepentingan, di titik inilah negaraakan turun tangan dengan melakukan kebijakan ’jalan tengah’nya untuk menjamin dua kebebasanindividu tadi. Yakni dengan menetapkan di area mana seseorang bebas merokok dan tidak,mensyaratkan setiap upaya mengiklankan rokok harus digandeng dengan peringatan waspadairokok, tanpa harus menutup pabrik rokoknya. Contoh lain adalah perilaku seksual ini. Dalam paradigma sekuler-liberal, kita tidak boleh melarang seseorang untuk tidak bergonta-ganti pasanganatau membatasi orientasi seksualnya agar tidak kepada sesama jenis dengan alasan hal itu adalah perbuatan menyimpang dan akan menyebabkan dia beresiko terkena infeksi menular seksual.Karena sekali lagi kebebasan seksual ini adalah bagian dari kebebasan individu yang harus dijamin.Gampangnya, seseorang mau jadi ’rusak’ atau tidak, baik atau menyimpang adalah hak asasi dia(kebebasan dia untuk memilih) yang harus kita hargai dan hormati dengan tidak memaksakan pilihan kita kepada dia. Akan tetapi kita boleh keberatan dengan perilaku seks bebas seseorangtersebut kalau kita merasa terganggu. Misalnya, kita merasa risih melihat aktivitas seks bebastersebut di tengah lalu lintas yang membuat konsentrasi kita terganggu. Maka dalam keadaan duahak kebebasan ini meminta jaminan pemenuhan, sementara kalau dibiarkan meniscayakan adanya benturan, maka negara akan turun tangan dengan kebijakan ’jalan tengah’nya. Dalam hal inikebijakan yang mungkin diambil adalah menetapkan dimana area seseorang boleh melakukan
 free
3
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...