Secara bahasa zakat berarti tumbuh, bersih, berkembang dan berkah. Sedangkan sacara syar\u2019i ialah kadar harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang tertentu untuk dioberikan kepada yang berhak sesuai dengan ketentuan syara\u2019, yang di dalam al-Qur\u2019an terkadang disebut juga dengan istilah shodaqoh dan infaq.
Zakat merupakan wujud dari kepedulian masyarakat Islam terhadap sesama muslim yaitu \u201etakaful dan tadhomun\u201c (rasa sepenanggunagan). (QS. At-Taubah : 71)
Allah SWT hanya akan memberikan pertolongan-Nya kepada hamba-Nya yang mematuhi ajaran-Nya, dan diantara ajaran Allah SWT adalah berzakat. (QS. Al- Hajj : 39-40)
Demikian kokoh kedudukan zakat dalam Islam, sehingga pantas kalau Allah SWT mengancam orang yang tidak menunaikannya dengan ancaman yang keras di dunia dan di akhirat.
Pada periode ini perintah zakat masih bersifat mutlaq tanpa ada ketentuan yang rinci, ayat-ayat yang turun tidak dalam bentuk perintah, namun dalam bentuk berita. (QS. Al-Mukminun : 4)
Oleh karena itu Ulama sepakat, bahwa yang dimaksud zakat pada periode Makkah adalah zakat mutlaq yang tidak terikat dengan jumlah tertentu baik dalam nishabnya atau kadar zakat yang harus dikeluarkannya.
Pada periode ini ayat dan hadits tentang kewajiban zakat secara rinci telah diturunkan yaitu pada tahun 2 H, dan zakat pada periode ini langsung ditangani oleh tim khusus yang bertugass mengambil zakat dari kaum muslimin sebagai realisasi dari firman Allah SWT dalam surat at-Taubah ayat 103, bahkan zakat pada periode ini sudah merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat Islam, hal
Pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq, muncul sebuah gerakan yang disebut dengan: \u201cHARAKATURRIDDAH\u201d yang anggota-anggotanya tidak mau bahkan mengingkari kewajiban zakat dan pada saat itu Abu Bakar mengambil sikap tegas yaitu memerangi mereka.
Pada awalnya sebagian sahabat tidak menyetujui sikap beliau terutama Umar bin Khottob ra., namun setelah Abu Bakar menjelaskan permasalahannya dan urgensi zakat dalam Islam barulah Umar tahu dan menyadari bahwa sikap Abu Bakar yang benar, Umar pun akhirnya berkomentar: \u201cDemi Allah, tidak mungkin Abu Bakar mengambil sikap ini kecuali Allah telah melapangkan dadanya untuk memerangi, maka aku mengerti bahwa sikap itu benar\u201d dan dalam hal ini Abu Bakar memberikan penyataan yang teas:\u201dDemi Allah, akan aku perangi mereka-mereka yang membedakan antara sholat dan zakat, karena zakat adalah hak harta, demi Allah, seandainya mereka melarang aku untuk mengeluarkan zakat domba kecil yang pada masa Rasulullah saw ditunaikan, niscaya akan aku perangi mereka\u201d (lihat kisah selengkapnya dalam buku Naiul Author IV/119)
Secara global zakat dalam Islam diklasifikasikan kepada dua jenis ; yaitu Zakat Maal (zakat harta kekayaan) dan Zakat Nafs (zakat fitrah), dengan perincian sebagai berikut :
11. Halal
12. Kepemilikan penuh
13. Mencapai nishob
14. Berumur satu tahun (khusus untuk harta poin 1a, b dan c)
15. Bebas hutang
16. Kelebihan dari kebutuhan pokok minimal
17. Berkembang atau berpotensi untuk berkembang
Adalah zakt yang wajib dikeluarkan oleh setiap muslim atas nama dirinya dan yang di bawah tanggung jawabnya, pada setiap menjelang Idul Fitri, bila pada dirinya ada kelebihan makanan untuk hari tersebut dan malamnya.
27. Orang kaya
28. orang yang mampu bekerja
29. Orang kafir yang memerangi
30. Orang atheis
31. orang murtad
32. Ahludzimmah
33. Istri, Bapak/Ibu ke atas dan anak ke bawah
34. Keluarga Nabi Muhammad saw
(tiga) komponen, yaitu :
35. Aghniyak (Muzakki), yang merupakan sumber pendapatan zakat
36. Amil, yang merupakan badan pengelola zakat
37. Mustahiq, yang merupakan pihak yang berhak menerima zakat
Fungsi Amil :
38. Mengambil zakat dari Muzakki
39. Menyalurkan zakat kepada Mustahiq
40.Kondisi Muzakki paham dan sadar akan kewajiban dan kedudukan zakat dalam Islam, untuk itu diperlukan adanya penyuluhan secara terus menerus kepada masyarakat khususnya para Muzakki.
Leave a Comment