Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
195Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
HAKIKAT MANUSIA

HAKIKAT MANUSIA

Ratings:

5.0

(4)
|Views: 17,401 |Likes:
Published by Pristiadi Utomo
Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan seni hidup terasa indah, dengan iman hidup menjadi terarah.
Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan seni hidup terasa indah, dengan iman hidup menjadi terarah.

More info:

Published by: Pristiadi Utomo on Mar 29, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/16/2013

pdf

text

original

 
HAKIKAT MANUSIA
BAGIAN SATUMENJADI MUSLIM SEJATI
 Brainstorming :1.Untuk Apa Beragama?2.Agama Sebagai Candu Masyarakat 3.Segala Yang Ada : Materi.4.Tuhan, Hasil Rekayasa Pikiran?5.Tuhan Telah Mati?6.Manusia Sebagai Makhluk Pencari Kebenaran.7.Metodologi Ilmiah Paling Baik?8.Siapakah Pencipta Alam Semesta? Pelurusan :1.Manusia, Makhluk yang Lemah2.Fungsi Berfikir pada Manusia.3.Kelemahan Metode Ilmiah4.“X” power dalam penciptaan alam semesta5.Existensi Tuhan
1
 
Bab Satu
Agama dan Tuhan, Pandangan Kaum Atheis
Apa yang anda pikirkan, yang menjadi orientasi dalam kehidupan anda saat ini, cara pandang mengenai diri dan masyarakat, mengenai hidup dan kehidupan dalam semuaaspek, sangat dipengaruhi oleh paradigma yang anda ikuti dan berlaku dalam masyarakat.Bagaimana paradigma yang berlaku dan diikuti sebagian besar orang dalam suatumasyarakat, secara umum bisa kita cermati dalam logika stereotip yang bisa kitadiskusikan dalam buku ini.
1.Untuk Apa Beragama ?
Sebagaimana kita fahami, agama merupakan sebuah jalan bagi manusia untuk mencari kebahagiaan. Agama menjadi pedoman dan ajaran yang dikuti oleh banyak manusia, sebagai upaya untuk mendapatkan kebahagiaan. Orang beragama pada dasarnyaadalah untuk mendapatkan kebahagiaan. Namun bagaimana realitasnya? Banyak manusia beragama justru harus berhadapandengan berbagai konflik. Suatu kelompok masyarakat ketika mereka mementingkanagamanya, maka masyarakat tersebut akan berhadapan secara diametral denganmasyarakat lain yang juga ingin menjalankan agamanya.Masyarakat muslim Palestina ketika atas nama agama, mereka mencobamempertahankan tanah kelahirannya, harus berlawanan dengan tentara Israil, yang jugaatas nama agama ingin merebut tanah suci agama Yahudi. Hampir tiap hari pemuda danremaja Palestina dengan ketapelnya, dengan batu-batu kerikil harus berhadapan dengantentara Isarail yang membawa senjata modern. Puluhan pemuda dan remaja Palestinamenjadi korban pembantaian oleh tentara Israil hampir tiap hari.Setelah kelompok Hamas memenangkan Pemilu 2006 ini dan memimpin pemerintahan Palestina, terjadi penghentian bantuan dana dari Amerika Serikat dan dunia barat. Di negara Palestina sendiri terjadi pertentangan dan konflik internal antarakelompok Hamas dan kelompok Fatah (partai pemegang pemerintahan sebelumnya).Di Irak, dalam kepemimpinan Saddam Husein yang mengibarkan bendera
“Laailaaha illallah”
harus menghadapi keganasan pasukan Amerika Serikat yang kemudianmenghancur luluhkan negeri 1001 malam itu. Setelah Saddam Husein ditangkap dandiadili, masyarakat Irak mengalami perang saudara, yaitu kaum Sunni dan kaum Syiah,saling baku hantam. Terjadi pengeboman oleh jamaah Sunni di Masjid milik kaum Syiahdan sebaliknya dilakukan pengeboman oleh jamaah Syiah di Masjid milik kaum Sunni.Di Ambon, beberapa tahun lalu juga terjadi peperangan dengan baku tembak, salingmembunuh, dengan peralatan pedang, samurai, tombak, dan pistol rakitan antara kaummuslimin dan kaum nasrani.Konflik yang tak pernah ada habisnya juga terjadi antara organisasi NU danMuhammadiyah, padahal dua organisasi ini sama-sama dari kelompok muslim.Barangkali di tingkat pimpinan, ada upaya untuk meredam konflik itu, namun dikalangan masyarakat bawah, masih sering mereka tidak bersedia untuk duduk dalam satuforum.Dalam beberapa tahun belakangan ini, kaum muslim Indonesia juga mengalamiketakutan dan kekhawatiran jika menunjukkan identitas keislamannnya, karena distampel2
 
sebagai teroris. Mereka yang dicurigai teroris, akan ditangkap oleh pasukan detasemen 88antiteror dan harus melakukan serangkaian proses pemeriksaan. Dengan beragamadiharapkan akan mendapatkan ketentraman, kedamaian dan kebahagiaan malah yangdidapat sebaliknya, ketakutan dan kecemasan.Apa yang saya uraikan merupakan realitas di depan mata yang pada akhirnyamemunculkan pernyataan yang stereotip, untuk apa kita beragama jika agama justrumengantarkan kita pada peperangan, kehancuran, hilangnya kedamaian? Banyak orangakhirnya tak mau peduli terhadap ajaran agamanya, cenderung bersikap pasif, cue bahkan tak mau membawa konsep agama dalam kehidupannya, khususnya dalammasyarakat.
2.Agama Sebagai Candu Masyarakat.
Agama bagi sementara orang hanyalah tempat pelarian dari permasalahan hidup.Ketika seseorang mengalami banyak masalah seperti kemiskinan, ketidakberdayaan,kesengsaraan, maka dia akan mencari suatu kekuatan yang dianggapnya dapatmenolongnya dari permasalahan hidupnya. Kekuatan tersebut dipercaya dapatmembantunya memberikan solusi atas masalah yang dihadapi.Demikian anggapan yang ada pada sebagian masyarakat. Anggapan semacam ini juga didukung dan diperkuat oleh pemikiran
Karl Marx
(1818-1883), seorang ahlifilsafat kelahiran Jerman. Menurut Marx, agama sebagai candu masyarakat. Dalam pandangan Marx, agama memang pantas disebut sebagai candu masyarakat karenaseperti candu, ia memberikan harapan-harapan semu, dapat membantu orang untuk sementara waktu melupakan masalah real hidupnya. Seorang yang sedang terbius olehcandu/opium dengan sendirinya akan lupa dengan diri dan masalah yang sedangdihadapinya. Ketika orang sedang masuk dalam penderitaan yang dibutuhkan tidak lainadalah candu yang dapat membantu melupakan segala penderitaan hidup, kendati hanyasesaat saja. Dalam konteks ini orang memang membutuhkan ilusi-ilusi untumeringankan penderitaan dalam dunia real. Pertanyaan filosofis yang diajukan Marxadalah: Mengapa masyarakat harus memiliki ilusi? Mengapa pula masyarakatmembutuhkan ilusi-ilusi religius?Bagi Marx, agama merupakan medium dari ilusi sosial. Dalam agama tidak ada pendasaran yang real-obyektif bagi manusia untuk mengabdi pada kekuasaansupranatural. Hal ini bisa dijelaskan dari bagaimana agama berkembang. Agama berkembang karena diwartakan oleh masyarakat yang mempunyai kekuasaan atau olehmasyarakat yang mempunyai kekuasaan atau oleh masyarakat yang didukung oleh orang-orang yang memiliki kekuasaan itu. Agama tidak berkembang karena ada kesadaran darimanusia akan pembebasan sejati, tetapi lebih karena ada keasadaran dari manusia akan pembebasan sejati, tetapi lebih karena kondisi yang diciptakan oleh orang-orang yangmemiliki kuasa untuk melanggengkan kekuasaannya. Propaganda agama yang dilakukanoleh orang-orang yang memiliki kekuasaan dipandang oleh Marx sebagai sikap meracunimasyarakat. (
 Eusta Supono, Agama Solusi atau Ilusi?, 2003
)Karena itu, komunitas yang sefaham dengan Marx berpandangan agama hanyamenghambat kemajuan dan modernisasi. Dengan berbagai aturan, norma, dogma-dogmadan kaidah yang ada dalam ajaran agama membuat masyarakat terbelenggu, terhambatdalam produktifitas maupun kreativitasnya, dan tak bisa melakukan peningkatan3

Activity (195)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Isep Ali Sandi liked this
Fredy Nay liked this
Novi Puspita liked this
Devira Islamiati liked this
Sunandar Nandar liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->