Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
29Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
MANAJEMEN DESENTRALISASI DAN OTONOMI PERGURUAN TINGGI by Indra Maipita

MANAJEMEN DESENTRALISASI DAN OTONOMI PERGURUAN TINGGI by Indra Maipita

Ratings:

4.5

(8)
|Views: 6,106|Likes:
Published by Indra Maipita

More info:

categoriesTypes, School Work
Published by: Indra Maipita on Mar 30, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See More
See less

05/16/2013

pdf

text

original

 
MANAJEMEN OTONOMI DAN DESENTRALISASIPERGURUAN TINGGI NEGERIA. Rasional
Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 mengamanatkan bahwa setiap warga negara berhakmendapatkan pendidikan guna meningkatkan kualitas dan kesejahteraan hidupnya. Para pendiribangsa ini dan segenap masyarakat meyakini bahwa peningkatan taraf pendidikan merupakankunci utama mencapai tujuan negara yakni bukan saja mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga menciptakan kesejahteraan umum dan melaksanakan ketertiban dunia. Pendidikanmempunyai peranan penting dan strategis dalam pembangunan bangsa serta memberi kontribusisignifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan transformasi sosial. Pendidikan akan menciptakanmasyarakat terpelajar (
educated people 
) yang menjadi prasyarat terbentuknya masyarakat yangmaju, mandiri, demokratis, sejahtera, dan bebas dari kemiskinan. Pendidikan merupakan investasimanusia (
human investment 
) yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi, karena manusiaberfungsi sebagai salah satu faktor produksi yang dapat memberikan kontribusi terhadappertumbuhan ekonomi. Sumberdaya manusia disebut juga disebut sebagai
human capital 
yangdapat meningkatkan proses produksi baik secara kualitatif maupun kuantitatif (Syarif dalam Tilaar,2002)Penelitian yang dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada tahun 2003menyimpulkan bahwa pendidikan di Indonesia sangat berperan dalam pertumbuhan ekonomi.Kenaikan 1,0 persen rata-rata pendidikan tenaga kerja menaikkan Produk Domestik Bruto (PDB)atau ekonomi riil per kapita sebesar 0,29 persen dengan asumsi
ceteris paribus 
. Sementara itukenaikan 1 persen rata-rata jam kerja tenaga kerja akan menaikkan PDB sebesar 0,18 persen dankenaikan 1,0 persen rata-rata pendidikan penduduk akan menaikkan PDB sebesar 0,19 persen. Dilain pihak kenaikan 1,0 persen modal fisik per tenaga kerja hanya menaikkan PDB sebesar 0,04persen. Dari informasi di atas dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak sajadipengaruhi oleh meningkatnya pendidikan tenaga kerja tetapi juga oleh pendidikan penduduksecara keseluruhan. Hasil penelitian tersebut diatas memberi dasar yang kuat untuk membangunpendidikan di Indonesia secara lebih cepat dengan tetap memperhatikan peningkatan kualitasnya(Bappenas, 2006).Dari data longitudinal seluruh provinsi di Indonesia diketahui pula bahwa selain berkorelasipositif terhadap status ekonomi penduduk yang diukur dengan
purchasing power parity ( 
PPP),tingkat pendidikan penduduk juga berkorelasi positif terhadap menurunnya laju pertumbuhanpenduduk dan derajat kesehatan penduduk. Hal tersebut tercermin pada korelasi positif antaratingkat pendidikan penduduk dengan umur harapan hidup saat lahir. Sejalan dengan itu tingkatpendidikan peduduk perempuan berkorelasi positif terhadap turunnya angka kematian bayi, angkakematian balita dan angka fertilitas total.
 
2
Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan taraf pendidikan penduduk termasukpelaksanaan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan Tahun yang diharapkan tuntas pada tahun2008, peningkatan kualitas SDM, kualitas sarana dan prasarana hingga perbaikan regulasi dibidang pendidikan.Pada saat yang sama pendidikan tinggi masih menghadapi kendala dalammengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kegiatan penelitian danpengembangan serta penyebarluasan hasilnya masih sangat terbatas. Disamping itu prosestransfer ilmu pengetahuan dan teknologi juga mengalami hambatan karena masih terbatasnyabuku-buku teks dan jurnal-jurnal internasional yang dapat diakses. Dengan kualitas dan kuantitashasil penelitian dan pengembangan yang belum memadai, belum banyak hasil penelitian danpengembangan yang dapat diterapkan oleh masyarakat dan masih sedikit pula yang sudahdipatenkan dan/atau mendapat pengesahan hak kekayaan intelektual.Konvergensi dari berbagai dampak globalisasi dunia dewasa ini juga memberikan kortibusiterhadap tantangan berat yang dihadapi perguruan tinggi. Tantangan yang belum pernah dialamioleh umat manusia sebelumnya ini memposisikan pengetahuan (knowledge) semakin pentingsebagai pendorong utama pertumbuhan suatu bangsa. Daya saing suatu bangsa didefinisikan olehPorter sebagai
a country’s share of world market for it’s product 
[Porter, 2002] semakin tidakbergantung lagi pada kekayaan sumber daya alam dan tenaga kerja yang murah, akan tetapisemakin bergantung pada pengetahuan yang dimiliki dan dikuasai oleh suatu bangsa.Ketidakbergantungan pada sumber daya alam diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakanpengetahuan dalam memanfaatkan dan memroses sumber daya alam. Demikian pula halnyasumber daya manusia yang banyak hanya akan dapat mendukung pertumbuhan bila disertaidengan penguasaan pengetahuan yang memadai. Tentu perguruan tinggi (PT) seyogianyamenjadi lokomotif yang akan menarik gerbong masyarakat melalui tri dharmanya untukmeningkatkan daya saing bangsa agar dapat berkompetisi dalam era globalisasi saat ini.Berdasarkan fenomena ini, agar PT dapat berkontribusi nyata dan efektif dalampeningkatan kualitas daya saing bangsa, maka pemerintah telah melakukan perubahan paradigmapengelolaan PT dengan melakukan desentralisasi dan memberikan otonomi pengelolaan sepertitertuang dalam
Higher Education Long Term Strategy 
(HELTS).Perguruan tinggi perlu melakukan berbagai perubahan kearah pengelolaan yang otonom.Kecepatan perubahan global membutuhkan SDM dengan kemampuan yang adaptif mempunyaikemampuan belajar sepanjang hayat, kritis, inovatif, kreatif dan mampu bekerja sama. Ini berartibahwa harus mempunyai kemampuan untuk merespons setiap perubahan dengan cepat. Denganotonomi diharapkan perguruan tinggi dapat mengantisipasi perubahan yang akan terjadi danmempunyai kapasitas untuk mengembangkan program baru sesuai dengan kebutuhan riilmasyarakat.Sebagai suatu unit di dalam Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Perguruan TinggiNegeri secara hukum memang tidak dapat memiliki otonomi. Demikian juga akuntabilitas kepada
 
3
masyarakat (
stakeholders 
) amat sulit untuk secara utuh dimintakan kepada Perguruan TinggiNegeri sebagai unit Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sedangkan kredibilitas hanya akandapat diperoleh apabila kedua hal tersebut, otonomi dan akuntabilitas, secara nyata dimiliki danditerapkan. Oleh karena itu Perguruan Tinggi Negeri harus diubah status hukumnya menjadi badanhukum yang mandiri, terlepas dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
B. Kondisi Perguruan Tinggi Di Indonesia Saat Ini
Masalah pendidikan di Indonesia saat ini masih seputar rendahnya kualitas, relevansi,efisiensi dan produktivitas serta efektivitas. Penyebabnya, (1) ketersediaan pendidik dan tenagakependidikan yang belum memadai baik secara kuantitas maupun kualitas, (2) kesejahteraanpendidik yang belum memadai, (3) sarana dan parasarana yang kurang dan belum didayagunakansecara optimal, dan (4) biaya pendidikan yang belum memadai untuk menunjang mutupembelajaran (Renstra Depdiknas, 2005). Akar masalahnya ada pada
leadership dan internalmanagemet
. Setelah ini baru boleh bicara tentang relevansi internal dan eksternal sertaakuntabilitas internal dan eksternal. Harus diakui bahwa sistem pendidikan yang berjalan selamaini kurang mendapat pengawasan dari
stakeholder
padahal mutu merupakan bentuk akuntabilitasterhadap seluruh fasilitas dan pajak yang dibayar oleh publik.Di tingkat pendidikan tinggi, perguruan tinggi di Indonesia masih jauh ketinggalandibanding perguruan tinggi lain di dunia. Hal ini terlihat dari World Ranking University berikut.
Tabel 1
. The World’s Top 200 Universities
No. Negara Jumlah % No. Negara Jumlah %
1 US 5431,2 16 India 31,7 2 UK 2514,517 Israel 31,7 3 Australia 179,818 Italy 31,7 4 Japan 105,819 New Zealand 31,7 5 Netherlands 105,820 South Korea 31,7 6 France 95,221 Finland 21,2 7 Germany 95,222 Russia 21,2 8 Canada 84,623 Singapore 21,2 9 Switzerland 74,024 Brazil 10,6 10 China 63,525 Ireland 10,6 11 Sweden 52,926 Malaysia 10,6 12 Hong Kong 42,327 Mexico 10,6 13 Austria 31,728 Norway 10,6 14 Belgium 31,729 Spain 10,6 15 Denmark 31,730 Taiwan 10,6 
Sumber: The Time Higher, Oct'2005
31 Thailand 10,6 
Human Development Index 
(HDI) merupakan indikator komposit yang menggambarkankemajuan dibidang ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Dari ke tiga indikator tersebut, pendidikanmerupakan determinan untuk kedua indikator yang lain. Karena itu pendidikan memberi kontribusipenting dalam keterpurukan HDI Indonesia. Perkembangan peringkat HDI Indonesia relatif memprihatinkan bila dibandingkan dengan negara tetangga Indonesia (Tabel 2).
Tabel 2
. Peringkat
Human Development Index 
Indonesia
TahunPering-katJumlahNegaraPembanding
2001 102 162 Sin=26,Brun=32,M’sia=56,Pilip=70, Thai=66,

Activity (29)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Harry Angmalisang added this note|
Akan saya tanggapi dilain kesempatan, tetapi materinya sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut mengingat kondisi perguruan tinggi di Indonesia yang perlu memperoleh penguatan dan legitimasi hukum.
Muhammad Yamani liked this
Aos Santosa liked this
Aos Santosa liked this
Aos Santosa liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->