Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
12Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Imam Syafi'i Tentang Tahlilan Kematian

Imam Syafi'i Tentang Tahlilan Kematian

Ratings: (0)|Views: 1,804 |Likes:
Published by Nashir Al Albani
Menurut Ulama Salaf dari Mazhab Nahdlatul 'Ulama.
Menurut Ulama Salaf dari Mazhab Nahdlatul 'Ulama.

More info:

Published by: Nashir Al Albani on Mar 30, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2014

pdf

text

original

 
Hukum Selamatan Kematian (Tahlilan)Kontributor: Administrator Saturday, 08 March 2003Berikut akan dijelaskan mengenai hukum melakukan Tahlil untuk orang matiseperti yang banyak dilakukan dimasyarakat kita. Kegiatan tersebut biasanya dibarengkan dengan selamatan 7,40, 100 dan 1000 hari setelah seseorangmeninggal dunia. Juga dilakukan pada haul (peringatan setiap tahun).Bagaimanakah hukumnya?SELAMATAN KEMATIAN (TAHLILAN) BAGAIMANA HUKUMNYA ?Sudah menjadi tradisi masyarakat di Indonesia ketika salah seorang anggotakeluarganya meninggal dunia, makadiadakan acara ritual " Tahlilan ". Apakah acara tersebut berasal dari Islam ? Marikita simak dengan hati nurani yangmurni untuk mencari yang haq dari dien yang kita yakini ini. Kita lihat acaradalam Tahlilan ( maaf ini hanya sepanjangpenulis ketahui, bila ada yang kurang harap maklum)- Biasanya bila musibah kematian pagi hari maka di malam harinya diadakanacara Tahlilan ini yaitu dibacakan bersamasamasurat Yasin atau doa lainnya.- Kemudian di do'akan untuk ahli mayit dan keluarganya dan terkadang ahli mayitmenyediakan makanan gunamenghormati tamunya yang ikut dalam acara Tahlilan tersebut.- Bahkan biasanya acara ini bukan hanya pada hari kematian namun akanberlanjut pada hari ke 40 dan seterusnya.Saudaraku, Mari kita simak Hadits Shahih berikut :Dari Jarir bin Abdullah Al Bajalii, " Kami ( yakni para Shahabat semuanya )memandang/menganggap ( yakni menurutmadzhab kami para Shahabat ) bahwa berkumpul-kumpul di tempat ahli mayitdan membuatkan makanan sesudahditanamnya mayit termasuk dari bagian meratap."Sanad Hadits ini shahih dan rawi-rawinya semuanya tsiqat ( dapat dipercaya )atas syarat Bukhari dan Muslim, bahkantelah di shahihkan oleh jama'ah para ulama' Mari kita perhatikanijma'/kesepakatan tentang hadits tersebut diatassebagai berikut:
 
- Mereka ijma' atas keshahihan hadits tersebut dan tidak ada seorang pun ulama'( sepanjang yang diketahui penulis-Wallahua'lam ) yang mendhaifkan hadits tersebut.- Mereka ijma' dalam menerima hadits atau atsar dari ijma' para shahabat yangditerangkan oleh Jarir bin Abdullah.Yakni tidak ada seorang pun ulama' yang menolak atsar ini.- Mereka ijma' dalam mengamalkan hadits atau atsar diatas. Mereka dari zamanshahabat sampai zaman kita sekarangini senantiasa melarang dan mengharamkan apa yang telah di ijma'kan olehpara shahabat yaitu berkumpul-kumpulditempat atau rumah ahli mayit yang biasa kita kenal di negeri kita ini dengannama " Tahlillan atau Selamatan Kematian".Mari kita simak dan perhatikan perkataan Ulama' ahlul Ilmi mengenai masalahini:- Perkataan Al Imam Asy Syafi'I, yakni seorang imamnya para ulama', mujtahidmutlak, lautan ilmu, pembela sunnahdan yang khususnya di Indonesia ini banyak yang mengaku bermadzhab beliau,telah berkata dalam kitabnya Al Um(I/318) :" Aku benci al ma'tam yaitu berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit meskipun tidakada tangisan, karena sesungguhnyayang demikian itu akan memperbaharui kesedihan ."Vila Baitullah - Bogor Indonesiahttp://vbaitullah.or.id _PDF_POWERED _PDF_GENERATED 21 February, 2007,11:27ini yang biasa terjadi dan Imam Syafi'I menerangkan menurut kebiasaan yaituakan memperbaharui kesedihan. Ini tidakberarti kalau tidak sedih boleh dilakukan. Sama sekali tidak ! Perkataan ImamSyafi'I diatas tidak menerima pemahamanterbalik atau mafhum mukhalafah. Perkataan imam kita diatas jelas sekali yangtidak bisa dita'wil atau di Tafsirkankepada arti dan makna lain kecuali bahwa : " beliau dengan tegasMengharamkan berkumpul-kumpul dirumahkeluarga/ahli mayit. Ini baru berkumpul saja, bagaimana kalau disertai denganapa yang kita namakan disini sebagaiTahlilan ?"- Perkataan Al Imam Ibnu Qudamah, dikitabnya Al Mughni ( Juz 3 halaman 496-497 cetakan baru ditahqiq oleh SyaikhAbdullah bin Abdul Muhsin At Turki ) :" Adapun ahli mayit membuatkan makanan untuk orang banyak maka itu satu halyang dibenci ( haram ). Karena akan
 
menambah ( kesusahan ) diatas musibah mereka dan menyibukkan merekadiatas kesibukan mereka dan menyerupaiperbuatan orang-orang jahiliyyah. Dan telah diriwayatkan bahwasannya Jarir pernah bertamu kepada Umar. Lalu Umar bertanya, " Apakah mayit kamu diratapi ?" Jawab Jarir, " Tidak !" Umar bertanyalagi, " Apakah mereka berkumpul dirumah ahli mayit dan mereka membuat makanan ? Jawab Jarir, " Ya !" BerkataUmar, " Itulah ratapan !"- Perkataan Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna, dikitabnya : FathurrabbaniTartib Musnad Imam Ahmad bin Hambal( 8/95-96) : " Telah sepakat imam yang empat ( Abu Hanifah, Malik, Syafi'I danAhmad) atas tidak disukainya ahli mayitmembuat makanan untuk orang banyak yang mana mereka berkumpul disituberdalil dengan hadits Jarir bin Abdullah.Dan zhahirnya adalah HARAM karena meratapi mayit hukumnya haram,sedangkan para Shahabat telahmemasukkannya ( yakni berkumpul-kumpul dirumah ahli mayit ) bagian darimeratap dan dia itu (jelas) haram. Dandiantara faedah hadits Jarir ialah tidak diperbolehkannya berkumpul-kumpuldirumah ahli mayit dengan alas an ta'ziyah/melayat sebagaimana dikerjakan orang sekarang ini. Telah berkata An Nawawirahimahullah, 'Adapun duduk-duduk(dirumah ahli mayit ) dengan alas an untuk Ta'ziyah telah dijelaskan oleh ImamSyafi'I dan pengarang kitab AlMuhadzdzab dan kawan-kawan semadzhab atas dibencinya ( perbuatantersebut ).' Kemudian Nawawi menjelaskanlagi, " Telah berkata pengarang kitab Al Muhadzdzab : Dibenci duduk-duduk( ditempat ahli mayit ) dengan alas an untukTa'ziyah. Karena sesungguhnya yang demikian itu adalah muhdats ( hal yangbaru yang tidak ada keterangan dariAgama), sedang muhdats adalah " Bid'ah."- Perkataan Al Imam An Nawawi, dikitabnya Al Majmu' Syarah Muhadzdzab(5/319-320) telah menjelaskan tentangBid'ahnya berkumpul-kumpul dan makan-makan dirumah ahli mayit denganmembawakan perkataan penulis kitab AsySyaamil dan ulama lainnya dan beliau menyetujuinya berdalil dengan hadits Jarir yang beliau tegaskan sanadnyashahih.- Perkataan Al Imam Asy Syairazi, dikitabnya Muhadzdzab yang kemudiandisyarahkan oleh Imam Nawawi dengannama Al Majmu' Syarah Muhadzdzab : " Tidak disukai /dibenci duduk-duduk( ditempat ahli mayit ) dengan alasan untukTa'ziyah karena sesungguhnya yang demikian itu muhdats sedangkan muhdatsadalah " Bid'ah ".- Perkataan Al Imam Ibnul Humam Al Hanafi, dikitabnya Fathul Qadir (2/142)dengan tegas dan terang menyatakan

Activity (12)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ika Fari liked this
Jaharni Jahar liked this
ican75 liked this
Subhan F Uck liked this
firsya4ever liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->