Welcome to Scribd. Sign in or start your free trial to enjoy unlimited e-books, audiobooks & documents.Find out more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
2Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Peranan Zakat Dalam Pengentasan Kemiskinan

Peranan Zakat Dalam Pengentasan Kemiskinan

Ratings: (0)|Views: 62|Likes:
Published by Ega Jalaludin

More info:

Published by: Ega Jalaludin on Apr 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/24/2013

pdf

text

original

 
Peranan Zakat Dalam Pembangunan Ekonomi Daerah BantenOleh : Ega JalaludinSTIE Bina Bangsa Banten
Zakat, Infaq, dan Sedekah (ZIS) merupakan ibadah yang tidak hanya berhubungan dengan nilai ketuhanan saja namun berkaitan juga dengan hubungankemanusian yang bernilai sosial (
 Maliyah ijtimah‘iyyah
). ZIS memiliki manfaat yangsangat penting dan strategis dilihat dari sudut pandang ajaran Islam maupun dari aspek  pembangunan kesejahteraan umat. Hal ini telah dibuktikan dalam sejarah perkembanganIslam yang diawali sejak masa kepemimpinan Rasulullah SAW. Zakat telah menjadisumber pendapatan keuangan negara yang memiliki peranan sangat penting, antara lainsebagai sarana pengembangan agama Islam, pengembangan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan, pengembangan infrastruktur, dan penyediaan layanan bantuan untuk kepentingan kesejahteraan sosial masyarakat yang kurang mampu seperti fakir miskin,serta bantuan lainnya (Depag RI, 2007 a:1).Peranan zakat di atas, sesuai dengan kondisi ekonomi masyarakat miskin diIndonesia yang masih membutuhkan berbagai macam layanan bantuan, namun masihkesulitan dalam memperoleh layanan bantuan tersebut guna meningkatkankesejahteraan masyarakatnya. Di lihat dari fenomena itulah, Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam sebenarnya memiliki potensi yang strategis dan sangatlayak untuk dikembangkan dalam menggerakkan perekonomian negara. Melalui penggunaan salah satu instrumen pemerataan pendapatan, yaitu institusi zakat, infaq,dan sedekah (ZIS), di mana zakat, infaq, dan sedekah selain sebagai ibadah dankewajiban juga telah mengakar kuat sebagai tradisi dalam kehidupan masyarakat Islam.Oleh karena itu, ibadah zakat, infaq, dan sedekah yang telah menjadi bagian darikehidupan masyarakat Islam di Indonesia, didukung dengan besarnya kekayaan sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia, sehingga dapat dikatakan Indonesia adalahnegara yang memiliki potensi zakat yang cukup besar. Potensi ini merupakan sumber  pendanaan yang dapat dijadikan kekuatan pemberdayaan ekonomi, pemerataan pendapatan, bahkan akan dapat menggerakkan roda perekonomian negara. Potensi inisebelumnya hanya dikelola oleh individu-individu secara tradisional dan bersifatkonsumtif, sehingga pemanfaatannya belum optimal. Setelah berlakunya Undang-undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat, pelaksanaan pengelolaanzakat di Indonesia dilakukan oleh Lembaga Pengelola Zakat (LPZ) yaitu Badan AmilZakat (BAZ) yang dibentuk Pemerintah di tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kotadan kecamatan serta Lembaga Amil Zakat (LAZ) yang dibentuk dan dikelolamasyarakat (Depag RI, 2007 a: 1).Pengelolaan dana zakat, infaq, dan sedekah oleh BAZ dan LAZ, seharusnyadapat memberikan kontribusi terhadap masalah kemiskinan dalam hal membantumeningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun kenyataannya masih banyak masyarakat Indonesia yang hidup miskin dan serba kekurangan dan belum tersentuholeh hasil distribusi zakat, dikarenakan banyak program LPZ yang manfaatnya bagiumat belum dirasakan secara signifikan (Depag RI, 2008:3). Padahal potensi zakatIndonesia di atas kertas luar biasa besar. Secara matematis, jika kesadaran berzakat telahtumbuh, maka akan didapat angka minimal sebesar Rp 19 Triliun per tahun, Angkaakan bertambah jika diakumulasikan dengan pemasukan dari infaq, sedekah, sertawakaf tentunya akan didapat angka yang lebih besar lagi. Namun, angka di atas masihdalam hitungan kertas saja. Dalam kenyataannya pada tahun 2007 lalu hanya terkumpul
 
lebih kurang Rp 250 milyar per tahun, itu artinya hanya 1,3% saja dana zakat yangdapat terkumpul dari jumlah dana potensial yang ada (Ibid). Di lihat dari persentase jumlah dana zakat yang berhasil dikumpul oleh BAZ dan LAZ tidak sebanding dengan besarnya potensi yang ada. Apalagi bila dilihat dari segi jumlah penduduk Indonesiasebagai negara keempat dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia.Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk miskin di Indonesia tahun 2011mencapai 30,01 juta jiwa, menurun dibanding tahun 2010 yang mencapai 31,02 juta jiwa. Provinsi Banten berada pada posisi empat besar sebagai provinsi yang jumlah penduduk terbanyak dari 33 propinsi di Indonesia.
Tabel 6. Persentase Penduduk Miskin di Banten(
Percentage of Poor Population in Banten
)
Regency/Municipality
% Poor Population (with Poor Line Method)
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011
1. Pandeglang
15.11 15.4 13.77 13.89 15.82 15.64 12.55 12.01 11.4 9.8
2. Lebak 
16.16 13.45 12.09 12.29 14.55 14.43 12.05 10.63 10.38 9.2
3. Tangerang
7 8.4 7.7 7.5 8.28 7.18 7.41 6.55 7.18 6.42
4. Serang
9.8 10.29 9.11 10.47 9.55 9.47 6.48 5.8 6.34 5.63
5. Tangerang (
 Mun
)
4.38 4.81 4.19 4.39 6.41 4.92 6.83 6.42 6.88 6.14
6. Cilegon (
 Mun
)
6.42 5.36 4.42 5.55 4.99 4.71 3.95 4.14 4.46 3.98
7. Serang (
 Mun
)
- 6.19 7.03 6.25
8. Tangerang Selatan (
 Mun
)
- - 1.67 1.5
Banten
9.22 9.56 8.58 8.86 9.79 9.07 8.15 8.15 7.46 6.26
Source : Susenas
Untuk membantu memecahkan masalah kemiskinan melalui institusi ZIS,diperlukan aturan hukum yang jelas melalui Undang-undang Pengelolaan Zakat. DalamUU Pengelolaan Zakat dimaksud disebutkan bahwa tujuan pengelolaan zakat adalahmeningkatkan pelayanan bagi masyarakat dalam menunaikan zakat sesuai dengantuntutan agama, meningkatkan fungsi dan peranan pranata keagamaan dalam upayamewujudkan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial serta meningkatkan hasilguna dan daya guna zakat. Kemudian terjadi perkembangan yang cukup menarik, yangmendukung penghimpunan zakat dengan lahirnya UU Nomor 17 tahun 2000 tentang perubahan ketiga atas UU Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan, yang antaralain mengatur tentang pembayaran zakat yang dapat mengurangi penghasilan kena pajak (Depag RI, 2007 a:2).Oleh karena itu, zakat yang memiliki peranan besar sebagai sumber keuangansyariah dalam membantu meningkatkan perbaikan kualitas kesejahteraan hidupmasyarakat. Untuk itu diperlukan penguatan aturan hukum guna menempatkankedudukan zakat yang lebih strategis lagi di Indonesia. Salah satu alasan itulah yangmendukung dilakukannya revisi undang-undang dalam mengatur dan menguatkankedudukan zakat, serta Lembaga Pengelolaan Zakat (LPZ) di Indonesia. Pada akhirnya proses amandemen UU No 38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat telah selesaidiamandemen dan disahkan oleh DPR RI pada tanggal 27 Oktober 2011 lalu. UU hasilamandemen tersebut kemudian diberi nomor UU Nomor 23 Tahun 2011. Sebuah hasil perumusaan dan perjuangan panjang bagi pihak-pihak yang peduli terhadap pengelolaan
 
zakat di Indonesia, akibat dari ketidak setujuan atas UU Nomor 38 Tahun 1999 yangmemberikan LAZ kesempatan yang sama besar dalam mengelola dana zakat. Terdapat bukti-bukti yang semakin menguat bahwa pada umumnya masyarakat telah gagal dalammelaksanakan pengelola zakat, dan seharusnya pengelolaan zakat ini dikembalikankepada lembaga zakat pemerintah (BAZ). Peningkatan Pertumbuhan yang besar jumlahdana zakat, infaq, dan sedekah yang berhasil dikumpulkan oleh LAZ tidak diiringidengan penurunan tingkat kemiskinan secara optimal. Oleh sebab itu ada anggapan bahwa lembaga zakat yang dikelola oleh masyarakat sendiri, belum dapat berjalandengan baik serta masih syarat terhadap kepentingan individu dan kelompok.Dengan adanya Undang-undang baru zakat ini, lebih menguatkan peran danfungsi BAZ, yang menegaskan kewajiban LAZ yang di bentuk masyarakat untuk melaporkan kegiatan pengumpulan dan pendayagunaan zakat yang telah dilakukannyakepada BAZ (Pasal 19), tetapi bukan kewajiban untuk menyetorkan dana zakat kepadaBAZ. Hal ini bertujuan agar koordinasi LPZ dapat diformalkan melalui Undang-undang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->