Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Pengukuran Mental Workload

Pengukuran Mental Workload

Ratings: (0)|Views: 18 |Likes:
Published by Aisyah Unni

More info:

Published by: Aisyah Unni on Apr 25, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/13/2013

pdf

text

original

 
 Apakah anda pernah mendengar istilah
mental workload 
atau beban kerja mental?Berbeda dengan beban kerja fisik, beban kerja mental adalah beban kerja yang tidak hanya memanfaatkan kinerja fisik tetapi lebih dipusatkan pada pemikiran sehinggamempengaruhi mental si pekerja. Untuk lebih mudah membedakannya, berikut adalahcontoh perbandingan beban kerja mental dan beban kerja fisik.Beban kerja fisik bisa kita temui pada pekerja-pekerja yang lebih memanfaatkan fisik untuk menyelesaikan pekerjaannya. Salah satu contohnya adalah seorang pelintingrokok. Dalam melaksanakan pekerjaannya, pelinting rokok akan merasa beban kerjamereka terpusat pada fisik tanpa terbebani tanggung jawab yang besar. Berbeda denganseorang pilot yang memiliki beban kerja mental lebih besar. Pilot memiliki tanggung jawab dan beban yang besar dalam menjalankan pekerjaannya. Mental pilot akanterbebani bahwa ia harus menerbangkan pesawat dengan benar karena membawa banyak penumpang dan bertanggung jawab untuk menjaga mereka selamat sampaitujuan.Selain pada pusat bebannya, perbedaan beban kerja mental dengan fisik bisa dilihatdari output yang dihasilkan. Hasil pekerjaan dari tipe beban kerja fisik bisa diukurdengan mudah. Sedangkan pada pekerjaan dengan beban mental, output sulit untuk diukur dan dibandingkan. Misalnya pada contoh pelinting rokok dan pilot. Antarapelinting rokok satu dengan lainnya bisa diukur seberapa besar beban fisik yangdihadapi berdasarkan jumlah lintingan rokok yang dihasilkan. Sedangkan pada seorangpilot, besarnya beban mental yang dihadapi tidak bisa terukur secara jelas. Misalkan beban mental seorang pilot pesawat Surabaya-Jakarta tidak bisa dikatakan dua kalilebih berat dibandingkan beban mental pilot pesawat Surabaya-Jogjakarta meskipun jarak Surabaya-Jakarta dua kali lebih jauh daripada Surabaya-Jogjakarta.Pengukuran perbedaan beban kerja mental yang dialami oleh para pekerja bisadilakukan dengan berbagai metode baik secara subyektif maupun secara obyektif.Contoh pengukuran beban mental secara obyektif adalah dengan mngukur denyut jantung sesorang ketika bekerja. Pengukuran ini digunakan untuk mengukur bebankerja dinamis seseorang sebagai manifestasi gerakan otot. Semakin cepat denyut jantung mengindikasikan bahwa beban mental yang dialami pekerja tersebut semakin berat. Namun, tingkat kecepatan denyut jantung tersebut tidak menunjukkan secaratepat besarnya beban kerja mental yang dialami. Misalkan Diansastro yang memilikidenyut jantung 100 kali per menit saat bekerja belum tentu memiliki beban mental yang
 
sama besar dengan Luna Maya yang memiliki denyut jantung 100 kali per menit juga.Selain itu masih ada pula beberapa pengukuran beban kerja mental secara obyektif  yang lainnya antara lain pengukuran cairan dalam tubuh, kecepatan kedipan mata, dansebagainya.Pengukuran obyektif seperti telah disebutkan di atas jarang digunakan karenamembutuhkan biaya yang cukup mahal untuk peralatan pengukurannya. Selain itupengukuran ini juga dianggap tidak sebanding dengan hasilnya yang belum tentuakurat. Dari sini muncul alternatif lain yaitu pengukuran dengan menggunakan carasubyektif. Metode pengukuran beban kerja mental subyektif yang populer digunakanadalah metode NASA-TLX (NASA Task Load Index). Metode NASA-TLX dikembangkanoleh Sandra G. Hart dari NASA-Ames Research Center serta Lowell E. Stavelanddari
San Jose State University
pada tahun 1981 (Hancock dan Meshkati, 1988). Metodeini berupa kuesioner dikembangkan berdasarkan munculnya kebutuhan pengukuransubjektif yang lebih mudah tetapi lebih sensitif pada pengukuran beban kerja. MetodeNASA-TLX merupakan prosedur rating multi dimensional, yangmembagi
workload 
atas dasar rata-rata pembebanan 6 dimensi
,
 yaitu
 Mental Demand, Physical Demand, Temporal Demand, Effort, Own Performance,
dan
 Frustation
.NASA-TLX dibagi menjadi dua tahap, yaitu perbandingan tiap skala (
 Paired Comparison
) dan pemberian nilai terhadap pekerjaan (
 Event Scoring
).Metode pengukuran dengan NASA-TLX ini banyak digunakan dibandingkan metodeobyektif karena cukup sederhana dan tidak membutuhkan banyak waktu serta biaya.Peneliti cukup membuat kuesioner dan menyebarkannya pada para pekerja dalam yangakan diukur beban mentalnya. Perlu digarisbawahi bahwa yang diukur disinimerupakan beban kerja dari jenis pekerjaannya, bukan beban kerja yang dimiliki olehmasing-masing pekerja. Contoh sederhananya, beban kerja yang diukur bukan antarastaf 
marketing
1 dengan staf 
marketing
2 melainkan antara staf 
marketing
denganstaf 
accounting
. Karena bersifat subyektif, data yang diambil harus lebih dari satusumber untuk meminimasi subyektifitas. Selain itu dalam proses pengolahan kuesioner juga harus memperhatikan kevalidan dari data yang digunakan. Data yang dianggaptidak sesuai atau outlier harus dieliminasi agar tidak mengganggu hasil pengukuran.Hancock dan Meshkati (1988) menjelaskan langkah-langkah dalam pengukuran bebankerja mental dengan menggunakan metode NASA-TLX.1. Penjelasan indikator beban mental yang akan diukur
 
2. PembobotanPada bagian ini responden diminta untuk melingkari salah satu dari dua indikator yangdirasakan lebih dominan menimbulkan beban kerja mental terhadap pekerjaantersebut. Kuesioner NASA-TLX yang diberikan berupa perbandingan berpasangan. Darikuesioner ini dihitung jumlah
tally
dari setiap indikator yang dirasakan paling berpengaruh. Jumlah
tally
menjadi bobot untuk tiap indikator beban mental.3. Pemberian RatingPada bagian ini responden diminta memberi rating terhadap keenam indikator bebanmental. Rating yang diberikan adalah subyektif tergantung pada beban mental yangdirasakan oleh responden tersebut. Untuk mendapatkan skor beban mental NASA-TLX, bobot dan rating untuk setiap indikator dikalikan kemudian dijumlahkan dan dibagidengan 15 (jumlah perbandingan berpasangan).4. Menghitung nilai produk Diperoleh dengan mengalikan
rating
dengan bobot faktor untuk masing-masingdeskriptor. Dengan demikian dihasilkan 6 nilai produk untuk 6 indikator (MD, PD, TD,CE, FR, EF)Produk = rating x bobot faktor5. Menghitung Weighted Workload (WWL)Diperoleh dengan menjumlahkan keenam nilai produk 6. Menghitung rata-rata WWLDiperoleh dengan membagi WWL dengan jumlah bobot total7. Interpretasi Skor

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->