• Embed Doc
  • Readcast
  • Collections
  • CommentGo Back
Download
 
Suplemen ini dipersembahkan The Wahid Institute, bekerja sama dengan The Asia Foundation dan Majalah GATRA.Dapat dijumpai setiap bulan, pada pekan terakhir. Kritik dan saran kirim ke info@wahidinstitute.org - www.wahidinstitute.org
    E    d    i   s    i    V    I    I    I    /     G    A    T    R    A  -   e    d    i   s    i    2    9    /    X    I    I    1    J   u   n    i    2    0    0    6
SEJAK 
8 tahun silam, warung nasi Ceu-ceu Inggrid, yang berada di pojok selatanUniversitas Islam Negeri (UIN) SunanGunung Djati Bandung tak berubah.Makanannya segar, gurih, lezat dan harga-nya ramah untuk kantong mahasiswa.Kalaupun ada perubahan, paling temaobrolan para pelanggannya yang mayoritasmahasiswa kampus itu. “Partai apa yang kampanye hari ini?” tanya Ronie, mahasis- wa Fakultas Tarbiyah universitas itu.“Partai Mahasiswa Bersatu,” timpalMahbub, rekannya.Pemilihan Umum (Pemilu) kampusuntuk memilih presiden mahasiswamemang topik paling menarik bagi ma-hasiswa perguruan tinggi di kawasanCibiru Bandung itu. Perhelatan ini digelarsetahun sekali. Layaknya Pemilu dalamskala nasional, di sana juga ada undang-undang kepartaian, parpol, kampanye,azas
trias politica 
, debat kandidat presidenmahasiswa dan sebagainya.Itulah miniatur praktek demokrasi dilevel perguruan tinggi. Tak hanya di UINBandung, dinamika politik yang disebut
student governance 
ini juga merebak dihampir seluruh kampus di tanah air. “Iniperkembangan yang cepat, karena demo-kratisasi juga harus tercermin di duniapendidikan,” ujar mantan presiden maha-siswa Universitas Islam Negeri (UIN)Syarif Hidayatullah Jakarta, Sam’ani.Praktek demokrasi ini memang disam-but antusias, baik oleh mahasiswamaupun masyarakat. Namun munculketerputusan antara semangat dan sikapmasyarakat saat merespon persoalankebangsaan.“Masyarakat kita sangat semangatberdemokrasi. Tapi artikulasi dan ekspresisebagian mereka memperlihatkan sikap-sikap yang 
uncivilized 
. Dengan dalihdemokrasi, mereka membakar gedung,merusak mobil dan sebagainya,” tegasDekan Fakultas Tarbiyah dan KeguruanUIN Jakarta, Prof. Dr. Dede Rosyada.Fenomena menjalani kebebasan yang cenderung anarkis dan me-langgar HAM, dinilai Dede,sebagai dampak pendidikankewarganegaraan model OrdeBaru yang menerapkan sistemkomando, dari atas ke bawah.“Perlu model pendidikankewarganegaraan baru yang mengembangkan paradigmapembangunan yang berbasismasyarakat,” lanjutnya.Dengan alasan itu, saatpasca kejatuhan rezim Orba,penulis buku
Paradigma Pendi- dikan Demokratis 
ini bersama kawan-kawannya di UIN Jakarta, mereformasipendidikan kewarganegaraan. Pembelaja-ran berorientasi demokratisasi Indonesiaini pun diberi nama
Civic Education 
(CE).Secara umum, pembelajaran CEmeliputi kajian dan pembahasan mengenaikonstitusi, lembaga-lembaga demokrasi,
rule of law 
, hak dan kewajiban warganegara, partisipasi aktif dan keterlibatan warga negara dalam
civil society 
.Menurut Said Tuhuleley, munculnyakebutuhan atas CE didorong oleh tigaalasan utama.
Pertama 
, meningkatnya gejala‘buta’ politik di kalangan warga negara.
Kedua 
, meningkatnya apatisme politik dengan semakin sedikitnya keterlibatan warga negara dalam proses politik. Dan
ketiga 
, masih terjadinya pelanggaran HAMbaik yang dilakukan negara maupun warganegara.“Di sinilah urgensi
civic education 
, yaknimendorong setiap orang agar menjadi warga negara yang partisipatif, kritis, taathukum, menghormati perbedaan danberani menyatakan pikiran dan perasa-annya,” jelas Said yang juga Ketua Lem-baga Penelitian dan PengembanganPendidikan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3 UMY).Selain itu, menurut Abdul Rozak dariIndonesian Center for Civic Education(ICCE) UIN Jakarta, seiring derasnya arusdemokratisasi, lahir dorongan untuk mengkaji ulang metode pendidikankewarganegaraan yang selama ini diajarkanmelalui Pendidikan Kewiraan. “Jadi CEitu kita isi dengan tiga pilar yang saling berkait
 ,
yaitu demokrasi, HAM dan
civil so- ciety 
,” tambahnya.Pemerintah pun menyambut baik pengembangan CE ini, melalui Kepu-tusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi(Dirjen Dikti) Departemen PendidikanNasional No. 267/DIKTI/KEP/2000tentang Penyempurnaan Kurikulum IntiMata Kuliah Pengembangan KepribadianPendidikan Kewarganegaraan padaPerguruan Tinggi di Indonesia.Sedang standar nasional pengajaran CEdi sekolah dan perguruan tinggi, kinitengah diperbaiki oleh Badan StandardisasiNasional Pendidikan (BSNP). “Tim inilahyang menyiapkan standar isi, metodepembelajaran dan pengajarnya,” jelasDirektur Pascasarjana Universitas Terbuka Jakarta, Prof. Dr. Udin S. Winataputra(baca:
Baru Knowing, Belum Doing 
 ).Dengan sokongan pemerintah itu, CEberhasil masuk berbagai kampus di negeriini, kendati dengan nama beragam. DiUniversitas Gadjah Mada Yogyakartamisalnya, materi ini bertitel PendidikanResolusi Konflik dan Perdamaian, di Uni- versitas Trisakti bertitel PendidikanKebangsaan, Demokrasi dan HAM, diUniversitas Mercu Buana bertitel Pendi-dikan Etika Berwarganegara, dan di Uni-
Pelatihan Civic Education oleh UMY
foto dok.UMY
 Asupan Untuk Kebangsaan
Runtuhnya Orde Baru berefek pada pendidikan kewarganegaraan atau civic education di berbagai lembagapendidikan di Indonesia. Tidak hanya yang formal, lembaga nonformal seperti pesantren dan lembaga swadayamasyarakat tak ketinggalan. Bagaimana mata ajar itu dikembangkan?
 
Redaktur Ahli: Lies Marcoes-Natsir, Yenny Zannuba Wahid, Ahmad Suaedy, Budhy Munawar-RachmanSidang Redaksi: Rumadi, Abd. Moqsith Ghazali I Staff Redaksi: Gamal Ferdhi, M. Subhi Azhari, Nurul H. Maarif | Desain: Widhi Cahya
E    d  i   i    V  I   I   I   /   G  A  T   R  A   d  i   i   2  9  /  X  I   I   1   J   u i   2  0  0  6  
 versitas Bina Nusantara bertitel CharacterBuilding.Perguruan Tinggi Islam Negeri atauSwasta dan Perguruan Tinggi Muham-madiyah tetap menggunakan nama
civic education 
. “Ini terjadi karena di dalamkurikulum, kita diberi keleluasaan olehpemerintah dalam hal penamaan. Yang terpenting substansinya,” jelas AbdulRozak.Ditambahkannya, saat ini tidak kurang dari 213 perguruan tinggi Islam telahmengajarkan CE. Yaitu 47 PTIN, 79PTAIS di Jawa Barat dan Jakarta, dan 87PTAIS di Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara. Sedang di lingkungan Muham-madiyah, CE telah diajarkan setidaknya di20 Perguruan Tinggi Muhammadiyah(PTM) se-Indonesia. Malah tak lama lagiCE akan diajarkan di 509 SMA, 249 SMK,dan 171 MA di bawah naungan Muham-madiyah. Tak hanya di jalur formal, CEpun berkembang di jalur non formal(lihat:
 Merajut Islam dan Demokrasi 
 ). Apakah semua itu mengindikasikankeberhasilan pengajaran CE? Ternyatatidak! Dari hasil survei terhadap pengaja-ran CE di UIN Jakarta saja misalnya,terungkap fakta minimnya kreativitasdosen, pembelajaran yang masih instruk-tif dan gaya mengajar yang masih berbauOrba, sehingga menyebabkan mahasiswakurang kritis.Di luar itu, masih ada kendala ter-batasnya buku ajar dan harganya yang mahal. “Ini sering mengganggu prosesbelajar-mengajar, karena dosen akhirnyaharus melakukan ceramah lagi untuk menjelaskan isi buku,” tulis LP3 UMY dalam laporannya.Karena itu, Dede Rosyada berharap,CE harus terus dikembangkan. “Jugaperlu ada standard nasional yang bakusemacam Lembaga Pertahanan Nasional(Lemhannas) yang membina dosen Kewi-raan, dilatih, di-
training 
, dan seterusnya,”imbuhnya.Hal yang sama disampaikan Udin S.
Gamal Ferdhi, M. Subhi Azhari, Nurul H. Maarif 
 Winataputra. Bahkan Udin menilai, CEyang dikembangkan di Asia baru tahap
to know democracy 
(mengetahuidemokrasi,
red 
 ). “Belum
how to build de- mocracy 
(bagaimana membangun demo-krasi,
red 
 ),” ujarnya.Sebab itu pula, jika ada orang yang beranggapan pengajaran CE di negeri initelah berhasil, Udin menyanggahnya.“Itu sering bikin saya malu hati. Sayasendiri merasa, kita belum banyak beranjak secara signifikan, kecuali sebatas
knowing 
(pengetahuan,
red 
 ),” akunya.Karena itu Udin merasa masihbanyak yang harus dilakukan parapenggagas CE agar demokrasi di Indo-nesia benar-benar terwujud. “Seluruhkomponen bangsa yang peduli dalamsoal ini harus menyatukan pikiran danterus bekerja,” pesan professor yang puluhan tahun menggeluti CE ini. []
Baru Knowing, Belum Doing 
Prof. Dr. Udin Saripudin Winataputra
Puluhan tahun menggeluti
civic education
(CE), menjadikan Prof. Dr. Udin S. Winataputra sangat berkompeten berbicara soal ini. Menurutnya, CEdi Indonesia baru sebatas
knowing
belum
doing
. Indikatornya jelas! Mahasiswa yang telah dibekali prinsip-prinsip CE, ketika berdemo tetap sajatidak tertib. Malah tak jarang anarkis. Berikut penuturannya kepada
Gamal Ferdhi
dan
Nurul H. Maarif 
dari the WAHID Institute:
Apa tujuan awal diciptakannya CE?
Di AS, CE itu program kurikuler yang dirancang untuk sekolahan.Tujuannya membangun warga negara AS yang cerdas dan bertang-gungjawab. Atau
smart 
dan
good citizens 
. Warga itu
hypothetical citizen 
kata Aristoteles. Semua orang baru bisa menjadi warga negarayang baik kalau ada upaya khusus mendidiknya. Jadi harus adaupaya sistemik yang dilakukan pemerintah untuk membangun masadepan bangsanya. Salah satunya dengan melakukan pendidikankewarganegaraan atau CE.
Adakah akar CE untuk kontek Indonesia?
Kita memang punya tradisi sendiri. Upaya membangun bangsa itulahir sejak awal abad 20. Kita mencatat ada semangat berbangsaIndonesia yang oleh orang Barat ditengarai sebagai indikator bang-kitnya kesadaran orang-orang Timur. Puncaknya pada 28 Oktober1928. Saat itu sejumlah anak muda berikrar dan bersemangat untukmenjadi banga yang satu, hidup di tanah tumpah yang satu danberbahasa yang satu bahasa Indonesia. Ini kian mengkristal ketikaIndonesia merdeka pada 1945.
Jadi kesadaran bernegara Indonesia telah ada sejak dini?
Betul! Persoalannya bagaimana mewujudkan itu? Salah satu alatnyaadalah pendidikan sebagai sarana membangun bangsa ini lewat gene-rasi mudanya. Inilah latar historis dan filosofis mengapa kita haruspunya program pendidikan yang dirancang khusus untuk membang-kitkan kesadaran berbangsa. Maka pada 61-an dikembangkanlah matapelajaran Civic. Tahun 68 civic berubah menjadi Pendidikan Kewar-gaan Negara (PKN). Doktrin pemerintahnya mulai dikurangi dan munculdoktrin negara yaitu UUD ‘45 dan Pancasila. Ini berlangsung sampaitahun 74. Tahun 75 berubah jadi PMP. Tahun 94 jadi PendidikanPancasila dan Kewarganegaraan (PPKn).Pelajaran-pelajaran itu menjadi alat pemerintah untuk mengindok-trinasi rakyat. Lewat mata pelajaran ini kita dicekoki bagaimanaseharusnya menjadi warga negara dengan memahami doktrin politikkenegaraan waktu itu. Padahal sesungguhnya semua itu untukmembangun warga yang pro negara bukan pro pemerintah. Kalauperlu kritis terhadap pemerintah. Barulah beberapa tahun silam pascaOrde Baru, muncul wacana baru tentang pendidikan kewarganega-raan sebagai wahana pendidikan demokrasi.
Apa kelemahan CE yang ada?
CE di Asia baru
teaching about democracy 
(pengajaran tentangdemokrasi,
red 
) yang lebih ke wacana. Dengan kata lain baru
how to know democracy 
(bagaimana mengetahui demokrasi,
red 
)
 
dan belum
how to build democracy 
(bagaimana membangun demokrasi,
red 
)seperti di AS, Inggris dan New Zeland. Jadi di Indonesia kita harusbergerak ke tengah dulu. Jangan langsung melompat ke
building 
.
Bukankah CE sudah cukup lama diajarkan di Indonesia?
Memang! Tapi demokrasi itu tumbuh jika ada kulturnya. Apakah kitatidak punya akar demokrasi? Sebagian besar orang mengatakan,kita tidak punya akar demokrasi. Karena sejarah kita itu sejarahkerajaan atau monarki lokal. Budaya kita bukan budaya mengindone-siakan Indonesia, tapi budaya komuniter. Saya sering dialog denganorang DPR. Dalam benak mereka bukan Indonesia nomor satu, tapipartai. Apalagi kalau sudah menjelang Pemilu. Sebenarnya politisi
 
Suplemen ini dipersembahkan The Wahid Institute, bekerja sama dengan The Asia Foundation dan Majalah GATRA.Dapat dijumpai setiap bulan, pada pekan terakhir. Kritik dan saran kirim ke info@wahidinstitute.org - www.wahidinstitute.org
    E    d    i   s    i    V    I    I    I    /     G    A    T    R    A  -   e    d    i   s    i    2    9    /    X    I    I    1    J   u   n    i    2    0    0    6
harus diajarin slogan mereka sendiri: “loyalitas pada partai selesaiketika loyalitas pada bangsa dimulai”.
Selain politikus, apa lagi tantangan yang dihadapi CE?
Tantangannya termasuk sistem multipartai dan otonomi daerah.Misalnya sejarah lahirnya UUD 45 pasal 33 tentang bumi, air, dankekayaan laut dipelihara oleh negara, itu yang merumuskan Hatta danSyahrir. Mereka itu pemuda Sumatera yang tahu di bawah alam Sumate-ra ada kekayaan. Tapi karena Otda, ada kabupaten bertengkar soallaut. Ini menyebabkan Indonesia terkapling. Akhirnya yang terbentukbukan orang yang punya jiwa keindonesiaan, tapi orang yang lokalis,primordial dan sangat egosentris. Itu ironis!
Bagaimana perkembangan CE saat ini?
Sekarang ini, standar isi pendidikan kewarganegaraan untuk SD, SMP,dan SMA sangat dominan kontennya. Ini berarti anak sekolah hanyadiperkuat
knowing 
-nya. Untuk SMP misalnya, ada bunyi kompetensi,siswa mampu menganalisis suasana kebatinan pembuatan konstitusi.Celaka! Kalau anak SMP harus dicekoki untuk menganalisis, apa
sih 
suasana kebatinan itu? Ini untuk mahasiswa fakultas hukum jurusanhukum tata negara.
Evaluasi CE itu sendiri seperti apa?
Sekarang, karena
knowing,
evaluasinya hanya
testing 
. Kalau sudah
doing 
, evaluasinya bukan lagi
testing 
, tapi juga
doing 
. Karena itu,Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sekarang sedang memper-baiki standar isi, standar pembelajaran dan standar guru yang nantinyaakan diterapkan dari SD sampai PT.
Bukankah banyak orang beranggapan CE telah berhasil?
Itu sering bikin saya malu hati. Saya katakan, itu hanya
lips service 
.Saya sendiri merasa, kita belum banyak beranjak secara signifikan.Dalam pemikiran memang banyak berubah.
Lalu capaian apa yang telah diraih CE?
Yang paling kelihatan hanya
knowing 
saja. Orang banyak tahudemokrasi. Itupun baru pada tingkat akademis.
Doing- 
nya ada, tapikalau dipersentase mungkin
knowing 
-nya 75 %. Buktinya anak-anaksekolah kalau berdemo
nggak 
bisa tertib. Indikatornya itu saja . Merekatahu demokrasi, tapi belum bisa mempraktekkannya.Jadi, banyak pekerjaan yang harus kita lakukan. Seluruh komponenyang konsen dalam soal ini harus menyatukan pikiran dan konsistenmenyebarkan hal ini lewat media massa, sehingga terbangunkebersamaan sebagai bangsa. Misalnya kesadaran orang Aceh,Jawa, Sunda, Manado dan sebagainya. Bangunlah kesamaan itu.Jangan tonjolkan perbedaannya. Simbol-simbol Indonesia harus selaludikedepankan.[]
 Merajut Islam dan Demokrasi
LEMBAGAKajian Islam dan Sosial (LK 
S) Jogjakarta adalahsalah satu lembaga non pemerintah yang menggeluti pendidikankewarganegaraan melalui forum Belajar Bersama, yang dimulaisejak 1997 dan berlangsung setiap tahun.Kegiatan yang diselenggarakan di Jogjakarta ini, pada awalnyadimaksudkan sebagai ruang diskusi bagi para santri, mahasiswadan aktivis sosial tentang persoalan-persoalan mendasar di sekitaragama, kekuasaan dan pengetahuan, ideologi dan masyarakat.“Dalam perkembangan selanjutnya, Belajar Bersama jugamenjadi forum pertukaran pengalaman di antara peserta, yang terdiri dari para
community organizer 
, seputar praksis gerakanmasyarakat dan kaitan-kaitan struktural yang melingkupinya,”tegas Direktur Eksekutif LK 
S Jogjakarta M. Jadul Maula.Dalam forum yang diimajinasikan sebagai cikal bakal ‘universi-tas’ LK 
S ini, imbuh Jadul, terdapat tiga fakultas, yaitu FakultasIslam dan Relasi Antar Agama, Islam dan Gerakan Perempuandi Indonesia, dan Islam dan Politik Kewarganegaraan.“Di tahun 2005 lalu, Belajar Bersama secara khusus mengang-kat dua tema, yaitu Islam dan Multikulturalisme, juga Islam danPolitik Lokal yang secara khusus menelaah munculnya Perda-perda Syari’at Islam di berbagai wilayah di Indonesia,” ujarnya.Menurut Jadul, materi-materi ini penting karena dua hal.
Pertama 
, dari sudut kewarganegaraan. Banyak kebijakan danperilaku negara yang justru melanggar bahkan menindas hak-hak  warga negaranya sendiri. “Seperti hak menikmati kekayaan alam,hak atas lapangan pekerjaan, hak atas keamanan, hak ataskebebasan berkeyakinan, hak atas kepastian hukum, dan lain-lain,” jelas Jadul.
Kedua 
, dari sudut Islam. Jadul mengakui,
mainstream 
pemikirandan gerakan Islam Indonesia belum mendukung upayapenguatan dan pemenuhan hak-hak warga negara dalammenghadapi ketidakpedulian dan keangkuhan negara. Alasan lainnya, imbuh Jadul, materi
civic education 
(CE) dalamkurikulum resmi tidak menjawab masalah yang banyak terjadi dinegara ini. “Bahkan menambah kekaburan masalah,” kritiknya.Kritik itu didasarkan pada pengamatannya tentang materi CEyang lebih menekankan kewajiban warga negara, bukan hak-haknya. “Ini terbalik. Mestinya penekanannya pada kewajibannegara terhadap warga-nya dan hak warganegara atas negara, lalubaru kewajiban warga terhadap negaranya,” tegasnya. Jadul juga melihat adanya persoalan dalam konsepkewarganegaraan ( 
citizenship
 ) yang lebih mengutamakan legalitasdan menyeragamkan warga negara, sehingga cenderung diskriminatif. “Kelompok yang mempunyai keyakinan maupunagama ‘tidak legal’, tidak diakui sebagai warga negara,” paparnya.Demikian juga, tambah Jadul, konsep kewarganegaraan yang dominan belum menampung perbedaan-perbedaan kulturalyang ada di dalam masyarakat, seperti kultur anak jalanan, para
diffable 
, perbedaan orientasi seksual, perbedaan adat, dan lain-lain.Karena itu, dalam forum Belajar Bersama, LK 
S memulaidengan identifikasi problem-problem yang dihadapi warganegara selama ini. Kemudian mengemukakan sebab-sebabstruktural dalam lingkup lokal, nasional maupun global, yang melahirkan problem itu. “Tidak lupa, kita juga membicarakansecara kritis orientasi pemikiran dan gerakan Islam dalam kontekskewarganegaraan,” pungkasnya.Seperti LK 
iS 
, Perhimpunan Pengembangan Pesantren danMasyarakat (P3M) Jakarta, juga gencar menanamkan nilai-nilaidemokrasi melalui kegiatan pendidikan kewarganegaraan dilingkungan pesantren, baik di pesantren Jawa maupun luar Jawa.“Pendidikan kewarganegaraan untuk kalangan pesantren,misalnya melalui program Santri Government (SG) pada 2001dan 2003,” jelas Project Officer Santri Government P3M ASBurhan.Kegiatan SG, antara lain, telah dilaksanakan di Ponpes al-Hikmah Sirampog Brebes Jawa Tengah, Ponpes al-Hamidiyah Jakarta, Ponpes al-Masthuriyah Sukabumi Jawa Barat, Ponpes Assidhiqiyah Tangerang Banten, Ponpes Sukahideng Tasikmalaya Jawa Barat, Ponpes al-Ihya’ Ulumuddin Cilacap Jawa Tengah danlain sebagainya.[]
Subhi Azhari, Nurul H. Maarif 
Forum Belajar Bersama LKiS
dok.LKiS
of 00

Leave a Comment

You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...
You must be to leave a comment.
Submit
Characters: ...