Suplemen ini dipersembahkan The Wahid Institute, bekerja sama dengan The Asia Foundation dan Majalah GATRA.Dapat dijumpai setiap bulan, pada pekan terakhir. Kritik dan saran kirim ke info@wahidinstitute.org - www.wahidinstitute.org
E d i s i V I I I / G A T R A - e d i s i 2 9 / X I I 1 J u n i 2 0 0 6
harus diajarin slogan mereka sendiri: “loyalitas pada partai selesaiketika loyalitas pada bangsa dimulai”.
Selain politikus, apa lagi tantangan yang dihadapi CE?
Tantangannya termasuk sistem multipartai dan otonomi daerah.Misalnya sejarah lahirnya UUD 45 pasal 33 tentang bumi, air, dankekayaan laut dipelihara oleh negara, itu yang merumuskan Hatta danSyahrir. Mereka itu pemuda Sumatera yang tahu di bawah alam Sumate-ra ada kekayaan. Tapi karena Otda, ada kabupaten bertengkar soallaut. Ini menyebabkan Indonesia terkapling. Akhirnya yang terbentukbukan orang yang punya jiwa keindonesiaan, tapi orang yang lokalis,primordial dan sangat egosentris. Itu ironis!
Bagaimana perkembangan CE saat ini?
Sekarang ini, standar isi pendidikan kewarganegaraan untuk SD, SMP,dan SMA sangat dominan kontennya. Ini berarti anak sekolah hanyadiperkuat
knowing
-nya. Untuk SMP misalnya, ada bunyi kompetensi,siswa mampu menganalisis suasana kebatinan pembuatan konstitusi.Celaka! Kalau anak SMP harus dicekoki untuk menganalisis, apa
sih
suasana kebatinan itu? Ini untuk mahasiswa fakultas hukum jurusanhukum tata negara.
Evaluasi CE itu sendiri seperti apa?
Sekarang, karena
knowing,
evaluasinya hanya
testing
. Kalau sudah
doing
, evaluasinya bukan lagi
testing
, tapi juga
doing
. Karena itu,Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sekarang sedang memper-baiki standar isi, standar pembelajaran dan standar guru yang nantinyaakan diterapkan dari SD sampai PT.
Bukankah banyak orang beranggapan CE telah berhasil?
Itu sering bikin saya malu hati. Saya katakan, itu hanya
lips service
.Saya sendiri merasa, kita belum banyak beranjak secara signifikan.Dalam pemikiran memang banyak berubah.
Lalu capaian apa yang telah diraih CE?
Yang paling kelihatan hanya
knowing
saja. Orang banyak tahudemokrasi. Itupun baru pada tingkat akademis.
Doing-
nya ada, tapikalau dipersentase mungkin
knowing
-nya 75 %. Buktinya anak-anaksekolah kalau berdemo
nggak
bisa tertib. Indikatornya itu saja . Merekatahu demokrasi, tapi belum bisa mempraktekkannya.Jadi, banyak pekerjaan yang harus kita lakukan. Seluruh komponenyang konsen dalam soal ini harus menyatukan pikiran dan konsistenmenyebarkan hal ini lewat media massa, sehingga terbangunkebersamaan sebagai bangsa. Misalnya kesadaran orang Aceh,Jawa, Sunda, Manado dan sebagainya. Bangunlah kesamaan itu.Jangan tonjolkan perbedaannya. Simbol-simbol Indonesia harus selaludikedepankan.[]
Merajut Islam dan Demokrasi
LEMBAGAKajian Islam dan Sosial (LK
i
S) Jogjakarta adalahsalah satu lembaga non pemerintah yang menggeluti pendidikankewarganegaraan melalui forum Belajar Bersama, yang dimulaisejak 1997 dan berlangsung setiap tahun.Kegiatan yang diselenggarakan di Jogjakarta ini, pada awalnyadimaksudkan sebagai ruang diskusi bagi para santri, mahasiswadan aktivis sosial tentang persoalan-persoalan mendasar di sekitaragama, kekuasaan dan pengetahuan, ideologi dan masyarakat.“Dalam perkembangan selanjutnya, Belajar Bersama jugamenjadi forum pertukaran pengalaman di antara peserta, yang terdiri dari para
community organizer
, seputar praksis gerakanmasyarakat dan kaitan-kaitan struktural yang melingkupinya,”tegas Direktur Eksekutif LK
i
S Jogjakarta M. Jadul Maula.Dalam forum yang diimajinasikan sebagai cikal bakal ‘universi-tas’ LK
i
S ini, imbuh Jadul, terdapat tiga fakultas, yaitu FakultasIslam dan Relasi Antar Agama, Islam dan Gerakan Perempuandi Indonesia, dan Islam dan Politik Kewarganegaraan.“Di tahun 2005 lalu, Belajar Bersama secara khusus mengang-kat dua tema, yaitu Islam dan Multikulturalisme, juga Islam danPolitik Lokal yang secara khusus menelaah munculnya Perda-perda Syari’at Islam di berbagai wilayah di Indonesia,” ujarnya.Menurut Jadul, materi-materi ini penting karena dua hal.
Pertama
, dari sudut kewarganegaraan. Banyak kebijakan danperilaku negara yang justru melanggar bahkan menindas hak-hak warga negaranya sendiri. “Seperti hak menikmati kekayaan alam,hak atas lapangan pekerjaan, hak atas keamanan, hak ataskebebasan berkeyakinan, hak atas kepastian hukum, dan lain-lain,” jelas Jadul.
Kedua
, dari sudut Islam. Jadul mengakui,
mainstream
pemikirandan gerakan Islam Indonesia belum mendukung upayapenguatan dan pemenuhan hak-hak warga negara dalammenghadapi ketidakpedulian dan keangkuhan negara. Alasan lainnya, imbuh Jadul, materi
civic education
(CE) dalamkurikulum resmi tidak menjawab masalah yang banyak terjadi dinegara ini. “Bahkan menambah kekaburan masalah,” kritiknya.Kritik itu didasarkan pada pengamatannya tentang materi CEyang lebih menekankan kewajiban warga negara, bukan hak-haknya. “Ini terbalik. Mestinya penekanannya pada kewajibannegara terhadap warga-nya dan hak warganegara atas negara, lalubaru kewajiban warga terhadap negaranya,” tegasnya. Jadul juga melihat adanya persoalan dalam konsepkewarganegaraan (
citizenship
) yang lebih mengutamakan legalitasdan menyeragamkan warga negara, sehingga cenderung diskriminatif. “Kelompok yang mempunyai keyakinan maupunagama ‘tidak legal’, tidak diakui sebagai warga negara,” paparnya.Demikian juga, tambah Jadul, konsep kewarganegaraan yang dominan belum menampung perbedaan-perbedaan kulturalyang ada di dalam masyarakat, seperti kultur anak jalanan, para
diffable
, perbedaan orientasi seksual, perbedaan adat, dan lain-lain.Karena itu, dalam forum Belajar Bersama, LK
i
S memulaidengan identifikasi problem-problem yang dihadapi warganegara selama ini. Kemudian mengemukakan sebab-sebabstruktural dalam lingkup lokal, nasional maupun global, yang melahirkan problem itu. “Tidak lupa, kita juga membicarakansecara kritis orientasi pemikiran dan gerakan Islam dalam kontekskewarganegaraan,” pungkasnya.Seperti LK
iS
, Perhimpunan Pengembangan Pesantren danMasyarakat (P3M) Jakarta, juga gencar menanamkan nilai-nilaidemokrasi melalui kegiatan pendidikan kewarganegaraan dilingkungan pesantren, baik di pesantren Jawa maupun luar Jawa.“Pendidikan kewarganegaraan untuk kalangan pesantren,misalnya melalui program Santri Government (SG) pada 2001dan 2003,” jelas Project Officer Santri Government P3M ASBurhan.Kegiatan SG, antara lain, telah dilaksanakan di Ponpes al-Hikmah Sirampog Brebes Jawa Tengah, Ponpes al-Hamidiyah Jakarta, Ponpes al-Masthuriyah Sukabumi Jawa Barat, Ponpes Assidhiqiyah Tangerang Banten, Ponpes Sukahideng Tasikmalaya Jawa Barat, Ponpes al-Ihya’ Ulumuddin Cilacap Jawa Tengah danlain sebagainya.[]
Subhi Azhari, Nurul H. Maarif
Forum Belajar Bersama LKiS
dok.LKiS
Leave a Comment