Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
0Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Kebanggaan Muslimah_ Kami Menolak Islamofobia Femens Dan Perang Salib Neo-Kolonialis Untuk Menyelamatkan Kami

Kebanggaan Muslimah_ Kami Menolak Islamofobia Femens Dan Perang Salib Neo-Kolonialis Untuk Menyelamatkan Kami

Ratings: (0)|Views: 80|Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on Apr 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/26/2013

pdf

text

original

 
HTI (http://hizbut-tahrir.or.id/) Home (http://hizbut-tahrir.or.id/category/muslimah/)Aktualita (http://hizbut-tahrir.or.id/category/muslimah/aktualita/)
Kebanggaan Muslimah: Kami Menolak Islamofobia Femensdan Perang Salib Neo-Kolonialis Untuk MenyelamatkanKami
(http://hizbut-tahrir.or.id/wp-content/uploads/2012/02/anak-muslimah-inggris.jpg)Oleh: Sofia Ahmad Aktivis yang saat ini kuliah Hubungan Internasional di Universitas BirminghamSaya telah mengikuti eksploitasi yang dilakukan oleh Femen dan telah menjadi semakinmerasa frustrasi dengan cara bagaimana mereka melakukan kampanyenya. Apa yangsedang dilakukan Femen sangatlah kontraproduktif dan merugikan kaum wanita Muslim diseluruh dunia. Bagi saya dan ratusan wanita lain yang sudah melakukan kontak dengansaya selama beberapa hari terakhir, taktik mereka merupakan bagian dari perang ideologiyang terjadi di antara unsur-unsur neo-kolonial dalam masyarakat Barat dan Islam. Tujuanmereka bukan untuk membebaskan kita dari yang dianggap sebagai perbudakan, tapimalah bertujuan untuk memperkuat imperialisme Barat dan membangkitkan persetujuanatas perang yang sedang berlangsung terhadap negara-negara Muslim.Meskipun saya mengemukakan pandangan pribadi tentang efektivitas tindakan AminaTyler, saya berharap bahwa dia tetap dalam keadaan aman dan baik. Namun, saya gagaluntuk melihat bagaimana deklarasi ‘Topless Jihad Day ‘untuk mendukungnya’ akanmemiliki efek positif terhadap nasibnya. Suatu kebijakan yang didasarkan pada “Muslimwomen, let’s get naked” (Wanita Muslim, marilah kita telanjang) adalah tindakan yangkontraproduktif dan nyaris gila. Ini adalah apa yang mendorong saya untuk memulai‘Muslimah Pride Day’ (Hari Kebanggaan Muslimah).
Index
>
(http://hizbut-tahrir.or.id/category/muslimah/release-muslimah/)
release (http://hizbut-
 
tahrir.or.id/category/muslimah/releasmuslimah/)
 
Rabu, 24/04/13 4:07WIB
Pendidik takBerakhlak: BuahPenerapanSistemKapitalisme-Demokrasi(http://hizbut-tahrir.or.id/2013/04/24/pendidik-tak-berakhlak-buah-penerapan-sistem-kapitalisme-demokrasi/)
Kantor Juru BicaraMuslimah Hizbut Tahrir IndonesiaNomor: 52/PN/04/13 | Jakarta, 23 April2013/13 Jumadi tsani 1434 HPernyataan Muslimah Hizbut Tahrir IndonesiaPendidik tak Berakhlak: Buah PenerapanSistem Kapitalisme-Demokrasi Potret buram dunia pendidikan semakinbanyak terungkap. Bukan hanya soalburuknya fasilitas pendidikan, kurikulum yangterus berganti-ganti tanpa arah yang pasti,hingga yang terbaru soal kisruh UN.Belakangan masyarakat semakin resah …
Release (http://hizbut-tahrir.or.id/category/muslimah/release-muslimah/)Reportase (http://hizbut-tahrir.or.id/category/muslimah/reportase/)Telaah Kritis (http://hizbut-tahrir.or.id/category/muslimah/telaah-kritis/)
 
Tampaknya, banyak wanita Muslim lainnya di seluruh dunia setuju dengan sikap saya danapa yang terjadi selanjutnya adalah penolakan yang lantang dan vokal terhadap Femen. Alih-alih para wanita Muslim ‘yang telanjang’, dari seluruh dunia malah men-tweet danmeng-upload gambar-gambar mereka ke Facebook dengan mengenakan jilbab, cadar, danpakaian Barat. Mereka memberikan tanda yang memberitahu kepada dunia mengapamereka bangga dengan identitas mereka dan tidak butuh para wanita Islamofobia rasisuntuk mendikte mereka tentang bagaimana mereka harus berpakaian. Banyaknya pesertadan dukungan gerakan ini adalah indikasi dari tingkat kemarahan dan frustrasi yangdirasakan oleh para wanita Muslim terhadap tindakan yang kekanak-kanakan dan terus-menerus yang dilakukan oleh Femen dan kelompok-kelompok lain semacamnya.Dalam surat terbuka kami untuk Femen, kami menyebut mereka sebagai kaum ‘feminiskolonial’ untuk menggambarkan kegiatan mereka. Saya yakin itu adalah istilah yangpaling tepat untuk menggambarkan feminisme mereka. Dari Helen of Troy, wajah yangmeluncurkan seribu kapal, hingga dalih pembebasan wanita yang berkisar invasi Afghanistan, para wanita selalu digunakan sebagai pion oleh kaum pria sebagai alasanuntuk berperang. Femen hanyalah bab yang paling akhir dalam sejarah panjang kaumimperialis gender yang mendorong persetujuan dan memberikan latar belakang ideologisuntuk membenarkan perang. Dengan mengabaikan peran negara-negara barat dalampenindasan kaum wanita Muslim dan hanya berfokus pada pria Muslim, mereka hanyabekerja untuk menjelek-jelekkan Islam, bukan untuk membebaskan kaum wanita Muslim.Dalam sepucuk surat terbarunya yang dimuat di Huffington Post UK, Inna Shevchenkomenunjukkan bahwa kami punya kaum “pria berjanggut dengan pisau” di belakang kamiyang telah mendorong kami untuk melancarkan kampanye ini. Dengan demikian, diamenolak hak kita untuk mengekspresikan diri sebagai hal yang tidak mungkin. Apa yang dia siratkan dari pernyataannya adalah bahwa wanita Muslim tidak mampuberbicara untuk diri mereka sendiri. Ini adalah upaya terang-terangan yang menyangkalbahwa kita memiliki hak dalam kehidupan kita sendiri. Usaha untuk memunculkanperasaan rendah diri ini adalah pernyataan simbolik atas alasan mengapa begitu banyakwanita Muslim yang sangat marah kepada Femen.Menjelang terjadinya perang Afghanistan adalah contoh utama tentang bagaimanafeminisme digunakan untuk membangun dan menyebarkan stereotip negatif tentangwanita Muslim untuk menyiapkan dukungan bagi para penghasut perang. Mantan FirstLady, Laura Bush, memberikan pidato tentang apa yang dia sebut sebagai penderitaankaum wanita di Afganistan, yang ternyata adalah merujuk kepada hal seperti burkha yangdianggap menjadi hambatan bagi kebebasan. Nasib kaum wanita Afghanistan yangdiberitakan digunakan untuk memanipulasi publik agar percaya bahwa perang ini adalahperang salib feminis yang bermaksud baik untuk membebaskan mereka. Kenyataan yangsesungguhnya yang menyakitkan adalah bahwa metode yang dipilih untuk pembebasankaum wanita Afghanistan adalah dengan pengeboman, pembunuhan dan perkosaanterhadap mereka yang dengan cara sinis membayangi semangat untuk menyelamatkanmereka dari kaum pria Muslim yang ’jahat’ dari kalangan mereka sendiri.Dalam iklim di mana kita terus-menerus diperingatkan tentang ‘benturan peradaban’ danperang abadi negara-negara Barat terhadap negara-negara Muslim, ada kebutuhanmendasar untuk merendahkan martabat ‘musuh’. Penekanan yang berlebihan terhadapkaum pria Muslim yang dianggap melakukan tindakan misogini yang membayangikurangnya pengawasan atas penindasan Barat terhadap kaum wanita Muslim.
 
Ketergantungan Femen pada kiasan yang dipakai media secara berlebihan dari nilai-nilaiBarat modern yang dibandingkan dengan nilai-nilai Islam tradisional adalah denganmenciptakan representasi dikotomis atas ‘diri sendiri’ (Barat) dan ‘orang lain’ (Muslim).Wacana-wacana itu hanya didasarkan pada gaun yang dipakai wanita yang secarahistoris telah digunakan untuk membenarkan penindasan terhadap semua kelompok yangdidominasi di dalam sejarah. Para penjajah Prancis merobek jilbab para wanita Muslimselama Revolusi Aljazair. Dalam esainya Aljazair Unveiled, dimana Frantz Fanon menelitiperan wanita dalam masyarakat terjajah, Frantz mengutip penguasa kolonial Perancisdengan mengatakan: “Jika kita ingin menghancurkan struktur masyarakat Aljazair,menghancurkan kapasitas perlawanannya, pertama-tama kita harus menaklukkan kaumwanita, kita harus pergi dan temukan mereka di balik kerudungnya di mana merekamenyembunyikan diri dan di rumah-rumah di mana para prianya menjaga mereka agar tidak terlihat “. Kelompok Neo-cons dan kelompok Islamofobia menggunakan pendekatanyang sama untuk menundukkan para wanita Muslim.Kampanye hiper-seksualitas Femen dan desakan kepada kaum wanita Muslim untukbertelanjang sebagai tanda emansipasi adalah sebuah gejala fantasi orientalis. Ketikakaum puritan, kaum Kristen munafik dari Eropa pertama kali datang ke seluruh duniaMuslim, kaum wanita Muslim terlarang bagi orang-orang Barat namun hal itu tidakmenghentikan para penulis sastra harem untuk membuat-buat karangan fantasi seksualmereka dan menampilkannya sebagai kenyataan. Kaum wanita Muslim digambarkansebagai para budak seks yang duduk-duduk di dalam harem, untuk kesenangan seksualkaum pria Muslim. Hal ini telah menyebabkan munculnya ide ‘Wanita Muslim’ sebagaiobjek seksual yang tunduk. Taktik Femen ini menunjukkan bahwa mentalitas ini tidaklahberubah. Sekarang, Barat yang menganggap dirinya bebas secara seksual, menampilkankaum wanita muslim (yakni ‘orang lain’) sebagai budak seks yang ditutup-tutupi yangberusaha secara mati-matian melepaskan diri dari burkha mereka yang menyesakkan danberusaha melepaskan diri dari kawin paksa.Saya tidak menolak fakta bahwa ada banyak masalah di dunia Muslim. Namun, sejarahtelah menunjukkan bahwa Barat baik secara langsung (melalui perbudakan, kolonialismedan neokolonialisme) maupun secara tidak langsung (melalui dukungan terhadap rezimmisoginis dan menindas seperti di Arab Saudi) telah melakukan hal yang lebih jauhdengan merusak kaum wanita Muslim daripada apa yang dimiliki oleh kaum pria muslim.Itu sebabnya saya dengan keras menentang Femen dengan pemaksaan agendaneokolonialnya. Jika Femen benar-benar ingin membantu kaum wanita Muslim, merekaharus mengatasi kenyataan bahwa sudah terlalu lama hingga saat ini, kaum wanitaMuslim telah dipinggirkan, dibom, diperkosa, dibunuh, dan diperbudak oleh kaum pria daridunia barat. Mereka harus bekerja di negara mereka sendiri untuk mencoba danmembatalkan perang di masa depan terhadap negara-negara Muslim dan membantumemecahkan masalah. Atau mungkin, mereka harus tetap mencoba membebaskan kaumwanita di barat.Kami telah kewalahan dan sangat menghargai dukungan dan dorongan yang kita telahdapatkan dari kaum non-Muslim di seluruh dunia. Seorang wanita dari Amerika Serikatmengirimkan gambar di mana dia telah mengenakan jilbab yang terbuat dari sepotong kaindan ikat kepala sebagai solidaritas atas hak kita untuk memakainya. Kaum Feminis Barat

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->