Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
3Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
ANALISIS SPATIAL PATTERN DAN SPATIAL AUTOCORRELATION PADA INDUSTRI GERABAH DI KABUPATEN KEBUMEN.docx

ANALISIS SPATIAL PATTERN DAN SPATIAL AUTOCORRELATION PADA INDUSTRI GERABAH DI KABUPATEN KEBUMEN.docx

Ratings: (0)|Views: 371 |Likes:
Published by Erie Sadewo

More info:

Published by: Erie Sadewo on Apr 26, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2013

pdf

text

original

 
ANALISIS SPATIAL PATTERN DAN SPATIAL AUTOCORRELATION PADA INDUSTRI KERAJINAN GERABAHDI KABUPATEN KEBUMEN1.
 
Pendahuluan1.1.
 
Latar BelakangSektor industri dianggap sebagai salah satu sektor yang cukup penting dalam perekonomiankarena dua hal. Pertama, kemampuannya untuk menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggidibandingkan dengan sektor lain. Kedua, sektor ini memiliki kemampuan untuk menyerap tenagakerja dalam skala yang lebih besar dibandingkan dengan sektor lainnya, terutama dalam industriyang bersifat padat modal. Dengan demikian, dalam perjalanannya kedua kelebihan tersebutkemudian menjadikan sektor ini memiliki perkembangan yang lebih baik dibandingkan sektorekonomi lainnya di Indonesia.Selain, karena kedua kelebihan yang dimilikinya, sektor industri juga dapat digunakansebagai indikator kemajuan ekonomi wilayah. Pada sebagian besar daerah yang baru berkembang,sektor pertanian serta penggalian biasanya dijadikan sebagai andalan utama pendapatanmasyarakat. Sementara pada adaerah yang maju, sebagian besar sektor ekonomi yang berkembangbiasanya berada pada perdagangan serta jasa. Sektor inustri memiliki peranan sebagai jembatanyang menghubungkan transformasi dari sektor ekonomi tradisional pertanian serta pertambangan,mmenjadi sektor perdagangan serta jasa.Namun demikian, dalam perjalanannya sektor industri memiliki tingkat perkembangan yangberbeda-beda antara daerah. Hal ini merupakan akibat dari ketergantungan industri terhadapbarang modal seperti; tanah, tenaga kerja, uang, kewirausahaan, serta teknologi. Optimasi darikombinasi ketersediaan berbagai barang modal tersebut merupakan penentu dari perkembangansektor industri suatu wilayah. Diperlukan adanya kesesuaian antara potensi serta daya dukungdaerah, sehingga pada pada akhirnya, di setiap wilayah akan terjadi pengelompokan atau spesialisasi jenis industri yang berkembang.Spesialisasi jenis industri tersebut juga terjadi di wilayah Kabupaten Kebumen. Daerah diselatan Pulau jawa ini memiliki kondisi wilayah yang berupa pegunungan di bagian utara, terdapatberbagai sungai yang mengalir menuju ke daerah persawahan dan tegalan di wilayah daerah selatan.Akibatnya struktur tanah yang dilalui menjadi subur, dan sangat baik untuk dimanfaatkan sebagaibahan baku pembuatan berbagai kerajianan gerabah. Pada tahun 2011 berdasarkan data DinasSumber Daya Alam, Pertambangan dan Energi dapat diidentifikasi bahwa usaha penggalian BatuLempung masih merupakan usaha penambangan galian C terbesar yaitu sebanyak 625 usaha.
 
Sementara itu, data besarnya eksploitasi bahan galian sampai dengan tahun 2011 belum bisadideteksi padahal sektor pertambangan merupakan sektor yang perlu diperhatikan mengingatkaitannya dengan kelestarian lingkungan hidup.Di sisi lain, terdapat jenis industri yang telah lama berkembang dengan menggunakan bahanbaku tersebut, yaitu industri batu bata dan genteng. Industri ini sangat penting bagi masyarakatKabupaten Kebumen karena walaupun bukan merupakan jenis industri terbanyak, namuan nilaitambah yang dihasilkan, serta jumlah pekerja yang diserap merupakan yang terbesar dibandingkandengan sektro industri lainnya. Selama ini industri batu bata dan genteng berkembang pada 21 dari26 di Kabupaten Kebumen, dengan jumlah desa/kelurahan sentra industri pada tahun 2011mencapai 133 buah. Angka ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2008 yang mencapai 92 buah.Sementara di tinjau dari segi jumlah, pada tahun 2011 terdapat 2090 buah industri, meningkatsebesar 14,39 persen dibandingkan dengan tahun 2008 yang hanya sebesar 1827 unit usaha. Begitupentingnya industri ini bagi masyarakat, sehingga batu bata dan genteng diabadikan dalam lambangdaerah Kabupaten Kebumen.Tabel 1. Perbandingan Jumlah Desa Sentra Industri Serta Jumlah Industri kerajinan Gerabah diKabupaten Kebumen Tahun 2008 dan 2011 Menurut KecamatanKodeWilayahNamaJumlahDesa/KelurahanJumlah Desa SentraIndustriJumlah Industri2008 2011 2008 2011(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)010 Ayah 18 3 1 40 3020 Buayan 20 6 7 130 52030 Puring 23 11 3 47 14040 Petanahan 21 11 10 84 85050 klirong 24 1 10 24 312060 Bulus Pesantren 21 1 13 10 156070 Ambal 32 - 1 - 1080 Mirit 22 - - - -081 Bonorowo 11 1 - 1 -090 Prembun 13 5 1 10 1091 Padureso 9 - - - -100 Kutowinangun 19 10 6 80 55110 Alian 16 1 3 1 3111 Poncowarno 11 - - - -120 Kebumen 29 6 9 100 137130 Pejagoan 13 8 8 537 399140 Sruweng 21 11 9 630 605150 Adimulyo 23 - 5 - 46
 
160 Kuwarasan 22 1 8 2 26170 Rowokele 11 - - - -180 Sempor 16 7 6 61 46190 Gombong 14 1 1 5 8200 Karanganyar 11 2 4 3 87210 Karangayam 19 4 1 27 3220 Sadang 7 2 1 35 3221 Karangsambung 14 - 6 483305 Kab. Kebumen 460 92 113 1827 2090Sumber : Pendataan Potensi Desa Tahun 2008 dan 2011, BPS1.2.
 
PermasalahanPerkembangan jumlah industri gerabah tersebut tentunya akan membawa dampak yangsangat baik bagi upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun karena perkembangannyasangat dipengaruhi oleh daya dukung lingkungan, maka perlu juga dipikirkan bagaimana agarperkembangan industri yang tergantung kepada sumber daya alam tersebut dapat berjalan secaraberkesinambungan tanpa menimbulkan dampak lingkungan yang serius di kemudian hari. Salah satuupaya yang dapat dilakukan adalah dengan mengelompokkan industri tersebut ke dalam cluster.Clustering merupakan salah satu upaya pendekatan startegis untuk membawa industrikepada bentuk kerjasama pembiayaan, penelitian, dan meningkatkan pemasukan. Selain itu,clustering juga akan memudahkan dalam upaya penerapan regulasi, serta menyediakan sarana bagiindustri tersebut untuk lebih kuat dalam menghadapi berbagai isu dalam perekonomian. Brookings
dalam laporannya
menyatakan bahwa pada periode 2003
dan 2010, perusahaan yang berada dalam cluster tumbuh 1,4 persen lebih cepat dibandingkan usahayang menyendiri (terisolasi).
1
 Hasil penelitian Wang, Liu, dan Mao (2011) mengenai mekanisme cluster industri danfenomena Cambridge menunjukkan bahwa cluster industri regional dibentuk berdasarkanpenyebaran mengenai pengetahuan dan teknologi. Cluster industri lebih cocok dipergunakan olehusaha kecil, dan skala optimalnya ditentukan oleh upah buruh, biaya sewa tanah, dan permintaanserta penawaran lokasi usaha. Selain itu usaha padat karya dan padat teknologi dengan permintaanwilayah yang terbatas lebih memiliki kecenderungan untuk menjadi cluster.
2
 
1
http://www.forbes.com/sites/rebeccabagley/2012/02/09/the-cluster-effect
2
Wang, Z., Liu, C., Mao, K., (2012), Industry cluster: spatial density and optimal scale,
 Anresc vol. 49
, p. 719-731

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->