Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Look up keyword
Like this
1Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Wewenang Khalifah

Wewenang Khalifah

Ratings: (0)|Views: 0 |Likes:
Published by Rizky M Faisal

More info:

Published by: Rizky M Faisal on Apr 28, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/16/2014

pdf

text

original

 
HTI(http://hizbut-tahrir.or.id/)
Seputar Khilafah
Wewenang Khalifah (http://hizbut-tahrir.or.id/2013/04/25/wewenang-khalifah/)
Khalifah sebagai kepala negara memiliki tanggung jawab yangbesar dengansejumlahkewenangan. Apa saja wewenang Khalifah?Telaah Kitab kali ini akan membahas Rancangan UUD (Masyrû’ Dustûr) Negara Islam Pasal36, yang berbunyi:Khalifah memiliki wewenang sebagai berikut: (a) Menetapkan hukum-hukum syariah yangdiperlukan untuk memelihara urusan-urusan umat, yang digali dengan ijtihad yangsahih dariKitabullah dan Sunnah Rasul-Nya sehingga menjadi perundang-undangan yang wajib ditaatidan tidak boleh dilanggar. (b) Bertanggung jawab terhadap politik negara, baik dalam maupunluar negeri; juga memegang kepemimpinan militer, dan yang berhak mengumumkan perang,mengadakan perjanjian damai, gencatan senjata serta seluruh perjanjian lainnya. (c) Berhakmenerima atau menolak duta-duta negara asing; juga berhak menentukan danmemberhentikan duta kaum Muslim. (d) Mengangkat dan memberhentikan para Mu’awin danWali; mereka semua bertanggung jawab kepada Khalifah sebagaimana mereka jugabertanggung jawab kepada Majelis Umat. (e) Mengangkat dan memberhentikan Qadhi Qudhatdan seluruh qadhi, kecuali Qadhi Mazhalim yang sedang menangani kasus terkait Khalifah,Mu’awin atau Qadli Qudhat. Juga yang berhak mengangkat dan memberhentikan para kepaladirektorat, komandan militer, dan para pemimpin brigade militer. Mereka bertanggung jawabkepada Khalifah dan tidak bertanggung jawab kepada Majelis Umat. (f) Mengadopsi hukum-hukum syariah yang berhubungan dengan anggaran pendapatan dan belanja negara. Jugayang menentukan rincian nilai APBN, pemasukan maupun pengeluarannya.” (An-Nabhani,Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 151).Berdasarkan Rancangan UUD (Masyrû’ Dustûr) Negara Islam Pasal 36 ini, Khalifah sebagaikepala negara memiliki sejumlah wewenang sebagai berikut:1. Menetapkan Hukum Syariah.Khalifah memiliki wewenanguntuk menetapkan hukum-hukum syariah tertentu yangdiperlukan. Ada dua alasan mengapa hal ini harus dilakukan oleh Khalifah: (i) tidak terhindariadanya perbedaan pendapatdi tengah masyarakat terkait satu persoalan; (ii) adanyahubungan antara penetapan hukum dan pemeliharaan Khalifah sebagai kepala negaraterhadap kepentingan kaum Muslim (Al-Khalidi, Qawâid Nizhâm al-Hukm fi al-Islâm, hlm. 344). Agar kedua hal tersebut tidak menimbulkan problem bahkan konflik di tengah-tengah umat,maka Khalifah harus menetapkan hukum-hukum syariah tertentu yang mengikat semua warga,yang kemudian disebut dengan undang-undang. Sebab, undang-undang didefinisikansebagai: “Seperangkat aturan yang ditetapkan oleh pemerintah, serta memiliki kekuatan yangmengikat dan memaksa rakyat untuk mematuhinya dalam menjalankan hubunganantarmereka (An-Nabhani, Nizhâm al-Islâm, hlm. 85).Dalil atas hal ini adalah Ijmak Sahabat. Pasalnya, ketika Umar ra. berkuasa, beliaumenetapkan hukum yang berbeda dengan pendapat Abu Bakar. Saat itu Khalifah Umar ra.membagikan harta (rampasan) perang berdasarkan siapa yang lebih dulu memeluk Islamatau yang lebih membutuhkannya, yakni dengan pembagian yang berbeda. Padahalsebelumnya, Khalifah Abu Bakar ra. membaginya dengan sama rata. Kaum Muslim punseluruhnya mengikuti pendapat Umar ini, termasuk para Qadhi dan Wali. Karena itu, IjmakSahabat menguatkan bahwa Khalifah berhak menetapkan hukum-hukum tertentu—tentu Afkar (http://hizbut-Akhbar (http://hizbut- AnalisisCatatan Jubir Cover (http://hizbut-Dari RedaksiDunia IslamFokus (http://hizbut-Galeri OpiniHadis PilihanHiwar (http://hizbut-Ibrah (http://hizbut-If titah (http://hizbut-IqtishadiyahJejak SyariahKritik (http://hizbut-Lintas DuniaLiputan KhususMuhasabahNisa' (http://hizbut-Opini (http://hizbut-RefleksiSirah (http://hizbut-Siyasah & DakwahSoal JawabSosok (http://hizbut-Suara PakarTa'rifat (http://hizbut-Tafsir (http://hizbut-Telaah Kitab
Pengantar [Derita Minoritas 
Rubrik
Publikasi-publikasi yang diterbitkan atasnama Hizbut Tahrir, wilayah , kantor media (al maktab al'ilami) , juru bicararesmi dan perwakilan media HizbutTahrir saja yang merupakan pendapatHizbut Tahrir. Dan yang selain itu
 
melalui proses ijtihad yang sahih—serta memerintahkan rakyatnya untuk melaksanakan-nya.Jadi, menetapkan hukum-hukum syariah adalah wewenang Khalifah semata (An-Nabhani,Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 152).2. Mengendalikan Kebijakan Dalam dan Luar NegeriKhalifah memiliki wewenang untuk mengendalikan kebijakan dalam dan luar negeri. Artinya,Khalifahlah yang bertanggung jawab terhadap politik negara, baik dalam maupun luar negeri; juga yang memegang kepemimpinan militer sehingga Khalifah berhak mengumumkanperang, mengadakan perjanjian damai, gencatan senjata serta seluruh perjanjian lainnya.Dalil terkait hal ini adalah af’âl (amal perbuatan) Rasulullah saw. Beliaulah yang mengangkatpara wali dan qadhi serta mengoreksi mereka. Beliau yang mengawasi aktivitas jual-beli danmencegah penipuan. Beliau yang mendistribusikan harta kepada rakyat. Beliau pula yangmembantu mereka yang tidak memiliki pekerjaan dan menciptakan lapangan pekerjaan. Artinya, beliau yang melakukan semua urusan dalam negeri. Beliau pula yang melakukanurusan luar negeri; di antaranya menyeru para raja dan menerima para delegasi.Beliau secara riil memimpin kepemimpinan militer. Bahkan ada sejumlah peperangan yangbeliau pimpin sendiri. Beliau mengirim pasukan khusus (sariyah) dan mengangkatpanglimanya. Bahkan ketika beliau mengangkat Usamah bin Zaid untuk memimpin pasukankhusus yang akan dikirim ke Syam, sahabat tidak senang dengan itu, karena Usamah masihsangat muda. Namun, Rasululah saw. memaksa mereka agar menerima kepemimpinanUsamah. Semua ini menunjukkan bahwa kepala negara (baca: Khalifah) adalah panglimatinggi militer yang sesungguhnya, bukan sekadar sebutan saja, seperti yang diberikan padaseorang presiden, termasuk di Indonesia. Beliau juga yang mengumumkan perang, sepertipengumuman perang terhadap kaum Quraisy, Bani Quraidhah, Bani Qainuqa’ dan lainnya.Beliau juga yang mengadakan perjanjian dengan Yahudi. Beliau pula yang mengadakanPerjanjian Hudaibiyah. Meski kaum Muslim tidak suka dengan Perjanjian Hudaibiyah ini,Rasulullah saw. tidak merespon dan menolak pendapat merela. Beliau tetap mengadakanperjanjian tersebut. Semua ini menunjukkan bahwa mengadakan perjanjian adalah wewenangKhalifah saja (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 153).3. Mengangkat dan Menerima Para Duta.Khalifah memiliki wewenang untuk menerima atau menolak duta-duta negara asing; jugamenentukan dan memberhentikan duta kaum Muslim. Dalil dalam hal ini adalah, bahwaRasulullah saw. pernah menerima dua delegasi kaum Quraisy, yaitu Musailamah al-Kadzdzabdan Abu Rafi’; keduanya merupakan duta kaum kafir Quraisy. Beliau yang mengirim para dutakaum Muslim kepada Heraqlius, Kisra, Muqaiqis, Harits al-Ghassani Raja Hirah, Harits al-Humairi Raja Yaman, dan kepada Najasi Raja Habasyah. Beliau pula yang mengirim Utsmanbin Affan di Hudaibiyah sebagai duta kaum Muslim kepada kaum kafir Quraisy. Semua inimenunjukkan bahwa Khalifahlah yang menerima para duta dan menolaknya, serta yangmengangkat para duta kaum Muslim (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 154).4. Mengangkat dan Memberhentikan Para Mu’awin dan Wali.Khalifah memiliki wewenang untuk mengangkat dan memberhentikan para para mu’awin danpara wali. Dalilnya adalah, bahwa Rasulullah saw. sendiri yang mengangkat para wali. Beliaumengangkat Muadz menjadi wali di Yaman. Beliau juga yang memberhentikan para wali.Beliau yang memberhentikan al-Ala’ bin al-Hadhrami dari jabatan sebagai wali di Bahrain,karena ada pengaduan dari penduduk Bahrain. Semua ini menunjukkan bahwa para walibertanggung jawab terhadap penduduk wilayahnya, bertanggung jawab terhadap Khalifah danbertanggung jawab terhadap Majelis Umat karena Majelis Umat mewakili seluruh wilayah. Halini terkait wewenang Khalifah untuk mengangkat dan memberhentikan para wali. Adapun dalil bahwa Khalifah memiliki wewenang untuk mengangkat dan memberhentikanpara mu’awin maka dalilnya adalah, bahwa Rasulullah saw. memiliki dua orang mu’awin, yaitu Abu Bakar dan Umar. Meski sepanjang hidupnya beliau tidak pernah memberhentikankeduanya dan tidak pula mengangkat orang lain selain keduanya. Pasalnya, mu’awin itumendapatkan kekuasaan dari Khalifah sehingga kedudukannya sama dengan wakil Khalifah.Karena itu Khalifah berhak memberhentikannya; di-qiyas-kan dengan wakil, yakni orang yangmewakilkan berhak memberhentikan wakilnya, kecuali ada dalil yang melarang darimemberhentikannya dalam kondisi tertentu (An-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 154).merupakan pendapat penulisnya,sekalipun dipublikasikan dalam websiteHizbut Tahrir Indonesia, majalah,Tabloid, multimedia yang diproduksiHizbut Tahrir Indonesia. Boleh mengutipdan mempublikasikan kembali apayang diterbitkan Hizbut Tahrir danwebsitenya, dengan syarat tetapmenjaga amanah (kejujuran) dalampenyalinan (penerjemahan) danpengutipan tanpa memotong,menginterpretasi dan mengubahnya;dan harus mencantumkan sumber dariapa yang diterjemahkan dandipublikasikan
 
5. Mengangkat dan Memberhentikan Para Qadhi, Kepala Direktorat dan Petinggi Militer.Khalifah memiliki wewenang untuk mengangkat dan memberhentikan Qadhi Qudhat danseluruh qadhi, kecuali Qadhi Mazhalim yang sedang menangani kasus terkait Khalifah,Mu’awin atau Qadhi Qudhat. Juga mengangkat dan memberhentikan para kepala direktorat,komandan militer, dan para pemimpin brigade militer.Dalilnya adalah, bahwa Rasulullah saw. pernah mengangkat Ali ra. sebagai qadhi di Yaman.Khalifah Umar ra. mengangkat Syuraikh sebagai qadhi di Kufah. Beliau pun pernahmemberhentikan Syurahbil bin Hasanah dari jabatannya sebagai qadhi di Syam. Khalifah Ali ra.pernah mengangkat Abu Aswad dan kemudian memberhentikannya karena suaranya terlalutinggi di hadapan dua orang yang tengah berperkara. Apa yang dilakukan oleh Khalifah Umar dan Imam Ali dilihat dan didengar langsung oleh para Sahabat. Tidak seorang pun dari merekayang mengingkari perbuatan keduanya. Ini menunjukkan bahwa Khalifahlah yang mengangkatpara qadhi dan memberhentikannya dengan di-qiyas-kan pada akad perwakilan. Adapun pengecualian pemecatan Qadhi Mazhalim yang tengah menangani kasus Khalifah,Mu’awin atau Qadhi Qudhat, maka itu didasarkan pada kaidah syariah, “Al-wasîlah ila al-harâmiharâm[un] (Sarana yang membawa pada keharaman adalah haram).”Dalam kondisi seperti ini, Khalifah memiliki wewenang memecatnya, maka itu akanberpengaruh terhadap keputusan qadhi, yang bisa menyia-nyiakan hukum syariah. Ini haram jika terjadi. Karena itu dalam kondisi seperti ini pemecatan Qadhi Mazhalim menjadiwewenang Mahkamah Mazhalim, bukan lagi wewenang Khalifah. Adapun dalam kondisi selainitu, kembali pada hukum asalnya, yakni mengangkat dan memberhentikannya menjadiwewenang Khalifah (Hizbut Tahrir, Ajhizah Dawlah al-Khilâfah [fi al-Hukm wa al-Idârah]), hlm.123).Rasulullah saw. juga mengangkat para juru tulis administrasi pemerintahan yangkedudukannya sama dengan kepala direktorat. Beliau juga mengangkat para komandan militer dan pemimpin brigade. Semua ini menunjukkan bahwa mengangkat mereka semua adalahwewenang Khalifah. Mereka semua bertanggung jawab pada Khalifah saja (An-Nabhani,Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 156).6. Menetapkan APBN.Khalifah memiliki wewenang untuk menentukan hukum-hukum syariah yang berhubungandengan anggaran pendapatan dan belanja negara; juga menentukan rincian nilai APBN,pemasukan maupun pengeluarannya.Sebenarnya, APBN dalam Negara Islam, terkait sumber pendapatan dan belanjanya, telahditetapkan oleh hukum syariah. Dengan demikian tidak boleh mendapatkan danmembelanjakan satu dinar pun, kecuali sesuai hukum syariah. Hanya saja, penetapanrinciannya diserahkan pada pendapat dan ijtihad Khalifah. Misalnya, Khalifah menetapkanbesarnya pembagian hasil tanah kharaj adalah segini, dan besarnya nilai jizyah yang diambilsegini. Ini dan yang semisalnya adalah menyangkut rincian pendapatan. Khalifah juga yangmenetapkan pengeluaran untuk pembangunan jalan segini, dan untuk pembangunan rumahsakit segini. Ini dan yang semisalnya adalah menyangkut rincian pengeluaran. Dengandemikian keputusan untuk semua ini dikembalikan pada pendapat dan ijtihad Khalifah. Semuahal tersebut telah dicontohkan serta dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para khalifahsesudahnya, bahkan tidak ada seorang pun yang mengingkarinya. Semua ini menunjukkanbahwa rincian APBN ditetapkan oleh Khalifah atau yang mewakilinya (An-Nabhani,Muqaddimah ad-Dustûr, hlm. 157).Dengan Rancangan UUD (Masyrû’ Dustûr) Negara Islam, Pasal 36 ini, Khalifah memilikiwewenang yang sangat besar. Bisa jadi timbul kekhawatiran bahwa Khalifah akanmenyalahgunakan wewenangnya. Namun, kekhawatiran seperti itu tidak perlu terjadi, sebabdalam menjalankan wewenangnya, Khalifah terikat dengan hukum syariah sehingga tidak bisaseenaknya membuat kebijakan. Selain itu, ada Majelis Umat yang senantiasa siapmengoreksinya. WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.
[Muhammad Bajuri]Daftar Bacaan:
Hizbut Tahrir, Ajhizah Dawlah al-Khilâfah (fi al-Hukm wa al-Idârah), (Beirut: Darul Ummah),Cetakan I, 2005.(http://www.facebook.com/mediacenterhti)(http://m.hizbut-

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->