Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more ➡
Download
Standard view
Full view
of .
Add note
Save to My Library
Sync to mobile
Look up keyword
Like this
49Activity
×
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
sejarah penulisan hadits

sejarah penulisan hadits

Ratings:

5.0

(2)
|Views: 11,981|Likes:
Published by Lukman bin Ma'sa

More info:

Published by: Lukman bin Ma'sa on Apr 01, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, DOC, TXT or read online from Scribd
See More
See less

02/01/2013

pdf

text

original

 
SEJARAH PENULISAN HADITS
(Masa Rasulullah SAW dan Sahabat R.A)
 1
Oleh: Lukman Ma'sa
Muqaddimah
Tidak dapat disangkal lagi bahwa kegiatan tulis menulis dan juga kegiatan pendidikandi dunia Islam telah berlangsung sejak zaman Nabi SAW masih hidup. Ini dapat dilihatdengan adanya bukti-bukti bahwa ketika nabi masih hidup, para sahabat banyak yangmencatat hal-hal yang diimlakan beliau kepada mereka. Ada juga sejumalah sahabat yangmenyimpan surat-surat nabi atau salinannya. Hudzaifah r.a. menutukan bahwa Nabimeminta dituliskan nam orang-orang yang masuk Islam, maka Hudzaifah menuliskannyasebanyak 1500 orang. Selain itu ada juga aturan registrasi nama orang-orang yangmengikuti perang.
2
Bahkan seperampat abad sesudah Nabi wafat, di Madinah sudah terdapat gudangkertas yang berhimpitan dengan rumah Utsman bin Affan. Dan menjelang akhir abad pertama pemerintah pusat membagi-bagi kertas kepada para gubernur.
3
 Rasulullah SAW yang menjadi kepala negara Madinah semenjak tahun pertamaHijriyah hidup di tengah-tengah masyarakat sahabat, para sahabat bisa bertemu dengan beliau secara langsung tanpa adanya birokrasi yang rumit seperti sekarang ini. RasulullahSAW bergaul dengan mereka di masjid , di pasar, ruma dan dalam perjalanan.Segala ucapan perbuatan dan kelakuan Rasulullah SAW-yang kita kenal sabagaihadits
4
  – akan menjadi ushwah bagi para sahabat r.a. dan mereka akan berlomba-lombamewujudkannya dalam kehidupan mereka. Tidak dapat kita sangkal bahwa tidak semuasahabat mendengar satu hadis secara bersamaan, sehingga ada sahabat yang menuliskanhadits dalam shahifah agar tidak tercecer, seperti shahifah Abdullah bin Amru bin Ash.Bagaimana hal ini bisa terjadi sementara hadits dari Abu Said al Khudri meyebutkan
-ملسسو هسسيلع هلا ىلص- ه ِ ل ّ ا َ ُ رَنّأَ رِد ْ خ ُ ْا د ٍ ي ِ َىبِأَ ْ عا ُ ت ُ ك ْ ََ» َقَ... ه ُ ح ُ  ْ ي َ ل ْ فَنِ آ ْ  ُ ْا  َ ي ْ غَى  عَ َ ت َ َ ْ َ وَى  عَ 
”Jangan kalian tulis apa yang kalian dengar dariku, barangsiapa yang menuliskan selain dari al-Qur’an, hendaklah dihapus”.(H.R. Muslim)
Dan ternyata setelah Rasulullah SAW meninggal dunia sahifah-sahifah berisi hadits-hadits Rasullah SAW seperti sahifah Sa’ad Ibnu Abu Ubadah, Sahifah Jabir Ibn
1
Ditulis untuk memenuhi tugas mata kuliah Study Hadits, yang dibimbinh Oleh Dr. Luthfi Fathullah,MA, pada Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor jurusan Pendidikan dan Pemikiran Islam.
2
Muhammad Mustafa Azami,
Studes in Early Hadith Literature
, Terj. Ali Mustafa Ya'qub, Jakarta:Pustaka Firdaus, 2000. Hlm. 103
3
Ibn Abd al-Hakam, Sirah Umar bin Abdul Aziz, yang dikutip oleh M.M. Azami dalam buku beliau
Studes in Early Hadith Literature
, Terj. Ali Mustafa Ya'qub, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000. Hlm. 104
4
Lihat A. Qadir Hasan, Ilmu Musthalah Hadits, Bandung: Dipenegoro, 2007. hlm. 17. ditambahkandengan sifat-sifat beliau SAW.
 
2
Sejarah Penulisan Hadits
Abdullah, Samurah Ibn Jundab dan yang lainnya
5
. Bahkan Muhammad Mustafa AzamiPhD menulis dalam tesis doktoralnya yang berjudul
Studies in Early Hadits Literature
 bahwa sejak awal pertama hijriyah buku-buku kecil berisi hadits telah beredar 
6
.Walaupun ada sahifah-sahifah berisi hadits-hadits Rasulullah SAW, kodifikasi haditsini tidak dilakukan secara formal seperti halnya al-Qur’an sampai abad pertama Hijriyah berlalu, padahal bisa saja para sahabat mengumpulkan hadits-hadits shahih danmensarikannya dalam sebuah kitab. pengarang fajrul Islam memberi komentar 
Mungkin hal itu juga terpikirkan oleh sebagian mereka, tetapi pelaksanaannya amat  sukar. Sebab mereka tahu sewaktu Nabi SAW wafat jumlah sahabat yamendengarkan dan meriwatkan dari beliau 114.000 orang. Setiap orang masing-masing mempunya satu, dua hadits seringkali nabi mengatakan sebuah hadits dihadapan segolongan sahabat yang tidak didengar oleh golongan lain
.
Adapun dalam perkembangan penulisan hadits telah dicoba mengelompokkannyakedalam beberpa periode, seperti yang dirumuskan oleh M Hasbi Asyiddiqi yangmembagi kedalam beberaa periode pada masa Nabi dan sahabat, yaitu pada abad pertama, M Hasbi Asyiddiqi membagi menjadi tiga periode
8
.
1. Periode Pertama (Masa Rasulullah SAW)
Pada periode pertama para sahabat langsung mendengarkan dari Rasulullah SAWatau dari sahabat lain, karena para sahabat tersebar di penjuru negri, ada yang di Dusun,dan ada yang di kota. Adakalanya diterangkan oleh istri-istri rasul seperti dalam masalahkewanitaan dan rasulullah SAW juga memerintahkan para sahabat untuk menghapal danmenyebarkan hadits-haditsnya diantara sabda beliau yang diriwayatkan Bukhari danMuslim”Dan ceritakanlah dariadaku, tidak ada keberatan bagimu untuk menceritakan apayang kamu dengar daripadaku. Barang siapa yang berdusta terhadap diriku, hendaklah ia bersedia menempati kedudukannya di neraka.”Perlu diketahui bahwa dalam menyampaikan hadits dilakukan dengan dua cara :a.Dengan lafadz asli, yakni menurut laafadz yang mereka dengar dari rasulullahSaw. b.Dengan makna saja, yakni hadits tersebut disampaikan dengan mengemukakanmakna saja, tidak menurut lafadz seperti yang diucapkan Nabi.Kecuali itu, pada masa Rasulullah SAW sudah ada catatan hadits-hadits beliau sepertiAbdullah bin Amru, dan pernah suatu waktu Rasulullah SAW berkhutbah, setelahseorang dari yaman datang dan berkata. ”Ya Rasulullah tuliskanlah untukku”,tulislahAbu Syah ini.”
9
5
Rosnawati Ali,
 Pengantar Ilmu Hadits
, Kualalumpur: Ilham Abati Enterprise, 1997. hlm. 67
6
Muhammad Mustafa Azami,
Metodologi Kritik Hadits
, Bandung: Pustaka Hidayah, 1996. hlm. 121
7
Ahmad Amin, Fajrul Islam, Terj. Zaini Dahlan, Jakarta: Bulan Bintang, 1968. hlm. 285
8
M. Hasby Ash Shiddeqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Jakarta, 1998. hlm. 47 et Seq
9
Lihat Bukhari dalam Shahihnya kitab
 Ilm
yang diriwayatkan dari Abu Hurairah
 
2
Sejarah Penulisan Hadits
Kembali kepada pelarangan Rasulullah SAW dalam penulisan hadits. TujuanRasulullah adalah agar al-Qur’an tidak bercampur dengan apapun, termasuk erkataan beliau sendiri. Ketika menemukan ternyata ada sahifah-sahifah berisi hadits pada masaRasulullah SAW kita tidak akan berani mengatakan bahwa para sahabat menghiraukan perintah Rasulullah SAW. Setelah diteliti ternyata ada hadits yang menyatakan bolehnya penulisan hadits, seperti sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan Abu Daud;
.«   َّإِىف  ُ ِجُ  ُ خْََِد ِ ي َ بِى ِ  ْ َذ ِ ّا َ فَ ْ ت ُ ْا »
”Tulislah, maka jiwaku yang berada ditangan-Nya tidaklah keluar dari mulutkukecuali kebenaran”Hadits ini terlihat kontradiktif dengan hadits sebelumnya, berikut ini adalah pendapat para ulama untk mengkomromikan kedua hadits ini;1.Bahwa larangan menulis hadits itu, telah dimansukh oleh hadits yangmemerintahkan menulis2.Bahwa larangan itu bersifat umum, sedang untuk beberapa sahabat khususdiizinkan3.Bahwa larangan menulis hadits ditujukan kepada mereka yang dikhawatirkanmencampur adukannya denga al-Qur’an, sedangkan keizinan menulis ditujukankepada mereka yang dijamin tidak akan mencampuradukannya.4.Bahwa larangan itu dalam bentuk kodifikasi secara formal seperti mushaf al-Qur’an, sedang untuk diakai sendiri tidak dilaarang.5.Bahwa larangan itu berlaku pada saat wahyu-wahyu yang turun belum dihafal dandicatat oleh para sahabat, setelah dihafal dan dicatat, menulis hadits diizinkan.
2. Periode Kedua (Masa Khalifah Rasyidah)
Pada masa erintahan Abu Bakar r.a. dan Umar r.a., pengembangan hadits tidak begitu pesat, hal ini disebabkan kebijakan kedua khalifah ini dalam masalah hadits, merekamenginstruksikan agar berhati-hati dalam meriwayatkan hadits. Bahkan khalifah Uimar r.a dengan tegas melarang memperbanyak periwayatan hadits. Hal ini dimaksudkan agar al-Qur’an terpelihara kemudiannya dan ummat Islam memfokuskan dirinya dalam pengkajian al-Qur’an dan penyebarannya.Hakim meriwayatkan; pernah suatu malam Abu Bakar r.a merasa bimbang sekali, pagi harinya ia memanggil putrinya Aisya r.a dan meminta kumpulan hadits yang ada padanya lalu Abu Bakar membakarnya.Lain halnya ada masa khalifah Utsman dan Ali r.a, mereka sedikit memberikelonggaran dalam mengembangkan hadits tetapi mereka masih sangat berhati-hati agar tidak bercampur dengan al-Qur’an, Khalifash Ali r.a, melarang penulisan selain al-Qur’an yang sesungguhnya ditujukan untuk orang-orang awam, karena beliau sendirimemiliki sahiofah yang berisi kumpulan hadits.
3. Periode Ketiga ( Masa Sahabat Kecil dan Tabi’in Besar)
10
M. Hasby Ash Shiddeqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->