Welcome to Scribd, the world's digital library. Read, publish, and share books and documents. See more
Download
Standard view
Full view
of .
Save to My Library
Look up keyword
Like this
29Activity
0 of .
Results for:
No results containing your search query
P. 1
Hubungan Agama Dan Negara

Hubungan Agama Dan Negara

Ratings:

5.0

(1)
|Views: 2,624 |Likes:
Published by rusdi

More info:

Published by: rusdi on Apr 02, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/07/2013

pdf

text

original

 
Hubungan Agama Dan Negara: Perspektif IslamOleh: Muhammad Shiddiq al-JawiPublikasi 21/08/2004hayatulislam.net - PendahuluanTinjauan hubungan agama-negara ?secara ideologis? pertama-tama harus diletakkanpada proporsinya dengan benar. Yaitu sebagai pemikiran cabang tentangkehidupan, yang lahir dari pemikiran mendasar tentang alam semesta, manusia,dan kehidupan (aqidah). Oleh sebab itu, pembahasan hubungan agama-negarapertama-tama harus bertolak dari pemikiran mendasar tersebut, baru kemudiandibahas hubungan agama-negara, sebagai pemikiran cabang yang lahir daripemikiran mendasar tersebut. Yang dimaksud pemikiran mendasar tersebut(aqidah), adalah pemikiran menyeluruh (fikrah kulliyyah) tentang alam semesta,manusia, dan kehidupan, serta tentang apa yang ada sebelum kehidupan dunia dansesudah kehidupan dunia, serta hubungan kehidupan dunia dengan apa yang adasebelum kehidupan dunia dan sesudahnya (An Nabhani, Nizham Al-Islam, 2002).Mengingat kini ideologi yang ada di dunia ada 3 (tiga), yaitu Sosialisme(Isytirakiyyah), Kapitalisme (Ra`sumaliyyah), dan Islam, maka aqidah ataupemikiran mendasar tentang kehidupan pun setidaknya ada 3 (tiga) macam pula,yakni aqidah Sosialisme, aqidah Kapitalisme, dan aqidah Islamiyah.Masing-masing aqidah ini merupakan pemikiran mendasar yang di atasnya dibangunpelbagai pemikiran cabang tentang kehidupan, termasuk di antaranya hubunganagama-negara.Relasi Agama-Negara Menurut Sosialisme, Kapitalisme, Dan IslamAqidah Sosialisme adalah Materialisme (Al Maaddiyah), yang menyatakan bahwadunia ini tiada lain terdiri dari dan tergantung eksistensinya pada bendamaterial. Menurut Donald Wilhelm dalam Creative Altertaives to Communism GuideLines for Tomorrow?s World (1979:147), ?Materialisme, in its philosophicalsense, is the view that all that exsist is matter or is wholly dependent uponthe matter for its existence.? Jadi, segala sesuatu yang ada hanyalah materibelaka. Materilah asal usul segala sesuatu. Materi merupakan dasar eksistensisegala macam pemikiran. Maka, tidak ada tuhan, tidak ada ruh, atau aspek-aspekkegaiban lainnya, karena semuanya tidak dapat diindera seperti materi. Dari idematerialisme inilah dibangun 2 (dua) ide pokok dalam Sosialisme yang mendasariseluruh bangunan ideologi Sosialisme, yaitu Materialisme Dialektis danMaterialisme Historis (Ghanim Abduh, Naqdh Al Isytirakiyyah Al Marksiyyah,1964).Atas dasar ide materialisme itu, dengan sendirinya agama tidak mempunyai tempatdalam Sosialisme. Sebab agama berpangkal pada pengakuan akan eksistensi tuhan,yang jelas-jelas diingkari oleh ide materialisme. Bahkan agama dalam pandangankaum sosialis hanyalah ciptaan manusia yang tertindas dan merupakan candu yangmembius rakyat yang harus dimusnahkan dari muka bumi. Karl Marx (1818-1883)berkata, ?Religion is the sigh of the oppressed people, the heart of heartlessworld, just as it is the spirit of a spiritless situation. It is the opium of the people [Agama adalah keluh kesah rakyat yang tertindas, hati dari duniayang tidak berhati, dan jiwa dari suatu situasi yang tak berjiwa. Agama adalahcandu bagi rakyat].? (Lihat Karl Heinrich Marx, Contributon to the Critique of Hegel?s Philosophi of Right, dalam On Religion, (1957): 41 - 42).Dengan demikian, menurut Sosialisme, hubungannya dapat diistilahkan sebagaihubungan yang negatif, dalam arti Sosialisme telah menafikan secara mutlakeksistensi dan pengaruh agama dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.Agama merupakan candu masyarakat yang harus dibuang dan dienyahkan.
 
Aqidah ideologi Kapitalisme, adalah pemisahan agama dari kehidupan (fashluddin?anil hayah), atau sekularisme. Dalam Webster Dictionary sekularismedidefinisikan sebagai: ?A system of doctrines and practices that rejects anyform of religious faith and worship? [Sebuah sistem doktrin dan praktik yangmenolak bentuk apa pun dari keimanan dan upacara ritual keagamaan], atausebagai: ?The belief that religion and ecclesiastical affairs should not enter into the function of the state especially into public education.? [Sebuahkepercayaan bahwa agama dan ajaran-ajaran gereja tidak boleh memasuki fungsinegara, khususnya dalam pendidikan publik].Jadi, sekularisme tidak menafikan agama secara mutlak, namun hanya membatasiperannya dalam mengatur kehidupan. Keberadaan agama memang diakui ?walaupunhanya secara formalitas? namun agama tidak boleh mengatur segala aspekkehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya yangmenjadi urusan pemerintah (Robert Audi, Agama dan Nalar Sekuler dalamMasyarakat Liberal, 2002:62). Agama hanya mengatur hubungan pribadi manusiadengan tuhannya, sedang hubungan manusia satu sama lain diatur oleh manusia itusendiri (Zallum, Ad Dimuqrathiyah Nizham Kufur, 1990).Berdasarkan aqidah Kapitalisme, formulasi hubungan agama-negara dapat disebutsebagai hubungan yang separatif, yaitu suatu pandangan yang berusaha memisahkanagama dari arena kehidupan. Agama hanya berlaku dalam hubungan secaraindividual dalam wilayah privat antara manusia dan tuhannya, atau berlakusecara amat terbatas dalam interaksi sosial sesama manusia. Agama tidakterwujud secara institusional dalam konstitusi atau perundangan negara, namunhanya terwujud dalam etika dan moral individu-individu pelaku politik.Aqidah Islamiyah adalah iman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,rasul-rasul-Nya, Hari Akhir, dan Qadar (taqdir) Allah. Aqidah ini merupakandasar ideologi Islam yang darinya terlahir berbagai pemikiran dan hukum Islamyang mengatur kehidupan manusia. Aqidah Islamiyah telah memerintahkan untukmenerapkan agama secara menyeluruh dalam segala aspek kehidupan, yang tidakmungkin terwujud kecuali dengan adanya negara. Firman Allah SWT:?Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secarakeseluruhan?? (Qs. al-Baqarah [2]: 208).?Apakah kamu akan beriman kepada sebagian Al Kitab dan ingkar kepada sebagianyang lainnya. Maka tidak adabalasan bagi yang mengerjakan itu di antara kamu,melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia dan pada Hari Kiamat mereka akandikembalikan kepada azab yang sangat pedih?? (Qs. al-Baqarah [2]: 85).Berdasarkan ini, maka seluruh hukum-hukum Islam tanpa kecuali harus diterapkankepada manusia, sebagai konsekuensi adanya iman atau Aqidah Islamiyah. Dankarena hukum-hukum Islam ini tidak dapat diterapkan secara sempurna kecualidengan adanya sebuah institusi negara, maka keberadaan negara dalam Islamadalah suatu keniscayaan. Karena itu, formulasi hubungan agama-negara dalampandangan Islam dapat diistilahkan sebagai hubungan yang positif, dalam artibahwa agama membutuhkan negara agar agama dapat diterapkan secara sempurna danbahwa agama tanpa negara adalah suatu cacat yang akan menimbulkan reduksi dandistorsi yang parah dalam beragama. Agama tak dapat dipisahkan dari negara.Agama mengatur seluruh aspek kehidupan melalui negara yang terwujud dalamkonstitusi dan segenap undang-undang yang mengatur kehidupan bernegara danbermasyarakat.Maka dari itu, tak heran banyak pendapat para ulama dan cendekiawan Islam yangmenegaskan bahwa agama-negara adalah sesuatu yang tak mungkin terpisahkan.Keduanya ibarat dua keping mata uang, atau bagaikan dua saudar kembar 
 
(tau`amaani). Jika dipisah, hancurlah perikehidupan manusia.Imam Al Ghazali dalam kitabnya Al Iqtishad fil I'tiqad halaman 199 berkata:?Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar.Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalahpenjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan roboh dan segalasesuatu yang yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang lenyap.?Ibnu Taimiyah dalam Majmu?ul Fatawa, juz 28 halaman 394 telah menyatakan:?Jika kekuasaan terpisah dari agama, atau jika agama terpisah dari kekuasaan,niscaya keadaan manusia akan rusak.?Sejalan dengan prinsip Islam bahwa agama dan negara itu tak mungkin dipisahkan, juga tak mengherankan bila kita dapati bahwa Islam telah mewajibkan umatnyauntuk mendirikan negara sebagai sarana untuk menjalankan agama secara sempurna.Negara itulah yang terkenal dengan sebutan Khilafah atau Imamah. Taqiyyuddin AnNabhani dalam kitabnya Nizhamul Hukmi fil Islam, hal. 17 mendefinisikanKhilafah sebagai ?kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslimin di dunia untukmenegakkan hukum-hukum Syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruhpenjuru dunia?.Seluruh imam madzhab dan para mujtahid besar tanpa kecuali telah bersepakatbulat akan wajibnya Khilafah (atau Imamah) ini. Syaikh Abdurrahman Al Jazirimenegaskan hal ini dalam kitabnya Al Fiqh ?Ala Al Madzahib Al Arba?ah, juz V,halaman 308:?Para imam madzhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi?i, dan Ahmad) --rahimahumullah--telah sepakat bahwa Imamah (Khilafah) itu wajib adanya, dan bahwa ummat Islamwajib mempunyai seorang imam (khalifah) yang akan meninggikan syiar-syiar agamaserta menolong orang-orang yang tertindas dari yang menindasnya...?Tak hanya kalangan empat madzhab dalam Ahlus Sunnah saja yang mewajibkanKhilafah, bahkan seluruh kalangan Ahlus Sunnah dan Syiah ¾juga termasukKhawarij dan Mu?tazilah¾ tanpa kecuali bersepakat tentang wajibnya mengangkatseorang Khalifah.Imam Asy Syaukani dalam Nailul Authar, jilid VIII, halaman 265 mengatakan:?Menurut golongan Syi?ah, mayoritas Mu?tazilah dan Asy?ariyah, [Khilafah]adalah wajib menurut syara?.?Ibnu Hazm dalam Al Fashl fil Milal Wal Ahwa? Wan Nihal, juz IV, halaman 87mengatakan:?Telah sepakat seluruh Ahlus Sunnah, seluruh Murji?ah, seluruh Syi?ah, danseluruh Khawarij, mengenai wajibnya Imamah (Khilafah)??KesimpulanHubungan agama-negara dalam pandangan Islam harus didasarkan pada AqidahIslamiyah, bukan aqidah yang lain. Aqidah Islamiyah telah memerintahkanpenerapan agama secara menyeluruh, yang sangat membutuhkan eksistensi negara.Jadi, hubungan agama dan negara sangatlah eratnya, karena agama (Islam) tanpanegara tak akan dapat terwujud secara sempurna dalam kehidupan.Hubungan ini secara nyata akan dapat diwujudkan jika berdiri negara Khilafah

Activity (29)

You've already reviewed this. Edit your review.
1 hundred reads
1 thousand reads
Ria Nyunyun liked this
comandante_che liked this
Rizky Lathifah liked this
Rizky Lathifah liked this
uufrouf liked this

You're Reading a Free Preview

Download
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->